
Hari demi hari tak terasa telah berlalu hingga akhirnya tibalah Sandra di pekan ke 4 dalam menjalani training. Pengenalan lapangan telah Ia lalui dengan baik dalam 2 pekan. Sandra benar-benar fokus menghapal jarak setiap hole, menghapal setiap pohon yang menjadi patokan jarak di setiap hole juga Sandra terus mengasah instingnya ketika berada di green area.
Sandra menyadari kemampuannya yang hanya lulusan SMA pasti tidak banyak pekerjaan yang mungkin layak untuk dirinya. Maka ketika Ia memutuskan menjadi seorang caddy golf, Ia ingin menjadi caddy yang profesional. Yang dapat di andalkan saat di lapangan dan menjadi yang terbaik.
Sandra berlari kecil ketika turun dari angkutan umum. Sudah 3 pekan Ia ikut mobil antar jemput yang di sediakan oleh Golf Country Club tempatnya bekerja. Mami Sari memberitahu peserta training sejak awal jika Sandra dan rekan-rekannya dapat memanfaatkan fasilitas tersebut. Itu sangat membuat Sandra lega karena Ia tidak perlu mengeluarkan biaya ojek dari depan perumahan.
"Hufftt.. Untung gak ketinggalan!". Ujar Sandra ketika dirinya sudah duduk di dalam mobil antar jemput.
"Kalau ketinggalan yang ini kan nanti ada lagi toh, Mbak". Sahut Sang supir pada Sandra.
"Iya sih, Pak. Tapi saya bisa telat kalau nunggu mobil selanjutnya hehehehe". Jawab Sandra seraya terkekeh.
Sandra menundukkan kepala sopan seraya melempar senyuman pada beberapa caddy senior yang berada dalam 1 mobil dengannya. Bekerja di lingkungan sesama pekerja wanita, terkadang lebih sulit untuk Sandra. Karena entah mengapa, walau Sandra bersikap biasa saja dan tidak menonjollkan diri, ada saja orang yang tidak suka dengan dirinya.
Setelah 10 menit perjalanan, tibalah Sandra di area depan Golf Country Club. Ia langsung berlari kecil menuju ke ruang ganti caddy. Ia melihat rekan-rekannya yang lain sudah siap dengan topi maupun sepatunya. Sandra lantas segera membuka tasnya dan mengambil topi. Sweater yang di pakainya pun sudah Ia lepas dan Ia masukkan ke dalam loker.
"Tumben lo telat, San?". Sapa Merin menghampiri Sandra.
"Gw bangun kesiangan. Kepala gw juga pusing banget nih". Ujar Sandra.
Merin mengamati raut wajah Sandra yang cukup sayu dan pucat. "Kalau gak enak badan, lebih baik lo izin aja ke Mami Sari". Ujar Merin memberi saran.
"Gak apa-apa. Gw oke kok. Cuma pusing aja. Udahlah abaikan aja, Mer! Hehehehee". Sahut Sandra seraya mengibaskan tangannya.
"Pasti lo belum sarapan lagi kan?" Tanya Merin seraya mengaduk isi tasnya. "Nih gw ada biskuit buat lo ganjel perut!". Merin memberikan satu bungkus kecil biskuit pada Sandra.
"Apa kaiian sudah siap semuanya?". Mami Sari tiba-tiba saja datang menyita perhatian Sandra dan rekan-rekannya.
"Nanti aja, Mer". Bisik Sandra meminta Merin memasukkan kembali biskuitnya ke dalam tas.
"Ayo kita ke luar!". Titah Mami Sari seraya melangkah pergi di ikuti oleh seluruh peserta training.
__ADS_1
Kali ini Mami Sari tidak membawa Sandra dan rekan-rekannya ke lapangan golf, melainkan menuju ke sebuah area kosong beraspal yang lapang di sekitar perumahan.
Ada 2 buggy car yang di bawa oleh Mami Sari dan rekan nya. Sandra mengedarkan pandangannya ke sekitar. Entah mengapa Sandra sangat menikmati suasana di perumahan tersebut. Sejuk dan penuh pepohonan yang tinggi. Hanya angan untuknya bisa memiliki satu rumah di area tempatnya bekerja.
"Sesuai jadwal, pekan terakhir ini kalian akan belajar mengemudikan buggy car." Ucap Mami Sari.
"Siapa di antara kalian yang sudah bisa mengemudikan mobil? Buggy car ini sama saja seperti mobil automatic. Yg membedakan hanya posisi stir di sebelah kiri saja".Lanjut Mami Sari.
