Racun Atau Madu?

Racun Atau Madu?
Bab 79


__ADS_3

"Pak Satya Nagara?!" Ucap Sean dengan wajah terkejut saat melihat kedatangan Satya masuk ke dalam ruangan.


"Di mana istriku?". Tanya Satya tanpa basa basi saat dirinya sudah berada tepat di hadapan Sean.


"Istri?". Gumam Sean membeo. Ia terlihat masih terkejut dengan kehadiran Satya hingga membuatnya blank.


Sean mengerjapkan mata berusaha menguasai dirinya kembali hingga Ia menatap Satya tepat ke dalam netra tajam pria itu. "Ahh yaa. Istri.." Ucap Sean dengan canggung. "Maaf Pak Satya, saya cukup terkejut melihat kehadiran anda di sini" Sean melemparkan senyum pada Satya yang memasang wajah datar.


"Di mana istriku?". Ulang Satya.


"Istri anda saya bawa ke rumah sakit, Pak Satya. Saya akan mengantar anda kesana". Ujar Sean.


Satya terdiam sejenak tengah memikirkan sesuatu hingga akhirnya Ia menganggukkan kepala. "Baiklah." Sahut Satya. "Tapi anda yakin langsung pergi sekarang? Kurasa anda perlu membersihkan diri lebih dulu". Satya menatap banyak noda darah di kemeja yang membalut tubuh Sean.


Sean melirik kemejanya. "Anda benar. Saya sampai lupa dengan penampilan saya."


"Apa ini semua..... Darah istriku?" Tanya Satya pelan.


Sean mengangguk. "Ya. Istri anda terluka di tangan, kaki dan....." Sean menggantungkan ucapannya.


"Dan apa?". Tanya Satya menatap Sean dengan raut wajah serius.


Sean lantas tersenyum seraya mengibaskan tangan. "Tidak apa-apa. Anda bisa melihatnya langsung saja nanti" Ujar Sean. Pria itu tadinya ingin memberitahu tentang keguguran yang di alami oleh Sandra, namun urung Sean beritahukan karena hal sepenting itu rasanya akan lebih baik jika Satya mendengar dari dokter yang menangani Sandra langsung.


"Apa anda keberatan menunggu saya untuk membersihkan diri sebentar?" Ujar Sean. "Atau jika tidak mau menunggu, saya bisa memberikan nomor kamar rawat istri anda saja". Sean menawarkan solusi pada Satya.

__ADS_1


"Tidak.. Tidak.. Alangkah lebih baik jika aku menungggu saja. Kau sudah menolong istriku, menunggu sebentar bukan masalah untukku". Ujar Satya. Sean mengangguk lalu bergegas naik ke lantai atas menuju unit apartemen miliknya untuk membersihkan diri.


Tiga puluh menit kemudian...


Sean yang sudah terlihat segar akhirnya segera kembali menemui Satya yang memutuskan untuk menunggunya di area lobby apartemen.


"Maaf sudah menunggu, Pak Satya". Ujar Sean berdiri tepat di hadapan Satya yang sedang duduk sendirian dan sibuk dengan ponsel yang berada di genggamannya.


Satya mendongakkan kepala ke atas lalu beranjak berdiri. "Ayo cepat". Ujar Satya tanpa basa basi.


"Asisten anda kemana? Apa dia tidak ikut?". Tanya Sean seraya netra matanya memindai ke sekitar.


"Dia sedang kutugaskan untuk mengurus beberapa hal penting" Jawab Satya seraya melangkah. "Kita pakai mobilku saja ke rumah sakit". Lanjut Satya tanpa melirik sama sekali ke arah Sean yang berjalan di sisinya.


Sean mengangguk saja tanpa menjawab apapun. Entah mengapa sejak pertama kali bertemu dengan Satya, Sean merasa pria itu seperti menjaga jarak bahkan bersikap dingin padanya. Namun Sean tidak ambil pusing, bisa saja karakter putra tunggal keluarga Nagara memang tertutup.


