Racun Atau Madu?

Racun Atau Madu?
Bab 16


__ADS_3

"Minum ini". Suara seorang pria membuyarkan keasyikan Sandra yang sedang memandangi bunga.


Sandra menoleh ke samping dan melihat Satya berdiri di hadapannya seraya menyodorkan sebuah botol air mineral dingin ke arahnya.


"Aku melihat kau belum minum dari hole 9. Cepat ambil! Kalau kau pingsan, aku bisa repot". Titah Satya menyodorkan botol air mineral lebih dekat pada Sandra.


Sandra tertegun. Ia hanya menatap Satya tanpa mengerjapkan mata.


Satya mengibaskan tangannya ke udara. "Hey!". Panggilnya membuyarkan lamunan Sandra.


Sandra mengerjapkan matanya. "Ah.. Maaf Tuan!". Sahut Sandra tak enak hati. Ia lantas segera menerima satu botol air mineral dari Satya. "Terima kasih". Ucap Sandra menatap Satya seraya mengulas senyum manis.


Satya menatap Sandra saat wanita itu tersenyum ke arahnya. Pria itu berdeham untuk mencairkan suasana. "Ehemm.. Apa kau baik-baik saja hari ini?". Tanya Satya.


Sandra melirik Satya di sela meminum air dari botol yang di berikan oleh Satya tadi. "Maksud anda?". Sandra tidak mengerti arah pertanyaan Satya saat ini. Ia merasa baik-baik saja hari ini.


"Maksudku, kau tidak ingin pingsan lagi kan? Tubuhmu sedang sehat kan?". Tanya Satya.


Sandra ingin tertawa namun Ia berusaha menjaga sikapnya di hadapan Satya hingga akhirnya hanya kekehan kecil yang keluar dari mulutnya.


"Hehehehe.. Saya baik-baik saja, Tuan. Tubuh saya sudah sehat. Terima kasih atas bantuan anda tempo hari. Teman saya bilang anda yang membantu membawa saya ke ruang perawatan". Ujar Sandra seraya tersenyum menatap Satya.


Satya mengangguk pelan. "Ya.. Aku yang menggendongmu ke dalam ruang perawatan Tubuhmu berat sekali". Ucap Satya asal.


Pria itu bahkan merasa tubuh Sandra kecil sekali namun terlihat pas di beberapa tempat. Oh ayolah... Mata pria memang selalu jeli melihat di beberapa bagian tertentu dari tubuh wanita. Termasuk Satya.


"Ah.. Maaf jika saya merepotkan anda" Sandra tersipu malu saat Satya berucap jika tubuhnya berat.


"Tidak masalah.. Hanya pastikan saja kau menjaga pola makan dan asupan cairan tubuhmu. Kau bekerja di lapangan, stamina tubuh harus kau perhatikan". Saran Satya menatap Sandra dengan sangat serius.

__ADS_1


Sandra mengangguk. "Terima kasih atas saran anda, Tuan". Ujar Sandra sopan.


Sejenak tercipta keheningan di antara mereka berdua. Sandra ingin segera pergi karena Ia sebenarnya merasa sangat canggung berada sedekat ini dengan Satya.


Tiba-tiba saja Satya mengulurkan tangannya ke arah Sandra. "Kita belum berkenalan". Ucap Satya.


Sandra melongo begitu saja.


Apa ini mimpi? Untuk apa dia ajak gw kenalan?


Sandra berucap dalam hatinya. Lalu Ia menatap uluran tangan Satya dan Sandra pun menjabat tangan Satya dengan lembut. Namun sedetik kemudian Ia terkejut karena Satya menjabat tangannya cukup erat.


"Namaku Satya Nagara. Kau bisa panggil dengan Satya". Ujar Satya menatap Sandra.


"Nama saya Sandra Aruni. Anda bisa panggil dengan....."


"Sandra?". Satya memotong ucapan Sandra dengan tersenyum miring. "Aku bisa memanggilmu dengan Sandra. Sesuai nama yang tertulis di nametag mu itu kan?". Satya mengedikkan dagunya ke arah Sandra.


Keduanya berjabat tangan sejenak hingga Satya melepaskan tautannya lebih dulu. "Baiklah. Semoga sisa harimu menyenangkan, Sandra". Sahut Satya seraya melangkah lebih dulu meninggalkan Sandra yang termangu menatap kepergian Satya begitu saja.


"Pria itu..... Tiba-tiba datang, tiba-tiba ajak berkenalan, tiba-tiba pergi begitu saja? Dasar pria aneh!". Sandra bergumam pada dirinya sendiri seraya menatap punggung Satya yang semakin jauh.


Sandra lalu segera melangkahkan kakinya menuju ruang ganti caddy. Ia perlu berganti baju dan segera pulang. Hari ini tugasnya telah selesai. Entah pemain golf seperti apa lagi yang harus Ia temani besok di lapangan. Hal ini adalah suatu tantangan tersendiri bagi seorang caddy.


Setelah sampai di ruang ganti, Sandra lalu melihat rekan-rekan seperjuangannya selama training sedang duduk berselonjor di lantai. Sandra menghampiri semuanya dengan wajah tersenyum.


"Hi! Udah boleh langsung pulang kan?". Tanya Sandra menyapa seraya melontarkan pertanyaan.


"Boleh. Tapi lo ketemu Mami Sari dulu sebelum pulang. Kita semua udah ketemu dia untuk serahin bros itu tuh". Jawab Giska seraya menunjuk bros dengan icon tersenyum di polo shirt Sandra.

__ADS_1


"Oh gitu. Oke deh nanti gw cari Mami Sari". Jawab Sandra memutuskan untuk ikut gabung duduk di lantai.


"Kalian semua dapat bros tersenyum kan?". Tanya Sandra.


"Ada 4 orang nih yang dapat penilaian jelek termasuk gw". Sahut seorang rekan Sandra.


"Lo tadi bawa siapa, San?". Timpal Merin.


"Pak Teguh".


"Pak Teguh siapa sih?". Tanya rekan-rekan Sandra.


Sandra menghela napasnya pelan. "Itu lho pemain golf paruh baya yang pernah berpapasan sama kita semua di awal training". Jelas Sandra.


Seluruh rekan-rekan Sandra terlihat berpikir mengingat kembali siapa pemain golf yang di maksud oleh Sandra.


"Hahahahahahahaha maksud lo si Bapak 36 B, San???". Merin tertawa terbahak-bahak saat dirinya mengetahui sosok tersebut.


Sandra mengangguk seraya menampakkan raut wajah kesal. "Semoga aja gw gak dapat dia lagi deh!". Ucap Sandra.


"Bapak 36 B itu siapa sih?".Timpal Giska yang masih kebingungan.


"Lo ingat gak waktu kita semua awal training di sini, ada pemain golf yang nanya ke Mami Sari ada ukuran 36 B di antara kita semua. Pada ingat gak?". Jawab Merin menjelaskan.


Sekejap rekan-rekan Sandra tertawa.


"Gimana bawa Bapak 36 B, San? Baik kan?". Selidik Merin.


Sandra mendengus. "Baik sih baik... Tapi ya mesumnya itu lho ngeselin banget!". Sandra memberengut kesal.

__ADS_1


...🌴🌴🌴...


Yuukkk likenya komennya hadiahnya votenyaa hehee.. 😘


__ADS_2