
Menjelang malam, mereka sampai di lokasi antar jemput. Mereka hendak pulang ke kota tapi sepertinya angin tidak terlalu bersahabat.
“Kak, nelayan menyarankan kita untuk bermalam di sini karena kondisi angin yang mulai kencang. Mereka gak berani bawa kita berlayar. Kita mesti gimana dong?” bisik Dita yang mulai was-was.
“Tenang, aku akan bertanya ke kepala project itu. Kamu tunggu sebentar,” balas Maureen.
Ia segera menghampiri kepala proyek yang sedang memberekan site plan yang ia perlihatkan pada Maureen.
“Pak, apa di sini ada penginapan? Sepertinya kami belum bisa pulang ke penginapan.”
“Oh ada nona. Salah satu rumah warga di area lokalisasi ada yang masih kosong. Jika berkenan, nona bisa menggunakannya. Rumahnya tidak jauh dari dermaga. Kalau nona akan menginap di sana, biar saya antar.”
“Baik, tolong antar kami.”
“Dengan senang hati, nona,” sahut lelaki berlogat bahasa indonesia timur.
Mereka pun segera menuju rumah yang akan menjadi tempat mereka menginap. Rumahnya tidak terlalu besar, didominasi oleh bahan bangunan berupa kayu dan penerangannya hanya dengan menggunakan lampu pijar kecil yang menyala kekuningan.
Maureen melihat-lihat sekitar rumah itu. Cukup gelap dan letaknya berjarak cukup jauh dari rumah lainnya.
“Listrik di daerah sini sering terkena pemadaman karena belum stabil. Nona bisa menggunakan lampu pertomax, bahan bakarnya sudah terisi penuh.” Laki-laki itu menaruh lampu petromax di atas meja ruang tamu dan sekotak korek api di dekatnya.
“Baik, terima kasih pak.”
Setelah menyelesaikan tugasnya, laki-laki itu pun kembali ke lokasi project sementara Maureen dan Dita menetap sementara di rumah itu.
“Kak liat, kulitku belang banget,” keluh Dita seraya mengusap kulit tubuhnya yang kering karena seharian terkena matahari.
Maureen mengecek kulit lengannya dan benar, kulitnya juga belang.
“Gak apa-apa, eksotis itu cantik dan seksi.” Hibur maureen seraya menepuk bahu Dita. Ia pergi ke wastafel untuk membasuh wajahnya yang terasa kering dan kaku. Mungkin karena terlalu lama terpapar cahaya matahari secara langsung.
“Iya juga sih, orang bule aja sengaja yaa datang ke negara kita buat sun bathing, ini kita tinggal nikmatin aja secara gratis.” Dita mendudukan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia menepuk-nepuk kasurnya yang sederhana dan tidak terlalu tebal.
“Iya lah. Jadi mending kita nikmati aja. Nanti kalau kita udah balik lagi ke Jakarta, udah gak bisa lagi sun bathing. Harus ngambil cuti dulu yang belum tentu di setujui. Iya kan?”
“Hahahaha kak Maureen suka bener deh kalau ngomong. Udara Jakarta sama-sama biki kulit keringbedanya, panasnya cuma bikin kita kegerahan gara-gara suhu bumi yang meningkat. Lebih betah di sini aku tuh. Asal pake sun screen sama pelembab yang banyak."
"Aduuhh, aku capek benget, pengen tiduran. Mau mandi males, dingin banget.” Dita membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Tulang belakangnya sudah minta diluruskan.
Maureen tersenyum kecil melihat tingkah Dita. Ia pun sebenarnya sudah ingin mengistirahatkan tubuhnya tapi ia masih harus melapor pada bosnya.
__ADS_1
“Aku call tuan muda dulu ya,” pamit Maureen seraya beranjak. Dita mengacungkan ibu jarinya sebagai bentuk persetujuan.
Di teras rumah saat ini Maureen berada. Ia menghadap ke arah dermaga yang tidak jauh dari tempatnya. Mungkin hanya sekitar dua atau tiga kilo meter saja. Posisi rumah yang berada di ketinggian yang cukup membuat Maureen bisa merasakan suasana yang tenang dengan pencahayaan yang remang-remang diterangi lampu pertomax dari perahu nelayan yang sedang melaut.
Malam sudah semakin larut dan Maureen memutuskan untuk menghubungi Byan. Sejak sore ia belum melapor karena kondisi jaringan yang tidak terlalu bagus saat di area konservasi. Bos nya pasti sudah menunggu update laporan terbaru.
Satu panggilan di lakukan dan Byan dengan cepat menjawabnya.
“Hay, akhirnya kamu menghubungiku. Kamu udah tiba di penginapan?” laki-laki itu bertanya dengan cepat. Sepertinya ia memang sedang menunggu-nunggu telepon dari Maureen.
“Ya, aku udah di penginapan yang ada di lokasi project. Aku kemaleman dan akan nginep di sini,” terang Maureen. Ia beranjak dari tempatnya, berdiri bersandar pada tiang rumah. Ia ingin menikmati angin malam yang terasa dingin.
