
Menyimak pembicaraan Maureen siang tadi, membuat Byan banyak berpikir. Saat ini, pria muda itu memilih menyendiri di galerinya untuk memikirkan banyak hal sambil membuat lukisan Maureen. Sosok wanita yang berhasil membuka sudut pandang yang berbeda tentang keluarganya.
“Pernikahan itu adalah sebuah komitmen, Maureen. Harusnya, kalau Anggoro memilih menikahi ibuku, maka dia tidak boleh merusak komitmen yang sudah mereka buat. Alasan tidak bisa menahan Hasrat, adalah sesuatu yang menggelikan buatku.”
Kalimat pengingkaran itu yang Byan sampaikan sesaat setelah ia tiba di rumahnya. Ia melihat Maureen tersenyum mendengar ucapannya itu serta mengusap wajah Byan dengan sayang. Satu kecupan bahkan dihadiahkan Maureen di bibir Byan yang ia usap dengan lembut.
“Aku rasa, aku tidak salah memilih laki-laki yang aku cintai. Aku setuju dengan pemikiranmu, tapi seperti yang aku katakan sebelumnya, apa yang aku sampaikan sama kamu, bukan sebuah pembelaan untuk kesalahan Anggoro. Itu hanya sudut pandang yang aku lihat sebagai orang asing.”
“Seperti apa pendapat kamu tentang ayahmu, itu hak kamu sepenuhnya. Yang jelas aku melihat, kalau kamu bisa lebih baik dari Anggoro.” Maureen berujar dengan sungguh.
Perbincangan itu terjadi di mobil dan Byan tidak menimpalinya. Setelah Maureen turun, ia masih terdiam di mobil. Satu pesan yang ia kirimkan pada Maureen, “Aku perlu waktu,” tulisnya.
Sesaat kemudian Maureen menghentikan langkahnya. Membalas pesan Byan dengan tulisan, “Take your time, Byby sayang.”
Lantas melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah. Jawaban Maureen itu yang membuat Byan akhirnya memutuskan untuk pergi ke gallery. Tempat yang ia rasa netral untuk memikirkan banyak hal.
Lukisan Maureen sudah hampir selesai, tapi pikirannya tentang Anggoro belum habis. Ia mengakui kalau yang diucapkan Maureen itu benar, tentang sudut pandang lain terhadap Anggoro. Hanya saja hati kecil Byan sebagai seorang anak, belum bisa menerima kalau laki-laki tua itu yang membuat Andini pergi untuk selamanya.
"Aku sangat marah pada orang-orang yang telah menyebabkan kedua orang tuaku pergi. Selama bertahun-tahun aku membenci mereka yang entah siapa. Sampai aku sadar, kalau dengan kepala dingin dan bisa menahan marahku dengan lebih baik, mungkin aku bisa lebih cepat menemukan penyebab kematian ayahku."
"Aku juga sadar kalau selama inj aku telah menyiksa diriku sendiri. Aku gak mau kamu mengalami hal yang sama denganku." Ucapan Maureen saat di danau tadi kembali bergema di telinga Byan.
Di samping Byan, ada dua buah minuman. Satu gelas minuman beralkohol dan satu botol air mineral. Ia sudah mengambil gelas di tangannya, tapi beberapa saat sebelum ia meneguknya, ia menaruh kembali gelas itu. Ia merasa kalau ia perlu berpikir jernih tentang masalahnya, bukan dalam keadaan mabuk dan marah seperti yang dikatakan Maureen.
“Kamu terlalu istimewa. Aku akan kesulitan membiarkan kamu pergi Maureen. Tapi kamu sudah menantangku. Aku tidak mungkin membiarkan kamu berubah pikiran dan menganggapku tidak layak menjadi seseorang yang berarti di sampingmu. Lagi pula, kita sama-sama perlu waktu untuk berdamai dengan diri sendiri." Byan berbicara pada lukisan Maureen yang hampir jadi.
Masalah ia dengan Anggoro dan hubungannya dengan Maureen seolah menjadi kolase yang menunggu untuk disusun rapi agar terlihat indah.
Tidak semua bayangn itu memiliki ukuran yang sama, warnanyapun beragam dalam pikiran Byan. Akan tetapi Maureen sudah memintanya untuk membingkai kolase itu, maka ia tidak bisa membiarkannya.
Byan mengambil ponsel dan mencari nomor Maureen. Ia menghubungi Maureen melalui sambungan telepon.
“Hay, kamu belum mau pulang?” suara Maureen terdengar merayu manja dari sebrang sana, membuat Byan harus menelan salivanya kasar-kasar.
“Delapan bulan. Aku akan menyelesaikan semuanya dalam delapan bulan. Setelah itu, aku akan datang menjemputmu.” Byan akhirnya memenuhi tantangan Maureen. Semuanya ia katakan dalam keadaan sadar.
