
Hari libur, saatnya untuk bermalas-malasan. Itu yang dilakukan Byan sekarang. Saat diluar negeri kalau weekend biasanya ia akan bangun siang, sengaja tidak membuka galeri dan malah pergi main bola. Tapi di sini, ia lebih malas dari itu.
Mungkin karena beban pekerjaannya lebih banyak sehingga ia selalu merasakan kehilangan banyak energi dan perlu waktu lebih lama untuk mengembalikan energinya. Ia rasakan benar, memeras otot dan pikiran memiliki efek yang jauh berbeda. Meski hanya sambl duduk-duduk di kursi kerja yang empuk dan nyaman, nyatanya bekerja dengan otak jauh lebih melelahkan.
“Akh, cepat sekali matahari terbit, gue masih sangat ngantuukkk.” Sinar matahari yang masuk melalui celah tirai kamarnya, menjadi musuh terbesar Byan saat ini.
Ia mengambil bantalnya dan menutup wajahnya dengan bantal. Memang tidak silau tapi membuat nafasnya sesak.
“Gruukkk….” Suara bising ususnya pun terdengar jelas, mungkin karena hari sudah cukup siang.
Andai saja mengisi perut dengan makanan sehat bukan bagian dari kebutuhan dasar manusia, mungkin Byan tidak akan bangun. Ia akan memeluk gulingnya seharian dan bermalas-malasan di atas tempat tidur.
“Gruukk….” Ini bunyi kedua yang dirasakan Byan.
“Okey okey gue bangun!”
Byan kesal dengan bunyi perutnya sendiri yang tidak bisa dikondisikan. Gara-gara makan malamnya tidak enak sehingga ia hanya makan sedikit. Beragam lauk tersaji di atas meja makan yang panjang dan besar tapi tidak menarik seleranya sedikitpun. Mungkin karena ia makan sendirian.
Akhirnya Byan memutuskan untuk bangun. Dengan rambutnya yang masih berantakan dan mata yang setengah tertutup, ia mencari ponselnya. Matanya refleks memincing saat cahaya layar ponsel membuat pupilnya kembali mengecil.
“Sial, gak matahari gak hp, semuanya nyuruh gue bangun.” Gerutu Byan sambil menggaruk kepalanya yang gatal. Sepertinya ia memang perlu mandi.
Byan beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju balkon. Ia perlu menghirup udara segar setelah semalaman hanya menggunakan AC saja.
Tiraipun di buka dan disaat yang bersamaan matanya membulat sempurna.
“Gila, lagi ngapain emak tiri bar-bar?” gumam Byan saat melihat Maureen yang sedang yoga di bawah sana.
Maureen sedang melakukan Chair Pose dan membuat Byan melihat dengan utuh lekuk tubuhnya yang indah.
“Malah olah raga di situ. Gak rugi apa dilihatin sama tukang kebun.” Decik Byan sambil berbalik membelakangi Maureen dan bersandar ke pagar Balkon.
Tapi penasaran juga hingga ia memutuskan untuk menengok lagi beberapa saat. Nalurinya sebagai lelaki menyayangkan pemandangan indah itu ia biarkan lewat begitu saja.
“Dia nyokap tiri lo Byan.” Ucap Byan sendiri yang akhirnya memilih untuk tidak memperhatikan Maureen lagi.
Ia masuk ke dalam kamar dan bersiap untuk mandi. Mungkin dengan menyegarkan tubuhnya, pikirannya akan lebih jernih.
Satu jam berlalu, Byan dan Maureen sudah sama-sama rapi. Mereka bertemu di depan pintu kamar masing-masing.
Byan berpakaian santai sementara Maureen rapi, seperti akan bepergian. Wangi parfum Maureen langsung menyapa syaraf penciuman Byan dengan lembut. Byan bisa menduga kalau Maureen mungkin akan bertemu dengan lawan jenis.
“Ehm! Mau nyari berondong ya?” godanya santai.
