
Satya menghentikan mobilnya di tepi jalan raya. Ia lupa menanyakan di mana alamat pasti rumah Sandra. Gadis itu tadi hanya memberi tahu bahwa rumahnya berada di perumahan A yang letaknya di timur kota. Kini Satya sudah melihat gapura masuk yang terdapat tulisan besar di atasnya.
Satya melirik sekilas Sandra yang sedang tertidur lelap. Tubuhnya yang kecil memang terlihat tenggelam di balik jaket bomber Satya yang berukuran XL. Ia menelisik paras teduh Sandra yang seakan sedang di buai bunga tidur. Ia mengulurkan tangannya ke arah rambut Sandra yang menutupi sisi wajahnya.
Namun belum sempat Ia menyentuhnya, Sandra membuka mata. Keduanya saling menatap dan sedetik kemudian....
Plak!
Satya menepuk pipi kiri Sandra dengan cukup keras. Pria itu lalu berdeham menetralkan gugupnya karena takut terciduk sudah mengamati Sandra saat wanita itu tertidur.
"Tu-tuan..." Sandra yang baru saja terbangun merasa terkejut sekaligus takut karena tiba-tiba di tampar oleh Satya.
"Tadi ada lalat! Makanya aku tepuk pipimu." Ujar Satya berkilah.
"Lalat?".Sandra menoleh ke sekitar mencari keberadaan lalat yang di maksud oleh Satya.
"Apa Tuan tidak salah lihat? Mana mungkin ada lalat di dalam mobil mewah seperti ini". Ujar Sandra kebingungan.
"Tentu saja ada!".
"Kau tadi muntah di pinggir jalan dan kau pasti tahu kan lalat suka hal yang kotor. Mungkin percikan muntahanmu masih membekas di sisi mulutmu itu". Satya terus berkilah. Harga dirinya benar-benar setinggi angkasa!
Sandra terdiam sejenak mencerna ucapan Satya. "Ah..Anda benar juga. Mungkin lalat itu mengikuti saya masuk ke dalam mobil hehehe".
Sandra lantas mengedarkan pandangannya ke luar mobil dan melihat bahwa mereka sudah berada di depan perumahan. "Kalau begitu saya turun di sini saja, Tuan. Terima kasih untuk malam ini". Ujar Sandra menundukkan kepala.
Saat hendak membuka tuas pintu mobil, Satya menahan lengan Sandra begitu saja hingga membuat Sandra menoleh ke arahnya.
"Kenapa, Tuan?".
"Siapa yang memintamu untuk keluar dari mobil?". Tanya Satya.
"Tidak apa-apa, Tuan. Ini sudah di depan gerbang masuk perumahan saya". Tunjuk Sandra pada gapura perumahan.
"Justru itu aku berhenti di sini menunggumu bangun untuk mengantarmu tepat ke depan pintu rumahmu. Bukan menurunkanmu di pinggir jalan seperti ini". Ujar Satya.
"Tapi tidak perlu. Rumah saya tidak jauh dari gapura kok, Tuan". Tolak Sandra.
Satya menyalakan kembali mesin mobilnya. Ia mulai mengemudikan mobil masuk ke dalam perumahan. "Aku tidak suka dengan penolakan. Aku juga tidak suka memikirkan diriku yang membiarkanmu turun di pinggir jalan. Jadi berhenti menolak niat baikku". Sahut Satya penuh penekanan hingga membuat Sandra terdiam.
__ADS_1
Satya mengemudi dengan pelan mengitari jalan perumahan Sandra. Ia mengamati satu per satu rumah yang ada. "Aku tidak menyangka kalau kau tinggal di kawasan ini". Ujar Satya memecah keheningan.
"Kenapa begitu, Tuan?".
"Kawasan ini termasuk kawasan elit sejak zaman dulu. Rumah-rumah di sini banyak dari rumah kuno peninggalan Belanda. Halamannya luas-luas dan lokasinya tenang". Ujar Satya.
"Aku curiga kau adalah orang kaya yang sedang mencoba menjadi orang miskin, huh?".
Tawa Sandra meledak begitu saja mendengar penuturan Satya. "Hahahaa! Tuan ada-ada saja! Kalau saya jadi orang kaya, saya akan menikmatinya dengan sangat baik! Hehehehehe".
"Hm.. Tapi masih cukup aneh untukku kau tinggal di kawasan ini".Gumam Satya.
