Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Harusnya tidak terjadi


__ADS_3

Menjelang makan siang, Riswan dan Dita serta satu orang staf laki-laki, memilih pergi ke dermaga dan pasar untuk membeli beberapa bahan makanan. Mereka sengaja meninggalkan Maureen dan Byan karena sadar sepertinya banyak hal yang harus keduanya bicarakan empat mata saja.


Di jalan, Dita terus mengintrogasi Riswan tentang apa yang dilakukan Byan saat ini.


“Pak Riswan, kenapa Tuan muda sampai menyusul ke sini? Apa beliau sangat khawatir?” berawal dari pertanyaan itu dan pikiran Riswan pun mulai terbuka lebar.


Ia masih mengingat bagaimana Byan yang tidak bisa tidur semalaman karena menunggu jam keberangkatannya untuk menyusul Maureen. Laki-laki itupun nyaris melewatan sarapannya karena sibuk mengurusi banyak hal sebelum berangkat. Kalau saja Riswan tidak mengingatkan untuk minum obat agar segera sembuh, mungkin Byan benar-benar tidak akan memperdulikan dirinya sendiri.


Ia pun mendengar saat Byan yang  marah besar semalam. Ia marah pada kondisinya sendiri. Andai saja kakinya tidak sakit, ia tidak akan pernah membiarkan Maureen pergi sendiri, seperti sekarang.


Rasanya ia sadar kalau perhatian dan kecemasan Byan pada nyonya mudanya, bukanlah tanpa alasan. Terlebih saat ia melihat lukisan yang dibuat Byan semalam dan menunjukkan dengan jelas sosok yang ia lukis di balik gambarnya yang ia buat seolah abstrak.


Laki-laki itu mencoba menyembunyikan perasaannya tapi di sisi lain, ia membuat orang-orang begitu jelas melihat perasaannya.


“Selain karyawan, Nyonya Maureen adalah ibu sambung Tuan muda, mana mungkin beliau tidak cemas.” Riswan menjawab dengan diplomatis.


“Tapi, aku kok ngerasa kalau Tuan muda tidak hanya menganggap kak Maureen sebagai ibu tirinya ya? Perhatiannya terlalu istimewa.” Dita masih dengan pikiran dan perasaannya yang ia yakini kebenarannya.


“Jangan memikirkan hal yang tidak perlu. Sebelum lupa, belikan ayam satu kilo untuk Tuan muda karena beliau tidak makan seafood.” Alih-alih menimpali pertanyaan Dita, ia lebih memilih membicarakan hal lain.


“Baik,” Dita menurut saja, sepertinya ini isyarat dari Riswan agar ia berhenti membahas tuan dan nyonya besarnya.


Di rumah singgah, Maureen masih mengurus Byan. Ia tengah mengganti perban Byan yang kotor terkena pasir sambil memeriksa kondisi kaki Byan.


Menempatkan kaki Byan di atas bantal lalu mengompresnya dengan hati-hati. Sementara Byan masih memperhatikan wajah Maureen dengan seksama. Ia begitu merindukan pemilik hidung bangir yang terlihat tajam itu.


“Aakhhh….” Byan mengaduh saat Maureen sedikit menekan perbannya.


Ini sengaja dilakukan agar Byan mengalihkan fokusnya pada lukanya bukan malah terus memandangi wajahnya. Sungguh, ini membuat perasaan Maureen semakin tidak karuan.


“Kamu akan pulang kapan? Dokter Faisal memintaku untuk melakukan rontgen besok.”


Byan berusaha memecah keheningan di antara ia dan Maureen. Suasananya terlalu tegang dan ia merindukan suara Maureen dengan oktaf normal dan cara bicaranya yang jelas dan teratur.


“Berhentilah melakukan hal yang tidak perlu, apalagi hal yang menyangkut aku.” Jawaban itu yang Maureen berikan seraya menatap Byan dengan tajam.


Ia sudah selesai mengganti perban kaki Byan dengan elastic perban yang bersih.

__ADS_1


“Sepertinya kamu sangat membenci setiap bentuk perhatian, seperti halnya aku yang sangat membenci kepura-puraan,” timpal Byan yang tidak mengalihkan pandangannya dari Maureen. Ia sadar kalau nada suara Maureen sudah turun satu oktaf, seperti wanita ini tengah menyimpan banyak kekesalan di dadanya.