Ia berjalan lebih dulu di depan Maureen dan menuruni anak tangga.
“Bukan urusanmu.” Timpal Maureen tidak suka.
Ia menuruni anak tangga lebih cepat dari Byan karena tergesa-gesa. Langkahnya baru terhenti saat tiba-tiba ada pesan masuk.
“Beneran kamu gak bisa datang? Katanya mau bayar hutang.” Pesan itu dari Wisnu.
Maureen tidak membalas dengan kata-kata melainkan hanya dengan sticker berwajah kesal.
“Hahahaha… pencarian stikermu mulai cepat. Sepertinya semua stiker kamu tambahkan sebagai favorit.” Ledek Wisnu.
Maureen sebenarnya malas menimpali laki-laki ini. Kalau saja ia tidak punya hutang dan tidak penasaran bagaimana Wisnu tahu banyak hal tentang dirinya, mungkin ia tidak akan membalas pesan-pesan laki-laki ini. Laki-laki ini memang pandai membuat Maureen penasaran.
Tapi di sisi lain, ada Wisnu yang selalu mengiriminya pesan membuat Maureen merasa memiliki teman. Ya walaupun ada saat-saat tertentu dimana ia hanya ingin sendiri seperti saat ini.
Dan kali ini, Maureen terpaksa membalasnya lagi.
“Share lokasimu, aku akan membayar hutangku hari ini.” Balas Maureen yang tidak mau memperpanjang pembicaraan.
“Baiklah, ini lokasinya. Aku tunggu.” Balas Wisnu.
Byan yang tanpa sengaja melihat pesan di layar ponsel Maureen, sedikit penasaran dengan apa yang akan dilakukan dua orang ini jika kemudian bertemu. Ia berpikir, mungkin saja ia akan menemukan sesuatu yang bisa ia gunakan untuk memojokkan Maureen.
“Ngapain di sini?” tanya Maureen yang sadar kalau Byan sedang mengintip pesannya dari belakang. Ia segera menyembunyikan layar ponselnya di dada.
“Aku mau ngapain kek, apa urusanmu?” timpal Byan yang pura-pura menggeliat dan berjalan meninggalkan Maureen.
"Gak usah sok penting sampe ngerasa semua mata tertuju padamu." Imbuhnya, mengingkari pikiran Maureen yang merasa diperhatikan oleh Byan.
“Dih, orang aneh!” decik Maureen kesal. Pagi-pagi sudah menyebalkan, membuat Maureen enggan berdekatan dengan Byan di waktu yang terlalu sering.
__ADS_1
Ia urung melangkahkan kakinya ke ruang makan. Ia lebih memilih pergi dari rumah ini untuk menyelesaikan utang piutangnya dengan Wisnu.
“Gak sarapan dulu?” teriak Byan.
Acungan jari tengah menjadi jawaban Maureen pada anak tirinya. Terlalu basa basi menurutnya. Padahal Byan pasti tahu, sikapnya membuat Maureen kesal.
“Hahahaha… gila, dasar emak tiri bar-bar!” Bya terkekeh di tempatnya. Beginilah kalau punya ibu tiri yang umurnya jauh di bawah dirinya. Rasa ingin mengganggunyaa jauh lebih tinggi.
Suara mesin mobil Maureen terdengar menyala. Telinga Byan langsung meruncing dan bergegas melihatnya. Ia berlari kecil ke halaman tapi ternyata Maureen sudah lebih dulu pergi.
“Sial! Kenapa dia gak sarapan dulu? Gue kan jadi gak punya kesempatan buat ngorek-ngorek info dia mau pergi kemana?” gerutu Byan yang kesal sendiri.
“Gue susul akh.” Ucapnya seraya mengambil kunci mobil yang ada di tempatnya.
Ia bahkan belum sempat minum tapi sudah harus menyusul Maureen. Ban mobilnya sampai berdecit saat ia menginjak pedal gas dengan semangat.
