Racun Atau Madu?

Racun Atau Madu?
Bab 33


__ADS_3

Di sebuah ruang makan mewah dengan meja makan memanjang megah yang terbuat dari marmer berwarna krem, hanya suara denting sendok dan garpu yang terdengar di antara 4 orang manusia yang sedang melakukan sarapan bersama.


Satya yang malas untuk sarapan hanya mengaduk-ngaduk potongan roti panggang yang telah Ia potong kecil-kecil. Satya tersenyum tipis tatkala dirinya mengingat tingkah Sandra yang mengaduk-ngaduk bubur ayam dengan berbagai bumbu tambahan.


"Apa kamu mau ganti sarapan dengan menu lain? Nanti biar mama minta Mbak Lena buatkan sesuatu yang baru. Kamu mau apa?" Tanya Grace yang sadar kelakuan putra tunggalnya yang hanya memainkan roti panggang.


"Tidak perlu, Ma. Aku tidak lapar sama sekali. Nanti saja kalau lapar aku beli makan di luar". Tolak Satya.


"Kamu mau aku bikinin jus alpukat, Yank?" Tawar Nadya.


"Tidak perlu, Nad."


"Aku pergi lebih dulu ke kantor". Ujar Satya seraya beranjak berdiri dari duduknya.


"Kamu langsung ke kantor kan?". Tanya Chandra menatap putranya.


Satya mengangguk. "Tentu saja".


"Loh memang dia mau kemana lagi selain ke kantor, Mas? Kamu ada-ada saja pertanyaannya". Timpal Grace terkekeh pelan.


"Siapa tahu dia main-main dulu. Tempo hari dia berangkat pagi seperti ini dari rumah, namun kenyataannya dia baru sampai jam 11 siang. Aku sampai harus turun tangan menangani rapat dengan rekanan menggantikan dia". Chandra rupanya masih kesal dengan Satya atas insiden tersebut karena baru pertama kali putranya melalaikan urusan perusahaan begitu saja.


"Haruskah terus di bahas hal itu, Yah? Yang penting perusahaan kita berhasil memenangkan tender dan project besar, kan?" Tanya Satya.


"Memangnya kamu kemana dulu, Yank?" Timpal Nadya yang ingin tahu.


Satya menoleh sekilas pada Nadya dengan tatapan malas. "Aku pergi". Ujar Satya dengan nada dingin tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Nadya.


Sepanjang perjalanan menuju kantor, mood Satya menjadi buruk. Sepanjang Ia turun tangan membantu sang Ayah di perusahaan, baru satu kali itu Satya melupakan hal yang penting. Selebihnya Ia selalu dedikasikan waktunya hanya untuk perusahaan dan keluarga.


Satya menyalakan musik dengan cukup keras. Ia mengikuti alunan musik yang memekakkan telinga. Butuh waktu 30 menit perjalanan untuknya hingga sampai ke kantor. Satya memarkirkan mobilnya di area khusus yang memang di sediakan untuk direksi.


"Bos!". Panggil Nino terlihat berlari menghampiri Satya yang baru turun dari mobil.

__ADS_1


"Kau baru sampai juga?". Tanya Satya seraya melirik bungkusan di tangan Nino.


Nino mengangguk. "Ya aku baru sampai dan langsung ke kantin karyawan untuk membeli ini". Ujar Nino mengangkat bungkusan di tangannya ke arah Satya.


"Apa itu?"


"Gorengan. Kau tidak akan suka". Sahut Nino.


Satya mengambil.bungkusan tersebut dari tangan Nino begitu saja dan melihat isinya. "Ah.. Ada Ubi goreng". Gumam Satya.


"Aku minta ini!" Ujar Satya mengambil 1 buah ubi goreng lalu menyerahkan kembali bungkusan tersebut pada Nino.


Nino yang melihat kelakukan tak biasa dari bosnya sangat terkejut. Terlebih lagi saat Ia melihat Satya dengan santai menggigit ubi goreng seraya berjalan menuju lift.


"Ternyata ubi di goreng seperti ini rasanya enak! Aku minta lagi!" Ujar Satya.


"Bos, apa kau baik-baik saja?". Tanya Nino menelisik raut wajah Satya dengan cermat.


"Sudah cepat mana ubinya aku minta lagi!" Bukan menjawab Satya malah merebut kembali bungkusan gorengan dari tangan Nino.


