
Dua buah makam berada di hadapan Maureen. Makam itu menjadi tempat peristirahatan terakhir kedua orang tuanya.
Di bulan juli sekitar sembilan tahun lalu, dua orang ini meninggalkan Maureen untuk selamanya. Tanggal satu dan tanggal delapan menjadi tanggal yang selalu membuat Maureen trauma dan tidak pernah bisa tidur dengan nyenyak hingga saat ini.
Ia tumbuh tanpa kedua orang tuanya. Di usianya yang masih kecil, ia harus hidup sendiri. Mengurus dirinya sendiri padahal Maureen kecil adalah anak yang manja.
Setelah kepergian kedua orang tuanya, Maureen lebih memilih tinggal di panti asuhan. Ia merasakan perubahan hidup yang sangat drastis. Meskipun Widya menyayanginya dengan adil, memperlakukannya sama dengan memperlakukan anak panti lainnya, tapi kasih sayang kedua orang tuanya tidak akan pernah bisa tergantikan.
Hari ini, ia kembali datang ke makam kedua orang tuanya. Letaknya memang cukul jauh dari panti. Di tangannya ia membawa bucket bunga yang ia taruh di atas pusara kedua orang tuanya, juga bunga tabur yang ia taburkan di atas pusara.
Sambil termenung mengingat kenangan indah bersama kedua orang tuanya, Maureen mengusap kedua batu nisan itu, lantas ia kecup dengan penuh kasih dan kerinduan.
“Pah, Mah, aku datang,” Maureen duduk di ruang antara makam ibu dan ayahnya. Ia menaburkan lagi sisa bunga di atas kedua pusara itu.
Mata bulatnya menatap nanar dua makam yang selalu membuat hatinya terasa hancur. Kebersamaan mereka dulu, hanya tinggal cerita yang membuat hatinya meringis sakit.
“Apa kalian merindukanku?" pada kalimat itu Maureen berusaha tersenyum walau nafasnya terasa tercekat.
"Mah, Pah, apa kalian bisa melihat kalau aku tumbuh dengan baik? Aku menjadi wanita yang cukup sukses dan menduduki posisi penting. Sayangnya, posisi penting itu aku dapatkan di perusahaan yang menghancurkan keluarga bahagia kita.”
Setitik air mata Maureen kembali menetes.
“Mah, Pah. Aku sangat ingin menghancurkan mereka, menghancurkan perusahaan yang membuatku kehilangan kalian,”
Maureen terdiam beberapa saat, ia tertunduk sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.
Sekali lalu ia mengusap air matanya dengan kasar lantas menatap dua nama yang selalu membuatnya ingin menghancurkan Anggoro corp.
“Aku ingin menghancurkan tempat itu, membuat mereka membayar apa yang sudah mereka lakukan terhadap kalian. Tapi kemudian aku sadar, ada banyak jiwa yang menggantungkan hidup dan masa depannya di sana.”
“Apa yang harus aku lakukan sekarang, Mah, Pah?”
Maureen mencengkram rumput yang tumbuh di sekitarnya. Giginya sampai menggeretak dengan kasar menahan dilema dalam hatinya.
Sehelai daun jatuh di atas pangkuan Maureen. Ia mengambil daun bunga kamboja yang memayungi makam kedua orang tuanya.
“Apa kalian sedang berusaha menghiburku?” tanya Maureen dengan tatapan yang semakin sendu.
Ia bahkan tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Hanya tertunduk lesu dengan rasa sedih yang memenuhi relung hatinya.
Ia berpikir, apa mungkin ia menggunakan cara yang salah untuk membalaskan dendamnya? Jika ternyata ia akan merasa tidak tega pada orang-orang yang terlanjur ia kenal, bukankah sebaiknya ia tidak pernah masuk ke dalam perusahaan itu dan menghancurkannya dari kejauhan saja?
__ADS_1
“Akh sial!” dengus Maureen saat sadar kalau sepertinya yang ia lakukan salah. Harusnya ia tidak pernah terlibat dengan Anggoro dan perusahaannya secara pribadi. Karena hal ini malah membuat Maureen sulit mengatur siasatnya.
Saat ini ia seperti berada di persimpangan jalan. Ia tidak tahu arah mana yang harus ia tuju. Bagaimana ia harus menuntaskan dendamnya sekarang?
****
Menjelang malam, Maureen baru kembali ke panti. Suara mesin mobilnya yang menderu membuat Widya menatapnya dari teras rumah. Sepertinya wanita itu sudah menunggu Maureen sedari tadi. Ia tersenyum kecil saat menyambut Maureen yang turun dari mobilnya.
"Kamu gak pake jaket, Mo?" tanya wanita itu, seraya melepaskan syal di lehernya. Ia hendak memakaikannya pada Maureen namun gadis itu menolaknya.
"Aku baik-baik aja, Bu." Ia menahan tangan Widya agar tidak melepas syal itu.
"Kalau begitu, masuklah. Biar ibu bikinkan minuman hangat." Widya berjalan lebih dulu di depan Maureen. Ia tersenyum kecil saat sadar kalau anak asuhnya itu masih sama, tidak suka dikasihani.
Maureen mengikuti Widya sampai ke dapur. Ia duduk di kursi meja makan sementara Widya membuatkannya minuman hangat.
"Jalannya sudah bagus kan, Mo? Waktu ibu ke sana jalannya masih diperbaiki." Widya berusaha mengalihkan pikiran Maureen dari ingatan tentang kedua orang tuanya.
