Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Ke gap!


__ADS_3

Sudah jam sebelas malam dan belum ada tanda-tanda kalau Byan pulang. Maureen yang sedang bersantai di balkon rumah, dengan segelas minuman di tangannya, mulai terusik.


Kemana perginya pria ini? Harusnya ia sudah pulang karena malam sudah semakin larut.


Bukan hanya karena mencemaskan Byan tapi logika Maureen memberi alasan karena besok pagi Byan harus menghadiri rapat penting. Ia harus menyampaikan arahan terkait evaluasi program kerja di semester kedua tahun ini.


Hah, tidak terasa sudah semakin lama saja Maureen bekerja di Anggoro corp. Entah berapa lama lagi ia sanggup bertahan di tempat ini. Mungkin sekitar satu bulan setengah lagi, setelah wasiat benar-benar dibacakan.


Merasa tidak karuan, akhirnya Maureen memutuskan untuk menghubungi Byan. Pria ini memilih pulang terpisah dengannya saat jam bubar kantor. Maureen pulang ke rumah dan Byan katanya mau pergi ke suatu tempat. Maureen tidak banyak bertanya karena sadar kalau itu urusan pribadi Byan.


Tapi kali ini, alasan pekerjaan yang mengharuskan ia menghubungi bosnya.


Satu panggilan dilakukan dan tidak ada yang menjawab. Maureen mengulang panggilan kedua, hasilnya sama, tidak ada yang menjawab. Ia mencoba bersabar dan melakukan panggilan ketiga,


“Halo,” bukan suara Byan yang terdengar melainkan suara pria lain yang terasa tidak asing.


“Ya, halo. Ini nomor bos saya, anda siapa?” tanya Maureen dengan tergesa-gesa.


Ia segera bangkit karena perasaannya mulai tidak menentu. Pikiran buruk langsung terlintas, bagaimana kalau Byan mengalami kemalangan dan orang lain yang membantunya?


“Saya temannya.”


Wisnu segera mengubah timbre suaranya. Ia baru sadar kalau kontak yang dinamai “Cewek barbar” di kontak Byan adalah Maureen. Hampir saja ia ketahuan sedang bersama Byan.


“Oh, syukurlah. Boleh saya tau pemilik ponsel ini sedang berada dimana?” Maureen bisa sedikit menghela nafasnya lega.


“Dia ada di galerynya. Sepertinya dia gak bisa pulang karena kondisinya mabuk. Anda ada pesan?” Wisnu sudah ingin mengakhiri panggilannya. Tenggorokannya gatal berbicara dengan timbre suara seperti ini. Belum lagi jantunganya yang tidak aman.


“Tolong kirim alamatnya, saya besok akan ke sana.”


“Oh, iya. Nanti saya kirimkan."


“Baik, terima kasih.” Maureen segera menutup panggilannya dan berpikir beberapa saat.


“Kalau gak bisa minum, harusnya dia jangan sok-sokan minum. Bikin repot saja!” dengus Maureen. Bukan repot kali Mo, tapi cemas, hahaha…


Sebelum kembali ke kamarnya, Maureen memutuskan untuk pergi ke kamar Byan. Ia harus menyiapkan pakaian yang akan Byan kenakan besok. Satu stel pakaian kerja, lengkap dengan dasi berwarna dominan yang ia cocokkan dengan warna pakaian Byan.

__ADS_1


"Juga sepatu. Mana sepatunya?"


Maureen mencari di lemari kanan, tapi tidak ada. Sepertinya Byan memindahkan sepatu baru yang beberapa waktu dibelikan Maureen.


Pintu lemari kiri yang saat ini di buka Maureen. Tapi, bukan sepatu yang ia dapati melainkan sebuah lukisan.


“Kenapa lukisannya dia simpen di lemari? Ada kecoak apa gimana?” Maureen bertanya pada dirinya sendiri.


Karena penasaran, ia mengeluarkannya lukisan itu. Lukisan wajah yang dibuat abstrak tapi rasanya ia mengenali wajah ini.


“Apa ini aku?” Maureen mencoba mengenali wajah yang ada dihadapannya. Tertera tanggal di lukisan ini yaitu satu bulan lalu.


Semakin penasaran, Maureen membalik lukisan itu dan ternyata ada sebuah kalimat yang tertulis di sana.


“Aku tidak pernah tahu kalau cinta itu bisa salah. Aku juga tidak peduli kalau cintaku jatuh pada orang yang salah. Aku hanya tau kalau aku jatuh cinta. Cinta yang dalam dan menyakitkan.”


“JME.”


Begitu tulisan yang dibuat Byan lengkap dengan inisial nama Maureen.


