
Saat ini, Maureen resmi mengajukan tuntutannya ada Edwin. Dengan ditemani dua orang pengacara, mereka mendatangani kantor polisi dan mengajukan peninjauan kembali kasus kecelakaan pembangunan di proyek milik Anggoro.
Semua bukti sudah lengkap dan polisi akan mengeluarkan surat panggilan untuk Edwin, sang tersangka, dalam waktu 1x24 jam.
Maureen bisa sedikit bernapas lega karena usahanya sudah sampai di tiitk ini. Polisi bersedia membuka kembali kasus ini, merupakan hal yang membuat Maureen bersyukur. Akhirnya ia bisa membukan pintu keadilan untuk orang tuanya.
Kabar melegakan lainnya datang dari Riswan. Setelah tahu siapa pelaku penyebaran gossip itu, semua link gossip tentang dirinya dan Byan sudah resmi di tutup. Hanya Edwin yang saat ini kalang kabut karena semua anak panah yang ia gunakan untuk menyerang orang-orang berbalik melawannya.
Satu lagi yang harus Maureen lakukan saat ini yaitu menghadapi para pengacara Anggoro. Orang-orang yang menunggu klarifikasi dari Maureen dan Byan terkait hubungan mereka. Nanti dulu, kita selesaikan satu per satu.
“Gimana, apa berjalan lancar?” Byan menyambut Maureen di pintu kantor polisi.
Maureen memang meminta Byan untuk tidak ikut masuk karena ia ingin menyelesaikan masalah ini dengan para pengacaranya.
“Ya, sejauh ini lancar.” Terdengar hembusan napas lega dari mulut Maureen dan Byan mensyukuri itu. Ia meraih tangan Maureen lalu mengecupnya dengan penuh perasaan.
“Byan, ini tempat umum.” Maureen berusaha melepaskan genggaman tangan Byan. Ia masih merasa takut kalau ada yang memata-matainya saat bersama Byan.
“Mau pergi ke suatu tempat?”
“Apa masih ada waktu?” Maureen melihat jam di tangannya.
“Waktuku selalu luang untukmu,” sahut Byan seraya meraih tangan Maureen dan mengajaknya berjalan bersama menuju mobil.
Entah kemana arah yang akan diambil Byan, Maureen hanya mengikutinya saja. Selama perjalanan, Maureen tampak melamun seorang diri. Sesekali ia tersenyum dan Byan membiarkannya saja.
“Mau sambil dengerin musik?” tawar laki-laki itu, seperti paham.
“Boleh musik rok?” pintanya tidak terduga.
“Kenapa tidak?” Byan menyalakan pemutar musik di mobilnya lalu mentautkannya dengan ponselnya. Ia memutar lagu slow rock dan Maureen tampak menikmatinya.
Ritme alunan music rock perlahan merambat naik, seiring dengan emosi Maureen yang sudah terkumpul, seolah menjadi melodi kegelisahan yang sempurna. Tanpa Byan duga, tiba-tiba saja Maureen menangis. Menangis tersedu-sedu dengan air mata berurai. Byan sadar, Maureen sedang berusaha mengeluarkan semua emosinya. Emosi yang sudah ia tahan sejak dulu dan kerap membuat dadanya sesak.
Byan menaikkan volume suara musiknya. Byan memahami kalau Maureen tipe yang suka menyembunyikan air mata dan rasa hancurnya. Satu hal yang ia lakukan saat ini adalah, menggenggam tangan Maureen dengan erat dan berusaha menunjukkan kalau ia akan selalu ada untuk wanita itu.
Sepanjang perjalanan itu diisi dengan tangis Maureen yang bercampur dengan suara musik rock. Hanya saat musik itu merambat pelan menemuin antiklimaknya, suara isakan Maureen terdengar lebih jelas, tapi tidak lama. Emosinya mulai terkendali.
__ADS_1
“Udah sampe?” tanya Maureen seraya mengusap air matanya. Mobil Byan berhenti di sebuah ruang terbuka yang semula merupakan area perkantoran.
“Hem, kita udah sampe. Kapanpun kamu mau turun, kita akan turun.” Byan mengecupi tangan Maureen dengan lembut.
“Maaf kalau aku membuatmu gak nyaman?” masih ada suara sesegukan diantara kalimat yang diucapkan Maureen.
