
"Di sini Sandra di rawat Pak, Bu.." Ujar Satya saat mereka bertiga berhenti di depan sebuah kamar rawat inap VIP di sebuah rumah sakit swasta terkenal.
Dimas menyusuri tiga orang bodyguard yang berjaga di depan pintu. "Bapak dan Ibu ini adalah orang tua istriku. Jadi beri akses untuk keluar masuk ruangan. Jangan sampai salah orang!" Titah Satya pada ketiga bodyguard untuk mengenali wajah Dimas dan Retno.
"Baik, Pak!". Seru ketiga orang bodyguard.
Satya pun lantas membuka pintu ruang rawat inap dan melihat ada Merin serta Giska yang hadir menemani Sandra. Merin serta Giska pun lantas segera mencium kedua tangan Dimas dan Retno serta menundukkan kepala pada Satya.
"San, kita pulang dulu deh ya. Kalau lo masih di sini, besok kita datang lagi deh kalau lo gak ada yang temanin". Ujar Merin menatap Sandra.
"Gak perlu.. Kalian datang lagi setelah gw pulang dari rumah sakit aja ya.." Sahut Sandra. "Makasih kalian mau langsung datang setelah gw telfon" Sandra tersenyum dengan tulus.
Merin dan Giska pun segera berpamitan pada Dimas, Retno dan juga Satya. Selepas mereka pergi, Satya menghampiri Sandra dan mengusap kening sang istri dengan lembut. "Apa kau perlu sesuatu?" Tanya Satya.
Sandra menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Tidak ada. Merin dan Giska sudah menyuapi aku makan dan mengupas buah". Ujar Sandra. "Maafkan aku karena tidak meminta izinmu dulu untuk memanggil mereka kemari". Sandra menatap Satya dengan serius.
Satya terkekeh pelan. "Kau tidak perlu izinku jika itu hanya tentang kawan-kawan perempuanmu".
"Ehem!'. Dimas berdeham menginterupsi obrolan Sandra dan Satya.
"Bapak... Ibu..." Sandra sedikit mendongakkan kepalanya melihat ke arah Dimas dan Retno yang berada di belakang tubuh Satya.
"Bagaimana bisa seperti ini, Nak..' Sahut Retno menyisir penampilan Sandra yang banyak terbalut perban.
"Sandra tidak apa-apa, Bu. Jangan kuatir".
__ADS_1
"Tidak apa-apa bagaimana, Sandra! Untung saja kamu masih hidup! Lihat dirimu! Tangan dan kaki di perban semuanya, kamu juga sampai kehilangan calon anakmu" Timpal Dimas.
Sandra menggerakkan tubuhnya agar sedikit terduduk. Dengan cekatan Satya menekan tombol di bawah kasur agar posisi kasur sedikit terangkat.
"Apa benar yang melakukan ini semua padamu adalah istri pertama dari suamimu?". Tanya Dimas menatap tajam pada sang putri
Raut wajah Sandra berubah terkejut. Ia menatap Satya lalu beralih menatap kedua orang tuanya. "Alu sudah memberitahukan semuanya sayang". Ujar Satya memecah keheningan.
"Ya kamu memang sudah memberitahu semuanya pada kami, setelah semuanya terlambat!" Sergah Dimas yang masih memasang sikap tak bersahabat pada sang menantu.
Satya terdiam tidak menyanggah apapun. Ia memang bersalah dan sikap mertuanya bisa Ia maklumi.
"Setelah kamu keluar dari rumah sakit, segera urus perceraian mu dengannya. Bapak tidak mau hal yang lebih buruk terjadi padamu, San!".
"PAK!" Sandra, Satya juga Retno berseru secara bersamaan.
"Saya tidak akan pernah menceraikan Sandra, Pak."Ujar Satya dengan nads tegas.
"Tapi keselamatan putri saya bisa terancam lebih dari ini!" Sanggah Dimas menatap Satya dengan emosi.
"Saya akan benar-benar fokus menjaga Sandra. Saya akan menjaga Ibu serta Bapak juga. Saya mohon percaya dengan saya" Ujar Satya.
Dimas memijat dahinya yang terasa ada beban berat di dalamnya. Retno mengelus punggung sang suami. "Kalau kamu bagaimana, Nak? Menjadi istri kedua itu tidak mudah. Semua orang akan mencelamu. Apa kamu sanggup?" Tanya Retno beralih menatap Sandra.
"Sandra sudah memikirkan segalanya, Bu." Ujar Sandra. "Sandra memilih untuk bertahan di sisi suami Sandra." Sandra menggenggam lengan kekar Satya. "Sandra mempercayainya".
__ADS_1
Satya menatap Sandra seraya tersenyum.tulus. "Terima kasih sayang" Ucap Satya hampir berbisik.
"Pak, Bu.. Saya dari awal menikahi Sandra bukan untuk menjadikannya istri kedua selamanya. Pernikahan pertama saya sangat rumit, memang saya salah tidak mengakhiri lebih dulu pernikahan pertama saya sebelum menikahi Sandra" Satya menatap kedua mertuanya dengan serius. "Tapi percayalah Pak, Bu.. Yang saya cintai hanya putri kalian".
"Cih! Pria memamg pandai bersilat lidah kan!". Decak Dimas.
Satya menghela napas perlahan. Akhirnya dengan sabar Satya pun menjelaskan bagaimana kondisi pernikahannya dengan Nadya dan berasal dari keluarga mana istri pertamanya itu.
"CARLTON?!" Pekik Dimas tak percaya.
"Ini gila! Keluargamu saja sudah mampu menghabisi orang hanya dengan jentikan jari, dan sekarang di tambah keluarga Carlton?!".
Dimas menatap Sandra dengan tatapan yang amat rumit. "Nak, ini akan berbahaya untukmu. Bapak harap kamu bisa lebih realistis. Berada di antara dua keluarga itu bukanlah suatu keputusan yang tepat" Ujar Dimas.
"Saya akan menjamin keselamatan kalian. Sandra akan di jaga oleh tiga orang bodyguard terlatih, begitu juga dengan Bapak, Ibu. Sabil dan Sisil. Saya akan menempatkan beberapa orang bodyguard di rumah". Jelas Satya. "Saya hanya membutuhkan dukungan dan kepercayaan kalian agar saya bisa segera mengatasi semuanya"
Semua orang di dalam ruangan mendadak terdiam. Hening tak ada yang bersuara. Masing-masing sibuk dengan pikirannya. Hingga terdengar sebuag ketukan di pintu dan nampak seorang bodyguard melangkah masuk menghampiri Satya.
"Pak, di depan ada Pak Sean yang ingin masuk menemui Bapak". Lapor sang bodyguard. Satya menganggukkan kepala. "Biarkan dia masuk". Ujar Satya.
Tak lama Sean akhirnya melangkah masuk ke dalam ruangan rawat inap dengan membawa beberapa buah-buahan di tangannya. Dimas dan Retno menatap Sean dengan pandangan bertanya-tanya.
"Kenalkan Pak. Bu.. Ini Sean yang telah menolong Sandra. Dia yang membawa Sandra ke rumah sakit". Ujar Satya.
Dimas dan Retno bersalaman dengan Sean seraya mengucapkan banyak terima kasih. Tak lupa Sandra pun mengucapkan terima kasih seraya menitikkan air mata tatkala mengingat kembali kejadian tempo hari dan betapa bersyukurnya Ia bertemu dengan Sean di lift.
__ADS_1
...🌴🌴🌴...