
Memandangi Maureen yang sedang terbaring lemah seperti ini, selalu menjadi mimpi buruk bagi Byan. Ini kali kedua Byan melihat Maureen selemah ini. Wanita tegas yang biasa berkata dengan jelas dan lugas seperti mulai kehilangan pertahanannya.
Saat ini, Maureen hanya wanita biasa yang memerlukan perlindungannya. Ia memerlukan perlidungan dari banyak hal termasuk dari mimpi buruk yang membuat tidurnya tidak nyenyak. Entah mimpi apa yang muncul di alam bawah sadar Maureen hingga gadis itu mengernyitkan dahinya. Byan mengusap dahi Maureen dengan lembut. Melap keringat dinginnya dengan tangan polos. Sedikit-sedikit agar tidak mengusik tidur Maureen.
Kata dokter Faisal, Maureen masih berada di bawah pengaruh minuman beralkoholnya. Ia menghabiskan hampir satu botol minuman untuk menghilangkan rasa sedihnya yang sebenarnya tidak pernah bisa hilang. Hanya teralihkan saja.
Doker Faisal juga mengatakan, setelah Maureen siuman, mungkin gadis itu akan muntah, setelah itu Byan di minta memberikan air hangat sedikit demi sedikit. Itu cukup mudah bagi Byan. Tidak sulit apalagi keberatan menjaga wanita yang sangat ia sayangi.
Sudah satu jam berlalu, Maureen baru menggerakkan jemarinya yang di genggam Byan. Byan yang gelisahpun segera memeriksa kondisi Maureen. Ia melihat mata Maureen yang mengerjap.
“Kamu udah bangun?” tanya Byan perlahan.
Maureen tidak menjawab, melainkan segera bangun. Tangan Byan ia kibaskan, ia perlu menutupi mulutnya dengan tangannya sendiri. Ia sangat mual dan rasanya ingin muntah.
“Jangan pergi sendiri, biar aku bantu.” Byan segera menarik tangan Maureen untuk ia kalungkan di lehernya lantas menggendong wanita itu ke kamar mandi. Ia berjalan dengan tergesa-gesa sambil menggendong Maureen lalu membawanya berdiri di depan toilet.
“Muntahlah kalau kamu mau muntah.”
“HUWEK!” benar saja Maureen memuntahkan isi perutnya yang membuat ia mual.
Byan dengan setia menyirami toilet itu tanpa protes sedikitpun. Ia juga memegangi rambut panjang Maureen dan memijat leher Maureen tanpa rasa jijik sedikitpun.
“Huwekk!” maureen masih ingin memuntahkan isi perutnya tapi sepertinya sudah kosong. Tentu saja, karena seharian ini Maureen tidak mengisi perutnya dengan apa pun selain minuman beralkohol.
“Keluarlah Byan, ini sangat menjijikan.” Maureen yang baru sadar kalau Byan ada di sisinya, mendorong laki-laki itu menjauh.
“Aku gak jijik, kamu jangan minta aku pergi. Aku gak akan kemana-mana lagi.” Byan bersikukuh menemani Maureen.
“Huweekk.” Suara Maureen masih menggaung di kamar mandi. Tetap tidak ada sisa pencernaan yang keluar karena perutnya benar-benar kosong. Hanya ada cairan lambung yang membuat mulutnya terasa sangat pahit.
Ia terduduk di depan closet, tubuhnya sangat lemas.
“Kalau sudah selesai, kita kembali ke kamar.” Byan menatap Maureen dengan khawatir. Perempuan itu terlihat sangat lemah. Dengan keringat yang bercucuran dan wajahnya yang pucat pasi.
Maureen berusaha untuk bangkit, ia tidak memperdulikan tangan Byan yang terulur. Ia berusaha bangun sendiri, sudah cukup ia merepotkan Byan.
“Pegangan padaku,” tawar Byan saat Maureen sudah bisa berdiri sempurna.
“Aku bisa sendiri.” Maureen memilih berjalan sendiri. Terhuyung-huyung untuk sampai ke atas ranjang Byan.
