
Mendapat ancaman dari Byan, ternyata membuat Riswan gemetaran. Ia tidak bisa memejamkan matanya padahal malam sudah semakin larut. Ia termenung di tepian tempat tidurnya, memikirkan apa yang seharusnya ia lakukan sekarang.
Apa ia harus membuka tabir yang selama ini ia tutupi? Tidak ada jalan keluar dalam pikirannya, selain harus menghubungi Edwin.
“Riswan, jam berapa ini? Apa kamu gila menghubungiku di jam selarut ini?” protes Edwin yang terpaksa bangun di jam dua dini hari.
“Maafkan saya Tuan, saya terpaksa menghubungi Tuan karena ada yang harus saya beritahukan pada Anda.” Riswan terdengar putus asa.
“Tentang apa? Byan mau turun dari posisinya?” Edwin langsung sigap.
“Bukan Tuan. Tuan muda meminta saya memberikan berkas kejadian sembilan tahun lalu. Saya,”
“APA?!” Edwin langsung berrespon.
“Darimana dia tau kejadian sembilan tahun lalu?” Edwin langsung duduk tegak, ikut tegang seperti halnya Riswan.
“Beliau menduganya Tuan.” Riswan tertunduk lesu.
“Hah, hanya dugaan. Ngapain kamu panik. Kamu bilang aja kalau ini kejadian pertama kali dan gak akan terulang, kita akan memutus kerjasama dengan pihak kontraktor supaya tidak menjadi masalah ke depannya. Bilang gitu aja kamu gak becus!” cerca Edwin yang kesal pada kebodohan Riswan.
“Mohon maaf, Tuan. Tapi, Tuan muda tidak bisa dibohongi seperti itu. Seperti halnya Tuan besar, feeling beliau sangat kuat. Beliau tahu benar kalau ada yang tidak beres. Bagaimana ini Tuan?” Riswan benar-benar putus asa.
“Hah, kamu memang bodoh! Mudah sekali di sudutkan.” Edwin mengacak rambutnya kasar.
“Ya sudah, kamu kasih liat aja berkasnya. Tapi kamu manipulasi sebagian bukti agar tidak ada yang menyangkut kita. Kerjakan dengan rapi dan jangan membuat kesalahan!” titah Edwin yang langsung menutup panggilannya.
“Dasar pria tua bodoh! Tidak bisa di andalkan,” umpatnya.
Edwin membaringkan kembali tubuhnya yang setengah telanjang lalu memeluk seseorang yang ada di sampingnya.
“Cuma kamu yang bisa aku andalkan dan aku nikmati sepuas hati,” bisik Edwin di telinga seorang wanita yang ia peluk dengan erat. Ia juga mengusap bokong wanita itu dengan sensual, mengecupi lehernya yang membuat meremang lantas merem.as gundukan sintal yang masih ranum.
Wanita itu menggeliat geli dan dengan cepat Edwin menghimpitnya dengan kakinya yang masih kokoh. Tangannya menelusur ke bawah perut wanita itu dan membuat wanita itu menahan nafasnya dalam-dalam.
__ADS_1
"Kelak kamu tidak perlu lagi berada di samping Maureen. Akan ada waktunya kamu berada di atas Maureen, menjadi Nyonya Edwin. Bersiaplah untuk itu." Edwin tertawa lebar lantas mengecupi leher wanita itu dengan penuh gairah.
"Aku akan membelikanmu parfum yang sama persis dengan yang dipakai Maureen, kamu harus terlihat lebih baik dari perempuan pembawa sial itu," bisik Edwin sambil terus menggesekkan sesuatu yang menegang di bawah perutnya ke tempat yang seharusnya.
Tanpa Edwin tahu, sejak awal. wanita itu tidak benar-benar tidur. Ia mendengar semua obrolan Edwin dengan Riswan. Entah apa yang akan ia lakukan kemudian, melawan Edwin atau tetap menjadi perempuan yang terintimidasi, tidak hanya saat di tempat kerja melainkan juga saat dipaksa melayani pria ini di atas ranjang.
Ada yang tahu siapa wanita itu?
****
Perasaann Riswan masih gundah. Ia tidak menyangka kalau Edwin bisa berbicara seenteng itu. Laki-laki itu seperti tidak pernah berpikir, resiko apa yang akan mereka hadapi kemudian.
Tenggorokan Riswan terasa kering. Ia perlu minum untuk menenangkan dirinya sendiri. Gelas kosong itu akhirnya di bawa Riswan ke dapur.
Saat memuka pintu, tanpa sengaja Ia bertemu dengan seorang wanita cantik yang baru tiba di kediaman Anggoro.
“Se-selamat malam, Nyonya,” sapa Riswan yang kaget setengah mati melihat kedatangan Maureen.
