Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Sakit yang berulang


__ADS_3

Sepulang dari rumah korban, Maureen memilih berdiam diri di taman belakang, sambil memandangi riak air kolam yang tadi ia gunakan untuk berenang. Di tangannya, masih ada sebatang rokok yang sudah beberapa kali ia hisap untuk mengilangkan kegundahannya.


Mengingat duka wanita bernama Nani, membuat Maureen harus merasakan kembali luka lama dan kesesakan yang begitu sulit untuk sembuh. Tidak peduli berapa lama waktu yang ia gunakan untuk melupakan kejadian itu, selama hatinya belum bisa menerima, maka rasa sakit itu akan selalu ada.


Tatapan mata Nani yang kosong dan sendu, seolah mengingatkan Maureen pada tatapan terakhir yang ia lihat dari mendiang ibunya, Renita.


“Mah, ini kita mau nengok siapa? Kok datang ke rumah sakit segala?” tanya Maureen kecil yang di tarik paksa oleh ibunya yang berjalan cepat di lorong rumah sakit. Tidak biasanya Renita yang lembut bersikap kasar pada putrinya. Tapi kali ini ia bersikap seolah ada yang lebih penting di banding rengekan Maureen.


Berakalipun Maureen bertanya, Renita memilih untuk tidak menjawab. Ia hanya mengusap air matanya yang menetes terus menerus tanpa bisa dihentikan.


“Mah, aku takut ke rumah sakit. Kita pulang aja ya,” rengek Maureen sambil menghentikan langkahnya dan berpegangan pada tiang bangunan.


“Ikut mamah Maureen! Kamu harus melihat papah kamu! Dia sendirian!” seru wanita itu sambil menarik paksa tangan Maureen. Emosinya mulai tidak terkendali.


"Emang papah dimana Mah? Kenapa gak papah aja yang nyamperin kita? Kan Papah tau kalau aku takut rumah sakit." Maureen terus berbicara, meskipun demikian ia kembali mengikuti langkah Renita.


"Mah, Papah dimana? Ini kenapa ruangannya gelap?" Maureen semakin ketakutan saat Renita membawanya ke satu lorong yang gelap, tidak ada jendela sama sekali dan hanya ada satu lampu menyala di ujung sana. Maureen menutup matanya, bersembunyi di belakang punggung Renita.


Langkahnya baru terhenti saat mereka sudah ada di depan sebuah ruangan. Udara dingin langusung terasa saat puntu ruangan terbuka perlahan.


"Papahmu, di dalam." Suara Renita terdengar terbata-bata. Nyaris tidak terdengar oleh Maureen.

__ADS_1


Maureen membuka matanya perlahan dan samar-sama terlihat nama ruangan yang ada di depan mereka. Beberapa helai rambut Renita menghalangi pandangannya, namun nama Ruangan itu tetap dapat terbaca oleh Maureen.


"Ruang Mayat." begitu tulisan yang tertera di pintu ruangan tersebut. Maureen baca berulang kalipun tulisannya tetap sama.


"Mamah jangan becanda, ini gak lucu Mah." Maureen bersuara lirih, nalarnya masih belum bisa menerima.


Ia memilih melepaskan ganggamannya dari lengan Renita, lalu memilih pergi dengan langkah tertatih-tatih.


"Ruang mayat, Papah gak mungkin ada disana." Suara Maureen begitu lemah dengan tubuh yang gemetar.


"Maureen! Mamah gak berbohong. Papah ada di dalam." Renita mengulang kalimatnya dengan tangis yang pecah.


"MAUREENN!! PAPAH KAMU SUDAH MENINGGAL!!" teriak Renita yang kemudian menangis sejadinya.


 Langkah Maureen pun terhenti, detik itu juga hatinya hancur dan langit seperti runtuh menimpanya. Ia berharap ia salah mendengar. Ia berharap Renita berbohong.


Tapi melihat Renita yang menangis sejadinya di depan ruang mayat, sepertinya wanita itu mengatakan yang sebenarnya.


Renita menghampiri Maureen, meraih tangannya yang sedari tadi menutupi telinganya. Air matanya berurai dan bibirnya yang gemetar berkata,


"Mamah gak bohong nak, papah udah gak ada."

__ADS_1


Suara Renita terputus. Seperti harapannya bahwa ini hanya candaan. Sakit sekali saat patahan hatinya seolah mengoyak jantungnya.  Renita jatuh terduduk dihadapan Maureen. Kedua tangannya yang gemetar menutup wajahnya yang sedari tadi sudah basah dengan air mata.


Kaki Maureen ikut melemah. Ia berjongkok dihadapan Renita lalu meraih tangan sang ibu yang menutupi wajahnya sendiri.


“Mah, mamah bohong kan?” Lagi Maureen bertanya dengan suara bergetar. Ia masih belum bisa percaya. Nafasnya nyaris tercekat menahan sesak didadanya.


Sayangnya, bukan jawaban yang diterima Maureen, melainkan sebuah tarikan tangan kasar dari ibunya yang membawa Maureen ke dalam pelukannya.


“Mereka membunuh papahmu Nak dan mereka tidak mau bertanggung jawab!! Papahmu udah gak ada Maureen, papahmu udah pergi untuk selamanya.” Suara Renita terbata-bata bercampur tangisnya yang tidak bisa ia tahan.


Maureen kecil tidak bisa mengatakan apapun. Seluruh sendi di tubuhnya seperti lunak tanpa ada sokongan Ia jatuh ambruk di pelukan Renita. Ia memeluk Renita dengan erat air matanya ikut menetes tanpa bisa ia tahan.


Benarkah Malik pergi untuk selamanya? Bukankah baru semalam ayah kesayangannya melakukan panggilan dan mengabari kalau hari ini ia akan pulang? Pulang seperti apa yang ia maksud? Pulang tanpa nyawa kah?


“Papah,….” Lenguhan kecil penuh kesedihan itu yang kemudian terdengar dari mulut kecil Maureen.


Ia menangis berangkulan dengan sang ibu yang meraung-raung memanggil nama suaminya. Sesekali Renita berteriak histeris, memanggil nama Malik dan mengingkari kepergian suaminya. Ia juga mengumpati orang-orang yang ia anggap tidak bertanggung jawab dan tidak berani menemuinya untuk memberikan penjelasan apapun.


Mereka tidak peduli jika saat ini mereka menjadi tontonan beberapa orang di rumah sakit tersebut, sungguh mereka tidak pedui.


****

__ADS_1


__ADS_2