Masuk ke jalanan dan berbaur dengan kendaraan lain, membuat Byan harus berusaha keras mencari mobil Maureen. Padahal ia sudah melanjukan mobilnya dengan cepat tapi jejak mobil Muareen tetap tidak tersusul.
“Gila tuh perempuan, bawa mobilnya secepat apa sih?” gumam Byan yang tetap waspada mencari keberadaan mobil Maureen di tiga lajur yang berbeda.
Sesekali ia menggunakan lajur kanan hanya untuk mencari mobil Maureen.
“Lama-lama gue kayak PJR.” Keluh Byan saat sadar tingkahnya seolah sedang patroli, menghardik truk agar tidak berada di lajur kanan.
Ia kembali ke lajur tengah dan melanjutkan perjalanan. Dikepalanya ia terus berpikir, tempat mana yang mungkin Wisnu datangi untuk menjamu Maureen.
Byan memutuskan untuk mengubungi Wisnu dan pura-pura bertanya tentang keberadaannya. Ia mencari ponselnya di saku tapi tidak ketemu.
“Kemana hape gue?” gumamnya kebingungan sendiri. Ia mencari di saku tidak ada di dashboard apalagi.
“Akh sial, malah ketinggalan.” Dengusnya sambil memukul stir.
Karena tergesa-gesa ia sampai lupa tidak membawa ponselnya.
“Nyari Wisnu harus ke arah mana ini?” Byan termenung beberapa saat. Ada dua pintu jalan tol di depannya dan satu belokan jalanan non tol.
Ia membanting setirnya ke kiri, tidak jadi masuk ke jalan tol.
“Tuh anak biasanya sok romantis dan agak lebay. Pasti ke tempat yang norak buat merayu emak tiri gue.” Tebak Byan yang sedang berpikir.
****
Lokasi sebuah café sudah di kirim Wisnu beberapa saat lalu. Ia sengaja mengosongkan tempat ini agar tidak banyak orang yang datang di weekend seperti ini. Ia sudah menyiapkan bucket bunga lili untuk Maureen karena berniat menyatakan perasaannya pada wanita cantik itu.
Lebih dari satu minggu ia melakukan pendekatan dengan Maureen. Banyak hal yang mulai ia ketahui baik dari media sosial ataupun dari hasil perbincangannya dengan Maureen sendiri.
Ia mulai tahu hoby Maureen adalah bermain golf, makanan kesukaannya lobster dan ia pecinta film thriller. Apa lagi yang harus ia tahu? Rasanya sudah cukup.
Berbekal informasi itu, akhirya ia memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya pada wanita yang membuat jantungnya berdebar kencang. Dengan respon Maureen yang selalu cepat membalas pesannya, ia sangat yakin kalau Maureen pun menempatkan Wisnu sebagai prioritasnya.
“Akh, apa yang kurang ya?” ia bertanya pada dirinya sendiri. Ia takut Maureen kecewa karena menemukan satu saja kekurangan pada dirinya.
Ia mencari-cari di laman internet, hal yang mungkin disukai wanita berzodiak aries. Mulai dari selera fashion, topik pembicaraan yang disukai hingga tentang hubungan yang lebih intim.
Wisnu terkekeh sendiri saat melihat banyak tips yang bisa ia coba terapkan pada wanita mandiri dan tegas seperti Maureen. Menurut salah satu artikel, wanita aries itu suka keterbukaan dan diberikan kebebasan. Ia juga suka terjebak dalam masalah dan menemukan solusinya sendiri. Ini sangat menarik. Ia sudah mengambil ancang-ancang kalau tugasnya adalah mendukung Maureen sepenuh hati agar merasa di dampingi.
“Okey, gue paham.” Ujar Wisnu.
