
Hari ini adalah hari libur Sandra bekerja menjadi Caddy. Tempo hari Mami Sari menghubunginya secara khusus untuk meminta maaf pada Sandra perihal insiden di lapangan golf. Mami Sari berasumsi bahwa apa yang di bicarakan oleh para caddy mengenai Satya adalah karena Sandra membawa Sean. Sandra merasa tak enak hati, namun mau tak mau Ia harus mulai membiasakan diri bahwa Ia adalah Istri Satya Nagara. Akan selalu ada orang yang sungkan pada dirinya.
Sandra memutuskan mengisi hari liburnya dengan berjalan-jalan seorang diri di taman apartemen. Tidak ada seorang pun yang bisa menemaninya di siang hari seperti ini. Dita menjaga stand di mall sedangkan Cica bisa di pastikan wanita itu masih tidur setelah bekerja di malam hari. Merin dan Giska pun sedang bekerja. Mereka berdua memiliki satu hari kerja lebih banyak dibandingkan dengan Sandra. Tidak perlu di pertanyakan mengapa bisa seperti itu. Tentu saja ada andil Satya di dalamnya. Pria itu meminta Mami Sari untuk mengatur jadwal Sandra dari lima hari sepekan menjadi empat hari sepekan.
Sandra merasa bosan ketika hari-harinya hanya sekitar apartemen dan lapangan golf. Satya tidak pernah mengizinkannya untuk bepergian jauh seorang diri. Bahkan ketika pria itu datang menemaninya di apartemen, Satya tidak pernah mengajaknya untuk makan di luar atau sekedar berjalan-jalan di mall. Bahkan jika mereka berdua pergi pun, Satya selalu membawa Sandra pergi ke luar kota.
Sandra menghela napasnya. Ia sadar diri akan statusnya yang merupakan istri yang masih di sembunyikan dan belum di akui oleh keluarga suami. Terkadang Sandra bertanya-tanya kapan status pernikahannya akan di resmikan dan Ia bisa bebas mengakui pria tampan itu sebagai suaminya. Namun Sandra masih memaklumi alasan Satya. Ia selalu merasa bahwa suaminya memiliki sisi kehidupan yang rumit dan tidak bisa di ceritakan padanya.
"Hmmm kenapa aku tiba-tiba merindukannya..." Gumam Sandra seraya menendang sebuah kerikil. "Aku juga belum pernah melihat gedung kantornya.. Pasti sangat besar kan?".
"Apa aku kesana saja ya sekarang... Aku hanya ingin melihat gedung tempatnya bekerja..."
Sandra menimbang-nimbang dalam hati. Akhirnya Sandra bergegas kembali ke unit apartemennya untuk berganti baju. Ia pun tak lupa memesan sebuah taksi online untuk mengantarkannya ke tujuan dan memutuskan untuk menunggu taksi tersebut di lobi apartemen.
Sepanjang perjalanan, Sandra menikmati pemandangan lalu lintas jalan raya yang cukup ramai di siang hari. Sesekali Ia melihat ponselnya berpikir apakah perlu menghubungi Satya atau tidak. Namun akhirnya Sandra urungkan niatnya. Toh Ia hanya berniat untuk melihat gedung kantor tempat suaminya bekerja walau Ia pun tak menampik jika dirinya rindu dengan Satya.
Tiga puluh menit waktu yang diperlukan Sandra untuk sampai ke gedung kantor Satya. Nama Nagara Corporation berdiri kokoh dengan ukuran besar di depan gedung. Sandra terlihat terpukau dengan arsitektur yang megah serta tinggi yang menjulang. Gedung Nagara Corporation benar-benar sangat tinggi. Bahkan melampaui tinggi gedung-gedung di sekitarnya.
"Terima kasih ya, Pak!". Ujar Sandra setelah membayar argo. Sandra pun segera turun dari taksi dan mengedarkan pandangannya ke sekitar. Tiba-tiba saja Ia dilanda kebingungan setelah sampai di kantor Satya.
Apa yang harus aku lakukan setelah ini? Sandra bergumam seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.
Tidak mungkin Ia masuk ke dalam lobi kantor dan menghampiri resepsionis. Setelah dirasa puas melihat gedung Nagara Corporation walau hanya dari depan lobi, Sandra memutuskan untuk segera pergi dari sana. Ia pun membuka sebuah aplikasi taksi online kembali. Sandra terlihat berpikir kemana tujuan selanjutnya.