"Tidak perlu. Ini mobilku, alangkah lebih baik aku yang menyetir. Lagipula kau bukan supirku kan?". Ujar Satya seraya mengangkat sebelah alisnya menatap ke arah Sean.


Sean mengulum senyum tipis seraya menganggukkan sedikit kepalanya. "Oke. Terserah anda saja". Ujar Sean lalu segera membuka pintu mobil Satya dan mendudukkan dirinya di kursi samping pengemudi.


Tak membuang waktu lama, Satya segera melajukan mobilnya ke rumah sakit swasta terkenal yang di sebut oleh Sean sebelumnya. Sepanjang perjalanan keduanya lebih banyak diam. Sean hanya memainkan ponselnya berusaha mengalihkan aura canggung yang sungguh kentara di antara mereka berdua.


"Bagaimana keadaan istriku saat pertama kali kau menemukannya?". Tanya Satya tiba-tiba memecah keheningan.


Sean menatap Satya sekilas lalu mengunci kembali ponselnya. "Istri anda......." Sean terlihat berpikir sejenak berusaha merangkai kata yang tepat. ""Dia terlihat kesakitan.. Banyak serpihan kaca yang menusuk tangan dan telapak kakinya".

__ADS_1


"Bukankah anda bisa melihat semua itu di CCTV?".


A


Satya mengangguk. "Ya. Hanya saja aku tidak bisa melihat kalian berdua di dalam lift karena CCTV lift sedang dalam pemeliharaan saat itu terjadi kata kepala pengamanan"


Sean mengangguk paham. "Awalnya saya berada di lift menuju naik ke atas, namun di lantai tempat unit saya berada, istri anda masuk dengan keadaan yang sudah berdarah dan wajahnya pucat sekali". Ujar Sean menjelaskan.


"Melihat keadaan seseorang seperti itu tentu saja saya bertanya padanya. Saya lalu mengamati wajahnya dan terkejut kalau ternyata dia adalah seorang caddy yang pernah menemani saya bermain golf bersama anda beberapa waktu yang lalu."


"Saat itu tujuan saya hanya menolongnya. Di lift dia pingsan dan karena itulah saya keluar dari lift dalam keadaan menggendongnya. Maaf jika itu mengganggu anda.".


Satya menatap tajam ke depan dan menggenggam erat kemudi. "Tidak masalah. Saat itu kondisi darurat. Aku bisa mengerti". Ujar Satya. Yang ada di pikiran Satya saat ini hanyalah apa yang telah Nadya lakukan pada Sandra hingga seperti itu. Ia merasa sangat bodoh karena sudah lalai dalam menjaga istri keduanya.


Keduanya pun akhirnya telah sampai ke rumah sakit. Sean segera berjalan lebih dulu memberi arahan menuju kamar rawat inap Sandra. Satya mengerutkan keningnya saat lift terbuka di lantai yang di tuju oleh Sean.


"Apa kau menempatkan istriku di ruang VIP?" Tanya Satya menyisir area koridor rumah sakit yang mewah dan terlihat sepi.


Sean mengangguk seraya berjalan menuju ke arah kamar rawat Sandra. "Ya benar." Ujar Sean.


"Kenapa kau melakukan itu?" Tanya Satya. "Maksudku, kau tidak mengenal istriku. Untuk apa kau memberikan fasilitas seperti ini pada orang yang tidak kau kenal?".


Sean terkekeh pelan. "Bukankah sudah saya bilang kalau saya kenal istri anda?". Tanya Sean. "Walau saya hanya bertemu dengannya satu kali saat dia menjadi caddy, tapi saya bisa merasakan kalau istri anda wanita yang baik. Orang baik berhak menerima yang terbaik bukan?". Tanya Sean menatap Satya.


...🌴🌴🌴...

__ADS_1


"


__ADS_2