Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Mengikat janji


__ADS_3

“Kalau kamu sekarang di sini, Byan keluar kota sama siapa?” Maureen menatap Riswan heran. Tidak biasanya Riswan membiarkan tuan mudanya bepergian sendiri.


Riswan tersenyum tipis. “Saya tidak meninggalkan tuan muda, Nona. Beliau baik-baik saja dan dalam pengawasan saya.” Lihat, laki-laki paruh baya itu menjawab dengan tenang.


“Apa maksudmu?” Maureen semakin tidak mengerti.


“Saya akan menjelaskannya nanti, mohon nona ikut dengan saya.” Jawaban Riswan memang selalu membuat Maureen harus bersabar dan penasaran..


"Kemana?"


"Nona akan segera tau. Silakan." Riswan menunjukkan jalan untuk Maureen.


Mobil Riswan melaju kencang, membawa Maureen menuju sebuah tempat. Entah dimana tempat yang ia tuju karena selama perjalanan Maureen hanya melihat pepohonan yang memagari jalanan lengkap dengan kabut tipis yang mulai turun.


Setelah cukup lama berkendara, mobil Riswan berbelok ke sebuah tempat wisata yang biasanya didatangi oleh anak-anak. Sejak dari pintu gerbang, cahaya lampu menyala menerangi jalan mereka.


“Riswan, tempat ini sepi. Kamu yakin tempat ini yang seharusnya kita tuju?” Maureen berbisik di belakang Riswan. Di malam hari tempat ini memang cukup sepi, tidak banyak orang yang datang. Bulu kuduknya jadi meremang saat melihat ranting pohon yang meliuk terkena hembusan angin.


“Benar nona, nona bisa mempercayakan itu pada saya.” Riswan tetap bersikukuh membuat Maureen mulai waspada dengan lingkungan yang sepi dan asing ini. Ia sedikit memajukan tubuhnya mendekat pada Riswan.


Mobil Riswan berhenti di depan sebuah pintu masuk. Tidak terlalu jelas pintu masuk itu mengarah kemana. Riswan mempersilakan Maureen untuk turun dan Maureen menurut saja. Ia memperhatikan lingkungan sekitarnya dan berjalan di samping Riswan. Hembusan angin malam terasa begitu dingin meniup tengkuknya.


Dari kejauhan Maureen melihat seorang laki-laki menunggunya di sana. Jantungnya berdebar sangat kencang saat semakin dekat wajah laki-laki itu semakin terlihat jelas di bawah cahaya lampu yang temarang. Laki-laki itu tersenyum hangat menyambut Maureen yang mendekat, siapa lagi kalau bukan Byantara Ethan Anggoro.


"Lagi ngapain kamu di sini?" Maureen menatap pria itu penuh tanya.


Pria itu tidak lantas menjawab meliankan segera melepas jasnya dan menyampirkannya di bahu Maureen. Ia yakin, kekasihnya ini kedinginan.


“Selamat malam,” sapa Byan.


“Malam,” Maureen tersenyum kecil dengan wajahnya yang masih bingung.


“Saya permisi tuan dan nona,” pamit Riswan tanpa menunggu lama.


Byan hanya mengangguk dan tidak lama Riswan pun pergi. Memberi ruang untuk dua orang yang saling merindukan ini.


“Mau ikut denganku?” Byan mengulurkan tangannya pada Maureen.


Walau masih bingung, Maureen akhirnya menyambut uluran tangan Byan. Byan menggenggam tangan kekasihnya dengan hangat, sebelum kemudian ia melingkarkan tangan Maureen di lengannya. Keduanya berjalan bersama-sama menyurusi jalan setapak yang sisi kiri dan kanannya di terangi lampu kecil-kecil.

__ADS_1


“Kamu kenapa gak bilang kalau maksud keluar kota itu adalah datang ke sini?” Maureen bertanya dengan kesal, merasa dibohongi.


“Untuk ngasih kamu kejutan.” Byan menjawab apa adanya. Ia masih menikmati melihat wajah Maureen yang terlihat cantik saat bingung seperti ini.


“Waahh tentu saja aku merasa sangat terkejut, sampai ingin memukulmu dengan sandal!” decik Maureen yang kemudian mengerlingkan mata di ujung kalimatnya.


“Hahahaha….” Byan terkekeh gemas sendiri melihat ekspresi Maureen.


Sudah satu minggu mereka berpisah. Berkirim kabar hanya melalui pesan chat atau video call. Sangat menyenangkan karena akhirnya mereka bertemu seperti ini.


“Kamu udah makan, Mo?”


“Belum lah. Aku kan niatnya mau kondangan. Malah nyampe ke sini.”


“Baguslah,” komentar Byan sambil tersenyum kecil.


“Bagus apanya?” Maureen menatap Byan dengan tidak mengerti.


“Ya bagus. Kita jadi bisa makan malam bareng,” ujar Byan yang tersenyum kecil. Pria itu membawa Maureen menuruni anak tangga menuju ke suatu tempat di tepi danau. Riak air danau terlihat begitu indah di bawah langit yang berbincang. Pantulan cahaya lampu membuat permukaan air tampak berkilauan. Ada sebuah meja yang sudah di tata dengan cantik dan lampu-lampu yang disusun aesthetic untuk menerangi meja itu.


“Kamu menyiapkan ini semua?” Maureen semakin penasaran. Byan hanya tersenyum sebagai jawaban.


Suasana di tempat ini sangat indah dan romantis. Suara musik instrumental dari saxophone milik Kenny G mulai dimainkan, membuat Maureen menatap heran pada sosok laki-laki di sampingnya. Benarkah Byan bisa seromantis ini?