__ADS_1
“Jangan keras kepala Maureen, kamu bisa jatuh.” Byan menggendong Maureen tanpa aba-aba hingga wanita itu tidak bisa menolak saat Byan memnggendongnya dan membaringkannya di atas ranjang. Maureen pun tidak lagi protes, tenaganya terlalu lemah hanya untuk sekedar memprotes sikap sembarangan Byan.
Byan menyelimuti Maureen yang sudah kembali terduduk di atas ranjang miliknya. Ia duduk di samping Maureen. Mengambil air hangat yang sudah disiapkan.
“Minumlah, ini akan membuatmu merasa lebih baik.” Byan menyodorkan segelas air pada Maureen. Ia menurut dengan meneguk air di gelas sedit demi sedikit hingga tenggorokan dan perutnya yang kosong merasa hangat dan nyaman.
“Mau makan sekarang? Kata dokter perutmu perlu diisi.” Byan menatap Maureen dengan khawatir.
p
“Tidak perlu, aku belum lapar.” Maureen memalingkan wajahnya dari Byan. Lagi, Ia terpaksa harus bergantung para pria ini.
“Aku punya titipan dari Riswan untukmu. Aku akan memberikannya kalau kamu mau makan.” Byan memberi wanita itu pilihan.
“Mana? Aku mau liat.” Maureen lebih peduli pada benda yang katanya titipan Riswan. Ia ingin tahu, apa yang dititipkan Riswan pada putra tirinya.
“Maureen, kamu sudah melalui banyak hal yang menyedihkan. Kenapa tidak berbaik hati sedikit pada tubuhmu. Jangan menyiksa tubuhmu seperti ini, aku mohon,” pinta Byan dengan sungguh.
Byan meraih tangan Maureen, lalu menggenggamnya dengan erat.
“Cepat berikan barang itu padaku. Aku mau melihatnya.” Maureen dengan keras kepalanya.
Maureen tidak bergeming, hanya matanya saja yang kembali memerah tanpa air mata yang berarti. Mungkin air matanya sudah kering.
Melihat Maureen yang hanya terdiam, Byan mengambil makanan yang sejak tadi sudah disiapkan. Makanannya masih hangat karena baru beberapa waktu lalu diantarkan oleh pelayan. Byan melepas plastik wrapping yang menutupi mangkuk sayur itu dan mengambilnya sedikit dengan sendok.
“Makanlah.” Byan menyodorkan makanan di sendok itu pada Maureen.
Maureen menatap makanan itu dengan nanar. Sejujurnya ia tidak memiliki selera makan tapi Byan benar kalau ia masih perlu sumber tenaga untuk bertahan.
Tanpa rasa ragu Maureen pun menyantap makanan yang Byan sodorkan ke mulutnya. Ia mengunyah makanan itu perlahan dengan tangis yang tertahan. Ia tidak begitu peduli dengan rasa makanan ini, karena sudah sejak lama ini tidak menikmati sensasi makanan apapun. Ia hanya tahu kalau ia harus mengisi tubuhnya dengan nasi dan berbagai lauk.
Byan tersenyum lega, karena akhirnya Maureen mau makan. Ia mengusap kepala Maureen dengan sayang dan wanita itu tidak merespon. Tetap menatap satu titik di depannya. Ia menyuapi Maureen dengan sabar, sesekali mengusap sudut bibir Maureen yang masih menyisakan sisa makanan. Maureen bisa merasakan kehangatan perlakuan Byan terhadapnya.
Setengah piring makanan habis di santap oleh Maureen. Ia sudah tidak mau lagi melanjutkan makannya dengan bujukan apapun.
“Kamu sudah berjanji akan memberikan sesuatu padaku. Tolong berikan sekarang.” Rupanya Maureen sudah tidak sabar.
“Ya, aku berjanji.” Byan meraih tangan Maureen yang menengadah kepadanya lalu menggenggamnya dengan erat.
__ADS_1
“Tapi berjanjilah kalau kamu akan baik-baik saja,” pinta Byan dengan sungguh.
Maureen tidak mengiyakan, ia hanya memandangi tangannya yang digenggam Byan.
“Aku ingin melihatnya sekarang. Tolong berikan padaku.” Bukan Maureen namanya kalau tidak keras kepala seperti ini.
Byan tidak memiliki pilihan lain. Ia mengambil berkas itu dari dalam lacinya lalu memberikannya pada Maureen.
