
Cahaya surya sudah mulai masuk ke celah tirai tipis yang menutupi jendela kamar Maureen. Cahayanya yang menyilaukan membuat mata bulat itu mengerjap perlahan. Ia menggeliat, merasakan tubuhnya yang begitu nyaman saat terbangun.
“Apa aku di surga?” Maureen bertanya pada dirinya sendiri.
Ia melihat ke sekeliling tempatnya, ia tertidur di atas ranjang dengan kelambu yang melingkupi ranjang dingin itu. Ia juga melihat kalau ia sudah berganti pakaian dan ada selimut tebal yang menutupi tubuhnya.
“Astaga! Kenapa aku tidur di sini?” Maureen kaget sendiri. Ia segera bangun dan terduduk. Menyentuh permukaan Kasur dengan tidak percaya. Ranjang yang semula ia anggap dingin ternyata sangat hangat dan membuatnya nyaman.
“Aduuhh kepalaku,” keluh Maureen saat merasakan sensasi berdenyut di kepalanya.
Ia mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum ini. Perlahan ia ingat kalau terakhir kali ia berenang di kolam, lalu ingatan tentang orang tuanya muncul begitu saja tanpa bisa ia tahan. Ia sudah berusaha menolak semua ingatan itu tapi semakin ia menolak, ingatan itu semakin jelas dan berputar berulang di rongga kepalanya.
Dadanya terasa sesak saat mengingat senyum terakhir Renita juga suara lembut Malik yang terngiang di telinganya. Semuanya seperti kolase tidak beraturan.
Selain kedua orang tuanya, ia juga memimpikan seorang laki-laki. Seorang laki-laki yang tiba-tiba datang untuk memeluk dan menciumnya. Seperti nyata, Maureen bisa merasakan sensasi lembut yang manis dan hangat dari bibir laki-laki itu.
Ia menyentuh bibirnya sendiri dan entah mengapa jantungnya jadi bergemuruh. Wajahnya terasa hangat. Ia menangkup wajah itu dengan senyum tipis yang tidak bisa ia tahan. Baru kali ini ia merasa bangun dalam keadaan tenang dan bahagia.
“Kamu sudah bangun?” suara Byan terdengar di kamar Maureen.
Maureen segera membaringkan lagi tubuhnya lalu menyelimuti sekujur tubuhnya dengan selimut tebal. Ia ingat persis, kalau laki-laki itulah yang muncul di mimpinya. Memeluknya dengan erat seolah ingin menghapus semua kegundahan Maureen dan menciumnya dengan lembut hingga membuat jantungnya seperti berdetak lagi. Seolah ia menemukan hidupnya yang baru.
“Masih mengantuk?” Byan berjalan menghampiri Maureen yang gugup di dalam selimutnya. Ia memasang pendengarannya baik-baik, memperkirakan kemana arah kangkah Byan. Keluar kamar atau semakin mendekat?
“Bangunlah.”
Sial, laki-laki itu malah membuka selimut Maureen dan melihat dengan jelas mata Maureen yang membulat kaget layaknya anak kucing yang di sergap majikannya.
Matanya mengerjap beberapa kali, terlebih saat tangan Byan tiba-tiba menyentuh dahinya. Telapak tangannya hangat dan lembut. Selain itu juga sangat lebar sampai dahi Maureen tertutupi semuanya.
“Selamat pagi. Apa tidurmu nyenyak?” Byan membungkuk, mencondongkan tubuhnya mendekat pada Maureen hingga jarak mereka sangat dekat.
“Pa-gi.” Maureen kaget sendiri melihat netra pekat yang seperti menyentuh matanya. Ia juga melihat Byan tersenyum lebar. Bibirnya yang sedikit tebal dengan rambut tipis yang mengelilingi bibir berwarna kemerahan itu, membuat Maureen salah fokus. Bayangan bibir itulah yang menciumnya semalam.
Hah, jantung Maureen ketar ketir. Ritmenya tidak beraturan. Ini sangat tidak aman.
“Bangunlah, kamu harus sarapan. Aku sudah menyiapkannya,” ucap Byan yang memberi bonus kecupan di pucuk kepala Maureen.
“Eeemmm….” Hati Maureen bergumam lirih. Tubuhnya merasa lemas seperti tidak ada tulang yang menyangga tubuhnya.
