Racun Atau Madu?

Racun Atau Madu?
Bab 32


__ADS_3

"Selesai!". Seru Sandra dengan wajah yang di hiasi senyum lebar menatap pada beberapa pot tanaman hias yang telah Ia pindahkan dari pot lama ke dalam pot baru dan di beri pupuk.


Sandra menggeser satu per satu pot tanaman tersebut dengan pola berjejer. Ada beberapa pot yang di tumbuhi oleh tanaman bunga mawar dan juga bunga anggrek putih. Pekarangan rumahnya yang luas dan subur tak menyulitkan dirinya untuk sekedar mencari tambahan tanah. Ia sama sekali tidak perlu membeli sekarung tanah hanya untuk pot tanaman hiasnya. Ia patut bersyukur untuk hal itu.


Sandra lalu menuju ke kran air. Ia lantas menyirami satu per satu tanaman yang ada di halamannya seraya bersenandung pelan. Pagi ini mood nya sangat baik. Hari ini adalah hari liburnya yaitu hari senin di mana Golf Country Club tutup juga tak lupa hari ini adalah waktunya gajian para caddy per pekan. Dalam 5 hari kerja, Sandra setiap hari turun lapangan. Otomatis pendapatan yang Ia dapatkan cukup lumayan belum lagi di tambah dengan uang support operasional.


Tips yang Ia dapatkan dari para pemain golf pun cukup banyak. Namun Sandra tak menampik bahwa pemain golf yang memberikannya tips paling besar adalah Satya. Walau kemarin Ia sempat berselisih dengan pria itu dan berujung mempermalukan dirinya sendiri, namun Sandra tetap menemani Satya bermain hingga 18 hole dan pria itu memberikan tips sebesar dua juta rupiah yang di masukkan ke dalam amplop.


"San, bantu bapak cabut rumput di halaman belakang". Seru Dimas menghampiri Sandra yang baru saja mematikan kran air.


"Baik, Pak".


Sandra mengikuti Dimas menuju halaman belakang yang sebenarnya di buat khusus untuk area tempat menjemur pakaian. Sandra memakai sarung tangan tebal dan berjongkok mencabuti segenggam demi segenggam rumput liar.


"Bagaimana pekerjaanmu menjadi caddy? Apa kamu betah menjalani pekerjaan itu?" Tanya Dimas tanpa melihat ke arah Sandra dengan tangan yang sibuk mencabuti rumput.


"Betah tidak betah lah, Pak. Tapi pekerjaan ini lebih baik daripada semua pekerjaan Sandra sebelumnya".


"Apa yang membuatmu tidak betah?".


"Begitulah... Ada saja pemain golf yang genit pada Sandra, Pak. Tapi sejauh ini hal itu masih bisa Sandra atasi".Jawab Sandra.


"Mereka semua itu orang-orang kaya, San. Mereka mungkin berpikir caddy bisa di beli dengan uang yang mereka punya hehehhee". Dimas terkekeh. "Apa mereka semua seusia bapak atau kamu pernah membawa pemain golf yang masih muda?".


Mendengar pertanyaan dari Dimas sontak saja pikiran Sandra berlari pada sosok Satya. Pemain golf yang masih muda dan tampan juga.... Harum. Tapi tingkah pria itu yang selalu menggoda dirinya membuat Sandra bertanya-tanya apa memang semua pria kaya memiliki sifat genit pada dasarnya.


"Pemain golf yang masih muda banyak, Pak. Tentu saja Sandra pernah menemaninya. Terkadang yang seusia kakek pun Sandra pernah menemani di lapangan golf". Jawab Sandra.


"Semoga saja ada jodohmu dari salah satu pemain muda itu, San"


Sandra terkejut mendengar hal itu. "Bapak ini! Sandra belum berpikir tentang jodoh loh, Pak!". Kilah Sandra.


"Ini kan siapa tahu saja..." Dimas terkekeh seraya mengangkat tumpukan rumput yang sudah di cabut untuk di buang ke tempat sampah.

__ADS_1


...


Selesai beraktifitas di pekarangan rumah, Sandra segera membersihkan dirinya dan bersiap untuk membantu sang Ibu di dapur. Sandra membuka kulkas yang terlihat kosong tidak ada bahan makanan. Ia menghela napasnya lalu berjalan menuju kamar dan mengambil sebuah amplop putih yang kemarin di berikan oleh Satya sebagai tips.


Sandra lantas keluar kamar dan mencari keberadaan sang Ibu. Sandra mengitari rumah dan melihat Retno sedang sibuk memilah pakaian kotor untuk di cuci.