“Ya, aku akan menunggumu.” Sahutan Maureen membuat Byan menghembuskan nafasnya lega.
“Tempat seperti apa yang ingin kamu tuju? Aku ingin kamu memberiku kesempatan untukku memilihkan dan memastikan tempat itu aman untukmu.” Sekali ini lagi ia ingin egois.
“Tidak masalah, aku percaya kamu bisa memilihkan tempat yang terbaik untukku.”
__ADS_1
“Kamu mau tempat seperti apa?” Byan mulai lega.
“Emmm, aku suka tempat yang sejuk, tenang, tidak banyak kebisingan. Aku juga ingin melihat pemandangan yang hijau dan memanjakan mataku. Apa kamu bisa mencarinya?” pinta Maureen, sambil membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Ia menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya yang hanya mengenakan dress tidur berbahan satin.
“Ya, aku akan mencarinya.” Byan berjanji tidak hanya pada dirinya tapi juga pada Maureen.
“Okey, terima kasih. Segeralah pulang kalau kamu sudah merasa lebih baik. Aku merindukanmu,” ucap Maureen tanpa rasa ragu.
Byan tersenyum kecil mendengar permintaan Maureen. Suatu hal yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Byan tidak menimpali apa pun dan membiarkan Maureen menutup teleponnya lebih dulu.
Menenangkan diri, itu yang Byan lakukan saat ini. Ia melanjutkan lukisannya dengan gerakan tangan yang cepat seolah ingin segera selesai. Berulang kali ia menambahkan warna pada paletnya lalu menggoreskan lagi kuasnya di atas canvas yang sudah dipenuhi warna. Warna yang cantik untuk sosok Maureen yang ada di hatinya.
Setelah merasa lukisannya selesai dan pikirannya tenang, ia tersadar kalau tempat terbaik yang seharusnya ia tuju adalah di sisi Maureen. Menghabiskan waktunya lebih banyak sebelum kemudian Maureen pergi untuk sementara waktu.
Tergesa-gesa, ya Byan sangat tergesa-gesa. Ia menaruh kuasnya begitu saja. Dengan tangannya yang masih berlumur cat, ia mengambil jas yang ia tanggalkan. Juga kunci mobil yang tergeletak di atas sofa. Ia segera pergi dari galeri dan pulang menuju kediaman Anggoro.
*****
Perjalanan singkat di tempuh Byan. Sudah pasti karena ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sedikitnya kendaraan di malam hari membuat Byan leluasa menguasai jalanan yang lenggang itu. Setengah jam saja, Byan sudah sampai di kediaman Anggoro.
“Selamat malam, tuan.” Seorang pelayan menyapa, tapi Byan mengabaikannya. Ia melangkah dengan cepat menuju suatu tempat yang sudah pasti, kamar Maureen.
“Byan?” Maureen sampai kaget saat Byan muncul di depan pintu kamarnya.
“Aku juga,” timpal Maureen seraya tersenyum tipis.
Tanpa di duga, Byan masuk ke dalam kamar Maureen, mendorong tubuh mungil Maureen dengan sebuah pagutan di bibirnya. Pintu kamar ia tendang hingga tertutup, karena tujuannya saat ini hanya ingin mengecupi Bibir Maureen yang sangat ingin ia sesap.
“Byan,” Maureen menahan tubuh Byan agar sedikit menjauh karena ia semakin terdesak di sudut kamarnya. Ia menatap Byan dengan lekat.
“Ada apa?” tanya Maureen yang masih kaget.
Byan menhembuskan nafasnya kasar lalu menopang tubuhnya dengan tangan yang bertumpu pada dinding yang berada di belakang Maureen. Tubuh Byan mengungkung tubuh mungil Maureen. Laki-laki itu terlihat gusar.
“Sebelum kamu pergi, aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu, agar aku bisa menjalani waktu delapan bulan itu dengan penuh keyakinan. Kamu mempercayaiku kan, Maureen?” Ucapan Byan begitu syarat makna.
Maureen tidak menjawab. Ia hanya menatap Byan dengan lekat. Sungguh perpisahan sementara ini juga berat untuk dirinya. Tapi ia perlu waktu untuk menata semuanya. Ia perlu waktu untuk menerima semua rasa kehilangan yang pernah ada dan membebaskan dirinya dari rasa trauma.
Ia tidak mau kalau kelak siapa pun yang menjadi pasangannya, tidak mendapatkan perhatian dan cinta sepenuhnya. Ia ingin menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri saat nanti berdampingan dengan laki-laki yang kelak menemaninya hingga akhir usia.
“Aku selalu mempercayaimu Byan. Tidak ada yang membuatku ragu. Kepergianku, bukan karena aku meragukanmu tapi aku ingin kita meyakinkan diri untuk satu sama lain. Aku ingin kita bertemu dalam versi terbaik kita masing-masing,” tutur Maureen seraya mengusap dada Byan yang bidang. Tempat ternyaman untuk ia bersandar.
