
Seminggu sudah Maureen tinggal di rumah yang menjadi saksi ia tubuh sebagai seorang anak yatim piatu yang kuat dan tegar. Setelah menyelesaikan masalahnya dengan orang-orang yang harus ia hadapi sebelumnya, Maureen memang memutuskan menepi sejenak, menikmati hidupnya dengan damai dan penuh ketenangan.
Setiap harinya, ada saja yang Maureen lakukan di rumah ini. Seperti saat ini, setelah mendapat kabar dari Riswan kalau polisi sudah memutuskan Edwin bersalah, Maureen melanjutkan pekerjaannya. Ia menyulam benang wool yang diajarkan Renita dulu. Sesekali ia tersenyum, walau air mata tetap saja menetes dari sudut matanya. Air mata penuh haru dan kebahagiaan yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
“Kak Momo… Udah selesai belum Kak?” panggil seorang anak di luar pintu kamarnya. Suara anak itu begitu nyaring terdengar di telinga Maureen dan membuat hatinya merasa hangat. Maureen memang menjanjikan sebuah sweater rajut untuk anak bernama Nina itu.
“Sssttt, jangan berisik. Kak Maureen masih ada urusan, kalian main dulu aja sana.” Suara ibu Wodya terdengar menenangkan anak-anak.
“Iya, Bu….” Walau terlihat sedih, tetapi tetap saja mereka menuruti perintah Widya, bermain di luar.
Maureen sangat senang karena Widya selalu tahu kapan Maureen membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri dan kapan bisa menghadapi orang lain. Sulaman yang baru selesai sekitar sembilan puluh persen itu, Maureen taruh di atas meja. Ia beralih mengambil sesuatu di laci mejanya yang tak lain adalah sebuah foto. Foto Maureen kecil dengan kedua orang tuanya.
“Mah, Pah, apa kabar?” dengan penuh perasaan, Maureen memandangi dua wajah yang sangat ia rindukan. Ia mengusap pelan wajah itu beberapa saat sambil membayangkan gelak tawa keduanya yang selalu renyah.
“Mah, Pah, hari ini pembunuh papah sudah dinyatakan bersalah dan akan menjalani proses hukum lebih lanjut. Aku harap, mulai sekarang papah bisa tenang. Dan mah, mamah harus tau kalau apa yang sudah mama lakukan benar-benar membuahkan hasil. Usaha mamah tidak sia-sia untuk membuktikan semuanya. Aku sendiri yang menggunakan semua bukti itu untuk menyeret manusia tidak berperasaan itu agar mempertanggung jawabkan perbuatannya.”
“Jadi, tenang dan bahagia lah di sana. Aku juga mulai belajar menata hidup dengan lebih baik. Aku akan selalu mengingat nasihat mamah dan papah kalau menjadi orang baik itu tidak pernah rugi. Sekalipun seseorang tidak bersikap baik pada kita, tapi paling tidak, perasaan kita bisa tenang karena tidak menyakiti orang lain.”
“Terima kasih untuk semua nasihat dan kasih sayang yang mamah dan papah kasih buat aku. Kasih sayang yang menjadikanku wanita yang kuat dan tidak mudah menyerah. Mulai saat ini, aku akan fokus membahagiakan diri sendiri dan orang-orang yang aku sayang. Jadi aku harap, papah dan mamah bisa beristirahat dengan tenang. Momo sayang kalian berdua.”
Dikecupnya foto itu dengan penuh perasaan. Baru kali ini tidak ada air mata yang menetes di atas permukaan foto usang itu. Hanya ada senyuman manis yang Maureen tunjukkan pada kedua orang tuanya. Setelah puas memandangi wajah yang ia rindukan, Maureen menaruh kembali fotonya di dalam laci. Suara tangisan seorang anak kecil membuat naluri bangkit untuk memeriksa anak tersebut.
“Bukan sama aku Bu, dia jatuh sendiri,” ujar seorang anak gadis yang sedang memberikan penjelasan saat Widya menghampirinya.
“Kenapa adiknya gak di jaga, dia kan masih kecil. Jalannya aja belum lancar. Harusnya, dipegangin kalau dia mau jalan.” Widya bersuara sedikit tegas pada anak kecil yang saat ini mengkerut sedih karena merasa disalahkan. Digendongnya anak balita yang berusia satu setengah tahun itu, untuk menenangkannya dan memeriksa kondisi tubuhnya setelah jatuh.
