Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Pandai membuat cemas


__ADS_3

Hari ini terasa sangat berbeda bagi Byan. Jam enam pagi, Byan sudah selesai mandi dan mencukur kumis serta jambangnya. Tapi, sudah sepuluh menit berlalu dari waktu yang seharusnya, Maureen belum juga datang. Padahal, ia sudah bersiap menunggu Maureen mendandaninya. Pesannya semalam pun belum di baca sampai saat ini. Beberapa kali i mengeceknya dan tetap saja hanya kecewa yang ia dapatkan.


Sebuah ketukan di pintu, membuat Byan tersenyum senang. Hah, rupanya ia hanya kurang sabar. Terlambat beberapa menit saja tidak akan merubah banyak hal kan, asalkan yang datang itu tetap Maureen.


“Masuk,” sahut Byan dengan suaranya yang tegas.


“Selamat pagi tuan,” sapa seorang pelayan yang muncul di depan pintu kamarnya.


“Ada apa?” timbre suara Byan langsung berubah. Ia pikir yang datang adalah Maureen tapi ternyata pelayan.


“Mohon maaf, tuan. Saya mau mengantarkan kopi Anda.” Pelayan itu tetap menunduk di hadapan tuan mudanya.


“Kenapa kamu yang buat? Kenapa bukan Maureen?” Byan mengambil alih kopi dan menaruhnya di atas meja. Ia tidak mau orang lain selain Riswan dan Maureen terlalu leluasa masuk ke dalam kamarnya.


“Nyonya muda sedang kurang sehat, tuan. Sehingga beliau meminta bantuan saya untuk membuatkan kopi untuk tuan,” terang pelayan itu.


Sedikit berbohong dengan mengatakan kalau Maureen sedang kurang sehat sesuai pesan nyonya mudanya. Padahal nyonya mudanya tidak tidur semalaman. Ia terus terduduk di depan jendela kamarnya, menatap nanar langit gelap yang sudah berubah terang.


Matanya celong dengan lingkar hitam di sekitar matanya. Bukan hanya karena ia tidak tertidur tapi juga karena semalaman ia menangis, menangisi setiap kenangan yang melintas di pikirannya.


“Sakit apa? Kenapa dia tidak bilang langsung kepadaku?” Byan terihat panik. Ia segera mengambil kemejanya dan memakainya. Untung Ia sudah memakain kaos dalam sehingga waktunya bersiap-siap tidak terlalu lama.


“Pergilah, biar aku periksa sendiri kondisi Maureen.” Byan kembali memberi perintah.


“Mohon maaf, tuan. Tapi nyonya muda melarang siapapun masuk ke kamarnya. Beliau perlu waktu sendiri dan beristirahat. Itu yang beliau pesankan pada saya.” Pelayan segera mencegah Byan sesuai permintaan nyonya mudanya.


“Memangnya dia sakit apa? Penyakitnya menular sampai aku tidak boleh menemuinya?” Byan tidak terima. Pikirnya, siapa yang berani melarang dia menemui Maureen.

__ADS_1


“Mohon maaf tuan, saya hanya menyampaikan pesan nyonya muda.”


“Ya sudah, keluar kamu. Saya bisa menemi Maureen sendiri.” Byan tetap bersikeras, membuat pelayan itu tidak bisa berkata apa-apa selain menurut saja.


Pelayan bergegas pergi, sementara Byan segera merapikan penampilannya. Ia memakai dasi tapi seperti biasa, tidak serapi buatan Maureen.


“Akh, sial!” Byan kesal sendiri. Susah sekali mengurus dirinya sendiri kalau tidak ada Maureen seperti ini. Ia melepas kembali dasinya lalu melemparnya ke kasur. Tidak ada yang lebih penting sekarang, selain menemui Maureen di kamarnya.


“Maureen, Maureen!” Byan mengetuk pintu kamar Maureen dengan keras.


“Ini aku Byan. Pelayan bilang kamu sakit, buka pintunya, biar aku periksa.” Laki-laki itu berseru keras dari pintu kamar Maureen.


Maureen tidak menimpali. Ia masih terdiam dengan duduk bersandar pada sofa dan kepala yang menunduk di sela kedua kakinya. Ia peluk dengan erat kedua kaki itu.


“Maureen, apa kamu mendengarku? Bukalah pintunya sebentar, biar aku periksa separah apa sakitmu? Mungkin saja aku bisa membantumu. Aku juga bisa membawamu ke rumah sakit.” Byan memutar-mutar kenop pintu kamar Maureen agar terbuka tapi yang ternyata Maureen menguncinya.


“Maureen-“


“Selamat pagi tuan,” sapa Riswan yang baru datang. Sapaannya menjeda usaha Byan memanggil Maureen untuk kesekian kalinya.


“Pagi. Riswan, ini Maureen katanya sakit tapi dia tidak mau membuka pintu. Bisa carikan aku kunci cadangan kamar ini? Aku takut sesuatu yang buruk terjadi pada Maureen.” Byan begitu tergesa-gesa saat berbicara. Ia benar-benar khawatir pada ibu tiri sekaligus wanita yang ia cintai.


“Mohon maaf tuan, tapi saya rasa ada baiknya kita biarkan nyonya muda untuk beristirahat dulu beberapa saat. Beliau perlu memulihkan diri.”


Riswan yang paham dengan kondisi Maureen, mencoba menengahi. Tentu saja, ada banyak hal yang harus dibenahi dalam diri Maureen, terutama tentang perasaannya yang terluka bukan hanya karena kematian kedua orang tuanya tapi juga karena kenyataan yang coba di tutupi Riswan. Riswan memahami itu sepenuhnya.


“Hah, aku malah semakin tidak karuan. Gimana kalau dia pingsan lagi di dalam dan kita gak tau? Mungkin saja Maureen memerlukan bantuan kita.” Byan tetap dengan prasangkanya yang penuh ketakutan.

__ADS_1


“Pergilah Byan, jangan menggangguku. Aku hanya perlu istirahat saja.” Suara Maureen yang kemudian terdengar.


“Maureen, kamu mendengarku?” Byan segera menempelkan telinganya di daun pintu. Persis di samping Maureen yang juga berdiri di balik pintu sana.


“Ya. Aku baik-baik saja, hanya perlu istirahat saja. Jadi pergilah.” Maureen dengan suaranya yang sedikit serak.


“Kamu perlu sesuatu Maureen? Suaramu serak. Mungkin kamu perlu air jahe atau semacamnya, biar aku buatkan. Tapi aku mohon, bukalah pintunya sebentar. Satu menit saja, aku hanya ingin memastikan kalau kamu benar-benar baik-baik saja.”


“Pergi Byan! