
"Bukankah orang baik berhak menerima yang terbaik?" Tanya Sean.
Satya menoleh pada Sean dengan mengerutkan kening. "Maksudmu apa?".
Sean mengedikkan bahu. "Tidak ada maksud apapun. Itu hanya sebuah filosofi saya saja hehehe". Sean terkekeh hingga akhirnya keduanya berhenti di depan sebuah pintu.
"Ini kamar rawat istri anda, Pak Satya". Ujar Sean. "Silakan masuk. Saya tunggu di luar saja".
Satya menganggukkan kepala lalu membuka pintu dengan hati-hati. Dengan pelan Satya melangkah menghampiri Sandra yang terbaring dan masih belum sadar. Satya menatap dengan nanar kondisi tubuh sang istri. Perlahan jari jemarinya menyusuri perban yang membalut kedua tangan Sandra hingga ke siku. Lalu Satya pun meraba perban yang membalut kedua telapak kaki sang istri.
"Maafkan aku sayang..." Gumam Satya dengan nada menyesal. "Aku sangat lalai dalam menjagamu".
"Kau pasti sangat kesakitan..."
Satya mengusap kening Sandra dengan lembut. Membelai rambutbpanjangnya yang berada di sisi wajahnya. Menyusuri wajahnya yang pucat sungguh merupakan pemandangan yang menyedihkan bagi Satya.
"Pak Satya, Maaf mengganggu" Sean tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar rawat. "Dokter yang menangani istri anda ingin berada di sini". Sean menengok ke belakang pada seorang dokter yang memakai kacamata.
"Anda suami pasien? Mari ikut saya, ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan pada anda". Ujar sang dokter.
Satya menatap sang dokter sejenak hingga akhirnya Satya mengikuti sang dokter ke luar ruangan. Sean memutuskan untuk duduk di sofa kamar rawat daripada mengikuti Satya. Ia tahu apa yang akan di sampaikan oleh sang dokter pada Satya dan secara tidak langsung Ia merasakan nyeri di hatinya. Ia mengingat ucapan partner satu malamnya belum lama ini bahwa wanita itu menggugurkan kandungannya begitu saja tanpa memberitahu dirinya.
Sean menghela napasnya pelan seraya menyenderkan punggungnya ke sofa. "Aahh.. Sial! Wanita angkuh itu benar-benar keterlaluan". Gerutu Sean. "Tapi aku penasaran.. Siapa sebenarnya suami dari wanita itu?" Sean terlihat berpikir keras. "Dia putri tunggal keluarga Carlton. Tentu saja suaminya pasti bukan dari keluarga yang biasa". Ujar Sean. Namun dengan cepat Sean menatap ke arah Sandra. "Tapi.... Putra tunggal keluarga Nagara saja menikahi seorang caddy..."
Sean menyugar rambutnya. "Ah tak tahulah! Orang kaya memang terkadang melakukan banyak hal di luar logika!". Ujar Sean.
Sementara itu di ruang praktek dokter, Satya menatap sebuah kertas yang isinya terdapat berbagai tindakan yang di lakukan pada Sandra yang telah di setujui oleh Sean sebagai wakil pertama yang membawa Sandra ke rumah sakit.
__ADS_1
"Andai saja Pak Sean telat membawa istri anda ke rumah sakit untuk segera di tindak, istri anda saat ini bisa saja membutuhkan transfusi akibat terlalu banyak kehilangan darah." Ujar Sang dokter.
Satya mengerutkan kening menatap sang dokter. "Bagaimana bisa, dok? Bukankah istriku hanya terkena serpihan-serpihan kaca saja?" Tanya Satya.
Sang dokter mengulas senyum tipis. Dokter tersebut menatap Satya dengan raut wajah serius. "Sebelumnya saya mohon maaf untuk menyampaikan berita ini". Ujar sang dokter.
"Istri anda datang dalam keadaan rahim yang berkontraksi hebat hingga mengakibatkan pendarahan. Kandungannya tidak bisa di selamatkan".
Sontak saja Satya terkejut bukan main. Netra mata tajamnya berkaca-kaca. Ia menatap sang dokter dengan raut wajah pias. "Anda tidak bercanda kan dok?!".
"Maaf harus mendengar kabar seperti ini, Pak Satya." Sahut sang dokter. "Saya harap anda bisa mengerti. Sebagai dokter saya akan melakukan tindakan apapun untuk menyelamatkan pasien. Saat istri anda di bawa ke ruang unit gawat darurat, rahimnya memang sudah berkontraksi hebat. Darah terus mengalir. Hingga saya memaksa Pak Sean untuk segera menyetujui tindakan operasi. Saya harap anda tidak menyalahkan Pak Sean juga dalam hal ini". Sang dokter menatap lekat pada Satya.
Satya mengusap wajahnya dengan kasar. Ia lantas beranjak berdiri seraya membawa seberkas kertas yang tadi di berikan oleh sang dokter. "Terima kasih sudah melakukan yang terbaik yang bisa anda lakukan sebagai dokter pada istri saya". Ujar Satya. "Namun bisakah saya meminta bantuan anda?".
Sang dokter pun mengangguk. "Bantuan apa, Pak Satya?".
Dokter itu pun mengangguk. "Tentu saja. Saya bisa membantu anda untuk hal itu".
Satya pun mengangguk dan bergegas ke luar ruangan. Di sepanjang koridor rumah sakit pikirannya berlarian kemana-mana. Ia merasakan sakit hati yang luar biasa saat mengetahui kenyataan bahwa calon anaknya bahkan menjadi korban dari kelalaiannya. Satya menatap sebuah bangku kosong di taman rumah sakit. Ia pun melangkahkan kakinya untuk duduk sejenak.
Belum lama Satya duduk, Sean datang menghampiri Satya dengan membawa secup kopi panas. "Minumlah". Ujar Sean seraya duduk di sisi Satya.
"Terima kasih". Satya menerima cup berisi kopi dari Sean dan menyesapnya perlahan.
"Kenapa kau tidak memberitahuku tentang istriku yang keguguran?" Tanya Satya seraya menatap uap yang keluar dari kopinya.
"Saya rasa hal itu sangat sensitif untuk di sampaikan oleh orang lain seperti saya. Lebih baik anda mengetahuinya langsung dari dokter yang menangani istri anda". Jawab Sean dengan lugas.
__ADS_1
Satya mengangguk paham. "Ya. Kau benar. Hal itu sangat sensitif".
"Walau aku belum pernah melihatnya, tapi aku merasa sangat sedih kehilangannya begitu saja" Ujar Satya tersenyum tipis.
"Saya bisa memahami perasaan anda".
Satya menatap Sean dengan serius. "Bagaimana kau bisa memahaminya sedangkan kau tidak pernah berada di posisiku?".
Sean terkekeh pelan. Ia menatap gelas kopinya. "Yah anggap saja dari sebuah kesalahan yang tidak di sengaja hingga akhirnya membuahkan sesuatu". Ujar Sean terkekeh. "Namun sayangnya saya sama sekali tidak mengetahuinya jika itu pernah ada. Saya baru tahu setelah beberapa bulan kemudian".
Satya menatap Sean dengan raut wajah yang tak terbaca. "Apa kau mau membantuku?".
"Membantu apa?". Tanya Sean.
"Aku ingin memberi balasan yang setimpal bahkan kalau bisa berkali lipat dari apa yang di lakukannya pada istriku"
Sean terkejut bukan main. "Jadi benar dugaan saya kalau ada yang menyakiti istri anda..."
"Tentu saja! Kau pikir istriku gila melakukan semua ini sendiri pada tubuhnya?!". Ujar Satya sewot.
Sean terkekeh. "Maaf bukan itu maksud saya" Ujar Sean. "Lupakan saja yang tadi. Jadi apa yang bisa saya lakukan untuk membantu anda?".
"Kau cukup menjadi saksi sebagai penolong istriku saja untuk saat ini. Namun aku yakin aku membutuhkanmu lebih dari itu".
Sean mengerutkan kening menatap Satya dengan raut bingung. "Maksud anda bagaimana sebenarnya?".
Satya menatap Sean dengan lekat. "Nadya Carlton. Aku membutuhkanmu untuk menghadapinya".
__ADS_1
...🌴🌴🌴...