Racun Atau Madu?

Racun Atau Madu?
Bab 45


__ADS_3

Semburat cahaya orange keemasan mulai menghiasi langit di pagi hari yang cerah. Udara yang sejuk pun sungguh terasa menyegarkan bagi siapapun yang menghirupnya. Suara burung saling bersahutan semakin menambah ketenangan jiwa. Namun itu semua tidak berlaku bagi Nino. Tidurnya sangat terganggu karena teror telfon dari istri pertama sang bos yang menelfonnya tiada henti.


Nino sampai nekat menggedor-gedor pintu kamar Satya tadi malam agar pria itu saja yang mengurus istri pertamanya. Nino sudah sangat kesal ketika Ia di minta untuk jadi saksi pernikahan kedua sang bos. Ia tak kuasa menolak karena baru pertama kalinya sepanjang Ia menjadi asisten pria ifu, Nino melihat kilat ketulusan dan gairah yang terpancar dari netra tajam yang di miliki oleh Satya.


Nino berjalan keluar kamar dan berjalan tak tentu arah hingga Ia pun telah sampai di sebuah bangunan kayu bertingkat. Nino menaiki satu per satu undakan tangga hingga saat Ia tiba di ataa, matanya melotot memandang hamparan pepohonana hijau yang terhampar luas tanpa tepi.


Semburat orange keemasan semakin menambah pemandangan yang sangat menakjubkan. Nino memutar tubuhnya menatap ke sekeliling area. "Waahh.. ternyata dari tadi aku melewati pemandangan indah seperti ini".


Nino lantas bersandar pada dinding kayu dan mengambil ponselnya dari dalam saku celana trainingmya. Ia menyalakan kembali ponselnya yang sejak semalam di titahkan oleh Satya untuk di matikan saja.


Tring Tring Tring


Satu demi satu pesan beruntun masuk sesaat setelah ponsel di aktifkan.Nino menghela nafas kesal. Ia membuka satu.pesan dan membacanya dengan enggan.


Katakan padaku sedang di mana kalkan berdua? Suamiku pergi bukan dalam rangka bekerja kan? Kalau kamu bohong, kamu akan tahu akibatnya, Nino!


Nino membaca salah satu pesan dari Nadya. Ia lantas memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celana seraya berdecak kesal. "Ck! Dasar wanita sinting".


"Siapa yang sinting?" Suara bariton yang sangat Ia hapal menginterupsi dirinya.


Nino menoleh ke belakang dan mendapati Satya sedang berjalan ke arahnya. "Aku tanya padamu, siapa yang sinting?". Ulang Satya.


"Siapa lagi kalau bukan istri pertamamu. Setelah dia menerorku dengan telfon, ketika ponselku mati ternyata dia menerorku dengan banyak sekali pesan! Aku bisa gila karena kau!".


"Kau yang berulah kenapa aku yang kerepotan?!".Gerutu Nino kesal.


Satya terkekeh melihat wajah murka sang asisten. "Ini masih pagi. Harusnya kau tersenyum bukannya marah-marah". Ucap Satya santai.


"Aku akan naikkan gajimu 3x lipat untuk bulan ini karena kau sudah bersedia menjadi saksi dalam pernikahanku dengan Sandra". Lanjut Satya.

__ADS_1


"Apa aku tidak salah dengar? Hanya 3x lipat? Harusnya kau beri aku kompensasi 7x lipat gajiku!". Ujar Nino protes.


"Oke. 5x lipat. Itu penawaran terakhirku"


Nino menyeringai lebar dan mengulurkan tangannya pada Satya. "Deal!'.Ujar Nino ketika keduanya berjabat tangan.


Satya lantas melihat pemandangan indah yang menyejukkan mata di ikuti oleh Nino. Sesaat keduanya hanya terdiam dengan pikirannya masing-masing hingga Nino tiba-tiba mengerutkan kening.


"Aku baru ingat....." Ujar Nino memecah keheningan.


"Kenapa kau ads di sini sepagi ini?"


Satya menoleh pada Nino seraya mengerutkan kening. "Memangnya kau tidak boleh berada di sini?".


"Bukan tidak boleh... Tapi kau kan baru saja menikah, biasanya pengantin baru sangat betah berada di dalam kamar seharian hahahahaha". Nino tertawa renyah.


Satya terkekeh menangkap maksud Nino. "Untuk apa aku berada di dalam kamar terus menerus kalau hanya membuatku sakit kepala". Ujar Satya.