“Aku tau, ini tidak akan mudah untuku Maureen, tapi aku mohon, tegarlah.” Byan mengusap bahu Maureen untuk menguatkan wanita itu. Tapi Maureen tidak bergeming, tentu saja ia snagat tegar makanya ia bisa bertahan sampai sejauh ini. Ia memandangi dokumen project yang pernah ia baca seperempatnya sebelum kemudian di rebut Anggoro dan menggantinya dengan selembar kertas perjanjian. Jantungnya berdebar, seperti ada kenyataan yang bersiap untuk ia saksikan beberapa saat lagi.
“Aku akan menunggu di balkon, kamu memiliki waktu yang cukup dengan dirimu sendiri, aku tidak akan mengganggunya,” tegas Byan yang kemudian beranjak meninggalkan Maureen seorang diri.
Byan terdiam di balkon, dari jendela kaca ia melihat Maureen yang mulai membuka-buka halaman dokumen itu. Ia melihat Maureen tersenyum bahkan tertawa tapi kemudian ia menangis. Menangis sesegukan seraya mengusap air matanya dengan kasar.
Butiran air mata membasahi permukaan buku itu. Sesungguhnya Byan tidak tega melihat Maureen seperti ini tapi ia tidak bisa mengganggu Maureen saat ini. Maureen tidak membutuhkan bantuan apapun darinya selain permakluman yang teramat besar dari Byan.
****
Lebih dari satu jam Maureen berusaha mencerna apa yang sudah ia baca. Ia termenung sendirian dengan banyak pikiran di kepalanya.
Pada akhirnya, ia sadar kalau ucapan Renita yang mengatakan bahwa ayahnya meninggal bukan karena sebuah kecelakaan, memang benar adanya. Dari bukti-bukti ini ia sadar kalau ayahnya sudah di bunuh.
Maureen bisa menghela nafasnya sedikit lega walau rasa marah di dadanya tidak kunjung hilang. Tapi paling tidak ia bisa mengakui satu hal, ayahnya tidak melakukan kelalaian yang merugikan banyak orang. Ibunya pun bukan seseorang yang mengada-ngada, mencari barang bukti yang cukup hanya untuk menjatuhkan Anggoro corp dan meminta timpal jasa atas kerugian yang lebih besar. Ia hanya butuh keadilan untuk suaminya.
Mengingat itu, hati Maureen semakin tercabik. Bayangan wajah Malik dan Renita pun berputar di kepalanya dan membuat sangat merindukan dua orang yang begitu ia cintai.
Selesai membaca dokumen itu, Maureen membaringkan tubuhnya. Ia menyelimuti tubuhnya yang mendadak kedinginan setelah tadi sangat gerah. Ia berbarig menyamping ditemani bulir air mata yang membasahi guling yang ia peluk. Hatinya nelangsa tapi ia tidak pernah bisa mengulang apapun.
Byan memilih untuk masuk ke dalam kamar. Ia menghampiri Maureen dan duduk di samping wanita itu.
“Hey,” Byan mengusap punggung Maureen dengan lembut. Maureen tidak menimpali, hanya suara tangisnya saja yang semakin keras terdengar.
Tanpa di duga, Byan menarik tubuh Maureen untuk kemudian ia peluk dan gadis itupun menangis sejadinya di pelukan Byan.
Ya, tangisnya sangat keras. Ia tidak peduli kalau orang-orang mendengarnya. Selama ini ia menyembunyikan air matanya seorang diri, sangat sesak dan menyakitkan. Tapi kali ini, seperti menjadi titik balik dimana ia bisa menumpahkan perasaannya di dada Byan.
Ternyata ia memerlukan Byan. Ia membutuhkan bahu dan pelukan Byan. Tidak Maureen pungkiri kalau kehadiran Byan sangat ia perlukan. Untuk beberapa saat, Maureen menangis dipelukan Byan hingga perasaannya menjadi lebih baik dan Byan dengan setia menemani wanita itu melewati masa tersulit untuk menerima semua kenyataan yang selama ini hanya angan.
"Maureen, aku tau, kamu kuat. Jauh lebih kuat dari ini."
__ADS_1
****