“Tidak ada yang tidak nyaman saat kamu di sisiku.” Tangan Byan yang lembut, mengusap sisa air mata di pipi Maureen.
“Terima kasih.” Maureen berujar dengan sungguh. Ia tidak bisa membayangkan kalau Byan tidak ada di sisinya saat ini, mungkin ia akan menangis sendirian tanpa sandaran.
Byan tidak menjawab, ia menangkup kedua sisi wajah Maureen lalu mendekatkan tubuhnya pada Maureen lantas mengecup pucuk kepala Maureen dengan penuh perasaan.
“Jangan terlalu banyak berterima kasih sama aku, karena aku masih memiliki banyak hutang terhadapmu.” Byan berujar dengan lirih. Ia menatap netra merah dan basah itu lalu mengecup singkat bibir Maureen yang sedikit mengerucut dan bergetar karena masih menahan tangisnya.
Tanpa aba-aba, Maureen membalasnya dengan memeluk Byan. Pelukan yang sangat erat. Ia merasa kalau Byan satu-satunya orang yang bisa ia harapkan keberadaannya dan menemaninya melewati banyak hal yang sulit untuk ia taklukan seorang diri.
Byan tersenyum kecil, penuh syukur. Ia merasa kalau Maureen tengah benar-benar membuka hatinya. Mungkin perasaannya jauh lebih lega setelah mencapai titik ini. Titik yang ia perjuangkan sejak lama.
Cukup lama mereka berpelukan, merasakan desiran perasaan satu sama lain dan merasa saling memiliki. Setelah merasa lebih tenang, mereka memutuskan untuk turun. Maureen duduk di salah satu bangku yang mengelilingi sebuah danau. Ia menatap nanar riak air yang berkilauan terkena cahaya matahari.
Sesekali riakan itu melebar saat terkena kibasan ekor ikan mas. Cukup menenangkan untuk hatinya yang gundah berangsur pulih.
“Makasih,” dengan senang hati Maureen menerimanya.
Mereka sama-sama menyeruput capucino hangat itu dan merasakan sensasi sedikit pahit lalu manis di pangkal lidah.
“Byan,” panggil Maureen yang masih memandang jauh ke depan. Memperhatikan riakan air yang semakin lama semakin melebar. Beberapa ekor ikan muncul ke permukaan, butuh untuk menghirup udara yang membuat rongga parunya mulai sesak.
“Ya,” byan dengan setia mendengarkan.
“Aku pikir, sudah waktunya aku mengundurkan diri dari Anggoro corp.” Kalimat Maureen terdengar tegas dan penuh keyakinan.
“Apa menurutmu urusanmu dengan Anggoro sudah selesai?” Byan mencoba memahami.
Maureen mengangguk kecil. Memainkan gelas plastik yang ada di tangannya dengan memutar-mutarnya.
“Sejak awal aku masuk ke Anggoro corp, tujuanku adalah untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada ayahku. Aku tidak pernah benar-benar berniat untuk bekerja disana.”
__ADS_1
“Walau tidak aku pingkiri kalau aku mendapatkan banyak pengalaman berharga selama di Anggoro corp, tapi selama ini aku tidak pernah benar-benar menikmati pekerjaanku. Tujuanku masih tetap sama dan tidak pernah berubah.”
Maureen menghembuskan nafasnya kasar lalu menyandarkan kepalanya di bahu Byan yang bidang. Ia merasa butuh sandaran.
“Moment saat ayahmu mengetahui kalau aku berniat menghancurkan Anggoro corp, menjadi moment yang membuatku semakin yakin kalau perusahaan itu menyembunyikan sesuatu. Terlebih saat dia memberiku penawaran yang tidak pernah aku duga. Aku memang menyetujuinya tapi itu tidak bisa mengganti rasa kehilangan dan rasa marahku.”
“Saat ini, aku merasa apa yang harus aku lakukan sudah selesai. Aku sudah tidak punya tujuan apa pun lagi di perusahaan itu. Aku juga tidak memerlukan uang milik ayahmu.”
Maureen menegakkan tubuhnya lalu menoleh Byan yang sedang mendengarkannya.
