Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Titik balik


__ADS_3

“Tuan!”


Riswan segera berlari saat melihat Byan terhuyung nyaris jatuh. Tubuhnya mendadak lemas dan kepalanya pusing, seolah darahnya sudah berkumpul di kedua kakinya. Entah sudah beberapa lama pria itu berdiri mematung di tempatnya, selepas Maureen pergi dari hadapannya.


“Kita duduk dulu, tuan.” Riswan segera membawa tuan mudanya untuk duduk di salah satu bangku. Mengipasi Byan yang berkeringat dingin dan tampak pucat.


Byan tertunduk lesu, memegangi kepalanya yang sakit dan pusing berputar. Ia meremas rambutnya sendiri hingga terasa perih saat rambutnya seolah akan tercabut.


“Aku kehilangan dia, Riswan. Aku kehilangan dia. Dia pergi meninggalkanku,” ucap Byan dengan gemetar. Wajahnya sudah pucat dan matanya merah. Bulir air mata terkumpul di sudut matanya. Terlihat sekali kalau Byan sangat sedih.


“Tuan, nyonya muda eh maksud saya nona Maureen hanya pergi sebentar. Tuan jangan khawatir, beliau akan segera kembali.” Riswan berusaha menghibur, tapi Byan hanya menggeleng sambil menunduk. Pikirannya masih sangat kalut. Delapan bulan itu tidak sebentar dan selama itu ia harus memendam kerinduan.


Riswan jadi serba salah melihat Kondisi Byan yang seperti ini. Pria muda itu tidak menimpali, ia masih tetap tertunduk sedih, merenungi apa yang menimpanya. Padahal tadi, saat masih ada Maureen, Byan masih baik-baik saja tapi sekarang terlihat sekali kelemahannya.


“Tuan, tolong tunggu sebentar, saya beli minum dulu.” Hal itu yang terpikir oleh Riswan saat ini. Mungkin saja dengan memberi Byan minum, pikiran Byan menjadi lebih tenang.


Tanpa menunggu jawaban Byan, pria paruh baya itu pun bergegas pergi. Ia mencari toko yang menjual minuman dingin. Sementara itu, Byan masih tetap di tempatnya. Merenungi kepergian Maureen yang menurutnya sangat menyedihkan. Ia masih tetap menunduk dan memejamkan matanya, berusaha menghilangkan bayangan Maureen dari pikirannya. Namun, semakin ia mencoba untuk melupakan, bayangan Maureen semakin nyata.


Seseorang seperti duduk di samping Byan. Wangi parfumnya yang sangat dikenali oleh pria berhidung bangir ini, membuatnya membuka mata yang semula terpejam.


“Kamu gak pulang?” dengar, suaranya juga tidak asing.


“Akh sial! Aku mulai gila. Aku mulai berhalusinasi.” Byan berbicara pada dirinya sendiri. Ia menegakkan tubuhnya lalu menoleh ke samping. Sosok wanita yang mirip dengan Maureen, seolah duduk di sampingnya.


“Aku benar-benar gila.” Byan sampai menekan sudut matanya saat bayangan wanita yang duduk disampignya benar-benar mirip Maureen. Mungkin karena matanya berair jadi penglihatannya tidak jelas. Byan mengerjapkan matanya beberapa kali, ia ingin meyakini apa yang sedang ia lihat. Mata merah itu juga ia kucek berulang dan hasilnya tetap sama. Wanita itu ada dan sekarang tersenyum padanya.


“Kamu kenapa? Kok kayak linglung gitu? Padahal ini belum genap satu jam, apalagi kalau sudah dua puluh empat jam.” Sosok itu sekarang berbicara dengan jelas pada Byan, lalu tersenyum khawatir.


“Astaga, aku benar-benar gila!” Byan sampai menarik tubuhnya menjauh dari samping gadis itu dan memandangi dengan tidak percaya. Matanya yang merah, sekarang membulat sempurna. Ia merasa kalau pikirannya terlalu melantur hingga sosok yang ada dihadapannya terlihat dan terdengar juga memiliki wangi parfum yang sama dengan Maureen, padahal wanita itu baru saja berangkat beberapa waktu lalu.

__ADS_1


“Kamu kenapa sih? Liat aku kok gitu banget, By?” Sosok itu bahkan bisa menyentuh wajah Byan. Tangannya terasa hangat seperti Maureen.


“Jangan mengganguku. Jangan mendekat. Aku sudah punya pacar. Kami hanya berpisah sebentar. Tolong jangan terlalu mirip dengan dia karena aku bisa gila.” Byan berceloteh tidak jelas.


“Kamu ngomong apa sih? Ini aku Byan, Maureen!”


“APA?!” Byan mengusap wajahnya kasar. Tidak percaya dengan yang ia dengar.


“Kamu beneran Maureen?” berganti Byan yang menyentuh wajah Maureen. Menekan-nekan pipinya yang kenyal, mulus dan merona. Jantungnya ikut berdebar kencang saat menyentuh wajah cantik ini. Padahal, hal ini hanya terjadi saat ia bersama Maureen.


“Iya, ini aku.” Wanita itu tersenyum kecil seraya menggenggam tangan Byan yang ada di wajahnya.


“Kok bisa? Kenapa kamu gak pergi? Eh maksud aku, kenapa kamu masih ada di sini? Ish bukan itu, jam berapa ini, apa kamu gak ketinggalan pesawat?” Byan sampai belibet dengan ucapannya sendiri. Antara senang dan kaget karena Maureen ada dihadapannya.