Saat Ia sedang sibuk menatap layar ponsel, sebuah sedan mewah limited edition berwarna hitam berhenti tak jauh dari posisi Sandra berdiri. Sandra tidak memperhatikannya karena Ia sedang sibuk mencocokkan titik koordinat penjemputan dirinya di gedung kantor Satya.
"Untuk apa kau ikut turun?!". Suara seorang pria yang sangat Sandra hapal terdengar. Sandra sontak saja melihat ke sumber suara dan mendapati Satya yang sangat tampan dengan jas formalnya khas untuk bekerja.
__ADS_1
Namun kening Sandra berkerut saat melihat ada seorang wanita cantik di sisi sang suami. Bahkan terlampau cantik. Tubuhnya yang tinggi semampai, kulit yang mulus bercahaya serta auranya yang seakan berteriak 'aku orang kaya' benar-benar tercetak jelas pada wanita itu. Sandra lantas bersembunyi di balik pilar agar tidak terlihat oleh Satya.
"Jadwal treatmentku dengan Dokter Gina masih dua jam lagi, Yank. Daripada aku menunggu lama di klinik, lebih baik aku menemanimu di kantor sebentar kan?" Ujar Nadya dengan nada manja.
Satya terlihat mendekat pada Nadya dengan wajah yang datar. "Ini kantor, Nadya. Kau jangan membuat onar di hadapan banyak orang".Satya berbisik dengan nada tegas tak terbantahkan.
Nadya terlihat sangat kesal. "Baiklah! Baiklah! Aku pergi! Kamu akan pulang kerumah kan malam ini?!". Ujar Nadya dengan nada tinggi hingga tiga security pun menoleh ke arah mereka.
Satya hanya menundukkan kepala dan berlalu begitu saja meninggalkan Nadya yang cemberut. Interaksi Satya dan Nadya tidak lepas dari pengamatan Sandrs dari balik pilar. Sandra menatap sedan mewah yang di tumpangi oleh Nadya hingga keluar dari area gedung kantor.
Sandra lantas berjalan beberapa langkah dengan wajah tertegun dan pikirannya yang berlari kemana-mana. Sandra mendengar ucapan wanita itu pada Satya walau Ia tidak bisa mendengar apa yang di bisikkan oleh Satya pada wanita itu.
Aku tidak salah dengar kan.. Tadi wanita cantik itu memanggil suamiku dengan 'Yank'... Apa maksudnya sayang? Lalu kenapa tadi wanita itu menanyakan apakah suamiku pulang kerumah atau tidak? Sebenarnya siapa dia? Apa hubungannnya dengan suamiku? Apa dia saudara suamiku? Ah.. Tapi mana mungkin saudara memanggil dengan panggilan sayang?
Banyak sekali pertanyaan di benak Sandra. Ia pun lantas memutuskan untuk menelfon Satya. Ia ingin mendengar suara pria itu menenangkan hatinya. Dalam dua kali panggilan, sambungan telfon pun terhubung.
Terdengar suara Satya yang menyapanya dengan lembut hingga membuat Sandra tersenyum begitu saja.
"Kamu lagi apa?". Tanya Sandra.
"Aku baru mau mulai bekerja sayang..."
"Apa kamu baru sampai kantor?" Tanya Sandra.
"Ya. Mungkin sekitar sepuluh menit yang lalu aku sampai kantor"
Sandra mengulas senyum tatkala menyadari bahwa Satya berkata jujur padanya.
__ADS_1
"Sayang..." Panggil Sandra.
"Hm... Kenapa?"
"Apa kamu bisa datang ke apartemen malam ini?"
Sejenak tak ada jawaban apapun dari Satya.
"Sayang.."
"Mmmm... Sepertinya aku tidak bisa sayang. Aku harus pulang ke rumah malam ini. Bukankah jadwalku dua hari lagi untuk tidur di apartemen?"
Sandra terdiam. Hatinya berkecamuk tak karuan.
"Aku merindukanmu" Sahut Sandra pelan.
""Aku lebih merindukanmu sayang"
"Kalau begitu datanglah ke apartemen. Temani aku. Aku ingin bersamamu" Bujuk Sandra pelan.
Terdengar helaan napas dari sebrang telfon. "Maaf sayang.. Aku benar-benar tidak bisa"
Sandra bergeming. Ucapan wanita cantik itu berputar terus menerus di ingatan Sandra.
"Apa ada seseorang yang menunggumu di rumah?"
...🌴🌴🌴...
__ADS_1