“Tentang Tifani, aku akui aku memang pernah meminta bantuan dia untuk menjebakmu agar mau menandatangani surat persetujuan pemberian hak waris itu untukku. Saat itu pikiranku sangat sempit. Aku berpikir, kalau aku berada di puncak kekuasaan Anggoro corp, aku bisa dengan jelas melihat geliat setiap orang yang dulu memiliki andil dalam kematian ayahku. Aku juga bisa menundukkan orang-orang yang congak terhadapku. Lebih dari itu, aku bisa dengan mudah menghancurkan Anggoro corp dari puncaknya.”
“Tapi saat ini, aku bersyukur karena kebodohan Tifani malah membuat rencanaku gagal. Aku gak bisa membayangkan kalau saat itu aku berhasil, mungkin aku tidak akan bisa mengenalmu Byan.”
Pada kalimat ini Maureen tersenyum tipis. Ia mengusap pipi Byan dengan sayang.
“Aku juga tidak akan merasakan bisa sedekat ini dengan seseorang yang dulu menjadi musuh besarku. Seseorang yang membuatku sadar kalau musuh terbesarku adalah kemarahanku sendiri.”
Maureen meraih tangan Byan dan mentautkan jarinya di sela jari Byan lalu ia genggam dengan erat.
“Ayahmu sempat menangis saat dia tahu kalau keberadaanku di perusahaan itu karena ingin membalaskan dendam atas kematian ayahku. Dia sempat bertanya, seperti apa sosok kedua orang tuaku hingga aku berani melangkah sejauh itu. Aku bilang, yang dilakukan orang tuaku sederhana. Mereka membuatku merasa dicintai.” Maureen kembali tersenyum mengingat ekspresi Anggoro kala itu.
“Lalu dia bilang, dia pantas untuk iri pada orang tuaku karena dia tidak pernah berada pada posisi itu. Putranya sangat membencinya karena banyaknya kesalahan yang dia lakukan. Dia mengakui kalau dia ayah yang gagal, juga suami yang gagal. Tapi ia harap, paling tidak, ia tidak menjadi pimpinan perusahaan yang gagal dan menyengsarakan banyak karyawan yang menggantungkan hidupnya pada perusahaan ini. Ia tidak mau ada Malik berikutnya yang menjadi korban atas kelalaian perusahaan ini.
“Aku tidak dalam kapasitas membelanya Byan, tapi aku hanya bisa berkata kalau Anggoro adalah seorang laki-laki biasa yang kesulitan mengendalikan hasratnya sebagai manusia normal. Aku juga tidak memintamu memaklumi semua kesalahannya, karena sampai kapanpun menyakiti pasangan itu adalah perbuatan yang salah."
"Hanya saja, kamu harus tau kalau dia sudah berusaha keras untuk memperbaiki semuanya. Dan laki-laki itu masih memiliki kebaikan walau dari sisi yang lain.”
“Yang selalu aku ingat adalah, Anggoro tidak pernah menjelekkan ibumu walau hanya satu kali. Dia bilang, ibumu wanita istimewa yang tidak akan pernah bisa tergantikan oleh satupun wanita yang pernah ia temui. Sebelum kami menikahpun, ayahmu mengajakku ke makam ibumu. Dia berbicara cukup lama dengan ibumu. Dia bilang, cintanya terhadap ibumu akan selalu lebih besar di banding pada wanita lain, aku tidak boleh iri. Dan pernikahannya denganku, hanya sebuah usaha untuk melindungiku dan membuatku memaafkannya.”
“Byan, pada akhirnya, hanya kamu sendiri yang bisa menilai seperti apa Anggoro. Anggap saja, ini pandangan berbeda dari orang asing yang pernah menerobos masuk ke dalam hidup kalian.”
Maureen terdiam, ia merasa apa yang harus ia katakan sudah tuntas seluruhnya. Di memandangi wajah Byan yang entah seperti apa perasaannya. Maureen mengecup tangan Byan beberapa saat dengan penuh perasaan.
“Setelah ini, bisakah kamu membiarkan aku pergi beberapa saat? Datanglah jika kamu merasa sudah melakukan hal yang lebih baik dari sekedar yang ayahmu lakukan. Penuhi dendammu dengan cara yang lebih baik.” Maureen menatap lekat Byan yang menatapnya sendu. Ia mendengarkan semua celotehan Maureen yang tidak tahu seperti apa otaknya memproses itu semua.
Yang jelas, Byan tidak menjawab. Ia hanya memeluk Maureen cukup lama, ya cukup lama. Sampai kemudian matahari berangsur turun menjemput lembayung yang menghibar.
__ADS_1
****