"Aku tidak bisa melakukan apapun walau kini aku pengantin baru. Istriku sedang datang bulan". Ucap Satya.


Sejenak Nino terdiam hingga akhirnya suara tawanya benar-benar menggema. "Hahahhahahahahahaha... Astaga!!! Jadi kau belum sukses melepaskan perjakamu?! Kasihan sekali kau malah gigit jari di malam pengantin! Hahhahahahaa"


"Sialan! Puas kau tertawakan aku!".Ujar Satya menatap tajam Nino yang malah semakin membuat Nino tertawa terbahak-bahak.


...🌻🌻🌻...


Sore hari, Apartemen Satya.


Rombongan Satya, Sandra, Nino, Dimas dan Retno kini baru saja sampai di unit apartemen milik Satya. Tak di pungkiri kedua orang tua Sandra berdecak kagum manakala melihat keseluruhan isi unit apartemen milik menantunya.

__ADS_1


"Silakan duduk dulu Pak... Bu..." Ujar Satya pada kedua mertuanya dengan sopan.


"Nino, tolong kau ambilkan minuman untuk mertuaku". Titah Satya. Nino lantas segera beranjak menuju area pantry.


"Ini apartemen kamu, Nak Satya?" Tanya Retno maaih mengagumi interior yang megah dan mewah.


"Iya, Bu. Ini milik saya pribadi. Nanti Sandra akan saya bawa untuk tinggal di sini. Tidak apa-apa kan Bu... Pak?" Tanya Satya seraya menatap silih berganti pada Dimas dan Retno.


"Ya ampun, Pak... Putri kita akan tinggal di tempat bagus seperti ini..." Gumam Retno menatap pada sang suami.


"Tentu saja boleh, Nak Satya. Sekarang Sandra adalah istrimu. Kamu berhak atas dirinya saat ini". Ujar Dimas menatap sang menantu dengan tersenyum.


Satya menggenggam lengan Sandra dengan lembut. "Terima kasih,.Pak. Saya berjanji.akan selalu memperlakukan Sandra dengan baik". Ujar Satya seraya melemparkan senyuman manis pada sang istri.


Unit apartemen milik Satya yang akan di tinggali oleh Sandra adalah apartemen pribadi. Tidak seorang pun yang mengetahui jika Satya memiliki apartemen tersebut kecuali Nino dan Pak Darma, sang supir pribadi Satya. Ia merasa Sandra akan sangat aman jika di tempatkan di dalam apartemen miliknya daripada di dalam sebuah rumah.


"Pak.. Bu.. Mungkin untuk sementara Bapak dan Ibu akan tinggal di hotel" Ujar Satya. "Asisten saya sudah mencarikan hotel terbaik yang dekat dengan sekolah kedua adik Sandra"


Dimas dan Retno saling bertatapan dengan raut wajah yang bingung. "Loh kenapa kami harus tinggal.di hotel?". Tanya Dimas.


"Karena saya akan membangun kembali rumah yang Bapak dan Ibu tempati saat ini. Saya sudah bicara pada Sandra mengenai hal ini dan dia menyetujuinya."


"Maksud Nak Satya dengan membangun kembali itu bagaimana? Rumah itu kan masih berdiri" Retno menyampaikan kebingungannya.


"Begini Bu.. Pak.. Kalau Ibu dan Bapak tidak keberatan, suami Sandra ingin membangun ulang rumah kita... Tapi tetap dengan desain yang sama". Sandra membantu menjelaskan.


"Nanti saya juga akan memberikan Ibu dan Bapak modal usaha. Saya akan mengirimkan satu orang untuk mendampingi Bapak dan Ibu saat awal usaha agar Bapak dan Ibu lebih bisa mengerti bagaimana menjalankan dan mengatur sebuah usaha agar berkesinambungan". Timpal Satya.


Sontak saja mendengar penuturan putri dan menantunya tak ayal membuat mata Retno berkaca-kaca. Dimas mengusap punggung sang istri. "Saya sangat berterima kasih pada kamu, Nak Satya. Kamu seperti memberikan angin segar pada keluarga kami".Ujar Dimas dengan terharu.

__ADS_1


"Semua itu tidak bisa di bandingkan dengan izin Bapak dan Ibu yang sudah mengizinkan saya menikahi putri kalian yang istimewa ini" Ucap Dimas seraya tersenyum hangat pada Sandra.


...🌴🌴🌴...


__ADS_2