"Bu..." Panggil Sandra.


Retno menengok ke arah Sandra. "Kenapa, Nak?"


Sandra lantas menyerahkan sebuah amplop putih pada Retno. "Ini ada uang untuk tambahi buat belanja dapur, Bu". Ucap Sandra.


Retno terperangah menatap Sandra dan menerima amplop tersebut. "Terima kasih, Nak. Apa kamu masih ada pegangan uang? Jangan semuanya di kasih ke Ibu, San". Sahut Retno.


"Sandra masih ada kok, Bu. Uang gaji Sandra malah masih utuh di ATM. Itu uang dari tips pemain golf yang Sandra temani di lapangan, Bu". Ucap Sandra melihat Retno yang membuka amplop dan menghitungnya.


"Astaga banyak sekali. Apa kamu yakin memberi Ibu 1 juta ini?"


Sandra terkekeh pelan. "Yakin dong, Bu. Doakan saja Sandra lancar rejekinya ya, Bu".


"Ngomong-ngomong Ibu mau masak apa hari ini? Sandra bantu, Bu".


"Tidak usah. Kamu santai saja. Ini kan hari istirahat kamu". Tolak Retno yang tak bisa di sanggah lagi.


Sandra lalu pamit untuk pergi mandi. Setelah 15 menit Ia merasa tubuhnya sangat segar. Sandra lantas mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Dalam beberapa kali nada sambung, telfonnya pun terhubung.


...🌻🌻🌻...


Mall Southyvile


Sandra yang baru saja memasuki mall mengedarkan netra matanya mencari eskalator yang akan membawanya ke lantai atas. Ia berjalan dengan santai seraya merapihkan sedikit tatanan rambutnya yang diterpa angin setelah naik ojeg selama perjalanan ke mall.


Tak berapa lama kemudian Sandra memasuki sebuah restoran cepat saji yang terkenal dengan logo ayam putihnya. Sandra berdiri sejenak mencari seseorang yang Ia cari dan melihat seorang wanita melambaikan tangan ke arahnya dari kejauhan. Sandra tersenyum lebar dan segera melangkah menghampiri ke meja yang terletak di sudut.

__ADS_1


"Sandra! Ya ampun kangen banget!". Ujar Cica berdiri dan memeluk Sandra.


Sandra membalas pelukan Cica tak kalah hangatnya. Keduanya pun lantas duduk berhadapan. "Gimana kabar lo, Ca?". Tanya Sandra.


"Seperti yang lo lihat. Gw baik-baik aja." Jawab Cica.


Cica menelisik tampilan Sandra dengan seksama dan mengulas senyum menggoda. "Kayaknya lo happy banget nih kerja jadi caddy ya?" Ujar Cica.


"Happy ya happy, Ca. Walau kepanasan dan kehujanan adalah resikonya hahaha".


"Eh lo masih jadi salesgirl?" Tanya Sandra.


"Masih, San. Gw sekarang kebagian di mall selama 3 bulan. Lumayanlah adem kan hhehehehee"


"Oh iya! Lo tau gak si supervisor? Dia di pecat loh! Hahahaah" Ucap Cica dengan bersemangat.


Sandra melotot terkejut. "Kok bisa?!"


"Jadi dia tuh ngelecehin salah seorang salesgirl baru! Dan salesgirl baru itu langsung ngelapor ke atasan dong hahahhaha" Jawab Cica seakan puas akan nasib sang supervisor.


Sandra tersenyum miring merasa tak aneh.


"Oh iya, Ca..." Sandra merogoh ke dalam tasnya dan mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah.


"Ini gw balikin uang yang dulu gw pinjam ya, Ca. Makasih banyak lo udah bantuin gw saat itu" Ujar Sandra seraya menyerahkan uang tersebut pada Cica.


"Ya ampun, San. Gak perlu lo kembaliin juga gak apa-apa. Gw ikhlas bantuin lo". Jawab Cica menolak menerima uang ganti dari Sandra.


Dengan gesit Sandra memasukkan uang tersebut ke dalam genggaman tangan Cica. "Please, Ca terima uang ini. Tanpa uang ini mungkin gw gak bisa pergi ngelamar pekerjaan caddy waktu itu. Jadi jangan bikin gw ngerasa bersalah dong". Paksa Sandra yang akhirnya di terima oleh Cica.


Sepanjang hari itu keduanya pun menghabiskan waktu bersama dengan menonton film di bioskop dan baru pulang ke rumah masing-masing ketika senja sudah menyapa bumi.


...🌴🌴🌴...

__ADS_1


Like, komen, hadiahnya donggss~😘


__ADS_2