“Pagi,” timpal Maureen. Wanita itu tidak banyak bicara, ia langsung naik ke lantai dua dan masuk ke kamarnya.
“Anda dari mana, Nona?” Riswan bertanya dalam hatinya. Riswan sangat yakin, kalau tidak hanya dirinya yang gundah melainkan juga Maureen. Ada kekhawatiran yang ia rasakan melihat sosoknya yang berusaha terlihat kuat di balik rasa lelah dan sedihnya.
“Anda harus baik-baik saja nona,” ucap Riswan lirih. Ia berharap Maureen akan selalu baik-baik saja dan tidak melemah oleh luka yang kembali terbuka.
Di dalam kamarnya, Maureen melucuti semua pakaiannya. Ia hanya menyisakan underwearnya karena merasa sangat kegerahan. Agar tidak terlalu terbuka, ia mengenakan outer pijamanya yang tipis dan membentuk lekukan tubuhnya yang ideal.
Setelah merasa lebih nyaman, Maureen mengikat rambutnya tinggi-tinggi lalu masuk ke dalam Walk in closet Anggoro. Ia mengobrak abrik semua baju dan jas milik Anggoro. Satu hal yang sangat ingin ia lakukan saat ini yaitu memastikan apa kancing di tangannya adalah milik Anggoro atau bukan.
Baju Anggoro ia susun berjejer. Ada yang di gantung ada yang diletakkan begitu saja di lantai. Ada juga yang ia tumpuk di sofa.
Satu per satu baju itu di periksa oleh Maureen untuk mencocokan kancingnya. Ada beberapa baju yang kancingnya mirip, ia sisihkan terlebih dahulu. Ada sekitar delapan belas kemeja dan satu jas yang kancingnya mirip.
Baju yang tidak terpilih, ada tumpukkan di salah satu sudut membentuk gunungan baju. Sisanya, ia teliti kembali. Motig kancing, ukurannya, jumlah lubang kancing hingga sisa benang yang masih menempel di kancing itu.
__ADS_1
Dari delapan belas baju dan jas itu, Maureen belum menemukan satupun kancing yang sama persis dengan yang ada di tangannya.
“Akh sial!” Maureen mendengus kesal. Tengkuknya sudah sangat pegal karena terus menunduk untuk memeriksa kecocokan kancing yang ada di tangannya. Tapi ia belum boleh menyerah sekarang.
Ia pergi ke ruang linen, khawatir masih ada baju Anggoro di sana.
“Ada yang bisa saya bantu Nyonya?” tanya pelayan yang kaget melihat Maureen tiba-tiba masuk ke ruangan kerjanya dalam waktu sepagi ini.
“Dimana sisa baju tuan besar?” tanya Maureen cepat-cepat.
“Di sebelah sini, Nyonya.” Pelayan itu menunjuk lemari kecil di salah satu sudut.
“Ini saja?” Maureen menatap tidak percaya. Tidak ada jas ataupun kemeja yang masih tersisa dan belum ia periksa.
“Iya Nyonya, hanya ada baju kaos berkerah saja.”
“Keluarlah!” titah Maureen kemudian.
Pelayan itu mengangguk patuh. Ia membiarkan Maureen sendirian di ruang linen. Membuka satu per satu emari kecil juga keranjang yang masih menyimpan baju Anggoro. Satu per satu ia periksa tapi sayangnya, tetap saja tidak ada kancing yang cocok dengan yang ada di tangannya.
Maureen terduduk lesu. Ia bersandar pada lemari yang tadi ia obrak-abrik isinya. Tubuhya sudah sangat lelah tapi rasa penasarannya masih sangat tinggi.
Hal terakhir yang ia lakukan adalah ia harus kembali ke kamarnya dan mengecek kancing ini melalui internet. Kancing dari sebuah brand fashion terkenal ini sudah pasti penjualannya exclusif dan tidak sembarangan orang bisa memilikinya.
“Tolong bereskan walk in closet Tuan besar. Lakukan setelah kamu selesai membereskan ruangan ini,” ujar Maureen dengan lesu.
“Baik, Nyonya.” Timpal pelayan. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain patuh.
Dari tempatnya ia memandangi Maureen yang berlalu pergi. Langkahnya terlihat gontai menaiki satu per satu anak tangga. Sesekali gadis itu nyaris tersandung tapi tangannya masih berpegangan pada pinggiran tangga. Sepertinya nyonya mudanya tengah putus asa dan kehilangan arah.
“Ada apa dengan anda Nyonya?” batin pelayan yang memandangi Maureen dengan penuh rasa iba.
Walaupun Maureen nyonya muda di rumah ini, gadis itu selalu bersikap baik pada dirinya dan pelayan lainnya. Selalu memberikan perhatian dengan cara yang unik. Maka tidak salah jika kali ini ia balas memberikan perhatian pada nyonya mudanya.
__ADS_1
****