“Aku gak jadi pergi. Aku mau sama kamu aja,” sahut wanita cantik itu seraya tersipu malu.


“Astaga!” Byan segera tersadar kalau ini bukan halusinasinya. Ia segera menarik tubuh wanita itu mendekat lalu memeluknya dengan erat.


“Iya, aku memutuskan untuk gak jadi pergi. Aku mau di sini aja, nemenin kamu menghadapi semuanya sama-sama.” Wanita itu menjawab dengan sungguh.


“Kenapa?” Byan melepaskan pelukannya beberapa saat. Ia ngin tahu alasan Maureen hingga tidak jadi pergi.


“Maksudku kenapa kamu berubah pikiran? Padahal aku ngeliat kamu sangat yakin dengan keputusan kamu.” Byan memandangi wanita itu penuh dengan heran.


“Ya karena aku pikir, hubungan kita akan semakin kuat saat aku juga ikut menghadapi masalah kita. Bukan lari seperti pengecut sementara kamu berjuang sendirian. Hubungan ini adalah hubungan kita, pilihan kita untuk bersama. Masa kamu berjuang untuk menghadapinya, sementara aku sibuk dengan pikiranku sendiri dan tidak memikirkan masalah tentang kita. Aku merasa itu terlalu egois, By. Lagi pula, masalah ada untuk diselesaikan, bukan untuk ditinggalkan.” Ada senyum kecil yang ditunjukkan Maureen pada Byan.


Byan tersenyum haru. Ia menggenggam tangan Maureen dengan erat.


“Terima kasih karena kamu masih mau menemaniku menghadapi semuanya. Terima kasih, Mo.” Ia mengecupi tangan Maureen dengan penuh kasih.

__ADS_1


“Aku yang harusnya berterima kasih. Karena meski tau itu sulit, kamu tetap berbesar hati mengikuti keinginanku. Aku sangat menghormati itu. Mari tetap bersama-sama dan berpegangan tangan seperti ini, untuk saling menguatkan satu sama lain. Aku akan bertahan dan berjuang sama kamu.” Maureen berujar dengan sungguh.


Byan tidak menimpali. Ia memilih untuk memeluk Maureen dengan erat. Ia sangat bersyukur karena Maureen urung pergi dan tidak meninggalkannya.


“Aku mencintaimu Mo, sangat-sangat mencintaimu.” Disela dekapan hangat itu ada ungkapan rasa teramat dalam yang diucapkan Byan untuk sang kekasih.


“Aku juga cinta sama kamu. Cinta sama laki-laki gila, macam kamu.” Maureen ikut mengeratkan pelukannya.


"Hahahaha... tadi aku emang kayak orang gila," aku Byan.


Untuk beberapa saat mereka saling berangkulan, merasakan kebahagiaan karena bisa hadir untuk satu sama lain.


“By, ayo kita jelaskan sama mereka apa yang sebenarnya ada diantara kita. Setelah itu, tolong izinin aku untuk sementara tinggal di panti. Ada banyak hal yang ingin aku lakukan di sana.” Maureen berujar dengan penuh pengharapan.


Byan melepaskan pelukannya dan menatap lekat wanita yang ia genggam erat tangannya.


“Iya, ayo kita hadapi mereka. Setelah itu, kamu tetap punya hak waktu untuk diri kamu sendiri,” ucap Byan seraya mengusap pipi Maureen dengan penuh kasih. Maureen terangguk kecil lantas tersenyum. Satu kecupan diberikan Byan di dahi Maureen dengan penuh perasaan. Sungguh ia sangat bersyukur dengan keputusan Maureen untuk tidak meninggalkannya.


Puas saling memandangi, akhirnya mereka memilih untuk beranjak. Komitmen mereka sudah teguh kalau mereka akan menghadapinya semuanya berdua dan menyelesaikan masalah mereka satu per satu.


“Nona? Anda?” baru akan melangkah, mereka harus kembali berhenti karena ada Riswan yang menatap Maureen dengan kaget.


“Jangan kaget Riswan, dia kekasihku. Namanya Maureen.” Dengan bangga Byan mengatakan hal itu pada Riswan. Ia mulai mengakui hubungan istimewa ini dengan wanita yang ia cinta.


“Ya tuhan, terima kasih Nona, karena Anda memutuskan untuk tidak pergi.” Mata Riswan sampai berkaca-kaca menahan haru. Syukurlah, tuan mudanya tidak jadi depresi dan patah hati. Kalau sampai hal itu terjadi, ia tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan untuk menghibur tuan mudanya.


“Sama-sama Riswan. Terima kasih juga karena kamu begitu sabar menghadapi tingkahnya yang kadang kekanakan.” Maureen tersenyum jahil seraya melirik laki-laki manja yang bersandar di manja di sampingnya.


Riswan hanya mengangguk haru, sungguh ia sangat bahagia melihat Maureen dan Byan berdiri berdampingan tanpa rasa ragu satu sama lain. Bukankah pondasi hubungan yang sebenarnya adalah keyakinan? Lihat juga wajah mereka yang sangat bahagia. Hati Riswan bisa merasakan kebahagiaan itu.

__ADS_1


“Tuan, pada akhirnya mereka membuat keputusan yang tepat,” batin Riswan seraya memandangi Byan dan Maureen dengan penuh rasa haru. Ia berharap Anggoro melihat apa yang ia saksikan saat ini.


****


__ADS_2