
Taman belakang, menjadi tempat yang akhirnya membuat dua orang itu bertemu. Karena galau, Byan melanjutkan melukis di dinding, sementara Maureen datang ke sana, niatnya dadalah untuk berenang. Ia ingin menenangkan pikirannya yang terasa berantakan.
Di balik handuk pijamanya itu, Maureen mengenakan baju renang. Rambutnya ia cepol tinggi-tinggi dan kacamata hitam bertengger di atas hidungnya yang bangir. Menutupi mata bulat yang sedang memperhatikan Byan dari kejauhan.
“Ini sunscreennya nyonya.” Ucap seorang pelayan yang menyusul Maureen.
“Hem, balurkan.”
Maureen duduk di atas kursi santai, ia menurunkan sedikit pijama mandinya agar pelayan bisa leluasa membalurkan sunscreen di beberapa bagian tubuhnya.
Tangan pelayan sudah mulai bekerja melumuri tubuh Maureen dengan sunscreen sementara Maureen masih memandangi lukisan Byan yang nyaris selesai. Gambar yang dibuat Byan semakin jelas saja dan kontras warnanya sangat menarik. Rasanya tidak aneh kalau lukisannya begitu berkelas dan anak tirinya itu sudah dua kali menyelenggarakan pameran lukisan dengan sukses.
“Kaki anda nyonya?” pelayan itu bersimpuh di hadapan Maureen.
Maureen memberikan kakinya yang kemudian di tempatkan di atas pangkal paha sang pelayan. Matanya masih tertuju pada Byan.
“Apa yang biasa kamu lakukan saat kamu merasa bersalah?” tanya Maureen tiba-tiba.
Saat melihat lukisan Andini, ia jadi mengingat ucapannya pada Byan. Ucapan yang asal dan pasti melukai hati anak tirinya.
Maureen memang tidak berniat menyinggung Byan, tapi karena kekesalannya terkadang membuat kalimat yang tidak enak didengar lolos keluar dari mulutnya. Dan melihat lukisan itu, Maureen jadi teringat pada sosok wanita yang meninggalkannya karena putus asa.
Ia masih mengingat bagaimana sekujur tubuh ibunya yang tergantung lemah dan menyambutnya di depan pintu, sepulang ia sekolah. Wajahnya pucat bukan hanya karena sudah tidak bernyawa tapi juga karena berduka atas masalah yang menimpa keluarganya.
“Akh sial,” dengus Maureen seraya menaikkan kacamata hitamnya ke atas kepala. Hatinya kembali tercabik mengingat kejadian itu dan keinginanya untuk membalas dendam pada keluarga pemilik perusahaan ini malah semakin besar.
Dengusan Maureen membuat pelayan urung mengeluarkan kalimat dari mulutnya. Sepertinya Maureen tidak terlalu menunggu untuk ditanggapi. Ia hanya sedang berbicara dengan pikirannya sendiri.
“Nyonya mau saya buatkan jus apa?” tanya pelayan itu setelah selesai membalur tubuh Maureen dengan sunscreen.
Setiap kali berenang biasanya Maureen selalu meminta dibuatkan jus.
“Salada Green Romaine dan Sawi Dakota.” Pinta Maureen seraya melepas kacamatanya. Ia masih perlu mendetok perutnya yang masih tidak nyaman.
“Baik nyonya.” Pelayan itu mengangguk patuh. Ia segera undur diri meninggalkan Maureen yang sudah melepas pijama handuknya.
Terduduk di tepian kolam renang dan “byur,” Maureen masuk ke dalam air yang dingin.
Perhatian Byan yang sedang melukispun teralihkan. Ia melihat sosok Maureen yang sedang berenang di bawah permukaan air. Rupanya Maureen juga jago berenang, cukup lama ia berada di dalam air.