Maureen tidak menimpali, ia lebih memilih beranjak dan membuang air yang sudah ia gunakan untuk membersihkan luka Byan.


“Kemarilah Maureen, aku belum selesai bicara. Bukan sebagai penerus Anggoro corp, tapi sebagai Byantara.” Byan berujar dengan tegas membuat perasaan Maureen semakin tidak karuan.


Bukan karena ia takut pada kalimat-kalimat yang tidak seharusnya Byan ucapkan tapi pada perasaannya yang mulai menyadari kalau mungkin ia merasakan hal yang sama dengan yang akan diucapkan Byan.


“Pembicaraan kita sudah selesai. Kamu hanya ingin tahu kapan aku pulang kan? Tenanglah, aku akan pulang besok. Aku akan menemanimu memeriksakan kakimu, aku juga akan membuat laporan hasil kunjunganku beberapa hari ini. Aku sudah menyusunnya dengan rapi. Aku juga akan-“


“Aku merindukanmu, Maureen.” Tiba-tiba saja satu kalimat bodoh itu diucapkan Byan.


Maureen tidak bisa berkata-kata, ia hanya bisa memejamkan matanya seraya menahan desiran halus yang tiba-tiba membuat jantung berdebar kencang. Ia menahan nafasnya beberapa saat tapi mengapa malah terasa menyesakkan.


Merasa tidak di tanggapi oleh Maureen, Byan memilih menghampiri wanita itu. Berjalan tertatih-tatih lalu berdiri di belakang Maureen yang sedang berada di depan wastafel. Kedua tangan kokohnya melingkari tubuh Maureen dan menempatkan tangannya di atas tangan Maureen lalu bersama-sama memeras waslap yang tadi digunakan Maureen untuk mengompres kaki Byan.


“Apa kamu pernah memikirkanku sekali saja, saat berada di sini?” suara Byan terdengar berbisik di telinga Maureen. Hangat dan mendebarkan hingga jantung Maureen berloncatan tidak menentu. Bulu kuduknya meremang.


“Aku sungguh ingin tahu jawabannya. Aku ingin tahu apa hanya aku saja yang nyaris gila karena merindukanmu?”


Byan menatap wajah Maureen yang ada di pantulan kaca dengan penuh perasaan. Wanita berparas cantik itu terus menunduk dan memejamkan matanya seperti sedang menghindari tatapan Byan dan menahan perasaannya di waktu yang bersamaan.


“Lihat aku Maureen, aku begitu tersiksa menahan perasaanku selama ini, bisakah kamu membantuku sedikit saja?” lanjut Byan dengan suara yang pelan namun penuh ketegasan. Ia sudah tidak ragu lagi dengan perasaannya dan ia tidak mau menyembunyikan perasaan itu lagi dari Maureen.


Lagi, Maureen menahan nafasnya saat ia merasakan ujung hidung Byan menyentuh bahunya dan menghembuskan nafasnya di sana. Laki-laki itu menunjukkan dengan jelas seperti apa perasaannya hingga membuat tangan Maureen semakin mengepal erat menahan perasaannya.


“Jangan bodoh Byan, kamu tentu tahu siapa aku dan seperti apa hubungan kita.” Sekuat tenaga Maureen mengeluarkan suaranya agar tidak goyah.


“Ibu tiri dan anak tiri, benar? Aku ingat itu." Byan mengangkat wajahnya dan menatap mata Maureen yang mulai berani memandangi bayangannya.


“Kalau kamu masih ingat, kenapa kamu masih bertanya?” dengan segera Maureen memalingkan wajahnya dari tatapan Byan yang terlalu lekat.


Byan tersenyum kecil sekali lalu semakin lebar dan akhirnya terkekeh.


“Apa yang lucu?” Maureen kesal dengan tingkah Byan yang seperti sedang menertawakan perasaannya yang tidak karuan.


“Tidak ada, tidak ada yang lucu sama sekali.” Tawa Byan pun terhenti. Maureen kembali menatap Byan penuh selidik dan dahi mengkerut. Pikirnya, apa laki-laki ini hanya sedang menggodanya?