Hingga tibalah saatnya Mami Sari meminta satu per satu peserta training untuk mencoba mengendarai buggy car dengan cara maju ke depan dan mundur ke belakang. Saat tiba giliran Sandra, Ia dengan sangat mudah mengendarai buggy car saat berjalan lurus ke depan. Namun........
"Woy Sandra! Mundur lo gak lurus buggy car nya!". Teriak Merin.
Sandra melihat ke arah belakang seraya menginjak pedal gas dengan perlahan. Ia mengendalikan stir buggy car agar posisi buggy car yang Ia kemudikan bisa mundur dengan lurus tidak keluar dari jalur. Namun tetap saja walau Ia kendalikan stir tetap lurus, buggy car yang Ia kemudikan selalu condong membelok.
"Stop! Stop Sandra!". Ujar Mami Sari seraya berjalan menghampiri Sandra.
"Kamu geser ke sebelah. Mami akan beri contoh ke kamu". Titah Mami Sari hingga Sandra pun bergeser ke sebelah kanan.
Mami Sari pun lantas mengemudikan buggy car dengan arah mundur. "Kalau kamu sedang mundur seperti ini, kamu gerakkan stir ini ke kiri kanan sedikit saja secara bergantian."
...🌻🌻🌻...
"Beb, aku kok ngerasa kamu akhir-akhir ini sering main golf ya?". Tanya seorang wanita pada Satya.
Satya mengedikkan bahunya. "Kenapa harus di pertanyakan? Bukannya kamu tau kalau golf itu olahraga favoritku?". Ujar Satya tanpa memandang lawan bicaranya melainkan tetap fokus melihat layar ipadnya yang tengah menampilkan sebuah laporan terkait perusahaan.
"Ya aku tau itu.. Tapi sesenang-senangnya kamu main golf, gak pernah sampai setiap pekan gini juga.". Sahut sang wanita yang di ketahui bernama Nadya.
Satya mematikan Ipadnya dan menyandarkan tubuhnya seraya melihat ke arah luar melalui jendela mobil. "Aku hanya butuh penyegaran..... Dan di lapangan golf lah aku mendapatkan penyegaran itu". Ujar Satya.
"Beb, kita....."
__ADS_1
"Cukup, Nad. Hari ini lebih baik kita bersenang-senang di lapangan golf. Aku tidak ingin memikirkan apapun". Ujar Satya memotong ucapan Nadya yang sukses membuat wanita itu bungkam.
Tak berapa lama kemudian, sedan mewah yang di tumpangi oleh Satya dan Nadya memasuki parkiran Golf Country Club. Satya segera turun dari mobil dan mengambil tas golf miliknya dan milik Nadya dari dalam bagasi.
"Kamu bisa tunggu di restaurant atau mana saja. Pakai kartu ini selama menungguku". Titah Satya pada sang supir pribadi.
Satya dan Nadya pun segera masuk ke dalam aula country club yang akan menghubungkannnya dengan area lapangan golf. Salah seorang petugas yang mengenali Satya segera berlari kecil menghampiri pria itu.
"Pak Satya". Sapa petugas itu dengan sedikit membungkuk.
"Aku akan bermain 18 hole hari ini. Cukup siapkan 1 buggy car karena aku hanya berdua dengan dia". Ucap Satya pada sang petugas.
"Baiklah, Pak." Ujar Sang petugas seraya melirik ke arah Nadya.
"Oh ya.. Apa Mami Sari turun lapangan hari ini?". Tanya Satya.
"Sepertinya sih tidak, Pak. Sudah jam segini belum ada tanda-tanda kehadiran Mami Sari di sini. Biasanya beliau sudah sibuk mengatur peserta training. Apa Pak Satya ingin Mami Sari yang menjadi caddy hari ini?". Tanya Sang petugas.
Satya menggelengkan kepalanya samar. "Oh.. Bukan.. Bukan seperti itu maksud saya". Ujar Satya pelan.
"Mami Sari yang caddy tua itu kan, beb?" Timpal Nadya.
Satya hanya mengangguk pelan seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh area hingga netra matanya menangkap keriuhan yang berada jauh di sudut kanan restaurant.
"Kamu tunggu di sini. Aku ke sana dulu sebentar". Ujar Satya.
"Tapi Beb...."
"Satya!". Panggil Nadya sedikit kesal karena Satya sudah pergi begitu saja meninggalkan dirinya.
...🌴🌴🌴...
__ADS_1
Like, komen, vote yaaaaa!😘
kalau sempet next bab aku up malam ya❤