
Perjalanan menuju bandara menjadi kebersamaan terakhir sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Mereka tidak banyak bicara hanya berusaha menenangkan pikiran masing-masing. Maureen menyandarkan kepalanya di dada bidang lelakinya yang menatap jauh ke depan sana. Mungkin ini kali terakhir Maureen merasakan nyamannya bersandar di dada Byan dan baru bisa ia lakukan lagi di delapan bulan kemudian.
Riswan membawa mobil itu berbelok ke area lobby Bandara, tempat menurunkan penumpang. Byan dan Maureen turun lebih dulu, sementara Riswan pergi untuk memarkirkan mobilnya.
Seperti biasa, mereka masuk ke Bandara dan menunggu pengecekan barang bawaan Maureen. Semua aman dan Maureen bisa masuk. Di antara kehingaran di Bandara itu kemudian mereka terdiam. Aura perpisahan semakin terasa walau masih ada sisa waktu sekitar setengah jam lagi sebelum Maureen check in.
“Mau sarapan dulu?” tawar Maureen. Sedari tadi Byan tidak mau diajak sarapan karena katanya tidak selera. Akan tetapi Maureen khawatir kekasihnya ini sakit, jadi ia menawarkan untuk kesekian kalinya.
“Aku males makan. Belum laper.” Jawabannya masih sama.
“Aku suapin. Ayo!” setengah memaksa, Maureen menarik Byan ke salah satu resto yang sudah buka.
Tidak bisa menolak dan Byan hanya bisa mengikuti Maureen. Maureen duduk di salah satu sudut sementara Byan pergi untuk memesan menu sesuai permintaan Maureen. Sup, menu yang dipesan Maureen. Saat sampai dimejanya, makanan berkuah itu masih mengepulkan asapnya.
“Heemm, wanginya enak.” Maureen berseru girang, matanya terpejam sambil menikmati menghirup wangi makanan itu. Ia mengambil sendok dan menyendokkan nasi dan kuah sup untuk Byan.
“Aaa….” Tingkah wanita cantik itu layaknya seorang ibu yang sedang menyuapi anaknya.
Byan pasrah membuka mulutnya. Menurutnya ini kejadian langka yang entah kapan lagi Maureen akan memberikan perhatian semanis ini. Satu menu itu dihabiskan berdua. Sekali suapan untuk Maureen dan sekali suapan untuk Byan. Mereka saling melempar senyum. Byan mengusap halus sudut bibir Maureen saat ada butiran nasi yang tertinggal.
“Kenapa di ambil? Itu bekel aku buat di jalan, hahahaha….” Celoteh Maureen.
Byan ikut tertawa kecil, ada saja pikiran Maureen. Tanpa mereka tahu, Riswan sedang mengabadikan moment itu dengan kamera ponselnya. Menangkap setiap interaksi dan tatapan sepasang kekasih itu. Diakui atau tidak oleh Byan dan Maureen, Riswan sudah melihat dengan jelas kalau dua orang ini saling mencintai.
__ADS_1
“Lihat tuan, mereka terlihat begitu indah saat sedang berdua seperti ini. Pilihan Anda memang tepat.” Riswan berbicara sendiri, seolah tengah menyampaikan kalimat itu pada tuan besarnya. Ia masih sangat bersyukur karena ia masih bisa melihat senyum dan tawa di wajah Byan dan Maureen. Ia berjanji kalau ia akan semakin baik menjaga dua anak adam itu.
****
Sudah waktunya check ini dan sepasang kekasih itu dengan berat hati harus berpisah.
“Aku masuk dulu ya. Nanti aku kabari kalau aku udah mau flight.” Kalimat itu diucapkan Maureen pada kekasihnya.
“Hem, aku akan menunggu kabarmu.”
“Okey, jaga diri baik-baik. Aku akan snagat merindukanmu.” Maureen memberikan pelukannya untuk lelaki kesayangannya.
“Iyaa, kamu juga, jaga diri baik-baik. Jangan sampai sakit karena aku tidak segan untuk melanggar janjiku dan menyusul kamu ke sana.” Pelukan itu semakin erat diberikan Byan.
Walau ia pernah sangat marah pada Riswan tapi Riswan sudah memenuhi janjinya untuk memperbaiki semuanya. Hal itu memang tidak bisa mengambalikan kedua orang tuanya, tapi Riswan memberikan Maureen jalan untuk mewujudkan sebuah keadilan bagi kedua orang tuanya. Maureen sungguh berterima kasih atas usaha Riswan untuk membantunya.
