Racun Atau Madu?

Racun Atau Madu?
Bab 93


__ADS_3

Sepulang dari pengadilan agama, Satya memutuskan untuk segera mengunjungi Sandra di rumah kedua orang tuanya. Sudah beberapa hari Ia tidak mengunjungi Sandra karena disibukkan oleh banyak hal. Nino memilih untuk kembali ke kantor daripada harus melihat sang bos menumpahkan rasa rindu pada istri keduanya itu.


Sesuai dugaan Satya, di depan gerbang rumah Sandra sudah banyak wartawan yang berkerumun. Entah darimana para pemburu berita itu mengetahui alamat rumah Sandra, Satya menghela napas kesal dari dalam mobilnya ketika melihat wartawan langsung saja mengerubungi mobilnya ketika menunggu gerbang di buka oleh satpam. Para bodyguard terlihat sigap menghalau wartawan agar tidak menerobos masuk ke dalam rumah.


Satya lantas keluar dari mobil setelah gerbang rumah di tutup kembali tanpa sekalipun melihat ke belakang. Foto saja punggungku ini sialan! Satya mengumpat dalam hati seraya melangkah masuk ke dalam rumah.


Satya lalu mencium kedua tangan mertuanya serta memeluk Sandra dengan erat dan mencium kening sang istri yang sudah tidak di temuinya selama beberapa hari.


"Pak.. Bu.. Maaf atas kegaduhan yang terjadi saat ini" Ujar Satya menatap Retno dan Dimas dengan tidak enak hati. "Apa kalian ingin pindah ke suatu tenpat yang jauh dari sorot media? Aku akan mempersiapkannya jika kalian mau" Satya menatap satu per satu keluarga sang istri.


"Tidak. Tidak perlu. Biar saja kami di rumah ini. Toh kau sudah menaruh keamanan berlapis-lapis di sini. Hingga aku merasa sebagai seorang pejabat penting di negara ini" Sahut Dimas. Entah itu menyindir sang menantu atau memang luapan hati pria paruh baya tersebut atas situasi yang tidak nyaman.


Satya tersenyum tipis. "Maafkan saya Pak... Tapi saya janji akan segera menyelesaikan permasalahan ini".


"Kau memang harus segera menyelesaikannya. Kasihan putriku terbawa-bawa hingga dia di beritakan buruk oleh banyak orang tanpa tahu kenyataannya seperti apa". Ujar Dimas menatap Satya dengan serius.


"Kami tetap mendukungmu untuk segera menyelesaikan permasalahanmu dengan istri pertamamu. Berterima kasihlah pada ibumu, karenanya Sandra menjadi yakin untuk tetap berdiri teguh di sisimu" Timpal Retno dengan tersenyum.

__ADS_1


"Ibuku? Maksudnya mama Grace?" Satya terlihat kebingungan.


"Memangnya kau punya ibu berapa? Apa ayahmu juga memiliki dua istri secara diam-diam?" Tanya Dimas dengan nada sarkas.


Retno menepuk paha sang suami dan melemparkan tatapan mengancam. Satya terkekeh pelan seraya menggaruk tengkuknya. "Tidak apa-apa, Bu. Biarkan saja Bapak seperti itu... Saya memang salah hehehehe".


"Apa maksudnya Mama menemuimu, sayang? Tapi kapan? Dimana?" Satya beralih menatap Sandra yang duduk di sebelahnya.


"Mama datang saat aku masih di rumah sakit".


"Benarkah? Mama tidak memberitahuku tentang hal ini" Gumam Satya. "Apa dia melakukan sesuatu yang membuatmu tersinggung atau sesuatu hal....?


Mata Satya terbelalak. Sorot bahagia terpancar jelas. Dimas dan Retno tersenyum tipis, walau badai sedang kuat menerpa pasangan muda di hadapan mereka. Tapi dengan dukungan Ibu Satya, setidaknya itu membangun kekuatan dalam diri sang putri bahwa Ia di terima dengan baik walau keduanya belum tahu bagaimana sikap ayah dari sang menantu kelak.


"Nikmatilah waktu kalian berdua" Ujar Retno seraya beranjak dari sofa. "Bapak dan Ibu mau bersantai dulu" Retno lantas menarik Dimas yang masih tak bergeming.


Selepas kepergian Dimas dan Retno, Satya serta Sandra pun segera melangkah menuju taman kecil yang sengaja di buat oleh Satya di halaman belakang rumah Sandra. Yang di tumbuhi dengan rumput jepang terbaik serta banyaknya vas bunga yang bertebaran dengan cantik. Keduanya duduk di sebuah ayunan yang terbuat dari kayu.

__ADS_1


Satya menyusuri tangan Sandra yang masih terdapat banyak bekas luka yang tersebar di beberapa titik. Satya mengusapnya perlahan dengan lembut. "Maafkan aku atas semua ini" Ucap Satya. "Apa kau mau melakukan sebuah prosedur untuk menghilangkan bekas luka ini? Aku akan mengaturnya untukmu".


Sandra menggenggam tangan Satya hingga pria itu beralih menatapnya. "Tidak perlu. Seiring waktu bekas-bekas luka ini akan memudar dan tidak terlalu kelihatan". Ujar Sandra.


"Tapi semua bekas luka ini akan mengingatkanmu pada Nadya serta kehilangan calon buah hati kita, sayang" Ujar Satya menatap Sandra dengan lekat. "Aku tidak mau kau membawa kenangan menyakitkan itu seumur hidup".


Sandra lantas tertawa mendengar penuturan Satya. "Aku justru berpikir kalau semua.bekas luka ini yang akan kembali menyadarkanku bahwa aku pernah melalui hal berat demi untuk berada di sisimu. Jadi aku akan berpikir berulang kali untuk meninggalkanmu karena kamu tahu.... Aku tidak mau rugi hehehee".


Satya terkekeh pelan seraya melingkarkan tangannya pada bahu Sandra dan mencium puncak kepalanya. "Kau memang tidak boleh pergi meninggalkanku karena aku akan bertanggung jawab seumur hidupku atas semua luka-luka ini".


Sandra tersenyum dan menatap Satya dengan tatapannya yang teduh. "Aku sudah dengar dari Mama Grace kalau kamu melayangkan gugatan cerai pada istri pertamamu" Ujar Sandra dengan hati-hati. "Bagaimana perasaanmu saat ini?".


Satya menatap Sandra dengan mengerutkan kening. "Perasaanku?" Tanya Satya. "Perasaanku biasa saja" Ujar Satya lalu beralih menatap ke sebuah vas bunga mawar berwarna orange.


"Kamu.bohong kan? Aku yakin pasti ada rasa tercubit dalam hatimu setelah kamu melayangkan gugatan cerai untuknya"


Satya lantas menghadap tegak ke arah Sandra dan menatap kedua manik mata sang istri dengan lekat. "Sebenarnya.apa yang sedang kau ingin utarakan padaku?".

__ADS_1


...🌴🌴🌴...


__ADS_2