
Cuti kali ini, benar-benar dinikmati Maureen. Ia pergi berjalan-jalan, makan jajanan pinggir jalan tanpa rasa canggung atau gengsi sedikitpun.
Beberapa jajanan di beli Maureen. Mulai dari rujak buah, es krim potong dan siomay gerobak yang sudah lama tidak ia nikmati. Ia acuh saja duduk di pinggir jalan walau banyak orang yang menperhatikannya.
Penampilannya yang menarik memang mengundang banyak pasang mata yang melirik. Ia menutupi mata cantiknya dengan kaca mata hitam agar tidak terlalu ketara kalau ia balas menatap orang yang memperhatikannya.
Tetapi, ada saja orang yang tersenyum padanya, mengangguk sopan pada sosok dingin itu atau sesekali mempotretnya diam-diam. Terserah saja, Maureen tidak memperdulikan itu.
Ia tetap menikmati makanannya dengan santai tanpa merasa terganggu sedikitpun. Ia sadar, ia bukan pusat dunia, tidak perlu selalu merasa penting bagi orang lain. Tetapi, ia tidak sadar kalau ia seperti berlian yang berkilauan di antara pasir hitam. Tidak ada yang tidak tertarik untuk memperhatikannya.
Penampilannya sebenarnya sederhana, ia hanya mengenakan simple dress berwarna hitam karena rencananya ia akan pergi ke suatu tempat. Rambutnya ia kepang, ia juga tidak menggunakan make up. Tapi tetap saja, sosok Maureen memang terlalu menarik untuk dilirik.
“Pak, saya pesan siomaynya dua puluh lima bungkus ya,” pinta Maureen setelah ia selesai makan.
“Hah, dua puluh lima bungkus neng?” penjual siomay menganga tidak percaya.
“Iya, pak. Bumbunya tolong di pisah.”
“Siap neng!” dengan semangat laki-laki itu membungkuskan dua puluh lima bungkus siomay. Setelah semuanya selesai, Maureen memberikan beberapa lembaran uang pada pria itu.
“Ini kebanyakan neng,” protes penjual siomay.
"Ambil saja sisanya." Maureen memilih mengabaikan suara penjual siomay itu dan membawa makanan pesanannya masuk ke dalam mobil.
“Semoga rejekinya tambah banyak ya neng!” seru penjual siomay sekali lalu mencium lembaran uang berwarna merah itu dengan penuh rasa syukur.
Melanjutkan perjalanan, Maureen menuju sebuah tempat yang sudah lama tidak ia datangi. Perjalanan selama hampir tiga jam diarungi Maureen tanpa pernah beristirahat sekalipun. Ia memasuki kawasan yang sejuk, jauh dari polusi dan kebisingan.
Ia menurunkan jendelanya agar bisa menghirup udara yang segar dan mengganti stok oksigen di paru-parunya.
Mobilnya berbelok pada sebuah rumah yang cukup besar dengan bentuk memanjang dan tampilannya yang sederhana.
Sebuah panti asuhan yang didatangi Maureen saat ini.
“Ibuuukkkk, ada Kak Momo!!!” teriak seorang anak perempuan yang mengenali mobil Maureen.
__ADS_1
Maureen tersenyum kecil mendengar teriakan anak tersebut. Sudah lama sekali ia tidak mendengar suara anak kecil berusia sekitar delapan tahun itu.
Ia segera memarikir mobilnya di halaman panti dan menaikkan kembali kaca jendelanya. Baru ia akan turun, anak-anak sudah berkumpul di dekat mobil Maureen bersama seorang wanita paruh baya yang ikut menghampirinya.
“Kak Maureeennn!!!” seru anak kecil tersebut. Ia berhambur memeluk Maureen yang sudah cukup lama tidak dilihatnya.
“Hay, gimana kabarnya, Elsa?” sapa Maureen sambil mengecup kepala anak kecil yang memeluk pinggangnya dengan erat.
“Baik, kabar Elsa baik. Kabar Kak Momo gimana?” anak itu melepaskan pelukannya dan mendongak demi bisa menatap wajah Maureen.
“Baik. Yuk masuk!” ajak Maureen. Ia mengusap kepala beberapa anak yang menghampirinya dan menciumi tangannya.
“Maureeenn… anak ibu,” sambut seorang wanita paruh baya yang merentangkan tangannya menyambut kedatangan Maureen.
“Ibu, apa kabar?” Maureen memeluk wanita itu dengan erat.
“Baik. Kamu apa kabar? Ibu rasa kok kamu kurusan, nak?” dia adalah ibu Widya, wanita yang merawat Maureen sejak Maureen tinggal di panti ini.
“Gak kurusan, cuma nambah tinggi aja,” kilah Maureen seraya tersenyum kecil.
Widya menatap Maureen dengan seksama, ia mengusap wajah anak asuhnya yang sudah tumbuh dewasa.
“Siap, Kak. Nanti aku makan bareng sama temen-temen.” Elsa melakukan hormat singkat.