Satu jalur renang di selesaikan Maureen, ia berputar dan menggunakan kakinya untuk membuat hentakan saat berbalik arah. Sesekali kepalanya muncul kepermukaan untuk sekedar mengambil nafas. Byan jadi memperhatikan Maureen yang berada di bawah air. Sosoknya terlihat berkilauan karena cahaya matahari.
Dua putaran di lalui Maureen. Ia berhenti sejenak dan menyelamkan tubuhnya di kolam.
“Apa menyenangkan?” tanya Byan saat Maureen muncul kepermukaan. Ia berdiri di tepian kolam renang dan memperhatikan Maureen dari sana.
__ADS_1
“Cukup menyegarkan.” Timpal Maureen.
Ia segera menepi, naik melalui tangga kolam renang dan tidak lama sosok tubuhnya yang langsing sempurna bak gitar spanyolpun terlihat oleh Byan.
Byan segera memalingkan wajahnya ke arah lain sampai kemudian Maureen selesai memakai pijama mandinya dan tubuhnya tertutup.
“Jus anda nyonya.” Pelayan sudah kembali membawa minuman permintaan Maureen.
Dengan senang hati Maureen mengambilnya dan duduk di teras rumah sambil menikmati minumannya. Byan pun datang mendekat. Ia ikut duduk di kursi santai samping Maureen yang hanya terhalang oleh meja bundar.
“Jadi itu nomormu?” tanya Byan memulai keheningan.
Maureen tidak lantas menimpali, ia menghabiskan terlebih dahulu jus sayurnya hingga tandas. Sementara itu, Byan dengan sigap membukakan penutup botol air mineral dan mendorongnya mendekat pada Maureen.
“Thanks.” Ucap Maureen yang merasa terbantu.
Ia meneguk air mineralnya sementara Byan hanya memandangi leher jenjang Maureen yang bergerak sinergi saat air segar itu melewati tenggorokannya.
Hanya beberapa saat saja ia memandangi sebelum akhirnya memilih memalingkan wajahnya.
“Aku juga punya seorang ibu, pasti akan marah saat mendengar seseorang berbicara sarkas tentang dia.” Ucap Maureen meneruskan kalimatnya yang semula ingin ia kirim lewat pesan.
“Ucapanmu memang menyebalkan, sekalipun kamu merasa ibuku sainganmu, kamu tidak pantas mengatakan hal seperti itu.” Kenang Byan, pada kalimat yang diucapkan Maureen kemarin.
“Aku tau, karena itu aku minta maaf. Tapi harus kamu tau, aku tidak suka setiap kali kamu menatapku seolah aku wanita rendahan karena menikahi papahmu. Aku memang menikahi papahmu, tapi tidak pernah merebutnya dari mamahmu. Kami bersama bukan karena alasan cinta sesaat apalagi terlarang.” Maureen mencoba mengungkapkan kegundahan hatinya.
“Lalu, apa kamu benar-benar mencintai Anggoro? Aku rasa, kamu menikahinya bukan hanya karena Anggoro memiliki harta yang banyak.”
“Dia bukan laki-laki terkaya di dunia ini. Aku sangat yakin, kalau kamu bisa mendapatkan laki-laki lain yang lebih dari Anggoro. Paling tidak, bukan laki-laki yang akan menjandakanmu di hari kedua pernikahanmu.” Timpal Byan kemudian.
Setelah menjadi ibu tirinya, Byan tidak melihat sesuatu yang berlebihan dari seorang Maureen. Ia tidak menghambur-hamburkan uang layaknya janda muda kaya lainnya yang mendapatkan kekayaan melimpah di waktu yang tidak diduga. Ia tetap mau mengatur perusahaan yang sebenarnya hanya menambah beban pikirannya.
Bukankah ini terlalu aneh?
“Aku sudah menjadi ibu tirimu, hanya itu yang perlu kamu ingat. Tidak perlu lagi bertanya alasanku memilih mas Anggoro menjadi suamiku.” Tegas Maureen.
Tegas, tapi Byan merasa kalau Maureen masih menghormati mendiang ayahnya dengan memberinya nama panggilan yang pantas.
