
"Apa kau serius?!"
Nino bertanya pada Satya saat keduanya tengah berada di kantor. Satya menceritakan apa yang terjadi tentang segala hal terkait Sean dan Sandra tanpa ada yang di tutupi sedikitpun.
"Apa ayahmu tidak curiga?". Tanya Nino lagi.
"Curiga untuk apa? Dia hanya menganggapku sedang dalam mood buruk hari itu hingga aku malas untuk melanjutkan permainan." Ujar Satya. "Padahal mood ku memang sangat kacau".
"Apa Sean tidak mengenalimu?".
"Tentu saja dia mengenaliku. Dia mengenaliku hanya sebagai Satya Nagara, CEO dari Nagara Corporation dan putra tunggal keluarga Nagara." Sahut Satya.
"Aku rasa juga dia hanya mengenalimu sebatas itu saja." Nino terlihat berpikir. "Dia tidak mengenalimu sebagai suami dari Nadya Carlton. Karena memang pernikahan kalian tertutup dan hanya segelintir orang saja yang mengetahuinya". Ujar Nino memandang Satya dengan serius.
Satya mengangguk. "Ya. Dia tidak tahu kalau aku adalah suami dari wanita yang ditidurinya". Satya tersenyum miring.
"Apa kau cemburu?".
"Aku? Cemburu mengenai apa?". Tanya Satya.
"Tentang Nadya. Bagaimana perasaanmu saat kau bertemu langsung dengan pria itu? Apa kau ingin memukulnya? Membunuhnya?".
Satya menyandarkan punggung ke bangku kebesarannya. Jari jemarinya saling Ia tautkan. Matanya memandang jauh melalui jendela kantornya. "Perasaanku... Aku sangat marah. Aku merasakan dorongan yang kuat dalam diriku untuk menghajarnya hingga babak belur"
__ADS_1
"Selama ini saat aku mengetahui identitasnya yang merupakan asisten Pak Pradipta, aku berusaha menahan diri walau tidak kupungkiri aku merasa sangat kecewa atas segala hal yang menimpaku. Kau tahu betul bagaimana aku menjaga Nadya selama bertahun-tahun. Aku perlakukan dia sebagai ratu, aku lindungi dirinya dan tidak pernah sekalipun aku membuka kancing bajunya selama berpacaran".
"Yang aku sesalkan adalah aku mengetahui segalanya setelah aku menikah. Setelah aku terikat dengan Nadya dan kedua keluarga. Aku tidak merasakan cemburu tentang Nadya. Ini rumit bagiku untuk menjelaskannya padamu. Aku hanya merasakan kecewa mendalam tentang hubunganku dengan Nadya dan apa yang dilakukannya di belakangku".
Nino mengamati wajah Satya dengan seksama. Melihat raut wajah tampan sang bos yang terlihat kalut.
"Lalu bagaimana dengan Sandra? Bagaimana perasaanmu saat melihatnya saat bersama Sean tempo hari?"
Satya menghela napasnya. "Aku membentaknya, Nino. Aku membuatnya takut padaku".
"Tapi kau kan tidak berniat seperti itu..."Sanggah Nino.
"Ya. Tidak pernah terpikirkan olehku untuk membentak istriku yang polos itu. Aku hanya cemburu. Justru aku sangat cemburu saat melihat Sandra mengobrol dan tertawa bersama pria itu. Bayangan video Nadya dengan Sean saat itu benar-benar menghantuiku. Aku jadi merasa sangat takut jika Sandra mungkin saja akan mengkhianatiku".
"Sebelum kau berpikir dia mengkhianatimu atau menyakitimu, justru tanpa sadar saat kau mengikat dirinya dalam pernikahan dan menyembunyikan statusmu darinya, kau sudah lebih dulu menyakitinya bos." Sahut Nino dengan gamblang.
Satya tertegun. Ia menyugar rambutnya dengan kasar. Semua ucapan Nino benar. Ia yang akan membawa kehancuran bagi istri keduanya. Sama seperti Nadya yang menghancurkan hatinya.
