
Satya menatap papan nomor berwarna silver yang terpasang di sebuah pintu unit apartemen. Nomor 6966. Satya melirik ke sebelah kanan tepat ke arah unit apartemennya sendiri. "Sedekat ini apartemennya dengan apartemenku". Gumam Satya. Ia menarik napasnya dalam-dalam lalu menekan sebuah bel. Berulang kali Satya memencet bel unit apartemen milik Sean, namun tak kunjung pintu terbuka.
"Sepertinya pria itu belum kembali ke apartemen Pak Satya". Sahut seorang petugas yang sedari tadi mengawal Satya dan Nino untuk bertemu Sean.
Satya mengusap wajahnya. "Apa kalian punya nomor ponsel setiap penghuni apartemen?" Satya mengingat bahwa dulu ketika dirinya tanda tangan hak guna bangunan saat membeli apartemen, Satya di minta melampirkan nomor ponselnya yang aktif dan bisa di hubungi oleh pihak pengelola gedung.
"Sepertinya ada, Pak. Tapi saya perlu izin kepala security." Ujar petugas yang masih terlihat muda itu.
"Cepat hubungi dan minta kirimkan nomor ponsel pria itu secepatnya". Titah Satya dengan tegas.
...
Di sisi lain, Sean baru saja keluar dari area parkir rumah sakit. Ia menitipkan Sandra pada seorang suster dan meninggalkan nomor ponselnya pada sang suster agar segera menghubunginya jika terjadi apapun.
Sepanjang jalan Sean berpikir keras, Ia bertanya-tanya bagaimana seoranag caddy bisa berada di apartemen yang notabene apartemen itu adalah apartemen eksklusif yang hanya mampu di beli oleh para pengusaha maupun ekspatriat.
"Apa gadis itu adalah simpanan seseorang?" Gumam Sean seraya menatap fokus ke depan. Tak di pungkiri jika mengingat pekerjaan Sandra yang sebagai caddy, hal seperti itu bukanlah hal yang tabu. Karena banyak rekannya maupun rekan bosnya yang memiliki wanita idaman lain selain istri sah.
Sean menyugar rambutnya seraya menghela napas. "Kemana aku harus mencari keluarganya..." Sean berpikir. "Kurasa aku harus melaporkan kasus ini ke security apartemen".
Sean lantas menekan pedal gas lebih dalam agar Ia lebih cepat sampai. Tak sampai tiga puluh menit, Sean memasuki area parkir di basement gedung apartemen. Setelah memarkirkan mobilnya, Sean segera keluar dan memutuskan untuk menemui kepala security.
Di sisi lain, Satya dan Nino memutuskan untuk memfoto segala jejak keributan yang ada di ruang tengah. Satya pun juga sudah mengantongi rekaman CCTV yang memperlihatkan Nadya yang masuk ke dalam unit apartemennya. Tak lupa pula berkat rekaman CCTV pula Satya mengetahui jika ada seorang security yang bersekongkol dengan Nadya agar wanita itu bisa memilii akses naik ke lantai atas.
"Aku sudah foto semuanya. Apa kau berencana melaporkan Nadya ke polisi?" Tanya Nino seraya mendudukkan dirinya di sofa tepat sebelah Satya.
Satya mendecih. "Hah! Polisi kau bilang? Apa kau lupa Nadya dari keluarga mana? Melaporkannya ke polisi tidak akan mempan sama sekali." Ujar Satya. "Aku punya rencana yang lebih baik daripada melaporkannya ke polisi."
__ADS_1
"Apa itu?"
"Nanti juga kau akan tahu" Sahut Satya tersenyum miring.
Tiba-tiba saja ponsel milik Satya berbunyi. Ia melihat layar ponselnya dan segera menerima panggilan tersebut.
"Apa ada kabar baru?" Tanya Satya tanpa basa basi pada kepala pengamanan yang menghubunginya.
"Pria yang anda cari berada dengan saya saat ini, Pak. Dia melaporkan apa yang sedang terjadi pada istri anda dan sedang mencari keberadaan keluarga istri anda. Sebaiknya anda segera kembali ke pusat pengamanan, Pak Satya".
Satya melotot menatap terkejut ke arah Nino. "Oke saya segera kesana sekarang. Pastikan pria itu tidak pergi kemana-mana sebelum aku datang" Titah Satya"
"Baik, Pak"
Satya lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. "Ayo cepat! Sean berada di pusat pengamanan gedung saat ini!". Ujar Satya pada Nino. Keduanya pun segera menuju kembali ke pusat pengamanan tanpa membuang waktu.