Byan hanya tersenyum kecil. Rupanya urusan Maureen dengan keluarganya tidak sesimple ingin merebut harta. Wanita ini memiliki tujuan lain yang harus ia cari tahu kebenarannya.
“Selamat siang, tuan dan nyonya.” Sapa suara tua yang tidak asing bagi Byan dan Maureen.
Keduanya kompak menoleh dan yang terlihat adalah Riswan. Ia mengangguk sopan pada Nyonya dan tuan mudanya.
“Ada apa?” kedatangan Riswan tentu bukan tanpa alasan.
__ADS_1
Ia menghampiri Maureen dan memberikan sebuah amplop coklat pada nyonya mudanya.
“Salah satu perusahaan konstruksi berniat mengakhiri kerjasamanya dengan kita. Satu investor besarpun berniat menarik investasinya dari Anggoro corporation.” Urai Riswan yang seolah tahu arti tatapan Maureen terhadapnya.
“Hah, sudah ku duga.” Dengus Maureen, kesal.
Ia membaca beberapa saat dokumen yang diserahkan oleh Riswan dan alasannya sesuai dengan prediksi Maureen.
“Kenapa?” Byan ikut penasaran.
Maureen menyerahkan amplop itu pada Byan agar anak tirinya membacanya sendiri.
“Kenapa? Bukankah kita memiliki direktur tetap di Anggoro corp?” tanya Byan saat melihat alasan mereka ingin mengakhiri kerjasama karena ketidakjelasan pucuk pimpinan Anggoro corp.
“Mereka tidak bisa menerima keberadaan direktur dari manajemen seperti ini. Mereka menginginkan pucuk pimpinan yang pasti.” Sahut Riswan.
Ia menatap Maureen yang tampak berpikir.
“Hubungi pengacara, kita buat dia menduduki pucuk pimpinan Anggoro corp.” Maureen melirik Byan dengan sudut matanya.
“Maksudmu aku?” bukan hanya Riswan yang kaget dengan keputusan Maureen melainkan juga Byan.
“Ya. Kamu bilang kamu pewaris. Kenapa tidak duduki saja posisi itu dengan sebenarnya sebelum kita benar-benar bisa melihat siapa yang layak duduk di posisi itu.” Hasut Maureen.
“I-iya, tapi ….” Entah mengapa nyali Byan menciut mendengar ia akan menduduki puncuk pimpinan. Ia merasa belum siap dengan posisi yang sebenarnya sedang ia perebutkan.
“Kamu memang tidak layak menduduki posisi itu. Tapi paling tidak investor dan rekanan akan lebih percaya saat kamu yang ada di posisi itu.” Entah memuji atau meledek maksud ucapan Maureen tersebut. Yang jelas Byan melihatnya penuh siasat.
“Bagaimana kalau aku tidak bisa menghadapi mereka? Mungkin saja mereka tidak langsung percaya padaku.” Byan masih ketar-ketir. Yang ia tahu hanya mencampur warna dan membuat lukisan yang indah bukan mengatur rekanan dan bernegosiasi.
Ia bekerja dengan kuas bukan dengan ballpoint dan orotitas.
“Mereka cukup mempercayaiku sebagai tangan kanan mas Anggoro, aku akan membantumu. Cukup ikuti petunjukku dan petunjuk Riswan. Diluar itu, tidak perlu kamu dengar.”
“Membantuku seperti apa? Sebagai sekretaris?” Byan masih penasaran.
“Sebagai personal assistant.” Tegas Maureen.
“Hah?” Byan melongo tidak percaya.
“Benarkah? Apa Byan sanggup mengadapi Maureen yang menjadi personal assistantnya?”
*****
Aku tau pembacaku sedang deg-degan dengan keputusan Maureen, tapi jangan lupa like, komen, vote dan gitf nya yaa, hehehe....
__ADS_1
Terima kasih