Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Pencarian


__ADS_3

“Tok tok tok!”


Suara ketukan di pintu terdengar begitu nyaring. Ketukan itu dilakukan Maureen pada pintu sebuah rumah sederhana yang kotor dan tidak terawat. Maureen tahu, ada sekitar enam orang yang tinggal di rumah ini, salah satunya adalah Tifani.


Kondisi rumah yang tidak terlalu besar, kotor dan berantakan, memang menjadi alasan bagi Tifani untuk keluar dari rumah milik tantenya.


Tampak seorang wanita bertubuh tambun dengan tahi lalat di bawah mata kirinya, keluar dari rumah itu. Ia yang membukakan pintu untuk Maureen.


“Selamat malam,” sapa Maureen pada wanita berdaster dengan rol rambut di atas kepalanya.


“Malam. Maaf mau ketemu siapa ya?” wanita itu menatap Maureen dari bawah hingga ke atas. Hidungnya juga menguncup, berusaha mengendus wangi parfum Maureen yang segar. Rupanya ia cukup asing dengan sosok Maureen yang terakhir dilihatnya saat Maureen kuliah tingkat satu.


“Saya mau ketemu Tifani. Tifaninya ada tante?” Maureen dengan sikapnya yang ramah.


“Oh, Tifani. Neng dari mana? Kok saya baru liat neng ya?” Wanita setengah baya itu malah terpesona dengan penampilan Maureen yang cantik dan berkelas.


“Saya Maureen, teman kuliah Tifani, tante. Ada perlu sedikit dengan Tifani.” Maureen menjawab dengan sejujurnya.


“Oohh, Tifani udah seminggu ini gak ada pulang. Katanya waktu itu mau ke Bali, tapi sampai sekarang gak ada pulang. Gak tau deh itu anak kemana.” Ucap wanita itu.


“Apa dia pernah menghubungi tante atau semacamnya?”


“Nggak, dia gak pernah hubungin saya. Keluar dari rumah ini aja dia gak bilang. Tau-tau bajunya gak ada semua. Gak tau dibawa kemana.”


Maureen mengangguk paham.


“Kalau Tifani pulang, boleh saya minta tolong tante untuk menghubungi saya?” Maureen menyodorkan kartu namanya pada Wanita tersebut.


“Oh boleh. Nanti saya hubungi.”


“Baik terima kasih. Ini ada sesuatu buat tante dan keluarga. Alakadarnya saja.” Maureen memberikan paperbag pada wanita itu.


“Waahh … padahal gak perlu. Tapi makasih banyak ya.” Senyum Wanita itu langsung terbit.


Maureen hanya tersenyum kecil.


“Kalau begitu, saya permisi. Selamat malam.”

__ADS_1


“Iyaa selamat malam, hati-hati di jalan.” Wanita itu menangguk sopan pada Maureen. Sikapnya berubah ramah setelah mendapatkan bingkisan.


Maureen pun pergi meninggalkan rumah itu. Ia melewati gang yang sempit yang hanya muat untuk ukuran mobilnya saja. Kalau berpapasang dengan kendaraan lain semisal motor, sepertinya ia akan kesulitan untuk lewat. Beruntung tidak ada kendaraan lain yang datang dari arah berlawanan, hingga ia sampai ke jalan utama tanpa kendala berarti.


“Kemana tu anak?” Maureen bergumam sendiri. Setelah stress dengan jalanan sempit itu hilang, ia jadi memikirkan lagi Tifani. Gadis itu membawa kartu debitnya pergi tapi belum sekalipun ada notifikasi penarikan atau penggunaan untuk belanja.


Ia mencoba menebak-nebak kemana perginya Tifani. Apa mungkin ke club?


Sebuah club akhirnya di tuju oleh Maureen. Club tempat ia biasanya bertemu dengan Tifani. Club itu sudah menjadi langganan mereka sejak kuliah. Tempatnya yang asyik dan pemiliknya yang dikenal baik oleh Maureen, membuat wanita itu leluasa untuk datang.


Sejak memarkir kendaraannya di luar club, Maureen sudah mendengar suara musik yang berdentum kencang. Ia melangkahkan kakinya dengan ringan menuju tempat hiburan itu dengan penampilannya yang cantik dan tidak terlalu terbuka.


Banyak pasang mata melirik pada wanita berlipstick merah terang itu. Warna lipstick yang begitu disukai Maureen karena tidak pernah membuatnya terlihat pucat. Warna ini yang menjadi andalan Maureen untuk tampil berani dihadapan siapapun.


Masuk ke area club, Maureen langsung menemui pemilik Club di lantai dua. Seperti biasa, pria itu sedang dikelilingi para wanita malam dengan berbagai pelayanan yang exclusive. Maureen berdiri di depan Luky yang sedang menikmati tarian striptis di lantai dansa.


