Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Muah Muah


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang dari restoran, Maureen lebih banyak diam. Wanita itu juga lebih sering melihat keluar jendela entah memperhatikan apa. Kacamata hitam ia kenakan, dengan alasan silau. Entah benar atau tidak tapi yang jelas Byan mendengar kekasihnya itu beberapa akli menghembuskan nafasnya dengan kasar. Seperti ada beban berat yang sedang dipikirkannya.


“Mau minum?” tanya Byan tiba-tiba. Mereka baru sampai di lampu merah terakhir sebelum sampai ke kantor.


“Nggak.” Maureen menjawab singkat, seraya menyandarkan tubuhnya ke sandaran jok.


“Kalau ngantuk, tidurlah. Aku gak akan ganggu.” Sapuan lembut diberikan Byan di pucuk kepala Maureen.


“Aku gak ngantuk.” Maureen menimpali dengan malas sambil mengibaskan tangan Byan. Byan cukup kaget, tangannya menggantung di udara.


“Okey, kalau gak ngantuk terus kenapa? Kok kayak yang bete gitu?” Byan semakin penasaran. Seorang Maureen pun ternyata bisa terkena ladies syndrom. Susah di cari tahu maunya.


“Nanti aja ngobrolnya. Lampunya udah hijau.” Maureen menunjuk lampu kuning yang sudah berubah hijau.


“Okey,” Byan menurut saja. Ia melajukan kembali mobilnya dengan satu tangan, sementara satu tangan lainnya berusaha meraih tangan Maureen. Ia ingin menggenggamnya.


Sayangnya, Maureen memilih untuk bersidekap. Byan hanya bisa tersenyum masam sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, hanya merasa malu saja.


Sambil bersiul-siul Byan meneruskan laju mobilnya. Sesekali ia melirik Maureen dan wanita itu tetap pada posisinya, melihat keluar jendela.


“Aku minta maaf, kalau aku bikin kamu kesal.” Tiba-tiba saja Byan mengatakan hal itu. Ia kembali melirik Maureen dan wanita itu diam saja.


Sejujurnya Byan tidak tahu ia melakukan kesalahan apa hanya saja, sikap yang Maureen tunjukkan sudah pasti karena kekasihnya ini sedang marah.


Hah, kalau menyebut istilah kekasih, jantung Byan selalu saja berdegub kencang. Rasanya ia ingin menggigit Maureen sepuasnya.


“Maureen, bicaralah. Perutku sakit kalau kamu diem gini.” Byan mulai merajuk. Perasaannya mulai tidak karuan.


“Aku gak mau ngomong. Apalagi kalau alasan aku harus ngomong karena demi mengobati perut kamu yang sakit. Kamu yang salah kok aku yang harus tanggung jawab.” Maureen berdecak kesal.


“Kalau gitu aku beneran ada salah ya?” Byan semakin yakin kalau ia salah.


“Kalau kamu gak ngerasa, kenapa tadi minta maaf?” Maureen balas bertanya. Nada suaranya sedikit meningkat.


Ah, sial. Byan salah bicara.


“Em bukan begitu maksudku. Aku tau aku salah. Tapi aku ingin tau detail salahku. Ayolah Maumau, gajah dipelupuk mata itu gak keliatan tapi semut di seberang lautan itu keliatan. Jadi, kasih tau aku kalau aku salah, supaya arah pandang kita sama. Bisakah?” Byan benar-benar memohon. Baru kali ini ia memohon pada seorang wanita. Biasanya wanita yang memohon padanya.


Maureen menoleh Byan, lalu menaikkan kacamatanya di atas kepala.


“Sejak kapan namaku jadi Maumau?” Maureen menatap Byan dengan kesal.

__ADS_1


“Sejak tadi. Aku mau punya panggilan sayang buat satu sama lain. Boleh kan?” Byan tersenyum iseng.


“Kenapa harus Maumau? Sejauh ini, ini panggilan paling jauh yang aku denger,” protes Maureen tidak terima.


“Apa mau aku panggil muahmuah?” goda Byan sambil memaju-majukan bibirnya.


“Issh! Kamu apaan sih?!” Maureen bergidik geli. Ia memalingkan wajahnya sambil menahan senyum. Tingkah Byan memang suka agak lain.


“Heey, kenapa liat ke sana heyy. Liat sini lah. Mau gak aku panggil muahmuah?” Byan tetap berusaha menggoda Maureen dengan mencolek-colek lengan wanita itu.


“Ish Byan! Nyetir dulu yang bener!” Maureen akhirnya kesal.


Tapi Byan tidak kehabisan akal. Ia menepikan mobilnya di tepi jalan, persis di dekat penjual kelapa muda.


“Kenapa berhenti di sini?” Maureen menatap Byan dengan heran. Ia pikir hanya dirinya saja yang suka random berhenti di mana saja untuk membeli sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.


“Tunggu sebentar,” ucap Byan.


Ia melepas jas dan dasinya, juga kancing paling atas di kemejanya lantas turun dari mobil. Ia memesan dua buah kelapa untuk dirinya dan Maureen. Setelah siap, ia segera berlari menuju mobil.