Nadya saat ini berjalan mundar mandir gelisah di kamar hotel mililknya pribadi.Kemarin malam Ia sangat puas bisa membuat istri kedua suaminya merintih kesakitan. Insiden Ia mendorong Sandra memang niatnya. Namun tak disangkanya pula jika meja kaca di belakang wanita itu akan pecah berhamburan karena efek benturan dengan tubuh Sandra. Saat melihat itu, tak ayal Nadya merasa terpuaskan.
Ia merasa rasa sakit yang di alami oleh Sandra karena pecahan kaca belumlah sepadan dengan rasa sakit hatinya karena wanita itu telah merebut suami dari dirinya. Namun kebahagiaan itu tak berangsur lama manakala Nadya mendapatkan telfon dari detektif yang Ia sewa jika Satya sudah kembali pulang.
Nadya semakin kalut saat mendengar jika Satya mengecek seluruh CCTV dan petugas security yang memberikannya akses untuk naik ke lantai atas pun sudah di amankan oleh kepala pusat pengamanan gedung.
Nadya menengok ke arah pintu dan bernapas lega saat melihat Aldanar lah yang datang. Nadya lantas segera berjalan menghampiri Sang Ayah dengan wajah yang kalut. Hilang sudah gurat keangkuhan yang biasa Ia tunjukkan pada semua orang.
"Ayah! Bagaimana ini... Satya sudah pulang! Aku sama sekali tidak menduga jika dia secepat ini kembali. Aku jadi tidak memiliki waktu untuk menghapus seluruh jejakku di apartemen wanita itu Ayah!". Ujar Nadya meluapkan kegelisahannya.
"Tidak masalah sayang. Ini hal sepele. Kau tidak perlu kuatir". Ujar Aldanar menenangkan sang putri.
__ADS_1
"Tidak perlu kuatir bagaimana, Ayah?!" Pekik Nadya. "Satya memiliki bukti jika aku berada di apartemennya!".
"Kau adalah putri tunggal keluarga Carlton sayang. Hukum tidak akan bisa menyentuhmu". Sahut Aldanar tersenyum.
...
"Pihak keluarga wanita yang anda tolong sedang menuju kemari Pak Sean". Ujar seorang petugas.
Sean menghela napas dengan lega. "Syukurlah kalau seperti itu.. Kondisi wanita itu harus di dampingi oleh keluarga. Kurasa dia melalui suatu hal..." Ujar Sean. "Serpihan kaca kecil yang melukai tangan dan kakinya... Serta keguguran yang di alaminya..." Sean menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat. "Aku saja kasihan melihatnya".
"Apa kasus seperti ini bisa di laporkan ke polisi? Kurasa ada yang menjahati wanita itu".
Petugas tersebut mengangguk. "Suaminya sudah kami berikan rekaman CCTV sebagai bukti di kepolisian, Pak Sean"
"Suami?" Sean mengerutkan keningnya. Ah ya.. Dia sedang hamil ya wajar saja bersuami. Sean bergumam dalam hati dan entah mengapa sangat lega saat mendapati kenyataan jika Sandra bukanlah wanita simpanan yang sebelumnya Ia pikirkan.
"Baguslah jika seperti itu. Kuharap hal seperti ini tidak terulang kembali di apartemen ini. Aku baru saja pindah dan sudah di buat shock dengan keadaan tetanggaku hehehehe" Sean terkekeh pelan hingga netra matanya yang kecokelatan menampilkan kesan hangat yang mendalam.
"Mohon maaf atas ketidaknyamanannya, Pak. Kami akan terus meningkatkan sistem pengamanan serta meningkatkan kualitas para personel petugas keamanan kami". Ujar Kepala pusat pengamanan seraya menundukkan kepala.
"Ah ini dia suami dari wanita yang anda tolong, Pak Sean". Seru seorang petugas saat melihat Satya melangkah masuk di ikuti oleh Nino yang berada di belakang.
Sean menatap Satya dengan wajah terkejut. "Pak Satya Nagara?!".
...๐ด๐ด๐ด...
Hola! Maaf ya ga up 2 hari. Dari kemarin2 siap2in diri kembali jadi budak korporat nih alias kembali kerja๐
__ADS_1
Sempet down juga semangatnya lanjutin novel yg ini karna sepi kaya kuburan, pengen bikin novel baru aja rasanya. Tapi mikir2 lg pantang untuk berhenti di tengah jalan sih.. Ah dasar gajelas aku.