“Jangan berebut yaa….” Widya berpesan.
“Iyaa ibu….” Tanpa menunggu lama, Elsa segera berlari menuju mobil Maureen, mengajak beberapa anak lainnya untuk menurunkan makanan dari mobil Maureen.
“Waahh banyak bangeeett. Ada makanan kesukaan aku juga!” seru Elsa.
“Ada baju sama sandal juga. Kita turunin sekalian ya!" seru anak lainnya.
“Iyaa, kita turunin semuanya. Biar ibu yang nanti bagi-bagi.” Mereka berbicang dengan asyik.
Kepulangan Maureen memang selalu membawa kebahagiaan. Maureen membawakan makanan, buku, pakaian dan sandal bahkan boneka dan mainan lainnya untuk anak panti.
__ADS_1
“Gimana di Jakarta? Apa semuanya baik-baik aja?” Widya mengajak Maureen masuk ke dalam rumah. Mereka duduk di ruang keluarga yang biasa dijadikan tempat mereka berbincang.
“Semua lancar Bu, Ibu gak usah khawatir.” Maureen dan Widya duduk bersebalahan.
Widya mengangguk paham, ia masih memandangi wajah Maureen yang begitu dirindukannya.
“Ibu minta maaf karena waktu suamimu meninggal, ibu gak bisa ke Jakarta. Anak-anak banyak yang sakit, termasuk dua orang yang bantu ibu di sini.” Widya berucap dengan penuh sesal.
“Gak apa-apa Bu. Lagi pula, sudah banyak orang yang melayat."
"Tapi sayangnya, aku gak liat satu orangpun yang terlihat sedih atau merasa kehilangan. Mereka datang dengan ucapan bela sungkawa, setelah itu meminta berfoto denganku dan karangan bunga lalu memposting bukti kunjungan mereka di media sosial dengan ucapan bela sungkawa dan alunan do’a yang mereka dapat dari internet.”
Maureen tersenyum sinis.
“Sayangnya, aku malah tidak merasakan ketulusan mereka. Aku merasa kalau seharusnya mereka ada di saat mas Anggoro benar-benar membutuhkan orang-orang itu di dekatnya bukan saat ia sudah tiada.” Maureen berbicara sambil menatap kosong jendela yang terbuka. Angin yang berhembus membuat daun jendela itu bergerak maju mundur.
“Bukankah kita memang tidak pernah bisa memaksa orang untuk peduli sama kita?” Widya menyahuti Maureen dengan pertanyaan. Pertanyaan yang membuat Maureen tersadar dari harapannya sendiri.
Usapan tangan Widya terasa begitu lembut dan menenangkan. Wanita itu bisa merasakan seperti apa perasaan Maureen saat itu.
“Ibu benar. Terkadang, seseorang yang bersalah pun bisa memilih bersembunyi alih-alih meminta maaf. Karena menurut mereka, harga diri mereka jauh lebih mahal di banding sebuah permintaan maaf,” timpal Maureen seraya menatap Widya yang duduk di sampingnya.
Widya mengangguk, memang seperti itulah realitanya.
“Kamu pasti sangat lelah. Pergilah beristirahat. Nanti sore ibu bangunkan.”
“Hem,” tanpa imbuhan apa pun, Maureen bangkit dari tempatnya dan memilih masuk ke dalam kamarnya.
Menutup pintu, lantas ia memandangi seisi kamar yang tidak berubah. Kaca yang usang, lemari kayu yang sudah di makan rayap juga atap yang mulai menguning karena genting yang sering bocor.
Maureen terduduk di tepi tempat tidurnya. Kasur yang terbuat dari kapuk itu, tidak lebih empuk dari sofa di kamar Anggoro. Tapi rasanya, ia lebih nyaman.
Ada satu boneka menarik perhatiannya yaitu boneka kucing yang sudah berusia belasan tahun. Dulu boneka ini adalah satu-satunya benda yang menemani Maureen saat ia berduka. Boneka ini yang menemani Maureen saat menangis tersedu-sedu karena kehilangan kedua orang tuanya dalam selang waktu satu minggu saja.
Saat itu, dunianya hancur, sangat hancur. Ia seperti tidak punya lagi harapan sampai kemudian tangan tulus Widya mengambilnya dari sebuah tempat penitipan anak di sebuah departemen. Jika saja wanita yang terpasang fotonya di dinding kamar Maureen itu tidak datang, Maureen tidak bisa menjanjikan hidupnya akan berjalan sampai detik ini.
__ADS_1
Maureen mengambil boneka kecil itu. Ia membaringkan tubuhnya meringkuk sambil memeluk boneka itu. Ia memajamkan matanya dan perlahan cairan bening itu menetes begitu saja. Diantara suara tawa dan teriakan anak-anak, Maureen masih merasa sepi dan sendirian. Entah sampai kapan perasaan semacam ini menghuni rongga dadanya yang sering sesak.
****