Sejauh ini usahanya selalu berhasil membuat Maureen penasaran terhadapnya. Mereka berkomunikasi intens lewat pesan ataupun telepon untuk membicarakan banyak hal terutama masalah tempat wisata. Wisnu sudah menemukan bahan perbincangan yang selalu bisa di terima Maureen, maka kali inipun ia sangat yakin kalau usahanya akan berhasil.
“Selamat datang nona, ada yang bisa di bantu?” sapa seorang pelayan saat melihat kedatangan Maureen.
“Saya sudah ada janji dengan,”
“Hay!” tiba-tiba saja Wisnu sudah menyambutnya dengan senyum cerah.
“Beliau ada janji dengan saya.” Ucap Wisnu.
“Oh baik, silakan di lanjut.” Ucap pelayan itu dengan sopan.
Maureen melepas kacamata hitamnya dan memperhatikan lingkungan sekelilingnya. Harus ia akui kalau tempat yang di pilih Wisnu cukup nyaman untuk seseorang yang tidak suka keramaian seperti Maureen.
“Sebelah sini.” Ajak Wisnu yang menunjukkan tempat untuk Maureen.
“Terima kasih.” Suaranya yang sedikit tegas itu menjadi candu tersendiri untuk Wisnu.
__ADS_1
“Gimana perjalanan, lancar?” ia mulai berbasa-basi.
“Lancar, jalanannya lumayan lenggang.”
Maureen duduk di kursi yang di tarikkan Wisnu untuknya. Mereka duduk berhadapan.
“Syukurlah, aku takut kamu terjebak macet karena biasanya weekend, jalanan padat merayap.”
“Ngomong-ngomong, ini bunga untukmu. Aku harap kamu suka.” Bucket bunga itu diserahkan dengan sepenuh hati oleh Wisnu.
“Aku tidak sedang ulang tahun.” Maureen mengernyitkan dahinya bingung.
“Kenapa harus selalu nunggu ulang tahun untuk memberikan sesuatu yang bermakna?” timpal Wisnu. Kukuh ingin memberikan bunga itu pada Maureen.
“Apa aku juga harus bayar untuk bunga ini?” Maureen penasaran.
“Hahahha… tentu saja tidak. Ini aku memberikannya untukmu. Bukan untuk dibayar. Jadi terimalah.”
“Seseorang tidak akan pernah memberi sesuatu secara cuma-cuma, pasti ada maksudnya. Jadi apa maksudmu?” Maureen tetap tidak mau menerimanya.
“Astaga, apa kamu selalu sewaspada ini? Aku pikir kita cukup saling mengenal, tapi sepertinya kamu tidak mempercayaiku.” Wisnu mulai putus asa.
“Aku yang bertanya lebih dulu. Karena menurutku aneh ketika ada seseorang yang memberikan sesuatu secara cuma-cuma. Pasti akan selalu ada harga yang harus di bayar. Misalnya,”
“Karena aku menyukaimu. Apa itu alasan yang cukup?” Wisnu berujar memotong kalimat Maureen. Ia memutus kalimat Maureen yang sedang berceloteh tentang alasan saling memberi hingga gadis itu mengatupkan mulutnya terpaksa.
“Kalau begitu aku tidak bisa menerimanya.” Sahut Maureen kemudian.
“Hah?” pendengaran Wisnu mendadak tidak jelas. Bukan, lebih tepatnya ia tidak siap untuk sebuah penolakan.
“Kamu tidak menyukaiku?” Wisnu mengulang rasa penasarannya. Ia menatap Maureen dengan tidak habis pikir. Saat berkirim pesan, Maureen selalu membalasnya dengan cepat tapi saat bertemu langsung, ia jadi sadar akan ekspresi Maureen di belakang layar.
“Ya. Tidak akan ada hubungan yang lebih di antara kita selain hubungan penghutang dan pembayar hutang.” Jawaban Maureen begitu tegas.
“Apa? Kamu serius?” Wisnu menatap tidak percaya pada gadis muda di hadapannya.