Satya hanya mengacuhkan Nino dan mengunyah ubi goreng yang mulai menjadi camilan favoritnya. Tak bisa di pungkiri, perutnya pun sangat lapar karena melewatkan sarapan di rumah!


...๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป...


Semburat warna orange keemasan yang indah sudah menghiasi langit yang perlahan meredup. Sandra yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya menatap langit yang indah tanpa berkedip. Ia meregangkan tangannya dan memutar pinggangnya ke kiri dan ke kanan berusaha menyingkirkan rasa lelah yang mendera tubuhnya.


Hari ini Ia mendapatkan giliran turun ke lapangan jam 2 siang dan itu tentu saja otomatis membuat Sandra selesai bekerja hampir menjelang petang. Sandra lalu bergegas menuju ruang ganti caddy yang terlihat sudah sepi. Hanya tinggal beberapa caddy senior yang sedang berganti baju.


Tak membuang waktu lama, Sandra segera membuka seragam caddynya dan digantikan dengan sweater oversize berwarna purple. Sandra mengikat asal rambutnya. Ia memasukan sepatunya ke dalam loker dan memakai sendal teplek. Ia lantas mengunci loker miliknya dan segera berjalan keluar ruang tunggu caddy.


Sandra perlu mengejar mobil antar jemput yang di sediakan gratis oleh pihak Golf Country Club. Sepengetahuan Sandra mobil tersebut terakhir operasional jam 6 sore yang artinya Sandra hanya memiliki waktu 15 menit lagi. Sandra berlari kecil menuju pangkalan mobil antar jemput.


"Sandra!". Suara bariton seseorang menghentikan langkah Sandra. Ia membalikkan tubuhnya ke belakang dan melihat Satya sedang berjalan ke arahnya.

__ADS_1


"Tuan?" Satya menyusuri penampilan Satya yang maskulin. Lengan kemeja yang di gulung hingga siku, dan celana kantor yang slim fit serta sepatu pantofel cokelatnya.


"Kemana ponselmu? Aku menghubungimu sejak tadi". Ujar Satya to the point seraya memasang raut wajah serius.


"Ponsel?". Sandra bergumam. Sedetik kemudian Sandra merogoh ke dalam tas dan mengambil ponselnya.


Seketika mata Sandra melotot saat melihat puluhan missed call dari nomor Satya. "Astaga Tuan.. Anda sedang kurang kerjaan atau sedang meneror saya?" Tanya Sandra menatap Satya dengan terkejut.


"Anggap saja dua-duanya". Jawab Satya acuh.


"Jadi kau baru selesai bekerja?".


Sandra mengangguk. "Tadi saya turun ke lapangan jam 2, Tuan".


"Oh pantas saja aku telfon tidak kau angkat. Rupamya kau sedang berada di lapangan". Ujar Satya.


"Tuan kemari ada perlu ya?"


"Ehm... Ya-Ya... Begitulah..." Sahut Satya berbohong. Ia tak ingin ketahuan jika Ia datang hanya karena ingin mendatangi Sandra.


"Kalau begitu saya pamit dulu, Tuan. Saya takut tertinggal.mobil antar jemput" Ujar Sandra sedikit menundukkan kepala.


Tanpa menunggu jawaban dari Satya, Sandra segera membalikkan tubuhnya. Namun dengan cepat Satya menahan lengan Sandra. "Tunggu! Kau pulang denganku saja!". Sahut Satya.


Sandra mengerutkan keningnya. "Loh bukannya Tuan ada urusan di sini? Tidak perlu repot-repot.Tuan. Saya pulang sendiri saja".


Satya lantas menarik lengan Sandra dengan lembut seraya melangkahkan kakinya. "Tidak jadi! Urusanku di sini bisa ku urus lain waktu saja!"


"Ayo kuantar kau pulang. Hari sudah mulai gelap". Sahut Satya sembari menengadahkan kepalanya ke atas.


"Terima kasih, Tuan. Maaf merepotkan anda". Ucap Sandra pelan.


"Tapi sebelum kuantar kau ke rumah, kita makan malam dulu. Perutku lapar sekali!".

__ADS_1


...๐ŸŒด๐ŸŒด๐ŸŒด...


Kasih sayangnya doonggss๐Ÿ˜˜


__ADS_2