“Akh ,sial! Harusnya aku gak ngeliat ini,” dengus Maureen seraya memasukkan kembali lukisan ini ke dalam lemari. Gara-gara lukisan ini, jantungnya memompa darah lebih cepat dari biasanya.


Untuk beberapa saat Maureen memilih berdiam diri di kamar ini. Membaringan tubuhnya di kasur Byan dan memeluk guling yang biasa dipeluk Byan. Wangi parfum pria ini masih menempel dan membuat Maureen menyesapnya dalam-dalam. Sungguh, ia merindukan laki-laki itu tapi ia sadar kalau ia harus menahan perasaannya.


****


Keesokan harinya, suara mesin mobil yang menderu terdengar berhenti di depan galeri milik Byan. Lampu luar masih menyala padahal cahaya matahari sudah sudah terang benderang.


Maureen segera turun dari mobilnya. Ia mencoba menekan passcode yang dikirim ponsel Byan semalam.


Benar, pintu itu terbuka begitu saja.


“Astaga, berantakan banget!” seru Maureen sata melihat ruang tamu gallery yang terlihat seperti kapal pecah. Sepatu Byan terserak dengan posisi satu di sofa dan satu dilantai. Dasi dan jas tersampir tidak beraturan di lengan sofa.


Ada sebuah kaos oblong juga yang terongok di lantai.


“Gila, dia mabuk sampe ngacak-ngacak rumah apa ya?” Maureen bergumam dengan kesal. Ia memunguti satu persatu baju dan menaruhnya di atas sofa. Kaus kaki hitam sempat terinjak dan menempel di heelsnya.

__ADS_1


“Akh, menyebalkan!” dengusnya kesal. Ia mengambil kaos kaki itu dan melemparnya ke sofa.


Berjalan masuk ke dalam rumah, Maureen melihat banyak lukisan yang terpajang. Lukisan yang di dominasi oleh beberapa bagian tubuh wanita yang tampak menarik. Sayangnya Maureen sedang tidak peduli dengan lukisan Byan. Ia lebih peduli untuk membangunkan bos-nya karena hari sudah semakin siang.


Di hadapan Maureen, ada sebuah kamar yang pintunya tertutup rapat. Ia mengetuknya perlahan tapi tidak ada jawaban. Kesabaran Maureen yang hanya setipis tissue membuat ia terpaksa membuka pintu kamar dengan paksa.


“Byan!” panggil Maureen.


“Astaga!” ia terlonjak sendiri saat melihat dua orang laki-laki tertidur di kasur yang sama dan bertelanjang dada. Selimut tebal menutup bagian bawah tubuh keduanya.


“Dia gila apa?!” seru Maureen sambil menutup pintu kamar dengan kasar.


Suara hantaman di pintu itu membuat Wisnu terbangun.


“Astaga! Byan! Maureen datang, Byan!”


Wisnu mengguncangkan tubuh Byan dengan kuat. Harusnya semalam ia langsung pulang tapi ia malah ketiduran dan akhirnya menginap. Akh, bagaimana ia bertemu dengan Maureen nantinya? Bersembunyi sajakah?


“Byan, bangulah! Ini sudah siang!” seru Maureen dari luar kamar.


Byan mulai mengerjapkan matanya. Suara Maureen yang ia dengar di alam mimpi terdengar begitu jelas.


“Woy bangun woy! Itu ada Maureen di luar!” Wisnu tetap dengan usahanya untuk membangunkan Byan yang kebingungan.


“Iyaakk, gue denger!” dengus Byan yang masih setengah sadar. Ia membuka matanya membulat lalu bangun dengan cepat saat sadar dengan ucapan Wisnu barusan.


“Maureen beneran datang?” ia terkejut dengan ucapannya sendiri.


“Iya anjir! Gimana ini, mana gue gak pake baju lagi. Baju gue di luar, bekas kena muntahan lo!” Wisnu menutupi dadanya yang bidang dengan tangan yang tersilang.


Byan melihat tubuhnya yang juga bertelanjang dada, “Akh, sial! Maureen bisa salah sangka kalau kayak gini. Gimana kalau dia mikir gue suka sama sejenis? Ikh, jijik anjir!”


Dua laki-laki itu sama-sama bergidik.


“Bukan itu doang, apa yang mesti gue jelasin ke Maureen sekarang? Masa gue harus bilang kalau kita sebenernya temenan?” Wisnu benar-benar menambah beban pikiran Byan.


“Akh, anjir!!!” keduanya kompak mendengus, pikirannya buntu. Bagaimana ini, apa Wisnu kabur saja lewat jendela?

__ADS_1


****


__ADS_2