“Pikirmu, apa maksudku sering bertanya kabarmu satu minggu terakhir ini? Kita saling mengabari, tertawa bersama lewat telepon atau chat dan banyak hal yang kita bicarakan, hal remeh temeh tapi indah. Aku meluangkan waktuku untukmu karena aku memiliki perasaan terhadapmu. Dan sekarang kamu bilang, kita hanya penghutang dan pembayar hutang?”
"Apa kamu selalu menggampangkan sesuatu seperti ini?" ungkap Wisnu tidak mengerti.
“Sudah selesai?” tanya Maureen persis setelah Wisnu mengatupkan mulutnya.
“Ya.” Wisnu ingin mendengar kalimat Maureen berikutnya.
“Okey, biar aku pertegas. Hubungan kita hanya penghutang dan pembayar hutang. Aku meresponmu bukan karena aku menyukaimu. Aku seorang janda, janda Anggoro. Aku tidak mungkin memiliki hubungan dengan laki-laki lain.”
“Jika menurutmu usahamu itu menghabiskan waktumu, maka beritahu aku, berapa yang harus aku bayar untuk menebus waktumu? Aku tidak mau merugikan seseorang atas tindakan yang aku lakukan.” Urai Maureen dengan tegas dan dingin.
“Astaga. Tolong jangan salah paham. Aku tidak memintamu untuk membayar waktuku. Pahami konteks pembicaraan kita. Aku melakukannya karena aku menyukaimu. Aku sangat menyukaimu.” Wisnu berusaha menjelaskan.
“Okey, kamu bilang kamu menyukaiku. Tapi, dari yang kamu katakan tadi, semuanya hanya tentang perasaanmu dan semua usahamu yang menurut kamu sangat membanggakan. Kamu tidak melibatkan perasaanku selama perbincangan kita. Bagaimana bisa aku balas menyukai seseorang yang egois sepertimu?” Maureen membalas tegas kalimat Wisnu hingga laki-laki itu tergagap tidak bisa menimpali.
Benar yang dikatakan Byan, wanita ini sangat suka berdebat dan sulit ditaklukan. Pikirannya rumit tidak seperti yang dijelaskan di blog yang ia baca.
“Kamu tidak bisa menjawabnya.” Maureen tersenyum kecil.
Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas tangannya lalu menaruhnya di hadapan Wisnu.
“Aku sudah bertanya pada bengkel professional tentang biaya perbaikan mobil dan mereka sudah memberitahunya. Aku harap ini bisa membayar lunas atas bantuanmu kemarin dan waktumu yang terbuang sia-sia.” Tegas Maureen yang memberikan cek itu pada Wisnu.
Ia mengangguk sopan dan berlalu pergi setelah meninggalkan cek bernimonal besar di hadapan Wisnu.
Wisnu hanya tercenung, menatap kepergian Maureen dengan tidak habis pikir. Kurang dari sepuluh menit perbincangan itu berlangsung padahal ia sudah menyiapkan konsep pertemuannya dengan Maureen selama berhari-hari.
Ia tidak pernah menyangka kalau Maureen akan menolaknya mentah-mentah. Gadis itu bahkan tidak menerima bunga lili yang sudah disiapkan Wisnu. Sungguh wanita yang terlalu tegas untuk ditaklukan.
Di luar sana, tanpa Wisnu ketahui ada Byan yang mendengar obrolannya dengan Maureen. Ia baru sadar kalau Wisnu sepertinya benar-benar suka pada Maureen bukan hanya karena ingin membantunya menjatuhkan Maureen.
Tapi kemudian ia bisa tersenyum kecil saat mendengar dengan jelas kalau Maureen menolak cintanya.
“Udah gue bilang, dia bukan perempuan sembarangan.” Gumam Byan. Entah mengapa ia tersenyum kecil mendengar penolakan Maureen pada sahabatnya. Ada kelegaan tersendiri yang ia rasakan.
"Nu, lo okey?"
****
__ADS_1