“Waaahhh, gue belum mabuk tapi udah bisa liat sosok bidadari.” Ucap laki-laki yang setengah teler itu pada Maureen. Ia segera menegakkan tubuhnya, dan mematikan sebatang rokok yang sedang ia hisap.


“Kalian menyingkirlah.” Luky mengusir semua dayang-dayangnya dan menepuk tempat di sampingnya untuk si cantik Maureen.


“Kemarilah Mo,” ucapnya dengan senyum terkembang.


“Waahh, lo makin cakep aja setelah jadi janda.” Goda Luky seraya memiringkan kepalanya dan mengendus wangi tubuh Maureen yang sangat nyaman. Ia juga mengusap rambut Maureen yang sangat halus.


Maureen hanya terdiam, menatap tenang laki-laki itu.


Luky mengangkat satu tangannya, memberi kode pada salah satu dayang untuk mengambilkan segelas minuman.


“Spesial buat lo.” Ucapnya lagi saat menyodorkan segelas minuman untuk Maureen.


Maureen menerimanya dengan senang hati, menggoyang gelas di tangannya lalu mencium bau minuman itu.


“Gue bawa langsung minuman ini dari Brazil. Lo wajib coba.” Luky berbisik lirih di telinga Maureen.


Maureen hanya memainkan minumannya, saat ini ia tidak selera untuk meneguk minuman berwarna merah itu.


“Lo liat Tifani?” ia langsung pada tujuan kedatangannya.

__ADS_1


“Tifani?” Luky tersenyum kecil mendengar pertanyaan Maureen.


“Gue perlu ngomong sama dia tapi dia ngeblokir nomor gue.” Terang Maureen dengan kesal.


“Aahahahaha … berani banget itu bocah ngehindarin lo?” Luky dengan tawanya yang dieja. Ia tahu benar siapa Maureen, tidak pernah ada yang bisa pergi dari cengkraman tangannya.


“Gue lagi gak mau berbasa-basi. Kasih tau gue dimana dia.” Paksa Maureen.


Tapi Luky hanya terkekeh. Ia menjilat bibirnya sendiri yang terasa kering.


Lantas ia mengambil potongan lemon dari atas gelasnya, hendak menyuapkannya pada Maureen.


“Kasih gue lima belas menit buat berkeringat sama lo, sebagai gantinya, gua bakal bawa Tifani kehadapan lo.” Bisik Luky dengan senyum menggoda.


Maureen tidak menimpali, membuat Luky berani mendekatkan wajahnya pada Maureen dan menyasar sepasang bibir tipis berwarna merah itu. Maureen tidak beranjak dari tempatnya, membuat Luky memejamkan matanya saat merasakan hembusan hangat nafas Maureen yang semakin terasa. Gairahnya seolah terpanggil.


Hanya beberapa mili saja sebelum bibir mereka bertemu. Di waktu yang bersamaan, matanya terbuka saat terasa ada air yang membasahi ujung kepala Luky lalu menetes di pelipisnya. Ia juga melihat Maureen yang tersenyum kecil mengejek Luky yang membelalakan matanya.


“Brengsek!” dengus Luky seraya menepis tangan Maureen dari atas kepalanya.


Kerasnya tepisan tangan Luky membuat gelas itu terlempar.


“Prang!”


“AAAWWW!!” beberapa dayang Luky sontak menjerit kaget.


Tapi Maureen tidak memiliki rasa takut sedikitpun. Dengan kukunya yang tajam ia mencengkram paha Luky dengan kuat sampai Luky meringis.


Ia balas mendekatkan wajahnya pada Luky, lantas berbisik, “Lo harus tau batasan lo. Gue datang, bukan buat lo.” Bisik Maureen dengan pelan namun penuh penekanan.


Luky bahkan bisa mencium wangi segar dari mulut Maureen yang nyaris dilumatnya.


“Akh!” Luky melenguh kesakitan saat ternyata Maureen semakin mengeratkan cengkramannya dan lalu melepaskannya.


Wanita itu beranjak lalu tersenyum kecil. “Kabarin gue kalau lo dapat kabar soal Tifani.” Ucapnya, menatap Luky yang menatap nanar wajah Maureen di bawah cahaya lampu disko.


Luky tidak mengiyakan, ia hanya memalingkan wajahnya dari Maureen. Wanita ini selalu tahu cara untuk merendahkannya.

__ADS_1


Maureen pun melenggang pergi begitu saja. Ia masih harus mencari tahu keberadaan Tifani. Karena, wanita itu tidak hanya menyimpan satu rahasia Maureen, melainkan beberapa hal yang tidak boleh di ketahui orang lain.


****


__ADS_2