
Suasana di kediaman Ruwina sedikit berbeda. Wanita lanjut usia itu menyuruh semua pelayan agar menyiapkan makanan yang enak untuk makan malam juga menata rumah dengan rapi dan bersih. Walau usianya sudah tidak muda lagi dan kemampuan fisiknya sudah menurun, namun wanita itu masih bisa memberikan perintah dengan jelas.
Perintah jelas dan tegas itu juga ia berikan pada Edwin. Setelah mendengar kalau putra bungsu dan sang cucu berdebat di kantor, Ruwina merasa kalau ia harus membereskan semuanya. Ia tidak bisa membiarkan Byan semakin jauh dari genggamannya. Karena itu, ia menyuruh Edwin untuk mengundang cucunya itu agar makan malam bersama sebagai sebuah keluarga yang hangat.
“Harusnya kamu lebih bisa membaca situasi dan mengendalikan emosi. Bagaimanapun Byan adalah anak Anggoro, darahnya mengalir deras di tubuh anak itu. Semua sikap dan cara berpikirnya tidak akan jauh berbeda dari Anggoro.”
“Kamu seperti tidak mengenal kakakmu saja. Dia itu tidak bisa di debat apalagi dihadapan banyak orang. Tidak aneh kalau Byan sampai murka.” Ruwina mengomeli sang putra yang tidak pernah bisa mengambil hati Byan.
“Pura-pura saja kamu berada di pihak dia, nanti juga kalau dia lengah, kamu bisa memanfaatkan keadaan dan membuat semuanya berbalik. Jangan bertindak sembarangan seperti sekarang. Masa mamah sampai harus turun tangan demi membujuk Byan supaya gak murka sama kamu.”
“Apa coba untungnya kamu mendebat dia di depan orang banyak? Bagimanapun dia direktur utama. Walaupun baru menjabat, dia bisa menunjukkan kalau pekerjaannya bagus. Tentu akan banyak orang yang cari aman dan mendukungnya. Kamu cari mati kalau sampai melawan dia dengan frontal seperti itu.”
“Iyaaa, iyaa, iyaaa!!! Aku paham Mah! Mau sampai kapan mamah terus mengomeliku seperti anak kecil begini?!” Edwin mulai tidak terima dengan perlakuan ibunya.
“Sampai kamu paham!"
"Rambut kamu sudah mulai memutih tapi otak kamu tidak lebih cemerlang dari anak kemarin sore. Jangan sampai semua sikap sembarangan kamu malah membuat kamu tidak mendapatkan apa-apa dari kakak tirimu!” mata Ruwina sampai melotot karena marah dengan kelakuan putranya. Ia mendelik kesal pada tingkah Edwin yang tidak pernah bisa menjaga sikap dan pemikirannya.
“Ya udah! Aku sudah paham. Aku juga sudah menuruti mamah untuk mengundang keponakanku makan malam. Apa lagi yang kurang?” Suara Edwin kembali meninggi.
“Jaga sikapmu dengan benar. Dekati Byan, pengaruhi dia. Jangan sampai kamu kalah sama janda Anggoro.”
“Mamah dengar, Byan malah semakin dekat dengan ibu tirinya. Kamu selidiki itu. Seberapa dekat hubungan Byan dengan si Maureen itu. Mungkin saja kamu bisa dapat peluang dengan memata-matai hubungan mereka.”
“Kalau mengarah ke hubungan yang lebih dari sekedar ibu dan anak tiri, kamu bisa menang banyak. Paling tidak kamu bisa menggungat itu karena Maureen memiliki hubungan dengan pria lain sebelum tiga bulan kematian Anggoro.” Ruwina dengan banyak siasat di kepalanya.
“Darimana mamah tau kalau hubungan mereka lebih dari sekedar anak dan ibu tiri?” Edwin balik bertanya, ia menatap Ruwina dengan penasaran.
“Mata dan telinga mamah itu banyak. Orang buta saja bisa melihatnya. Matamu separah apa sampai tidak bisa melihat hal seperti itu? Makanya kamu nikah, biar tau bagaimana bentuk hubungan laki-laki dan perempuan.” Ceramah Ruwina berlanjut pada sindirannya tentang status lajang Edwin.
“Hah, untuk apa aku menikah kalau aku lebih menikmati hidupku yang bebas ini? Aku juga bisa memenuhi kebutuhanku dengan cara yang lain. Untuk apa repot-repot terikat dengan perempuan?” Edwin tetap dengan pemikirannya yang sulit untuk di ubah. Ia meneguk kembali minuman beralkohol yang ada di gelasnya.
“Pikiran yang bodoh! Bagaimana caranya kamu bisa mempertahankan statusmu menjadi penerus perusahaan Anggoro kelak, kalau kamu sendiri tidak memiliki keturunan?” Ruwina berdecik sebal.
“Pernah gak kamu berpikir ke arah sana?” pertanyaan Ruwina membuat Edwin tercenung. Putra yang berusia sepuluh tahun lebih tua dari Byan ini memang sangat sulit diandalkan.
“Mamah tidak perlu repot berpikir sampai ke sana. Lagi pula, belum ada wanita yang layak menjadi ratuku. Kecuali dia,”
__ADS_1
Edwin tersenyum kecil mengingat sesosok wajah cantik yang kerap membuatnya rindu dan emosi di waktu yang bersamaan. Sosoknya sering membuat ia terpukau, tapi semakin ia terpukau, ia semakin sering berkata dan bersikap kasar terhadap wanita itu.
“Maksud kamu siapa?” Ruwina bertanya dengan penasaran.