“Kenapa bisa kemaleman? Emang kamu dari mana seharian ini?” Byan terdengar cemas.
“Aku berkeliling lokasi project terus ke area konservasi dan ternyata perjalanannya cukup jauh. Jadi kami pulang kemaleman. Beruntung ada salah satu rumah warga yang belum di huni, makanya kami bisa menginap di sini.”
“Syukurlah. Kamu terlalu bekerja keras hari ini. Apa gak capek?” Byan benar-benar mengkhawatirkan Maureen.
“Lumayan capek tapi aku menikmatinya. Mungkin karena yang aku lihat sepanjang jalan adalah pemandangan hutan yang gak pernah aku liat di Jakarta. Suasananya sejuk dan menenangkan. Aku sarankan, lain kali kamu datanglah ke tempat ini.”
“Ya, aku akan ke sana saat kakiku sembuh.” Byan memandangi kakinya yang masih terbalut perban. Andai tidak ada masalah dengan kakinya, sudah dipastikan ia akan ikut dengan Maureen.
“Aku udah melepas gipsnya. Aku juga belajar jalan dengan menggunakan kruk. Ini terasa lebih nyaman. Kamu mau melihatnya?” tawar Byan.
“Boleh. Kirimkan fotonya,” Maureen berinisiatif.
“Nggak, kita video call aja,” timpal Byan yang tiba-tiba.
“Hah, video call?” Maureen kaget sendiri. Entah mengapa jantungnya jadi berdebar kencang. Padahal tadi biasa saja.
Tidak ada jawaban dari Byan selain panggilannya yang beralih menjadi panggilan video. Maureen gugup sendiri tapi tidak ada pilihan lain selain menjawabnya. Ia berusaha terlihat tenang seperti biasanya.
“Hay,” sapa Byan yang menunjukkan senyumnya. Laki-laki itu sudah berpakaian santai dengan rambut yang sedikit berantakan setelah keramas. Matanya berbinar saat melihat wajah cantik Maureen di layar ponselnya.
“Hay,” Maureen membalasnya dengan kaku.
“Kok gelap?” Byan berusaha mengalihkan kecanggungan saat bertatapan dengan Maureen.
“Iya, di sini lampunya cuma pake lampu pijar lima watt. Tapi kamu liat deh, di sana ada dermaga, cantik banget keliatan dari sini.” Maureen membalik kameranya agar Byan melihat pemandangan di belakangnya.
“Bagus,” Byan tercenung beberapa saat, membayangkan seperti apa suasana di sana. Melihat rambut Maureen yang sesekali terburai terbawa angin, sepertinya suasana di sana cukup dingin.
__ADS_1
“Kamu gak pake jaket?” tanya Byan saat kamera kembali menangkap wajah Maureen. Ia menopang dagunya dengan tangan kanan dan menatap wanita dihadapannya, sendu. Ia merindukan wanita ini.
“Jaketku kotor kena tanah. Ngomong-ngomong, coba liat kaki kamu.” Maureen kembali teringat pada alasan ia melakukan video call dengan Byan.
“Oh ya, ini.” Byan menunjukkan kakinya yang berada di bawah meja.
“Apa masih sakit?” tatapan Maureen berubah khawatir.
“Nggak terlalu. Cuma sesekali aja kalau aku terlalu banyak bergerak.”
“Syukurlah,” Maureen tersenyum kecil saat melihat lagi wajah Byan.
Untuk beberapa saat mereka saling bertatapan, mengungkapkan perasaannya lewat tatapan mata.
“Kenapa?” tanya Maureen saat tiba-tiba Byan tersenyum.
Byan menggeleng dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Bisa terlihat wajahnya yang merona karena di tatap Maureen.
”Gak apa-apa. Aku cuma seneng aja liat kamu baik-baik aja,” aku Byan dengan sesungguhnya.
“Oh ya?” Maureen mengernyitkan dahinya sangsi.
“Iya, aku-“
Tiba-tiba kalimat Byan terhenti saat layar ponselnya berubah gelap. Padahal ada hal penting yang ingin ia sampaikan pada Maureen.
“Hah, kenapa ini? Maureen?” panggil Byan tapi tidak ada jawaban dari Maureen dan penggilannya malah terputus.
“Sinyalnya apa gimana sih?” Byan mulai panik sendiri.
Ia segera menghubungi ulang Maureen tapi nomor Maureen malah tidak aktif.
“Astaga, kemana dia? Apa dia jatuh? Hah? Kenapa dia ngilang?” Byan semakin panik. Berulang kali Byan menghubungi Maureen tapi tetap saja nomor Maureen tidak aktif.
“Maureenn, ayolah kenapa hp kamu jadi gak aktif?” wajah Byan benar-benar tegang.
Ia tidak habis pikir, ada apa dengan Maureen?
****
__ADS_1