"Kenapa Tuan tidak berpikir saya adalah seorang pembantu yang tinggal di rumah majikannya?".
Satya menoleh pada Sandra dengan raut wajah terkejut. "Benarkah seperti itu?!".
Sandra terkekeh geli seraya mengibaskan tangannya ke udara. "Saya bercanda, Tuan! Hehehe"
"Dari sini belok ke kiri, Tuan. Rumah saya yang paling tinggi tanahnya tapi juga paling jelek di antara yang lainnya". Ujar Sandra memberitahu Satya.
"Paling tinggi tanahnya tapi paling jelek... Kau sedang berteka-teki atau apa sebenarnya?". Sahut Satya seraya membelokkan mobilnya ke kiri dan mengedarkan pandangannya ke seluruh area.
Satya dengan cekatan memberhentikan laju mobilnya tepat di depan sebuah pagar yang membentang tinggi namun sudah terlihat mengelupas di banyak sisi.
"Ini rumahmu?" Tanya Satya memperhatikan tampilan rumah Sandra.
"Iya, Tuan". Ujar Sandra seraya melepas seatbelt yang membelit tubuhnya.
"Terima kasih untuk malam ini. Saya sangat menikmatinya hehe"
Satya mencibir. "Menikmati bagaimana... Makanannya saja kau muntahkan semua".
Sandra terkekeh pelan. "Setidaknya saya menikmati jalan berdua dengan anda. Kesempatan seperti ini tidak akan datang lagi pada saya!". Ujar Sandra jujur.
Satya menatap wajah Sandra sejenak hingga membuat keduanya dalam situasi yang canggung. "Hmm.. Turunlah dan segera istirahat." Sahut Satya memecah kecanggungan di antara mereka.
Sandra mengangguk dan segera menarik tuas pintu mobil. Ia menoleh ke arah Satya sekali lagi seraya menundukkan kepala dan keluar dari mobil.
"Sandra". Panggil Satya melalui jendela mobilnya yang di buka.
__ADS_1
"Ya, Tuan?". Ujar Sandra melongokkan kepalanya ke dalam mobil.
"Lain waktu kita bertemu lagi, panggil aku dengan namaku. Dan hilangkan kata 'Tuan' untukku."
"Ta-tapi Tuan..."
"Aku tidak mau di bantah. Kau boleh memanggilku Tuan jika sedang di hadapan banyak orang seperti di lapangan golf. Tapi jika sedang berdua seperti sekarang, hilangkan itu". Titah Satya.
Sandra akhirnya hanya bisa memenuhi permintaan Satya dan segera pamit untuk masuk ke dalam rumah.
Satu jam kemudian...
Satya memencet sebuah remote kecil dari dalam mobilnya dan tak lama pintu gerbang rumahhya pun terbuka otomatis. Ia lalu membuka kembali pintu basement dengan memencet sebuah tombol di dinding yang masih bisa terjangkau oleh tangannya dari dalam mobil.
Satya lantas memarkirkan sedan mewah dua pintu miliknya dengan baik. Ia segera menaiki tangga yang menghubungkan area basement menuju area ruang tamu. Satya melirik arloji yang melingkar di tangan kirinya dan melihat waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.
Suasana di lantai 1 nampak sudah sepi. Para pekerja rumah tangga pun sepertinya sudah beristirahat. Satya lantas segera menuju lift untuk membawanya ke lantai 3.
Tak lama suasana di lantai 3 masih terang benderang. Sebuah televisi masih menyala namun tidak ada yang menonton. Satya mengambil remote dan mematikan TV tersebut.
Ia lalu melangkah menuju kamar tidurnya dan saat Ia membuka pintu, terlihat seorang wanita tengah berbaring santai seraya memainkan ponsel.
"Kenapa telat sekali pulangnya?". Tanya Nadya seraya beranjak dari kasur.
"Kenapa kau berada di kamarku?". Satya bertanya balik pada Nadya dengan menatap tajam.
"Yank..." Sahut Nadya mulai merajuk.
"Keluar dari kamarku, Nadya. Aku sangat lelah".
"Aku tidak mau". Ujar Nadya.
Satya menghela napas kasar dan menatap Nadya dengan seksama. "Lalu kau mau apa, huh?".
Nadya mengulas senyuman manja. "Aku ingin kamu, Yank..."
...🌴🌴🌴...
Love, komen, hadiahnya donggss😘
__ADS_1
Next👉 Aku up 2 bab sekaligus.