Apa ini namanya meleyot, seperti yang pernah dideskripsikan Dita? Rasa lemas dan butuh sandaran seperti ini kah?
“Kendalikan diri kamu Maureen.” Isi kepala Maureen mulai mengambil alih membuat ia segera tersadar.
__ADS_1
“Jangan kurang ajar terhadapku.” Dengar, sisi lain Maureen sudah mulai bangkit. Sisi lain yang membuat Byan tersenyum kecut.
“Baik, ibu tiri. Tolong jangan kutuk aku menjadi gukguk. Aku tidak mau bernasib malang seperti sangkuriang,” ledek Byan.
Maureen berpikir beberapa saat, rasanya ia familiar dengan istilah itu.
“Kamu memeriksa ponselku?” Maureen mulai tersadar.
“Ya, karena aku sangat penasaran dengan alasan kamu pingsan dan terjun ke kolam renang. Aku takut ada yang mengancammu atau sebagainya.” Santai saja Byan menyahuti. Ia bahkan sempat menyuapi Maureen dengan potongan buah semangka sisanya.
Lucunya, Maureen memakannya, mengunyahkan dengan kesal dan menelannya dengan kasar.
“Itu privasi Byan! Kamu tidak sopan.” Maureen berbicara dengan kesal.
“Privasi apanya? Semua yang ada di ponselmu hanya tentang pekerjaan. Tidak ada tentang hal pribadi sama sekali. Yaa, selain kenyataan kalau Wisnu pernah menggodamu dan kamu menolaknya dengan sadis. Good job!” Byan menyuapkan kembali potongan semangka yang ia ambil tapi kali ini Maureen menolaknya.
“Kamu keterlaluan Byan. Aku tidak suka. Aku membencimu, kamu tidak sopan!” Maureen mengambil gulingnya dan hendak memukulkannya pada Byan tapi Byan berhasil menahannya.
“Kalau tidak suka, maka jangan buat aku bertindak terlalu jauh.” Byan menatap Maureen dengan tajam.
“Jangan buat aku mencemaskanmu sampai merasa ingin mati. Jangan membuat aku marah pada setiap hal yang membuatmu putus asa hingga aku ingin menghancurkan semuanya. Jangan juga membuatku ingin membongkar isi kepalamu untuk melihat hal apa yang kamu sembunyikan sampai membuat kamu terpuruk dan seperti ingin menyerah.”
“Jangan gila Maureen, karena aku bisa lebih gila!” tegas Byan tanpa memberi jeda pada kalimat panjang yang menunjukkan jelas perasaannya.
Maureen tercenung, ia melihat kesungguhan yang Byan tunjukkan dari sorot matanya. Entah mengapa dadanya seperti membuncah dan sesak di waktu yang bersamaan. Mulutnya membuka hendak mengatakan sesuatu tapi kemudian Byan membungkamnya dengan mengatakan,
Maureen tidak bisa berkata-kata. Ia menarik kembali gulingnya lalu,
“IKH!!!” ia memukulkannya dengan keras pada Byan, ia sangat kesal karena Byan membuat perasaannya bergemuruh dan campur aduk.
Byan membiarkan Maureen memukulinya beberapa kali karena terkadang ucapannya membuat ia memang sangat pantas untuk dipukul.
Maureen baru berhenti setelah memukul Byan entah sepuluh atau sebelas kali, tepatnya sampai kekesalannya hilang. Rambutnya sampai berantakan dan menutupi wajahnya lalu ia tiup dengan kasar.
“Apa sudah merasa lebih baik?” tanya Byan.
Maureen tidak menjawab, ia hanya menatap Byan dengan lekat. Apa sebenarnya yang ada dipikiran laki-laki ini?
Merasa tidak ada jawaban dari Maureen, maka Byan memutuskan untuk menjawab pertanyaan yang ada dikepala Maureen. Ia meraih pinggang Maureen untuk mendekat padanya hingga jarak mereka sangat dekat. Dada Byan dan Maureen nyaris melekat.
“Kamu ingin tau apa yang aku pikirkan, bukan?” tanya Byan dengan suara menderu.
