Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
BIM


__ADS_3

“Ada apa dengan Maureen?” pertanyaan itu yang terus berdengung di kepala Byan.


Sikap dan cara bicaranya sangat ekstrim. Ia terlihat sangat marah dan kecewa. Ia pergi memilih pergi tepat setelah berdebat penuh emosional dengan Edwin. Bahkan hingga perwakilan kontraktor itu pulang, Maureen tidak kembali dan menampakkan batang hidungnya.


Apa yang membuat emosi Maureen begitu tersulut? Cara bicara Edwin yang membuat masalah terlihat enteng kah?


“Bagaimana tanggapan Tuan terkait masalah ini? Saya sudah mendapat telepon dari tim pengacara kalau keluarga korban sudah memasukkan ajuan tuntutan mereka ke kepolisian,” ujar Riswan yang tertunduk di hadapan Byan.


Sedari tadi tuan mudanya tampak termenung di meja kerjanya seperti tengah memikirkan masalah ini dengan serius.


“Apa saja tuntutan mereka?” Byan penasaran.


Riswan mengeluarkan ponselnya.


“Keluarga korban menuntut untuk adanya publikasi dan pengakuan bahwasanya perusahaan kita melakukan kelalaian. Tuntutan kedua, mereka menginginkan adanya permintaan maaf yang di muat di media. Tuntutan ke tiga adalah tuntutan material pada pihak kontraktor dan Anggoro corp serta pemeriksaan pembangunan asset yang disinyalir merugikan bagi banyak orang.” Riswan membacakan pesan yang di kirim oleh tim kuasa hukum, beberapa saat lalu.


“Menurut tim kuasa hukum, ini akan sangat merepotkan, Tuan. Karena kemungkinan beberapa project yang sedang berjalan, harus kita tunda pengerjaannya sampai proses penyelidikan selesai. Cluster perumahan bahkan sudah dipasangi garis polisi dan tidak ada yang boleh masuk baik dari pihak kontraktor ataupun dari kita,” urai Riswan dengan jelas.


Byan menghembuskan nafasnya kasar, ia tampak makin gelisah. Ia tidak menyangka kalau ia akan menemui masalah seperti ini dan belum bisa memikirkan seperti apa cara untuk menyelesaikan masalah ini.


“Apa kita bisa bertemu dengan pihak keluarga korban?”


“Bisa Tuan. Hanya saja mereka minta pendampingan hukum dan tidak berkenan menemui kita secara langsung atau pribadi.”


Byan mengangguk paham. Sepertinya keluarga korban takut merasa terintimidasi.


“Perlu saya informasikan, Tuan. Kabar kecelakaan ini juga sudah masuk media online dan menyudutkan kita sebagai pemilik project.” Riswan menunjukkan satu halaman berita yang masuk ke ponselnya. Berita itu disebarkan di group manajemen.

__ADS_1


Byan membaca benar-benar berita yang disuguhkan. Dari semua isi artikel yang ditulis hampir delapan puluh persen menyudutkan Anggoro corp. Anggoro corp di anggap lalai dalam pembangunan project. Yang agak lucu adalah adanya anggapan kalau kejadian ini sengaja dirancang untuk menumbalkan salah satu pekerja agar project berjalan lancar.


“Pikiran picik macam apa ini? Mana mungkin kita menganggap remeh nyawa pekerja?! Di abad ke dua puluh satu seperti sekarang, masih ada saja orang-orang yang berpikiran terbelakang seperti ini.”


“Tumbal project? Apa mereka gila?!”


“Tuntut media online ini! Dia menghimpun asumsi dan menyebarkan issue yang tidak benar.” Byan mulai meradang, emosinya mulai tidak terkontrol.


“Mohon maaf, Tuan. Tuan silakan tenangkan diri dulu.” Riswan mendekatkan air minum Byan pada sang empunya. Tuan mudanya perlu tenang dalan menghadapi masalah yang sudah melibatkan media seperti ini.


“Bagaimana bisa tenang, mereka berpikiran dan berasumsi seenaknya pada perusahaan ini padahal bukan kita yang seharusnya bertanggung jawab penuh atas ini!” setelah mengomel, Byan tetap meneguk minumannya. Ia perlu meredam rasa bergejolak di rongga dadanya.


“Saya izin menyampaikan pendapat saya, Tuan.” Riswa berujar dengan hati-hati.


“Apa? Saran apa yang kamu punya?” tanggapan Byan masih sinis.


“Menurut hemat saya, sebaiknya kita tidak perlu menanggapi pemberitaan di media seperti ini. Mereka hanya akan memanas-manasi suasana. Kita jangan memberi panggung pada media seperti ini. Mereka hanya akan semakin bersemangat untuk mencari-cari kekurangan Anggoro corp.”


“Kalau pun mereka menemukan kenyataan kalau Anggoro corp tidak bersalah, mereka tidak akan meminta maaf. Paling hanya mengklarifikasi berita mereka tanpa mau mengakui kalau berita mereka yang menyudutkan itu salah besar.”


“Dalam kondisi seperti ini, akan banyak orang yang dengan senang hati mempublikasikan hal buruk tentang Anggoro corp. Mereka akan semakin semangat mencari-cari kesalahan dan kelemahan dari Anggoro corp dan hal ini, hanya akan merugikan kita. Akan banyak saingan bisnis kita yang ikut menikmati kesulitan kita.”


“Jadi saran saya, sebaiknya kita berfokus pada menangani masalah tuntutan. Masalah media, biar saya dan tim IT yang menyelesaikan.”


Byan terdiam beberapa saat. Ia mempertimbangkan benar-benar ucapan Riswan tersebut. Rasanya ia setuju dengan beberapa hal yang disampaikan Riswan dan ada keputusan yang harus segera ia buat agar masalah ini tidak berlarut-larut.


“Kemana Maureen? Kanapa dia belum kembali?” ada satu orang yang belum ia dengar saran dan masukannya.

__ADS_1


“Akan saya cari, silakan untuk menunggu sebentar.” Riswan mengangguk hormat pada Byan yang masih tampak gelisah.


*****


“Dit, kamu liat Kak Maureen gak?” Wiki yang berbicara melalui sambungan telepon. Ia diminta Riswan untuk mencari keberadaan Maureen saat ini.


“Aku gak tau. Gak liat juga. Emang kenapa?” Dita ikut penasaran.


“Ini aku disuruh nyariin Kak Maureen. Dia ngilang dari sejak rapat sama kontraktor tadi. Di telepon juga gak di jawab. Malah sekarang jadi gak aktif.” Wiki menggaruk kepalanya yang mendadak gatal.


“Ya udah, bentar aku coba nanya ke yang lain. Biasanya anak-anak BIM tau Kak Maureen kemana.”


“Anak-anak BIM? Siapa?” Wiki jadi penasaran.


“Akh kamu norak, gak tau BIM. “


“Iyalah aku gak tau. Aku Taunya BIN doang. Badan intelegen negara.”


“Ya sama itu juga badan intelegen. Tapi bukan negara, melainkan Maureen. Badan intelegen Maureen, hahahaha….”


Bisa-bisanya Dita masih tertawa di saat seperti ini. Padahal Wiki sedang ditatap penuh intimidasi oleh Riswan, atasannya.


“Sebentar Pak, sedang di cari tau sama BIM,” ujarnya saat melihat tatapan penuh selidik dari Riswan.


Riswan hanya menggeleng. Apa pula itu BIM? Anak muda sekarang memang aneh, pikirnya.


****

__ADS_1


__ADS_2