
Teriknya matahari, seperti tepat berada di atas ubun-ubun. Wajah Maureen sudah memerah seperti kepiting rebus karena terkena cahaya matahari langsung. Tapi gadis ini masih tetap melanjutkan pekerjaannya bersama Dita.
Hari kedua kunjungan kerja, Maureen dan dita kembali ke lokasi pembangunan resort. Proses pembangunan yang baru sekitar tiga puluh persen ini tampak berantakan dan belum terarah. Ada hamparan lahan yang luas, tempat ini yang direncanakan akan dibangun untuk rumah-rumah minimalis dengan model-model yang berbeda.
Rumah itu akan menjadi bagian resort yang disewakan pada pengunjung. Sementara di bagian atas adalah kawasan perumahan yang bisa diperjualbelikan. Peruntukannya adalah untuk rumah singgah atau vila.
Maureen dengan kepiawaiannya, mencoba melihat satu per satu bangunan yang sudah berdiri. Ia tampak serius, mendalami karakternya sebagai surveyor dengan topi proyek berwarna kuning.
“Kami akan memulai area ini di minggu pertama bulan depan. POA kami untuk pembangunan area ini sampai dengan finishing adalah sekitar enam bulan.” Kepala project memberi penjelasan. Ia juga menunjukkan beberapa gulungan kertas yang berisi gambar rancang bangun dari tiap rumah yang akan dibuat dan area pembangunan.
“Ada berapa unit rumah dengan tipe 21?” tanya Maureen.
“Dua puluh enam nona. Ini unit yang paling banyak dan kami taruh di bagian tengah area pembangunan. Sementara tipe 24 ada sekitar delapan unit. Mereka akan kami tempatkan sesuai site plan yang disetujui tuan Anggoro sebelumnya yaitu di dekat tepi pantai.”
__ADS_1
Maureen mengangguk paham.
“Lalu bagaimana dengan area konservasi?”
“Area konservasi sudah kami benahi lebih dulu. Karena ada beberapa satwa yang terancam kepunahannya kalau tidak kami tempatkan secara terlokalisir.”
“Aku ingin melihatnya,” pinta Maureen.
“Tentu, silakan sebelah sini.”
“Jam empat sore tempat ini sudah gelap nona, jadi kita tidak bisa berlama-lama di kawasan konservasi karena khawatir ada binatang buas dan melata yang aktif saat cahaya matahari mulai redup.”
“Ya, aku paham.” Maureen memperhatikan lingkungan sekitarnya yang lebat dengan hutan yang belum sepenuhnya terjamah. Keberaniannya memang sangat tinggi, berbeda dengan Dita yang sering kali melihat ke berbagai arah dengan waspada karena ketakutan.
__ADS_1
“Kak, aku kok berasa ngedenger suara ular mendesis yaa?” Dita merapatkan tubuhnya ke jok depan, tempat Maureen duduk. Nafasnya terdengar bergemuruh tidak tenang.
“Tenanglah, kita akan baik-baik saja. Kamu alihkan perhatian kamu dengan membuat video seperti yang kamu rencanakan.” Cara maureen menenangkan Dita memang tidaklah manis tapi cukup membuat gadis itu berpikir logis.
“Iya kak.” Dengan tangan gemetar Dita merekam sepanjang perjalanan. Kondisi perjalanan yang tidak rata membuat tubuh penumpang di mobil itu sering kali terguncang. Maureen berpegangan erat pada handle grip untuk menyeimbangkan tubuhnya. Ia tetap tenang menikmati perjalanannya.
Hanya sekitar setengah jam Maureen dan Dita berkeliling di kawasan konservasi. Benar yang dikatakan kepala proyek kalau di sini banyak satwa domestik yang masih harus dilindungi. Penempatannya yang baik dengan dilengkapi tempat penangkaran, membuat Maureen cukup kagum dengan pekerjaan kontraktornya.
Pohon bakau di tata sebagai area pertahanan saat air laut pasang. Banyak binatang laut yang memiliki tempat tinggal yang aman untuk mereka.
Beberapa foto dan video di ambil oleh Maureen untuk mengabadikan kondisi di area konservasi. Ia juga mempotret beberapa satwa domestik yang jarang Maureen temui. Ada beberapa ekor komodo yang menarik perhatiannya dan ia potret beberapa.
Sungguh alam ini menyediakan isinya yang beranek ragam dan indah.
__ADS_1
*****