“Tidak, aku tidak perlu tahu.” Maureen masih dengan sikapnya yang angkuh, tidak mau mengikuti perasaannya.
__ADS_1
“Benarkah? Padahal aku sangat bersemangat untuk menunjukkannya.” Byan tersenyum kecil pada Maureen.
“Oh ya? Sayangnya aku tidak tertarik.” Maureen tersenyum sinis membuat Byan terpancing untuk menarik tengkuk wanita itu hingga jarak wajah mereka sangat dekat. Hidung mereka sampai bersinggungan.
Napasnya terdengar menderu menahan Hasrat yang bergejolak di dalam dadanya.
“Lakukan, agar aku bisa melihat dengan jelas kalau kamu adalah seorang laki-laki brengsek yang hanya tau apa kebutuhanmu,” tantang Maureen.
Ia sengaja mengusap dada bidang Byan dengan sensual juga mengusap lehernya, nadi carotisya yang berdenyut sangat cepat, menunjukkan kalau Byan tengah benar-benar membara.
Namun Byan tidak melakukan apapun. Ia tertunduk lesu dihadapan Maureen. Ia juga melonggarkan rangkulannya di pinggang Maureen. Ia sadar benar, selain ia mencintai dan menginginkan wanita ini, ia pun menghormati Maureen dengan sepenuh hati. Maka untuk saat ini, Ia memilih untuk menenangkan dirinya.
Setelah gejolak perasaannya berangsur membaik, ia menatap kembali wajah Maureen yang hanya berjarak beberapa senti saja di depannya.
“Aku tidak akan bertindak sejauh itu dan merusak pertahananmu kecuali kamu yang memintanya,” ujar Byan dengan penuh kesungguhan.
“Bagus. Pria yang baik.” Maureen tersenyum kecil lantas mengusap wajah kiri Byan lalu menepuknya pelan. Ia melihat jelas usaha Byan yang begitu besar untuk mengendalikan dirinya melawan harsat yang bisa saja membutakannya.
“Ikatan dasimu terlalu kencang, ini akan membuatmu merasa tercekik dan tidak nyaman. Aku bisa melonggarkannya sedikit dan membuatkan simpul yang lebih baik,” ucap Maureen seraya merapikan tali dasi Byan.
Byan tersenyum kecil, di saat seperti ini, bisa-bisanya Maureen membahas dasi. Tidak tahukah ia kalau kepala Byan sudah spaneng?
“Lakukan yang memang ingin kamu lakukan.” Byan hanya bisa pasrah.
Benar saja, dengan senang hati Maureen membongkar kembali simpul dasi yang Byan buat. Byan menatap wanita yang tampak begitu menikmati saat menjalin beberapa ikatan tersebut. Ia juga menarik dasi untuk mengencangkannya dan menetapkannya di posisi yang pas.
“Tampan,” pujinya dengan senyum kecil terkembang. Baru kali ini ia memuji Byan dan membuat laki-laki itu mengeram dalam hati. Rasanya ia ingin memakan Maureen saat ini juga.
“Keluarlah, aku mau bersiap-siap. Hari ini kamu harus menyampaikan pada manajemen, apa yang sudah menjadi keputusanmu tentang kasus itu. Aku juga penasaran ingin mendengarnya,” ucap Maureen kemudian.
Byan tidak menimpali, ia memilih beranjak dari tempatnya dan meninggalkan Maureen untuk bersiap-siap.
“Byan!” baru sampai di pintu, Maureen memanggilnya lagi.
“Ya,” Byan menyahuti dengan tenang.
“Terima kasih,” ucap Maureen dengan penuh kesungguhan. Ia juga mengangguk sopan sebagai bentuk ucapan terima kasih karena Byan masih bisa menghormatinya.
“Tentu. Take your time,” timpal yang dengan senyum kecil yang terukir. Perasaannya berbunga-bunga hanya karena Maureen mengucapkan terima kasih yang begitu dalam untuknya.
Sementara itu, Maureen berlari riang menuju kamar mandinya. Ia mengguyur sekujur tubuhnya dengan air dingin. Melihat semua sikap Byan, ia merasa kalau baru kali ini ia benar-benar dicintai oleh seorang laki-laki.
Lantas kapan ia akan membuka pintu hatinya?
__ADS_1
Entahlah.
****