Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Menunjukkan tekad


__ADS_3

Wanita yang sedang Edwin bayangkan itu, saat ini tengah berada di ruang kerja Anggoro bersama Byan. Mereka tengah membahas dokumen yang menjadi bukti kejahatan Edwin. Bukti-bukti di susun rapi dan di kelompokkan berdasarkan jenis bukti. Juga temuan yang didapatkan oleh Renita di lokasi kejadian.


Maureen sadar benar, kalau ibunya telah melakukan banyak hal untuk membuktikan kalau kematian Malik bukanlah sebuah kecelakaan. Dan hari ini, Maureen melihat dengan jelas kalau semua bukti tu sudah menjadi puzzle yang sempurna untuk diajukan ke pihak kepolisian.


"Kapan kamu akan mengajukan tuntutan ini?" Byan bertanya pada Maureen yang sedang menempelkan satu per satu barang bukti di atas selembar kertas utuh.


"Secepatnya. Aku ingin semua ini segera selesai." Maureen terlihat tenang, namun jelas dalam hatinya ia tengah sangat berapi-api.


"Kamu mau pake pengacara yang mana?" Byan memperhatikan lekat wanita di sampingnya.


"Aku punya pengacara sendiri. Tidak ada hubungannya dengan Anggoro corp jadi tidak akan berpengaruh pada proses hukum ini nantinya." Maureen berujar dengan penuh percaya diri.


Byan terangguk paham, ia mengerti benar keinginan Maureen.


Merasa tidak ada sanggahan dari Byan, wanita itu menoleh lelaki yang duduk di sampinya. Entah apa yang saat ini sedang dipikirkan Byan, namun sudah pasti laki-laki ini pun memiliki kecemasan pada perusahaannya.


"Walaupun tuntutan hukumku aku tujukan pada personal, yaitu pada mas Edwin tapi sedikit banyak Anggoro corp akan ikut diperiksa. Aku harap kamu bisa memaklumi itu." Maureen mengingatkan hal yang menurutnya perlu.


"Tidak masalah, lakukan apa yang menurut kamu benar. Aku sadar, Anggoro corp pun memiliki andil dalam masalah ini."


Maureen menatap lekat wajah laki-laki ini. Ia mengambil ponsel yang ada di hadapannya lalu mengirimkan sesuatu pada Byan.


"Apa ini?" tanya Byan saat melihat sebuah dokumen dikirimkan Maureen padanya.


"Itu adalah daftar orang-orang yang kemungkinan menerima suap dari kontraktor nakal. Bereskan dulu mereka sebelum polisi melakukan pemeriksaan di Anggoro ccorp." Maureen menjawab dengan tenang.


"Dari mana kamu dapet data ini?" Byan menatap data itu dengan tidak percaya. Ada sekitar enam orang yang masuk dalam daftaran yang di buat Maureen beserta aliran dana mereka serta taksiran kekayaannya saat ini. Semuanya begitu lengkap disertai bukti penyimpangan yang mereka lakukan.


"Aku ingin kamu melindungi orang yang memberikan data ini dan memastikan dia selamat dari tangan mas Edwin."


"Ya aku tau, tapi siapa orangnya? Siapa yang harus aku lindungi keselamatannya?"

__ADS_1


Byan semakin tidak habis pikir. Ia mengira selama ini perusahaan ini berjalan baik-baik saja tanpa ada tikus kantor yang berani mencuri keju dari tempat penyimpanan. Ia begitu yakin karena perusahaan ini menggaji karyawannya dengan gaji yang jauh lebih besar di banding karyawan di perusahaan lain. Tapi ternyata, masih saja ada orang-orang yang rakus dan ingin mengambil apa yang bukan menjadi hak mereka.


"Melda. Kamu harus memastikan gadis itu selamat tanpa ada intimidasi dari pihak manapun."


"Melda? PA om Edwin?" Byan semakin tidak percaya.


"Ya." Maureen berujar dengan penuh keyakinan.


"Kamu mungkin berpikir kalau Melda PA oti sangat buruk, tidak tau tugasnya apa dan gampang panikan. Tanpa kamu tahu, gadis itu sangat mahir menggali data. Untuk itu, aku memasang Melda sebagai PA mas Edwin dan memata-matai mas Edwin. Jadi pastikan gadis itu aman sampai kapanpun," tegas Maureen.


Byan hanya terdiam. Otakknya masih berusaha berpikir dan mencerna apa yang Maureen jelaskan. Tidak lama kemudian, Byan pergi dari hadapan Maureen. Ia perlu menghubungi seseorang. Orang yang begitu ia percaya dan ada di perusahaan itu.


Melihat Byan yang bergerak cepat, Maureen hanya bisa tertegun. Pada akhirnya, harapan Anggoro terwujud yaitu membuat Byan membela perusahaan miliknya.


"Kamu tau Maureen, putraku sangat membenciku." Ucapan itu dikatakan Anggoro beberapa hari setelah menjalani operasi pemasangan ring. Laki-laki itu duduk di atas kursi roda, menghadap jendela besar yang tertuju ke taman.