__ADS_1


“Aku hanya bahagia, karena sepertinya kamupun merasakan hal yang sama. Itu sebabnya kamu mengingatkanku pada hubungan kita? Gimana, apa tebakanku benar?” terka Byan dengan penuh percaya diri.


Tidak ada jawaban dari mulut Maureen selain matanya yang membulat karena kaget mendengar ucapan Byan yang dirasa tepat serta usahanya untuk menelan salivanya kasar-kasar. Kenapa tatapan Byan kali ini membuat ia tidak bisa berkata-kata bahkan tidak bisa memalingkan wajahnya.


Sekalipun Byan mendekatkan wajahnya, ia tetap terdiam dan balas menatap netra pekat yang seperti mengunci pandangannya dan menutup semua hal yang ia lihat serta ia pikirkan selain hanya sosok Byan yang membuat tubuhnya menghangat dengan sendirinya.


maureen membalik tubuhnya menghadap Byan dan di waktu yang bersamaan Byan menopangkan tangannya pada pinggiran wasfatel membuat jaraknya dengan Maureen semakin dekat. Maureen tidak bisa beranjak meski jaraknya dengan Byan terlalu dekat.


“Jangan takut Maureen, bukan kamu sendiri yang merasakan kegelisahan ini. Kenapa tidak kita akhiri saja kegelisahan ini dan mengakui semuanya?” bisik Byan dari jarak yang sangat dekat. Maureen bahkan bisa merasakan hembusan nafas Byan yang bertiup hangat di wajahnya juga ungkapan rasa yang begitu dalam dari kedua mata Byan.


Wajah Byan semakin dekat dan Maureen hanya terdiam saja di tempatnya. Seperti ia tersadar kalau ia pun tidak bisa lagi menghindar apalagi berlari mengingkari perasaannya.


Termasuk saat tiba-tiba ia merasakan sentuhan lembut bibir Byan di bibirnya dan memberinya jutaan hantaran listrik yang membuat bulu kuduknya meramang tidak tertahan juga jantunganya yang berdebar entah dengan ritme kecepatan berapa kali per detik.


Buan menciumnya, mencium bibinya dengan penuh perasaan. Dan Maureen hanya terdiam dengan pikiran yang kosong. Beberapa kali Byan memberikan kecupan lembut hingga kemudian pria itu menangkup kedua sisi wajahnya dengan tangannya yang hangat lalu perlahan melum.at bibirnya dengan kebih intens.


Bodohnya, Maureen membalasnya. Ia balas mengecup bibir Byan hingga terengah-engah antara gairah yang muncul dengan rasa takut yang coba ia akui keberadaannya di depan Byan.


Selama beberapa meniit mereka saling berpagutan, menghirup oksigen beberapa kali lantas melanjutkan apa yang sudah Byan mulai.


Sampai kemudian Byan merasakan ada cairan yang menetes dari sudut mata Maureen dan ikut membasahi wajahnya.


Byan mengakhiri pagutan itu. Ia menatap Maureen dengan penuh kecemasan.


“Apa aku melakukan kesalahan?” tanya Byan dengan wajah cemasnya.


Maureen tidak menjawab melainkan hanya tertunduk lesu sambil menitikkan butiran air mata berikutnya.


“Hey, Maureen. Katakan sesuatu? Apa aku menyakitimu?” Byan semakin panik. Ia berusaha menegakkan kepala Maureen demi bisa menatap wajah wanita yang ia cintai tapi wanita itu malah terisak semakin keras.


“Hey, ayolah. Jangan buat aku tidak karuan.”


Byan membawa Maureen ke dalam pelukannya. Tapi dengan sisa tenaganya Maureen mendorong tubuh Byan menjauh. Tangisnya benar-benar terdengar dan tidak ia tahan. Ia berjalan mundur beberapa langkah menjauhi Byan lalu memilih pergi meninggalkan laki-laki yang membuatnya merasa bersalah.


“Akh, sial!” dengus Byan dengan kesal. Ia menguyar rambutnya kasar juga mengusap wajahnya yang terasa kaku.


Rasanya ia tahu alasan Maureen menangis dan meninggalkannya. Tentu saja karena ada tali pengikat di antara mereka yang akan sulit untuk di lepas dan di urai.

__ADS_1


****


__ADS_2