__ADS_1
“Setiap pemikiran dan hal yang kamu katakan, selalu membuatku jatuh cinta Maureen. Aku tidak pernah bisa mengingkari hal itu.”
“Benarkah? Pikiranku terkadang kacau dan nakal Byan.” Berganti Maureen mengusap pipi Byan, lalu lehernya. Ia juga tersenyum penuh arti.
“Jangan mengujiku!” Byan menarik tangan Maureen lalu menggenggamnya dengan erat. Darahnya sudah berdesiran tidak karuan. Pucuk kepalanya sudah mendidih.
“Aku tidak mengujimu, aku mengatakan yang sejujurnya.” Lagi, Maureen tersenyum tipis pada Byan.
“Kamu memperbolehkanku menyentuhmu?”
Maureen mengangguk kecil, “Hanya kamu tidak pernah aku larang apalagi aku hindari,” tegas Muareen.
Dalam satu kali gerakan, Byan menangkup wajah Maureen lalu *****4* bibir Maureen dengan arogan. Tidak hanya sebuah kecupan, melainkan gigitan kecil yang ia lakukan berulang dan mendapat balasan dari Maureen. Byan sampai terengah, saat pangkal lisannya menerobos masuk mengabsen seisi rongga mulut Maureen. Mereka saling berdecapan, saling bertukar saliva dengan nafas yang terengah berbalut gairah.
Tidak sampai di sana, Byan menggendong Maureen di depan tubuhnya. Membawa wanita itu duduk di tepian tempat tidur menghadap Byan dan melanjutkan apa yang sempat terjeda. Maureen menangkup wajah Byan yang sudah memerah dipenuhi gairah. Sesekali tangan Byan mengusap punggung Maureen dengan lembut dan telunjuknya yang menurunkan satu per satu tali baju tidur Maureen.
Mereka berhenti beberapa saat. Membiarkan Byan melepas kemeja dan kaos dalamnya hingga hanya barisan otot dadanya yang terlihat. Maureen mengusap dada itu dengan lembut sambil mengecupi bibir Byan yang terasa manis. Sementara ia tetap duduk di atas pangkuan Byan.
Tangan Byan ia biarkan bergeriliya, mengusap sensu4l punggungnya hingga bulu kuduknya meremang. Pakaian tidur Maureen pun tertanggalkan, menunjukkan bagian atas tubuh Maureen yang indah.
“Jangan memandangiku seperti itu Byan, kamu membuatku malu.” Maureen menutup kedua mata Byan dengan telapak tangannya. Ia melihat dengan jelas kilatan gairah di mata Byan saat melihat dua tumpukan sintal di dada Maureen yang seolah menantangnya.
Byan hanya terkekeh. Dengan satu tangannya ia mengambil selimut untuk menyelimuti tubuh polos Maureen. Membalik tubuh Maureen hingga terbaring di atas ranjang.
“Aku akan melakukannya dengan hati-hati,” ucap Byan yang sudah berada di atas tubuh Maureen dengan kedua tangan yang menjadi tumpuan.
Maureen tidak menjawab, ia hanya mengangguk lalu mengecup bibir Byan dengan sedikit usaha mengangkat tubuhnya mendekat pada Byan. Byan tidak menunggu lama lagi. Ia kembali menyerang bibir Maureen, membalas setiap decapan yang diberikan oleh wanita yang ia cintai lalu menelusur melewati leher jenjang Maureen.
“Byan, akh….” Maureen melenguh tertahan membuat hasrat Byan semakin menggila.
Setiap deru nafas Maureen yang tertahan juga suaranya yang sedikit mengerang tertahan menjadi melodi terindah yang Byan dengar. Dalam beberapa saat Byan menyatukan inti tubuhnya dengan inti tubuh Maureen.
Kail yang sudah tegang itu sedikit demi sedikit menerobos masuk ke dalam inti tubuh Maureen. Maureen mengerang tertahan. Ia mencengkram tangan Byan dan Byan segera memeluknya.
“Byan….” Lagi suara Maureen yang terengah benar-benar memanjakan Byan.
"Maureen, aku mencintaimu."
Beberapa kali hujaman diberikan Byan dengan sensasi yang semakin menggila dan wanita itu hanya bisa melenguh. Semuanya mereka lanjutkan sampai kemudian tubuh keduanya mengejang berbalut keringat.
“Maureen, aku milikmu,” bisik Byan dengan terengah-engah. Ia tidak berhenti memandangi wajah Maureen yang terlihat menarik dengan ekspresi istimewa yang hanya bisa dilihat oleh Byan. Tidak ada keinginan sama sekali di hati pria bertubuh kekar itu untuk melepaskan tubuhnya dari memeluk Maureen.
__ADS_1
Malam ini, Byan mematahkan kutukan rajang dingin Anggoro untuk Maureen.
*****