Racun Atau Madu?

Racun Atau Madu?
Bab 18


__ADS_3

"Ini, Tuan". Sahut Sandra seraya memberikan sebuah stik iron nomor 5.


Satya menerima stik golf dari tangan Sandra dan mengangkat stik tersebut ke udara. "Apa alasanmu memberikan iron nomor 5 ini padaku sekarang?". Satya menatap Sandra dengan serius.


Sandra melarikan netra matanya ke arah green area yang masih terlihat jauh dari posisi bola golf Satya saat ini.


"Hole 5 ini adalah Par 5, Tuan. Terlebih lagi hole ini disebut dog leg. Jarak bola anda masih sangat jauh ke green area. Di sisi kanan dan kiri ada water hazard (rintangan berupa danau buatan) dan juga bunker (Cekungan berisi pasir)". Sandra menjelaskan pada Satya dengan detil.


"Stik iron nomor 5 ini stik yang tepat disertai dengan pukulan yang sangat kuat agar membawa bola anda lebih melambung jauh melalui dua rintangan tersebut". Lanjut Sandra.


Satya menatap Sandra selama beberapa detik hingga pria itu menunduk mengulas senyum yang samar tertutupi oleh topi hitamnya.


"Bagus. Kau bisa menjelaskan dengan baik dan memberikan stik golf yang tepat untukku". Jawab Satya seraya mengambil posisi bersiap untuk memukul bola.


Tak!


Satya memukul bola golf miliknya dengan kuat. Saat ini Sandra hanya bisa mengira-ngira di area mana bola tersebut jatuh karena bentuk hole 5 saat ini adalah membelok ke kiri hingga tak terlalu terlihat dari posisi Sandra berdiri.


"Ayo!". Ujar Satya melangkah menuju buggy car.


Sandra berlari kecil mendahului Satya dan dengan sigap segera duduk di belakang buggy car. "Biarkan sekarang saya yang mengemudikan ini. Anda duduk saja di sebelah saya". Ucap Sandra memegang erat kemudi.


Satya tersenyum miring. "Terserah kau saja". Satya lalu mendudukkan tubuhnya di atas buggy car hingga Sandra segera menekan pedal gas perlahan.


Angin sepoi-sepoi menerpa wajah Sandra maupun Satya selama buggy car melaju. Sandra sesekali mengedarkan pandangannya ke arah kiri berusaha mencari sebuah bola putih kecil di atas rerumputan hijau yang menyegarkan mata.


"Sebelum menjadi caddy, apa pekerjaanmu?". Tanya Satya memecah keheningan di antara mereka.


Sandra menoleh sekilas pada Satya. "Saya bekerja menjadi Salesgirl, Tuan".


"Salesgirl mobil? Rokok? Atau apa?". Satya balik bertanya.


"Salesgirl di sebuah provider. Saya menawarkan program paket TV Kabel. Semacam itu.." Sandra menjelaskan.


Satya mengangguk-angguk paham. "Kupkir Salesgirl mobil atau rokok. Kudengar sales bagian itu fee yang di dapat cukup besar".


Sandra menggelengkan kepala seraya tersenyum. "Saya tidak suka dengan lingkungan kerjanya". Ucap Sandra.


"Kenapa memangnya? Kurasa semua sales sama saja. Pekerjaan utama mereka hanya menawarkan sebuah produk dan meyakinkan konsumen untuk membeli produk yang mereka tawarkan". Jelas Satya menatap Sandra dengan raut wajah serius.

__ADS_1


"Ya, Saya tau itu Tuan. Hanya saja ruang lingkup dua bagian salesgirl itu identik di kelilingi oleh para pria".


"Di sini pun sama. Lihat sekarang.. Kau menemaniku di lapangan hanya berdua. Aku pun seorang pria". Jawab Satya santai.


"Maksud saya....."


"Para pria nakal, maksudmu?". Satya memotong ucapan Sandra.


Sandra mengangguk pelan.


Tiba-tiba saja Satya mencondongkan tubuhnya ke arah Sandra. "Apa aku tidak termasuk pria nakal?". Tanya Satya sedikit berbisik.


Sikap Satya sontak saja membuat Sandra terkejut hingga sedikit membanting stir buggy car ke arah kiri. "Hey hati-hati!". Ucap Satya mengingatkan.