Maureen tersenyum kecil melihat interaksi menarik itu. Kondisi yang sering terjadi di rumah dengan banyak anak yang menjadi penghuninya. Masalah anak menangis atau bertengkar itu masalah klise yang membuat panti ini tidak terasa sepi, Maureen suka dengan kehangatan ini.
__ADS_1
Untuk menghibur Nina, Maureen mengambil beberapa jenis makanan dari atas mejanya. Makanan yang selalu ia sediakan untuk adik-adiknya. Lantas ia menghampiri anak kecil berwajah sedih itu.
“Hey,” sapa Maureen seraya bertekuk lutut dihadapan anak kecil berambut keriting itu. Terlihat sekali kalau anak itu sedang berusaha menahan tangis. Matanya sudah merah dan berkaca-kaca.
Dipeluknya anak berusia sekitar enam tahunan itu dengan erat oleh Maureen, lalu diusap punggungnya dengan penuh kasih.
“Makasih yaa, kamu udah bantuin ibu dan kakak jagain adik-adik. Tapi, lain kali adik-adiknya jangan ditinggal sendiri. Mereka kan masih butuh bantuan Nina. Ya?” ucap Maureen dengan suaranya yang lembut. Saat bersama anak-anak itu, sisi keibuan Maureen memang selalu terlihat jelas.
Anak kecil itu mengangguk pelan. “Maafin aku kak Momo,” suaranya terdengar pelan dan bergetar. Tangan mungilnya mengusap air mata dengan kasar.
Maureen melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah gadis manis yang ada dihadapannya.
“Minta maaflah sama adik kecil dan ibu,” ujar Maureen.
“Iya,” takut-takut anak kecil itu menatap Widya.
“Pinter. Sekarang minta maaf sama Ibu,”
“Ibu, maaf ya ibu….” Bibirnya malah bergetar menahan tangis.
“Iyaa, lain kali, jaga adiknya baik-baik yaa. Di perhatiin, di sayang-sayang… Nina sayang kan sama adik-adik?” Anak kecil itu mengangguk pelan. “Bagus. Anak ibu memang pinter.” Widya mengusap kepala Nina dengan sayang.
Maureen ikut terharu dengan apa yang dilihatnya. “Karena Nina udah jadi anak yang pinter, Kak Momo punya hadiah buat Nina.” Maureen mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya.
“Taraaaa….” Cicit Maureen sambil menunjukkan coklat untuk Nina.
“Waaah, coklat. Makasih kak Momo.” Mata Nina membulat sempurna saking senangnya.
__ADS_1
“Sama-sama. Makan bareng temen-temen yaaa, terus habis makan coklat, nanti kalian gosok gigi supaya giginya gak-?”
“Ompong!” Nina menyahuti.
“Pinter. Sekarang, main lagi yaa… jangan berantem, okey?”
“Iya kak Momo….” Nina menyahuti dengan semangat. Anak kecil itu bermain kembali bersama saudara-saudaraya. Termasuk mengambil alih balita yang ada di gendongan Widya.
“Ada kamu, anak-anak keliatan lebih bahagia Mo,” ujar Widya seraya memandangi wajah Maureen yang masih tersenyum melihat interaksi adik-adiknya.
“Aku juga bahagia liat mereka, Bu,” timpal Maureen seraya beranjak, berdiri.
“Syukurlah, ibu seneng dengernya. Kamu memang harus berbahagia, karena kamu berhak untuk itu.” Widya mengusap punggung Maureen dengan lembut.
“Pasti. Bahagia adalah pilihanku, gak ada alasan buat aku gak bahagia.” Maureen berujar dengan tegas seraya tersenyum kecil pada wanita yang selama kurang lebih tujuh tahun membesarkannya di panti ini.
“Teruslah seperti itu, Mo. Ibu ikut bahagia.” Keduanya saling terangguk mengiyakan.
“Ngomong-ngomong, ibu lupa mau bilang. Nanti malem, ibu ada undangan menghadiri acara pertunangan anak Bu Lastri. Kamu bisa ikut?” Widya baru teringat akan hal itu.
“Bisa aja Bu. Tapi anak-anak gimana?”
“Ada Bu Elis yang nanti nemenin mereka. Lagi pula, acaranya jam tujuhan, kemungkinan anak-anak sudah tidur. Kamu dandan yang cantik ya, ibu mau kenalin kamu sama keluarga Bu Lastri. Beliau salah satu donatur di panti ini.”
“Iya, Bu.” Maureen menyanggupinya.
*****
__ADS_1