“Aku memang udah menyiapkan semua ini. Sebuah makan malam romantis untuk kita.” Ucapan Byan berusaha menghapuskan rasa penasaran Maureen.


“Dalam rangka apa? Aku gak lagi ulang tahun. Kenapa harus seromantis ini?” Maureen mengernyitkan dahinya bingung.


Tidak berselang lama, Byan berdiri lalu menghampiri Maureen. Hal tidak terduga dilakukan oleh Byan, yaitu bertekuk lutut dihadapan Maureen.


“Kamu mau apa sih By? Gak usah ginilah. Toh aku juga gak lagi ulang tahun.” Maureen menarik tangan Byan untuk berdiri. Tapi lelaki tampan dengan stelan jas rapi dan mewah itu tetap bertekuk lutut.


“Sebentar, aku udah nyiapin kata-kata romantis, tapi aku lupa karena aku grogi,” ucap Byan sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. Dahinya sudah berkeringat dingin.


“Emang kamu mau ngapain?” Maureen kesal sendiri karena Byan tidak mau berdiri.


“Mau ngajak kamu nikah, itu intinya." Jawaban Byan tidak bisa diprediksi.


"Apa?" Pendengaran Maureen mendadak berdengung, seperti bergema tapi tidak jelas.

__ADS_1


"Ehm!" Byan berusaha menyadarkan dirinya sendiri. "Mo, menikahlah denganku. Jadilah pasanganku hingga kita menua bersama dan sampai aku tidak lagi setampan sekarang. Astaga, harusnya kata-katanya bukan itu,” ucap Byan yang gugup sendiri.


Maureen tersenyum dalam hati. Dari kalimat pertama itu saja, ia sudah memahami maksud Byan tapi mendengar Byan mengucapkan kalimat itu, ia jadi gemas sendiri.


“Hiduplah bersamaku, kita lewati banyak waktu berdua dengan banyak kasih sayang antara kita.” Sebuah kotak ditunjukkan Byan dihadapan Maureen dan saat di buka ternyata isinya cincin. Niat sekali laki-laki ini.


“Maukah kamu menikah denganku, Mo?” tegas Byan pada akhirnya, tanpa ada keraguan sama sekali.


Maureen sampai tidak bisa berkata-kata. Semuanya terlalu mengejutkan. Ia hanya bisa memandangi Byan yang menatapnya dengan penuh harap.


“Kamu bersungguh-sungguh By? Secepat ini?” tanya Maureen dengan suara bergetar. Ini masih seperti mimpi untuk Maureen.


“Tidak ada yang membuatku ragu untuk memilihmu. Jadi, untuk apa kita menunda lebih lama lagi?” kalimat Byan terdengar penuh keyakinan.


Maureen sampai tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa menitikkan air mata haru, karena sesungguhnya ia pun tidak memiliki keraguan atas hubungannya dengan Byan, laki-laki yang ia cintai sepenuh hati.


Byan mengulurkan tangannya  dan Maureen menyambutnya. Sebuah cincin disematkan di jari manis Maureen lalu ia kecup tangan itu dengan penuh perasaan. Maureen tidak dapat menahan air matanya. Ia menangis tersedu-sedu dan jantung yang berdebar kencang. Dengan segera Byan memeluk Maureen, memeluknya dengan sangat erat.


“Sudah sejak lama aku ingin melakukan ini. Melamar kamu menjadi istriku dan menunjukkan aku bersungguh-sungguh dengan niatku. Terima kasih, Mo. Terima kasih karena kamu hadir dalam hidupku. Kamu memberi harapan bahwa aku pun bisa bahagia dengan orang yang aku sayangi. Kamu selalu menjadi keajaiban terindah dalam hidupku. Aku mencintaimu,” bisik Byan dengan penuh kesungguhan.


Maureen hanya bisa memandangi Byan dengan haru, ia sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Satu hal yang ingin ia lakukan saat ini adalah, mengecup bibir Byan yang sudah dengan lancang mengatakan kalimat sakral itu hingga Maureen kehabisan kata-kata.


"Jadi, kamu mau nikah sama aku?" Byan mengulang pertanyaannya dan Maureen mengangguk.


"Sungguh?"


Akh, Byan memang menyebalkan hingga Maureen memukul tangannya dengan kesal.


"Hahahaha... terima kasih." Byan tertawa sambil menangis. Dalam perasaan haru dan senang ia memeluk Maureen. Perlahan, jantungnya yang berdebar kencang seperti mulai menemukan ketenangannya. Seolah ia memang telah menemukan pelabuhan terakhirnya.


Dalam beberapa saat, Byan memagut bibir Maureen dengan penuh semangat. Sesekali ia membuat ritme yang lambat, bergitu meresapi setiap pagutan yang ia lakukan dengan Maureen. Tapi di waktu berikutnya ia begitu buas ******* bibir Maureen seraya memeluk wanitanya dengan erat.


Keduanya baru behenti saat nafas mereka nyaris habis. Byan menempatkan dahinya di dahi Maureen sambil menunggu rongga parunya terisi kembali dengan udara.


“Aku sangat bahagia, Mo. Sungguh….” Ucap Byan dengan nafas yang terengah-engah.


Maureen menganggukinya karena ia pun merasakan hal yang sama. Tangannya menangkup kedua sisi wajah Byan lantas mengecup kembali bibir Byan. Tak lama setelah itu ia melingarkan tangannya di leher Byan dan menggerakkan kakinya seirama musik yang ia dengar.


Byan mengikutinya. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Maureen, mereka berdansa di bawah langit malam yang dipenuhi gemintang.

__ADS_1


“Byan, aku tidak pernah berpikir kalau aku akan menemukan kebahagiaan, dan beruntungnya kamulah yang membawa kebahagiaan itu.”


**** T A M A T *****


__ADS_2