"Ma-maaf, Tuan. Anda habisnya mengejutkan saya." Ujar Sandra jujur tanpa berani melihat ke arah Satya.


"Kenapa begjtu saja kau harus terkejut?".


"Kau di rangkul, dagumu di sentuh, dadamu di sentuh oleh pria saja kau diam. Kenapa sikapku yang tidak ada apa-apanya malah membuatmu terkejut dan gugup?".


Sandra mengerutkan keningnya menatap ke arah Satya. "Maksudnya, Tuan?".


"Aku yang hanya sedikit mendekat dan berbisik tanpa menyentuhmu, kau mau membuatku terguling-guling dengan buggy car ini". Satya berucap panjang lebar seraya menggeser duduknya sedikit miring hingga menghadap ke arah Sandra.


"Saya tidak punya pilihan lain, Tuan. Jika saya menolak dengan keras, saya takut Pak Teguh tersinggung dengan sikap saya." Ujar Sandra berkelit.


Memang benar kan? Gw harus ngapain ketika dapat pemain yang mesum? Apa gw harus teriak-teriak seperti orang gila di tengah lapangan?


Sandra membatin dalam hati.


"Sandra..." Panggil Satya pelan.


"Ya, Tuan?".


"Kau mau menculikku?". Tanya Satya seraya menatap Sandra.


"Maksud anda apa?".


"Lihat ke sekitarmu. Kita bahkan bukan lagi berada di area lapangan golf." Satya terkekeh pelan. "Kau mau menculikku, huh?".

__ADS_1


Sandra mengedarkan pandangannya dan benar saja Ia kini tidak lagi berada di area lapangan golf. Ternyata tanpa sadar Sandra mengemudikan buggy car melewati jalan menurun yang mengantarkan mereka pada area hutan kecil yang masih menjadi bagian Golf Country Club.


"Astaga! Maafkan aku!".Sandra panik sendiri.


"Tuan sih mengajak saya ngobrol terus jadi saya tidak fokus melihat jalan!". Ujar Sandra tak sadar telah menyalahkan Satya.


Satya melongo mendengar Sandra malah menyalahkan dirinya. "Yang benar saja! Kau yang menyetir kenapa malah aku yang disalahkan!".


"Kau memang sengaja mau menculikku" .


Sandra menganga dengan raut wajah terkejut. "Tuan, jika ada salah satu dari kita yang memiliki niat untuk menculik. Itu pasti anda. Saya hanya perempuan bertubuh kecil. Dari postur tubuh saja saya sudah kalah tenaga".Ucap Sandra.


"Lagipula siapa yang berani menculik dia? Aku pasti langsung menutup mata selamanya jika itu terjadi". Kali ini Sandra menggerutu pelan namun masih bisa terdengar oleh Satya.


"Aku tidak akan membunuhmu tenang saja". Satya terkekeh pelan hingga membuat Sandra malu.


Sandra lantas mengambil ancang-ancang untuk memutarbalikkan buggy car nya menuju kembali ke area lapangan golf.


"Biarkan kita diam sejenak disini." Ujar Satya pelan menatap ke sekitar pepohonan hijau yang rimbun dan menjulang tinggi.


"Disini rasanya menenangkan". Satya lalu menoleh pada Sandra.


"Tapi ini hari percobaan terakhir saya, Tuan. Kalau saya tidak mendapatkan penilaian hari ini, saya takut harus kembali menjalani pelatihan". Sandra mengeluarkan uneg-unegnya seraya menunduk.


"Kau lupa siapa aku?".


"Saya memang tidak tahu siapa anda kecuali anda adalah anak pemilik Golf Country Club ini". Jawab Sandra lugas.


Satya menjentikkan jarinya. "Itu kau tahu! Jadi tak perlu kuatir".


"Tapi sama saja saya mendapatkan penilaian secara cuma-cuma tanpa melakukan apapun. Rasanya tidak adil". Ujar Sandra.


"Aisshh kau bukannya senang malah memilih yang merepotkan dirimu!".


"Begini saja, untuk penilaian hari inj yang kuberikan untukmu, kau ganti dengan pergi makan malam denganku! Kau setuju?".Satya memberikan sebuah solusi yang menarik.


...🌴🌴🌴...


Oke, 2 bab di siang hari 🀣 (Selagi santai ya.. Biasanya gak santaiπŸ˜…)

__ADS_1


Tanda kasih sayangnya dooongggsss 😘


__ADS_2