Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Ibu tiri dan anak tiri


__ADS_3

Pertemuan dengan investor ternyata berjalan dengan sangat lancar. Ini kali pertama Byan bernegosisasi dengan rekanan dalam masalah bisnis dan investasi. Biasanya ia hanya bernegosiasi dalam hal pengadaan pameran lukisan dan siapa saja yang akan ikut bergabung. Tapi kali ini, semuanya lebih kompleks.


Pada dasarnya sama, yaitu merayu rekanan mereka. Tapi, kali ini tantangannya lebih besar karena yang dtemui Byan adalah pebisnis kelas kakap.


Penjelasan Maureen sejak semalam benar-benar membantu Byan. Di tambah kemampuan berbahasa asingnya yang mumpuni, membuat Byan terlihat unggul saat menyampaikan persentasi singkatnya.


Rekanannya mengangguk-angguk saja, paham benar dengan uraian yang disampaikan Byan. Ia tidak lagi memiliki keraguan untuk berinvestasi setelah mengetahui kalau puncuk pimpinan Anggoro corp adalah sang pewaris yang mampu meneruskan usaha mendiang sang ayah.


Perkiraan Maureen tidak meleset, menempatkan Byan pada posisi direktur memang memberi pandangan positif bagi para rekanan perusahaan. Dan hal ini ia buktikan dengan nyata.


Setelah makan siang dan berjabat tangan erat, dua orang pebisnis kelas kakappun berpisah. Rekanan Byan kembali ke negaranya sementara Byan mengikuti agenda selanjutnya yang sudah di tentukan oleh Maureen.


“Adduuhh pundakku pegal sekali. Apa aku boleh meminta personal assistantku untuk membantu memijatku?” Byan menoleh Maureen yang duduk di sampingnya. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju mall untuk memberi segala perlengkapan yang Byan perlukan.


“Aku akan memanggilkan tukang pijat untukmu.” Maureen masih tetap sibuk dengan tabnya. Jadwal yang harus ia susun terlalu banyak.


“Tidak bisakah kamu melakukannya sebentar? Hem? Sekali ini saja, pundakku sangat pegal.” Byan merajuk, menyikut lengan Maureen dengan sengaja.


“Ayolah Byan, jangan merajuk. Kamu bukan anak kecil.” Maureen terlihat kesal. Ia melirik Byan dengan sinis.


“Tapi aku kan memang masih anak-anak. Anakmu,” bibirnya mengerucut sengaja saat menyebut kata terakhirnya.

__ADS_1


“Astaga!!! Kamu mau aku banting apa aku siram kopi?” Maureen semakin kesal. Ia tidak terbiasa mendengar rengekan orang lain, sekalipun itu anak kecil. Karena menurutnya, itu terlalu menunjukkan kelemahannya.


“Pijat sedikit saja, punggungku sangat pegal. Pleaseeee....” Byan tetap dengan keinginannya. Ia bahkan sudah memiringkan tubuhnya membelakangi Maureen dan menunjukkan bahunya yang mengkerut seperti benar-benar lelah.


“Tolong urusi aku ibu tiri.” Rengek toddler dengan nada suara lirih.


Maureen berdecik kesal. Walaupun begitu, ia tetap mematikkan tab nya dan menggunakan ujung jari telunjuknya untuk menekan pundak Byan yang katanya pegal.


Bisa Maureen rasakan kalau bahu Byan memang sangat tegang. Pria ini benar-benar kelelahan.


“Coba lebih keras sedikit. Itu gak kerasa.”Toddler ini malah meminta lebih.


“Cukup enak, tapi masih belum terasa nyaman.” Byan memejamkan matanya sambil menikmati pukulan Maureen di bahunya.


“Jangan kolokan, kita ke terapis aja.” Maureen akhirnya menyerah.


“Hahahaha …. Ibu tiriku memang sangat suka menghamburkan uang. Untung Anggoro tidak bangkrut.” Ledek Byan.


“Yaa kita udah bekerja keras, kenapa gak kita nikmati hasilnya?” Maureen berkilah.


“Tjackeeeppppp!!!!” Byan mengacungkan jempolnya pada Maureen, tepat di depan wajahnya.

__ADS_1


“Ish, apaan sih!” Maureen segera menepis tangan Byan yang menurutnya mengganggu.


“Kamu marah-marah terus, seolah kamu memang ibu tiri yang galak. Apa semelelahkan itu mengurus dan mengajariku?” kali ini Byan bertanya dengan pelan. Ia menatap lekat wajah Maureen yang ada di hadapannya.


“Tidak perlu membahas masalah pribadi. Saat ini kita sedang bekerja secara professional.” Tegas Maureen seraya bersidekap.


“Iya aku tau. Tapi ini kan jam istrahat. Lagi pula selain kita partner kerja, kita ini keluarga. Seorang ibu tiri dan anak tiri. Boleh lah sedikit berbicara hal pribadi. Aku lihat selama ini kamu terlalu keras terhadap dirimu sendiri. Apa kamu gak capek?” Ungkap Byan dengan penuh perhatian.


Maureen tidak menimpali, ia lebih memilih memalingkan wajahnya dan melihat keluar jendela.


“Di depan sana kita belok kanan. Kita ke mall aja dulu, nyari kemeja.” Titah Maureen pada Riswan.


“Baik,, nyonya.” Riswan melihat ekspresi Maureen yang entah, saat ini. Entah apa yang dirasakan Maureen saat ia menghembuskan nafasnya sedikit kasar.


Ia juga memukulkan mapnya pada Byan saat Byan menatapnya dengan lekat dari samping.


Tapi pria itu hanya terkekeh, lantas menyandarkan tubuhnya pada sandaran jok sambil memejamkan matanya. Maureen memang terlalu keras kepala.


Tanpa Byan tahu, Maureen menolehnya dan menatapnya beberapa saat. Ia juga menghembuskan nafasnya dengan lega. Entah kelegaan atas apa yang ia rasakan saat ini.


****

__ADS_1


__ADS_2