“Iya, aku akan mengingat itu.” Byan dan Maureen melerai pelukannya. Maureen sedikit berjinjit dan mengecup pipi Byan sebagai bentuk perpisahan. Mereka saling melempar senyum untuk beberapa saat.
Panggilan dari petugas Bandara mengakhiri kebersamaan mereka. Maureen harus segera masuk meninggalkan Byan dan Riswan.
“Aku pergi, bye!” Maureen melambaikan tangannya pada Byan dan Riswan. Berjalan mundur menjauh dari dua orang itu.
Byan dan Riswan balas melambaikan tangan dengan kedua mata yang berkaca-kaca melepas kepergian Maureen hingga kemudian tidak terlihat lagi.
__ADS_1
****
Bagasi sudah masuk dan tiket di tangan Maureen sudah diserahkan. Semua ketentuan sudah diikuti dan Maureen hanya perlu menunggu jam keberangkatan saja. Di ruang tunggu pintu masuk pesawat, saat ini Maureen berada. Ia tengah memperhatikan lingkungan sekitarnya. Ia juga sedang memantapkan hati atas keputusan yang ia ambil.
Tubuh lelah Maureen bersandar pada sandaran kursi. Kepalanya masih berdenyut pening karena semalaman ia tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan banyak hal. Ia juga mendengar kepulangan Byan dini hari tadi tapi Maureen memilih untuk tidak menghampiri Byan. Seperti yang dikatakan Riswan pagi ini, semalam Byan berdiri di pintu kamarnya cukup lama tapi tidak berani mengetuk. Hanya tertunduk saja dengan wajah sedih dan rasa kehilangan yang mendalam.
Menyedihkan, Maureen di buat gelisah saat membayangkan bagaimana ekspresi pria yang ia cintai. Sepertinya ia dan Byan merasakan hal yang sama, takut akan sebuah perpisahan. Ia berusaha mengikis rasa sedih itu dengan memejamkan matanya. Mengistirahatkan pikiran beberapa saat.
“Iyaaa, kamu jangan nangis dong. Mamah kan cuma pergi liburan sama temen-temen mamah, minggu depan juga pulang. Jadi jangan rewel ya. Jangan main air terus-terusan, nanti sakitnya gak sembuh-sembuh.”
Kalimat itu didengar Maureen dari mulut seorang ibu yang sedang bertelepon dengan seseorang. Walau berusaha tidak peduli tapi setiap kalimat wanita itu terdengar begitu jelas oleh Maureen.
“Iyaa, Mamah tau. Adek tenang ya, nanti mamah bawain adek oleh-oleh yang banyak. Jadi berhenti nangisnya. Coba mana susternya, mamah mau ngomong.”
“Sus, kasihin vitaminnya jangan sampe terlambat yaaa… Jangan sampe dia makan sembarangan nanti alerginya kambuh. Kamu urus dia dengan baik selama saya gak ada di rumah. Ngerti?!”
Suara tegas wanita itu membuat Maureen kembali membuka matanya. Bisa terlihat wajah kesal wanita itu lalu mengakhiri panggilannya. Entah mengapa, setelah mendengar kalimat wanita itu Maureen sedikit berpikir. Tidak tahu apa alasannya hingga ia merasa dirinya disadarkan kalau ia cukup egois. Ia berada di posisi wanita itu. Meninggalkan seseorang yang saat ini memerlukan dukungannya.
Tidak ada yang salah sebenarnya dengan pilihan Maureen untuk pergi sejenak. Ia pun memang perlu menenangkan dirinya. Namun, bukankah saat ini Byan jauh lebih memerlukan keberadaan Maureen di sampingnya?
Ya, dalam benak Maureen, Byan seperti seorang anak yang sedang berjalan tertatih-tatih menapaki tangga tahta yang Anggoro tinggalkan. Ia meminta Byan untuk menyelesaikan semuanya sesuai waktu yang Byan tentukan sendiri. Byan memilih menghadapi masalahnya seorang diri. Berjuang mati-matian mengatasi masalah perusahaan juga masalah hubungannya yang terlajur diketahui banyak orang. Menghindarkan Maureen dari rasa tidak nyaman.
Bukankah di saat seperti ini harusnya mereka harusnya saling mengeratkan genggaman tangan mereka?
__ADS_1
*****