
Pulang ke rumah di waktu bersamaan, tidak bisa dihindari oleh Maureen dan Byan. Mobil mereka bersusulan masuk ke halaman rumah yang luas dan megah.
“Dari mana dia?” Byan memperhatikan Maureen yang baru turun dari mobil mewahnya. Wanita itu berpakaian rapi dan berias cantik seperti biasanya.
Sudah sampai di mulut pintu, Maureen di sambut oleh seorang pelayan yang mengambil alih mantel Maureen. Byan segera menyusulnya.
“Selamat malam tuan muda,” sapa pelayan.
Byan tidak menanggapi ia lebih fokus untuk mempercepat langkahnya menyusul Maureen.
“Kamu dari luar?” tanya Byan penasaran, bukan sekedar berbasa-basi.
“Bukankah kamu baru melihatku masuk?” timpal Maureen, tidak terusik sama sekali dengan pertanyaan Byan.
Byan sedikit mendekat, membuat ia bisa mencium wangi parfum Maureen dan bau asap rokok yang menempel di tubuhnya.
“Kamu dari club?” Byan masih dengan pertanyaannya.
Di pertengahan tangga, Maureen menghentikan langkahnya. “Tidak perlu pusing dengan urusanku selama aku bisa mengatur pekerjaanku dan tidak merugikanmu. Fokus saja pada apa yang harus kamu lakukan besok.” Ucap Maureen yang menahan kesal.
Bukan pada Byan, tapi pada Luky yang selalu berusaha merendahkannya. Tapi rasa kesal itu masih terbawa sampai ke rumah.
“Memangnya apa yang harus aku lakukan besok? Apa kamu sudah menyusunnya untukku?” Byan benar-benar menguji kesabaran Maureen.
Maureen terdiam beberapa saat, mengatur nafasnya untuk menenangkan dirinya sendiri.
“Aku akan mengirimkannya nanti. Silakan menunggu.” Sahut Maureen seraya mengangguk pelan.
__ADS_1
Ia beranjak pergi lebih dulu meninggalkan Byan yang masih mematung di tempatnya.
“Apa aku tidak boleh tau apapun yang kamu lakukan?” suara Byan terdengar keras dan didengar Maureen.
Langkah Maureen terhenti, ia berpikir beberapa saat. Tapi kemudian ia melanjutkan langkahnya saat ia sadar ia harus fokus pada apa yang ia rencanakan sekarang.
“Gak cuma ranjangnya yang dingin, orangnya juga terlalu dingin.” Komentar Byan saat melihat Maureen berlalu begitu saja.
Di dalam kamarnya, Byan menanggalkan satu per satu bajunya. Ia masuk ke kamar mandi untuk mengguyur tubuhnya. Udara panas di luaran membuat ia merasa tidak nyaman.
Di bawah guyuran shower saat ini Byan berada. Air menetes membasahi ujung kepala hingga ke ujung kaki. Melewati dada bidang dengan perut yang rata dan berotot. Ada rambut-rambut halus penghias dadanya yang tegap. Semua keindahan itu terlihat jelas dari pantulan kaca.
Sambil menikmati tetesan air yang menenangkan tubuhnya, pikiran Byan menerawang pada kejadian siang tadi. Bagaimana cara Maureen untuk meyakinkan manajemen agar menyetujui posisi Byan sebagai direktur utama, begitu memukau bagi Byan.
Wanita itu begitu lugas menyampaikan alasannya hingga tidak ada kesempatan bagi orang-orang itu untuk berpikir ulang atas keputusan yang di ambil.
Sejak pagi, ia lebih asyik mengatur banyak hal yang disiapkan Maureen termasuk menyusun jadwal rapat yang harus dilakukan Byan sebagai pucuk pimpinan. Kecerdasannya dalam mengatur waktu terlihat jelas dari cara ia menyampaikan rundown acara. Byan jadi tidak sabar untuk mendengar kembali suara Maureen yang menyampaikan agenda kegiatannya besok.
Byan segera mematikan keran saat ia sudah merasa lebih segar. Ia segera memakai handuk dan keluar dari kamar mandi. Tubuhnya masih basah, begitupun dengan rambutnya. Beberapa bulir air masih menetes melewati barisan otot yang tertata rapi. Ia handuki sebentar sebelum kemudian mengecek ponselnya yang menunjukkan notifikasi pesan masuk.
Lima menit lalu, ada pesan masuk dari Maureen. Ia mengirimkan materi untuk pertemuan besok.
“Aku tidak memahaminya, aku lebih suka dijelaskan langsung.” Balas Byan yang bahkan belum membuka isi pesan tersebut.
“Ketemu di balkon.” Balas Maureen. Ia sudah menduga kalau Byan memang tidak akan memahami pesannya begitu saja.
****
__ADS_1
Balkon, menjadi tempat mereka bertemu. Maureen menunjukkan halaman di layar tabletnya yang ia tunjukkan pada Byan. Byan tersenyum kecil saat melihat Maureen yang mengenakan kacamata saat membaca materi. Ini penampilan yang asing bagi Byan.
“Apa mata tuamu sudah mulai rabun?” goda Byan dengan senyum tertahan.
“Otakku tidak perlu bekerja keras untuk sekedar memahami semua materi mudah ini.” Timpalan Maureen ternyata lebih sadis dari pertanyaan Byan.
Byan hanya terkekeh, membuat Maureen mendelik kesal.
“Simak baik-baik apa yang akan aku jelaskan, karena aku tidak suka mengulang penjelasan untuk hal yang sama.” Maureen mengawali kalimatnya dengan tegas.
“Tentu.” Byan langsung menegakkan tubuhnya dan bersiap menyimak.
Mereka duduk bersisian dengan jarak yang cukup dekat. Hanya sekitar dua atau tiga senti saja sampai tubuh mereka bersentuhan. Layar tablet yang tidak terlalu besar membuat mereka arus berdekatan seperti ini. Tidak masalah, karena Byan merasa nyaman saja.
“Nilai investasi dari investor kakap kita adalah sekitar tiga puluh dua persen dari total investasi yang ada di perusahaan. Ini trend peningkatan nilai investasi dan keuntungan yang kita dan mereka dapatkan.” Maureen melingkari dua angka besar yang nyaris sebanding.
“Dua bulan kemarin adalah puncak investasi mereka, tepatnya sebelum mas Anggoro meninggal. Kalau bulan ini mereka mencabut investasinya, makan besaran kerugian yang akan mereka dapatkan adalah sebesar delapan belas persen dari total keuntungan investasi mereka dan kerugian kita sekitar dua belas persen.”
“Tekankan pada point ini, tidak perlu membahas detail kerugian kita karena kita hanya ingin membujuk mereka untuk tidak menarik investasinya. Kerugian kita pun cukup besar tapi tidak perlu kamu soroti. Kita posisikan dia sebagai pihak yang akan lebih rugi di banding kita. Yakinkan mereka dengan data ini dan ini.”
Maureen kembali melingkari dua nilai curva yang di tatap lekat oleh Byan.
“Okey, lalu bagaimana dengan nilai pengembangan di sini?” proses diskusi ternyata mulai menyenangkan.
Sedikit banyak Byan mulai memahami penjelasan Maureen. Entah karena laki-laki ini memang cukup cerdas karena memiliki trah darah bisnis Anggoro, atau karena Maureen yang mahir dalam hal menjelaskan, membuat diskusi itu bertahan hingga larut malam.
Jam sebelas malam mereka masih asyik berdiskusi di temani bintang malam yang semarak di atas sana. Entah jam berapa mereka kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
__ADS_1
****