Kalau sudah terdiam seperti ini, apalagi tangannya mengepal, sudah pasti Maureen sedang mengingat kemarahannya. Ia juga tidak memperdulikan kalimat yang keluar dari mulut Widya. Padahal dalam kondisi normal, Maureen selalu merespon apa pun perkataan Widya dengan penuh kesabaran.
"Minumlah," beruntung Widya sudah lama mengenal Maureen sehingga ia hapal benar kebiasaan putri asihnya.
Tangan putih Maureen mencengkram gelas yang disodorkan Widya. Dinding gelasnya yang hangat membuat ia merasa nyaman. Udara Lembang memang selalu sangat dingin di banding tempat lainnya.
"Apa perasaanmu sudah lebih baik?" tanya Widya.
Maureen tidak lantas menjawab, ia meneguk terlebih dahulu teh hangat di tangannya.
"Sedikit," sahutnya pelan.
Widya tersenyum kecil, paling tidak suara Maureen sudah terdengar tenang.
Widya tampak merogoh sesuatu dari dalam sakunya, lalu menaruhnya di hadapan ia dan Maureen.
"Apa ini?" Maureen menatap bergantian sebuah kancing dan wajah Widya.
"Itu kancing yang ibu gemukan di tangan mamahmu, saat beliau meninggal," sahut Widya.
Terlihat sekali kalau Maureen terhenyak. Sepertinya benar yang dikatakan tetangganya kalau seseorang datang ke rumahnya sebelum Ibunya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.
Berdasarkan keterangan saksi, ibunya berteriak dan memaki seseorang bahkan memukul orang tersebut. Tapi sayangnya, hingga saat ini Maureen tidak pernah tahu siapa yang datang ke rumahnya dan membuat ibunya memutuskan untuk bunuh diri.
__ADS_1
Laki-laki pemilik kancing ini kah?
Tiba-tiba saja, Maureen beranjak dari tempatnya. Ia terlihat tergesa-gesa.
"Kamu mau kemana?" cepat-cepat Widya menahan tangan Maureen.
"Aku harus memastikan siapa pemilik kancing ini, Bu," sahut Maureen dengan wajah yanv gelisah.
"Nggak, Nak. Ini udah malem, duduklah." Widya benar-benar menahan tangan Maureen agar tidak pergi.
"Tapi, aku harus memastikannya. Aku harus menyakinkan diriku sendiri kalau Anggoro tidak berbohong." Mata Maureen sudah terlihat merah dan menyimpan banyak kemarahan.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan kalau ternyata ini bukan milik Anggoro? Bisakah kamu berhenti?" timpal Widya dengan cepat.
Maureen terdiam, ia terduduk lemah di tempatnya. Widya benar, apa yang harus ia lakukan jika kancing ini benar-benar bukan milik Anggoro?
"Mo," Widya menyentuh tangan Maureen yang dingin dan pucat.
"Ibu selalu berharap kalau kamu akan mengakhiri semua ini. Ibu gak mau kamu terluka berkepanjangan karena terus mencari siapa laki-laki itu. Tidakkah kamu merasa lelah?" tanya Widya dengan perlahan.
"Apa maksud ibu?" Maureen menyalak, ia menatap Widya dengan penuh kemarahan.
"Ibu mau aku berhenti mencari siapa orang yang sudah membuat mamahku berpikir untuk mengakhiri hidupnya?" Maureen menatap Widya dengan tidak mengerti.
"Ibu khawatir sama kamu nak. Ibu gak mau kamu terus mendendam seperti ini. Ibu gak mau kamu malah kehilangan semuanya karena terus mengejar dan mencari tahu siapa orang itu. Kalaupun orang itu benar-benar Anggoro, apa yang akan kamu lakukan? Pertanggung jawaban apa yang akan kamu minta? Bukankah laki-laki itu sudah pergi untuk selamanya?" Widya dengan rasa kecemasan pada Maureen.
"Memangnya, apa yang aku punya sekarang? " Maureen balik bertanya. Lihat matanya yang merah dan basah penuh rasa sakit.
"Sejak kedua orang tuaku pergi, aku bahkan gak tau siapa aku sebenarnya. Aku gak pernah bisa tidur nyenyak dan bahkan merasa bersalah setiap kali mengingat kenangan indah yang aku miliki bersama orang tuaku."
"Lalu, Ibu mau aku melepaskan pemilik kancing ini begitu saja? Mana mungkin?!" Maureen tersenyum sinis dengan air mata yang menetes. Bibirnya bergetar menahan tangis yang ingin ia luapkan.
"Anggoro sudah pergi tapi dia pergi dengan membawa semua rahasianya. Dia gak pernah mengatakan siapa orang yang membuat orang tuaku terpuruk. Mungkin itu dirinya sendiri atau mungkin seseorang yang saat ini masih bisa tertawa bahagia di atas penderitaanku."
"Bagaimana bisa ibu menyuruhku untuk melepaskan orang itu begitu saja. Hah, bagaimana bisa?" Maureen mengguncang kedua lengan Widya tapi wanita itu tidak menjawab.
Ia hanya bisa menangis di depan Maureen, menangisi penderitaan putri asuhnya yang tidak bisa ia akhiri.
Tidak mendapat jawaban dari Widya, Maureen memutuskan untuk pergi meninggalkan wanita itu. Dengan langkah yang gamang, ia menapakkan kakinya selangkah demi selangkah menuju kamar.
Pundaknya begitu berat tapi ia tidak punya tempat untuk bersandar. Maka, bukankah tidak ada pilihan lain selain harus menegakkan diri dan kepalanya saja?
__ADS_1
***