Dari tempatnya, Maureen memperhatikan tingkah pria itu. Ada saja menurutnya.


“Dalam rangka apa ini?” Maureen waspada dengan kelapa yang diberikan Byan.


“Usaha untuk memperbaiki semuanya. Aku mau kita duduk berdua dengan tenang, sambil minum kelapa dan berbicara apa saja. Tentang kita, bukan tentang pekerjaan. Deal?” Byan menunjukkan kelingkingnya pada Maureen.


“Aneh!” timpal wanita itu. Tapi tetap saja Maureen membalas acungan jari itu dengan mentautkan kelingking mereka.


“Minumlah dulu, supaya tenggorokan kita segeran.” Byan menyeruput lebih dulu.


“Aman kok, manis dan gak beracun. Gak bikin kecanduan juga. Kecuali kalau minumnya sambil liatin kamu, manisnya nambah, bikin kecanduan dan ngasih efek peningkatan debaran jantung yang tidak terkendali,” celoteh Byan yang membuat Maureen susah payah menahan senyumnya. Meski demikian ia tidak bisa menyembunyikan air mukanya yang memerah.


Sambil menenangkan dirinya, Maureen menikmati air kelapa yang manis ini.


“Enak kan?” Byan kembali menggodanya.


“Hem, seger.” Mood Maureen pun langsung berubah.


“Okey, jadi mau cerita apa sekarang?” Byan kembali memfokuskan perhatiannya pada Maureen. Ia masih penasaran dengan alasan yang membuat Maureen marah.


“Aku gak suka dengan sikapmu.” Itu kalimat pertama yang diucapkan Maureen.

__ADS_1


“Okey. Bagian mana yang kamu gak suka?” Byan semakin fokus. Pandangan Maureen sangat penting baginya.


“Sikapmu di acara peresmian tadi. Kamu terlalu frontal Byan. Itu membuat orang-orang curiga.” Akhirnya alasan itu keluar.


“Curiga kalau kita ada hubungan?”


Maureen mengangguk.


“Aku gak mau ada masalah lain karena mereka mengira kita ada hubungan. Jadi sebaiknya kita bersikap biasa saja dihadapan orang lain. Kamu gak lupa kan sama posisi kita di hadapan orang lain?”


Byan tidak menimpali. Ia memilih menyedot air kelapanya hingga berbunyi “Sroookk.” Ia baru terpikirkan hal itu dan ia tidak mempertimbangkan hal tersebut. Karena ia pikir, sangat wajar mempunyai kecemburuan pada orang yang ia sayang. Tapi lagi, ada status yang berbeda dalam hubungannya dengan Maureen di mata orang lain.


“Okey aku minta maaf. Aku hanya gak bisa terima kalau terlalu banyak laki-laki yang memperhatikanmu. Itu membuat dadaku panas dan tanganku, akh! Pokoknya menyebalkan.” Byan dengan ekspresinya yang kesal.


“Ya tapi kamu gak perlu bersikap seperti itu. Toh udah jelas juga siapa yang aku pilih,” ucap Maureen sambil tersipu malu.


“Hehehhe... iya juga sih. Aawwkkk!” tiba-tiba saja Byan menggigit bahu Maureen.


“Astaga Byan!” Maureen sampai kaget.


“Astaga apanya? Kita cuma berdua dan gak ada yang liat. Berarti aku bisa bersikap luar biasa kan?” laki-laki ini mulai beralasan. Ia kembali mendekat pada Maureen, ingin menggigit lagi Maureen yang sudah terpojok di sudut joknya.


“Iyaak, tapi gak gini jugaaa!! Kamu mengerikan!” Maureen mendorong dahi Byan dengan sekuat tenaga.


Dengan mudah Byan menarik tangan Maureen hingga terhenyak dan jatuh ke pelukannya. Lantas ia merangkul Maureen dari samping.


“Sejak tadi, aku ingin memelukmu seperti ini. Rasanya sangat nyaman,” bisik Byan sekali lalu mengecupi pelipis dan pucuk kepala Muareen.


“Gak gerah emang? Jakarta panas broh!” Maureen menyikut Byan dengan sengaja.


“Gerah apanya? Yang ada nenangin malah. Love you!” bisik Byan sambil mengecup telinga Maureen.


Maureen hanya bisa bergidik geli. Anak ini mulai suka bisik-bisik. Meresahkan!


"Jadi mau cerita apa lagi? Aku akan mendengarkan." Byan bersiap meruncingkan telinganya.


Obrolan demi obrolan pun mulai mengalir di antara dua orang itu. Maureen mulai mengetahui kalau Byan ternyata absurd dan Byan mulai mengenali seperti apa sosok Maureen yang sebenarnya. Sosok yang ingin ia lihat tanpa topeng.


"Ngomong-ngomong, jadi apa nih panggilan yang cocok buat mereka? Ada yang punya ide?"


****

__ADS_1


__ADS_2