"Aku mencintainya... Aku sudah mencintai Sandra, Nino". Ujar Satya dengan nada sendu. "Seluruh perasaanku benar-benar sudah padam untuk Nadya. Aku hanya merasa emosi dan frustasi di lapangan golf karena bayang-bayang video Nadya dengan Sean bisa saja terjadi pada Sandra saat melihat mereka berdua berbicara dengan akrab. Aku tidak ingin kehilangannya".
Nino menghela napas dengan kasar seraya memijit pelipisnya. "Kau tahu bos? Satu-satunya jalan untuk meminimalisir dampak dari semua ini adalah kau harus lebih dulu jujur pada istri keduamu tentang statusmu dengan Nadya. Dia mungkin akan marah, kecewa, mengamuk atau mungkin menendangmu. Tapi itu lebih baik daripada dia tahu dari orang lain". Nino memberi saran yang logis.
Satya menggelengkan kepalanya. "Aku tidak sanggup menyakitinya. Tak sengaja kubentak saja dia sudah menangis dan ketakutan. Bagaimana jika dia tahu kalau aku ini memiliki istri lain selain dirinya? Astaga.. Aku belum siap melihatnya terluka". Satya membayangkan apa yang mungkin akan terjadi jika Ia jujur pada Sandra.
__ADS_1
Nino sontak saja segera beranjak dari duduknya. "Terserah kau saja lah bos! Aku sudah memberimu saran. Lebih cepat jujur lebih baik." Ujar Nino lalu melangkah keluar dari ruangan Satya begitu saja.
...🌻🌻🌻...
Sandra mengamati kamar hotel yang sudah di tempati kedua orang tuanya selama 2 pekan. Retno, Dimas, Sabil dan Siska terpaksa harus tidur di hotel selama beberapa bulan selama rumahnya selesai di bangun ulang. Satya benar-benar mengakomodasi seluruh keperluan kedua mertua dan kedua adik iparnya dengan apik. Retno dan Dimas bahkan tidak di biarkan untuk mengeluarkan uang dan tenaga sedikitpun.
Satya menyediakan dua kamar hotel yang dihubungkan dengan connecting door. Pria itu juga memberikan sebuah mobil dan supir untuk mengantar jemput kedua adik Sandra sekolah.
"Pak, Bu..Apa ada yang di butuhkan selama tidur disini?". Tanya Sandra menatap kedua orang tuanya silih berganti.
"Astaga Nak... Suamimu itu sudah memastikan Ibu dan Bapak serta kedua adikmu terpenuhi segalanya. Kamu tidak perlu kuatir" Sahut Retno seraya tersenyum.
"Kamu urus saja suamimu dengan baik."
"Benar kata Ibumu, San. Bapak saja tidak menyangka kalau Bapak bisa menginap lagi di hoyel bintang lima seperti ini hehehehe" Timpal Dimas.
Sandra terkekeh kecil. Tak di pungkiri, Sandra mengakui bahwa Satya memang menyayangi keluarganya walau Sandra merasa bahwa Ia tidak tahu apapun tentang kehidupan pria itu. Sudah hampir dua bulan Ia menikah, Sandra merasa sang suami memiliki sisi lain dalam hidupnya.
"Apa kamu bahagia, Nak? Ibu awalnya sangat kuatir karena kamu menikah di usia 20 tahun. Kehidupan pernikahan itu tidak selalu mulus. Perlu pikiran yang dewasa dan mental yang kuat untuk menghadapi segala ujiannya".
"Tapi saat Ibu melihat sikap suamimu yang sangat menyayangimu dan menghargai keluarga kita yang sangat berbeda jauh dengan keluarganya, Ibu sadar bahwa suamimu orang yang tulus.". Retno berucap dengan nada bergetar.
"Ibu tidak pernah berani membayangkan akan punya menantu.seperti suamimu hehhee"
__ADS_1
Sandra tersenyum seraya menggenggam tangan Retno. "Ibu jangan kuatir. Dia sangat memperhatikanku. Bahkan dia menjagaku seakan aku ini anak kecil yang rapuh". Sandra terkekeh pelan seraya mengingat sikap berlebihan Satya pada dirinya setelah menikah.
...🌴🌴🌴...