"Aku tidak pernah menyalahkan dia yang membenciku karena aku sadar alasannya sangat wajar. Aku sering kali menyakiti ibunya dan menunjukkan semua tabiat burukku di hadapannya."


"Sebagai seorang laki-laki, tidak aku pungkiri kalau hasratku pada wanita masih sangat tinggi. Andini tidak pernah bisa memenuhi itu dan aku tidak bisa menahannya. Itulah kesalahan terbesarku hingga kemudian aku kehilangan istri yang dulu sangat aku cintai dan putra yang sangat aku banggakan."


"Sekarang, aku sendirian Maureen. Entah bagaimana kondisi perusahaanku kelak. Tapi aku berharap, jika kelak Byan pulang, kamu mau membantuku untuk membuat dia mencintai perusahaan ini dan mau meneruskan apa yang sudah aku rintis dengan susah payah. Bisakah Maureen?"


Seperti saat ini, Maureen tidak berjanji apapun pada Anggoro.


"Aku tidak bisa menjanjikan apapun. Tapi akan aku pastikan kalau anakmu akan melihat kehancuran orang-orang yang merusak keluargaku. Dia sendiri yang akan membantuku." Hanya tu yang Maureen katakan pada Anggoro.


Saat itu, Anggoro hanya tertawa. Tertawa sangat lebar hingga matanya berair. Entah apa yang laki-laki itu tertawakan. Mungkin tekad Maureen yang sangat mustahil.


Jika mengenang hal itu, Maureen hanya bisa ikut tertawa. Tertawa dalam hati karena pada akhirnya ia bisa membuktikan apa yang ia janjikan pada Anggoro.


"Selamat malam, nyonya," sapa sebuah suara yang begitu di kenal Maureen. Suara yang menyebalkan dan begitu ia benci. Siapa lagi kalau bukan Riswan.

__ADS_1


Maureen tidak menjawab, ia memilih beranjak dari tempatnya dan meninggalkan Riswan.


"Tolong tunggu sebentar, nyonya. Beri saya waktu dua menit saja untuk berbicara dengan Anda." Riswan menjeda langkah Maureen yang sudah mau pergi.


Maureen bersidekap angkuh dan memalingkan wajahnya dari Riswan. Ia masih belum beranjak, berusaha menenangkan dirinya. Percayalah, ini sangat sulit ketika kita dipaksa berhadapan dan mendengarkan penjelasan dari orang membuat kita murka.


"Terima kasih nyonya, nyonya memberi saya kesempatan untuk bicara." Laki-laki itu kembali menatap Maureen dengan seksama.


"Cepat bicara, aku tidak punya waktu lama." Maureen dengan sikapnya yang sinis.


Riswan mengangguk paham. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya.


"Saya tidak tau, apa yang saya berikan ini akan cukup membantu Anda atau tidak, nyonya. Tapi saya harap, ini bisa menambah daftar bukti yang sedang Anda kumpulkan." Riswan menyodorkan sebuah flashdisk pada Maureen.


"Di dalam flashdisk ini, berisi bukti percakapan saat tuan Edwin memerintahkan salah satu karyawan proyek untuk menyalakan listrik. Silakan, nyonya bisa memeriksanya sendiri."


Perhatian Maureen pun beralih pada benda kecil tipis itu. Ia masih tidak menyangka kalau Riswan memiliki bukti ini.


"Apa lagi sebenarnya yang masih kamu miliki? Berapa banyak yang masih kamu sembunyikan?" Maureen menatap Riswan dengan heran. Ia mengambil flashdisk itu dan menggenggamnya dengan erat.


"Tidak ada nyonya, tidak ada lagi yang saya sembunyikan. Semuanya sudah saya serahkan."


"Harus saya katakan, ketika semua keadilan ini terwujud, bukan hanya nyonya yang mendapatkan keadilan tapi juga tuan Anggoro. Saya sangat yakin kalau perlahan orang-orang yang selama ini menggerogoti Anggoro corp dari dalam, akan pergi satu per satu." Riswan berujar dengan sungguh.


"Kenapa kamu sangat melindungi perusahaan ini? Bukankah baik atau buruknya perusahaan ini bukan tanggung jawabmu sepenuhnya?" Maureen mulai penasaran. Terlalu banyak rahasia yang disimpan Riswan dan kecintaannya terlalu besar pada perusahaan ini.


"Karena, saya tahu sulitnya merintis perusahaan ini. Saya melihat bagaimana usaha tuan besar untuk mewujudkan semua impiannya. Maka, saya tidak akan membiarkan Anggoro corp hancur begitu saja."


Maureen melihat mata Riswan yang begitu bersungguh-sungguh saat mengucapkan kalimat itu. Maureen yakin, laki-laki ini tidak sedang membual.


Bukankah tidak salah kalau Maureen memberikan kesepatan kedua untuk mempercayai laki-laki ini?

__ADS_1


*****


__ADS_2