“Mamah tunggu saja. Aku hanya berpesan, mulai sekarang, jangan terlalu membencinya. Karena bisa jadi wanita itu akan menjadi menantu mamah.” Edwin tersenyum dengan misterius membuat Ruwina waspada dengan ucapan putranya.
“Melda! Mana perempuan itu?” Ruwina langsung teringat pada PA putranya.
“Kenapa mamah nyari dia?” Edwin ikut penasaran. Tapi tidak terhenyak sedikitpun. Air mukanyapun tidak berubah.
“Apa dia lupa untuk membawa cake yang mamah minta? Kenapa jam segini belum datang juga?” Ruwina melihat jam di dinding, sudah hampir jam tujuh malam.
Edwin tidak menjawab. Ia mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi PA nya itu.
“Dimana kamu?” pertanyaan itu yang kemudian ia lontarkan.
“Saya di depan Tuan, baru tiba.” Suara Melda terdengar jelas.
Edwin menutup teleponnya dan tidak lama seorang wanita muncul di depan pintu dengan langkah yang tergesa-gesa masuk ke dalam rumah.
“Malam. Lelet sekali kamu Melda, jam segini baru datang,” protes Ruwina.
“Mohon maaf nyonya, tadi pemilk toko cake nya sedang ada urusan sehingga tokonya tutup lebih awal. Jadi saya menunggu dulu pemiliknya kembali.” Melda beralasan.
“Hah, banyak alasan kamu. Siap kan cake nya. Pastikan terlihat menarik, karena itu cake kesukaan Byan.” Ruwina kembali memberi perintah.
Ia juga sempat melirik Edwin, ia ingin tahu apa wanita yang Edwin maksud adalah gadis itu? Tapi Edwin tidak berekspresi sedikitpun, ia tetap dengan minumannya.
*****
Setengah jam kemudian, Byan baru datang. Ia datang seorang diri tanpa pengawalan Riswan.
“Selamat datang cucu Oma,” sambut Ruwina sambil merentangkan tangannya. Ia tersenyuum sumeringah karena Byan mau memenuhi undangannya.
“Malam Oma,” Byan balas memeluk neneknya.
Sementara Edwin diacuhkan begitu saja.
__ADS_1
“Kenapa, kalian bertengkar?” Ruwina pura-pura tidak tahu. Ia ingin menjadi pihak yang netral.
“Bukannya Oma mengundangku untuk menyelesaikan masalah perselisihanku dengan Om Edwin?” kalimat Byan terdengar sinis.
“Loh, ya bukan. Oma ngundang kamu karena Oma kangen makan malam sama kamu. Mana Oma tau kalau kalian bertengkar.” Ruwina tetap dengan pilihannya untuk berpura-pura.
“Om sama keponakan beda pendapat itu wajar Mah, ayah sama anak aja bisa beda pendapat.” Edwin menimpali dengan santai sambil mengangkat gelasnya pada Byan.
“Kalian ini, Om sama ponakan harusnya akur. Mau sama siapa kalian saling bantu kalau bukan sama saudara?” Ruwina tetap berusaha terlihat netral.
Byan hanya tersenyum sinis melihat wajah Edwin yang tengil dan berusaha menyindirnya.
“Udahlah, dari pada kalian saling tatap sinis begini, mending kita makan. Oma udah masak makanan kesukaan kalian. Ayo!” ajak Ruwina.
Byan hanya bisa menurut, pun Edwin. Ia mendorong kursi roda Ruwina menuju meja makan yang sudah menyajikan berbagai makanan lezat nan mewah.
“Liat Byan, Oma bikinin kamu cake kesukaan kamu. Red velvet. Cobalah.” Ruwina mengambilkan potongan kue yang sudah disiapkan oleh Melda.
“Terima kasih Oma.” Byan memandangi kue itu dengan sendu. Kue manis yang biasa dibuat oleh Andini bertahun-tahun lalu. Ruwina memang pandai menyentuh hati cucunya hingga membuat mata Byan berkaca-kaca.
Byan mengambil kue itu, menyendoknya sedikit. Walau rasanya tidak sama persis dengan buatan Andini, tapi ada kenangan yang ikut hinggap di hatinya.
“Buat Oma, Andini adalah menantu Oma yang paling Oma sayang. Oma juga ikut sedih karena dia pergi begitu cepat. Tidak sempat melihat putranya menjadi penerus Anggoro.” Ruwina mengusap kepala Byan dengan sayang.
Byan hanya tersenyum ketir dan menghentikan suapannya beberapa saat.
“Terima kasih Oma,” ucap Byan dengan tulus. Satu sendokan kecil kue ini sudah cukup membangkitkan kenangan manisnya bersama sang ibu. Ya, saat ini mengenangnya saja sudah cukup karena Andini sudah tenang di alam keabadian.
“Sama-sama. Ayo kita makan dulu, nanti kita makan lagi kuenya,” Ruwina benar-benar bersikap manis karena ia ingin merayu Byan lagi agar mempercayainya dan Edwin.
Mereka mulai menikmati makan malam mereka, sementara Melda bergegas pergi ke kamar Edwin. Ada tugas penting yang harus dilakukannya.
Ia masih mendengar sedikit penggalan kalimat Ruwina,
“Kamu jangan terlalu lelah dan mengerjakan semua pekerjaan seorang diri. Perhatikan kesehatanmu. Oma sudah pernah kehilangan papahmu, Oma tidak mau kehilangan siapapun lagi. Hem?” kalimat itu yang terakhir kali di dengar Melda sebelum mengunci dirinya sendiri di dalam walk in closet Edwin untuk mencari sebuah kancing. Berdo’a saja semoga ia bisa selesai sebelum Edwin kembali.
****
__ADS_1