Racun Atau Madu?

Racun Atau Madu?
Bab 72


__ADS_3

"Apa kau sudah menemukannya?". Tanya Nadya pada seseorang melalui sambungan telfon. "Baiklah. Temui aku malam ini di taman Hotel Carlton pukul sembilan".


Tanpa menunggu jawaban, Nadya pun segera memutus sambungan telfon begitu saja. Ia lantas meraih sebuah foto close up dan menatapnya dengan penuh amarah.


"Sandra Aruni..." Gumam Nadya. "Cih. Bau kencur sepertimu bisa-bisanya merebut suamiku! Apa yang suamiku lihat dari seorang caddy sepertimu?". Ucapnya pada foto Sandra.


Nadya pun meremas foto tersebut dan membuangnya ke sembarang arah. "Tunggu saja. Aku akan menghancurkanmu pelacur!". Geram Nadya dengan mata berkilat marah.


...


Malam hari di Taman Hotel Carlton


Nadya yang baru saja sampai, tanpa membuang waktu wanita berparas cantik itu lantas melangkahkan kakinya menuju ke sebuah taman yang berada di sisi hotel. Taman sekaligus area kolam renang terlihat sepi di malam hari. Pencahayaan lampu yang minim memberikan kesan estetik.


Nadya lalu duduk di sebuah kursi kayu yang menjulur panjang dan di alasi oleh bantalan yang terasa empuk. Nadya mengedarkan pandanngannya ke sekitar. Ia melirik arloji di tangan dan melihat waktu sudah menunjukkan pukul 8:55 malam.


Nadya menajamkan penglihatannya saat melihat seorang pria bertubuh kekar berjalan menuju ke arahnya. Nadya menyusuri penampilan pria asing itu yang memakai jaket bomber berwarna hitam serta celana jeans berwarna senada serta sebuah masker berwarna hitam yang menutupi sebagian wajah.


"Maaf saya telat, Nona" Ujar pria itu yang merupakan seorang detektif swasta yang Nadya pekerjakan dalam dua hari terakhir.


"Tidak apa. Aku juga baru sampai." Ucap Nadya. "Mana yang kuminta?". Nadya menadahkan tangannya pada sang detektif tanpa bass basi.


Sang detektif pun membuka sedikit resleting jaket bombernya dan mengeluarkan sebuah map cokelat dari baliknya. "Ini yang anda minta, Nona".


Nadya lantas menerima map cokelat tersebut. Ia lalu membukanya dan mengeluarkan beberapa lembar foto serta satu lembar kertas.


Dengan serius Nadya membaca kata demi kata yang tertera di kertas. Ia lalu melihat satu per satu foto yang menampilkan Satya yang bersama dengan Sandra.


"Foto ini.. Apa kau tahu untuk apa mereka ke hotel itu?". Tanya Nadya seraya mengangkat sebuah foto.


"Untuk hal itu saya belum mengetahuinya, Nona. Saya mengikuti mereka hingga masuk ke dalam lobby hotel. Saat saya bertanya pada resepsionis, saya tidak bisa mendapatkan informasi apapun. Bahkan ketika saya mencoba menukar informasi dengan uang pada manager hotel, mereka tetap sangat menjaga privasi tamu". Sang detektif menjelaskan dengan detil.


Nadya menatap foto tersebut. "Ini hari keberangkatan suamiku ke luar negeri." Gumam Nadya.


Nadya lantas melihat beberapa foto lainnya. Foto Sandra yang berada di rumah sakit, foto Satya serta Sandra di lobby apartemen mewah. Nadya membaca kembali sebuah laporan yang di tulis rinci oleh sang detektif.


"Jadi selama ini suamiku memiliki sebuah apartemen yang tidak aku ketahui sama sekali... Dan pelacur itu tinggal di sana...?"

__ADS_1


Nadya menengadahkan kepalanya melihat langit malam yang gelap tanpa ada bintang yang terlihata satupun. Hatinya sakit. Sangat sakit. Wanita mana yang rela jika sang suami memiliki wanita lain? Terlepas dari kesalahan yang di lakukan Nadya, Ia selalu mencintai suaminya. Hanya saja ego dan sifat keras yang di miliki Nadya membuat semuanya berantakan.


"Apa kau yakin di unit ini apartemen suamiku?". Tanya Nadya beralih menatap pada sang detektif.


"Saya yakin, Nona. Saya mendapatkan informasi dari security disana. Dan ini..." Sang detektif lalu memberikan lagi sebuah kertas pada Nadya.


"Ini adalah salinan dari rumah sakit saat wanita itu di rawat".


Nadya lalu membaca kertas tersebut hingga seketika matanya membelalak. "Hamil?!" Pekik Nadya. "Pelacur itu hamil anak suamiku?!"


"Aaaaarrrgghhh! SIALAN!!!!". Nadya berteriak hingga menghamburkan seluruh foto yang berada di dekatnya. Tanpa sadar air matanya jatuh begitu saja. Ia sudah tahu apa yang pasti di lakukan oleh pasangan suami istri. Namun ketika Ia mengetahuinya langsung, hatinya seakan di cabik-cabik tanpa belas kasih.


Nadya mengusap pipinya dengan kasar. Ia lalu membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang terlihat tebal. "Ini bayaranmu. Jika aku memerlukan bantuanmu lagi, aku akan menghubungimu" Ujar Nadya seraya memberikan amplop cokelat tersebut pada sang detektif.


"Terima kasih, Nona. Silakan hubungi saya kapanpun jika anda membutuhkan bantuan lain". Ujar Sang detektif seraya membungkukkan badan dan berlalu pergi.


...🌻🌻🌻...


Satu Pekan Kemudian


Sandra menggelengkan kepala. "Aku tidak mau makan apapun, Bu. Perutku rasanya sangat mual jika di isi oleh makanan". Ujar Sandra.


"Tapi kau harus makan, Nak. Kasihan cucu Ibu di dalam perutmu itu".


"Aku tidak mau, Bu. Lagipula kan aku selalu minum vitamin dan susu". Sandra tetap bersikeras.


Retno hanya bisa menghela napas melihat tingkah putri sulungnya. Satu pekan di tinggal oleh Satya, sejak itu pula Sandra tidak bergairah sama sekali. Ia selalu mual hingga akhirnya menjauhi hampir semua makanan.


"Jika kamu terus seperti ini, terpaksa Ibu harus memberitahu suamimu.".Ancam Retno seraya melakukan panggilan video pada Satya.


"Bu! Jangan!". Pekik Sandra menatap Retno.


"Halo, Bu" Terdengar suara Satya di speaker ponsel Retno. Sandra yang mendengar suara sang suami pun akhirnya hanya pasrah menyandarkan punggungnya kembali ke sofa.


Retno menatap layar ponselnya dan melihat wajah tampan sang menantu. "Halo, Nak Satya. Maaf kalau Ibu mengganggu". Ujar Retno seraya tersenyum.


"Tidak, Bu. Saya juga sedang dalam perjalanan. Kenapa, Bu? Apa semua baik-baik saja?".

__ADS_1


Retno mendesah pelan seraya melirik sang putri yang tengah cemberut. "Begini loh Nak.. Sandra ini sebenarnya tidak mau makan. Dia bilang selalu mual. Ibu sudah paksa dia untuk makan, tapi dia bersikeras menolak".


"Tidak mau makan?Tapi setiap kali saya menghubunginya, dia selalu bilang sudah makan, Bu".


"Sandra bohong supaya kamu tidak marah, Nak. Ibu sudah buatkan larutan tradisional untuk menghilangkan rasa mualnya, dia juga tidak mau meminumnya. Setiap hari yang dimakan hanya roti dan selai serta vitamin dan susu". Keluh Retno tak habis pikir. Menurut pengalamannya, dulu Ia tiga kali hamil walau merasa mual pun tetap berusaha untuk makan.Namun berbeda dengan sang putri, hingga akhirnya membuat Retno gemas.


"Tolong berikan ponselnya pada Sandra, Bu"


Retno akhirnya memberikan ponselnya pada Sandra. Dengan ogah-ogahan Sandra pun menerima ponsel Retno dan menatap layar.


"Sayang... Kenapa kau tidak mau makan hm?"


"Aku mual dan tidak nafsu makan" Jawab Sandra jujur.


"Kau ingin makan apa? Beli saja makanan apapun yang kau inginkan sayang. Apa kau tidak kasihan pada anak kita? Kau harus makan walau sedikit..."


Satya membujuk Sandra dengan lembut hingga membuat mata Sandra berkaca-kaca.


"Apa kamu marah padaku karena aku membohongimu?" Tanya Sandra menatap wajah sang suami melalui layar ponsel.


"Untuk apa aku marah? Aku justru sangat mengkuatirkan keadaanmu dan anak kita jika kau tidak mau makan seperti ini sayang..."


Sandra pun terisak. Hormon kehamilan benar-benar mempengaruhi situasi emosi Sandra. "Aku merindukanmu hikss..."


Satya terlihat mengulas senyum. "Jika kau merindukanku, maka kau harus makan. Jika kau makan yang banyak hari ini, besok aku pasti sudah berada di sisimu lagi". Sahut Satya.


Sandra mencebikkan mulutnya seraya mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi. "Bohong. Kamu selalu bicara seperti itu tapi nyatanya sudah satu pekan kamu tidak juga pulang" Ujar Sandra.


Satya terkekeh pelan. "Kali ini aku benar-benar pulang sayang. Lihatlah..." Satya terlihat mengedarkan kamera ponselnya ke seluruh area. "Kau lihat kan? Aku baru saja sampai bandara. Aku akan pulang. Jika kau makan dengan baik hari ini, maka besok aku sudah berada di sisimu hehehee"


Sontak saja Sandra terlihat bersemangat. Ia menganggukkan kepalanya. "Aku pasti makan!" Ujar Sandra.


"Itu baru istriku. Hehehe.. Baiklah aku tutup dulu telfonnya ya sayang. Aku harus mengurus beberapa dokumen di bandara"


Sandra pun mengangguk lalu tak lama kemudian memutuskan sambungan video dengan Satya. Sandra lantas beranjak berdiri menghampiri Retno. "Bu, Aku mau makan!". Ujar Sandra dengan tersenyum lebar.


...🌴🌴🌴...

__ADS_1


__ADS_2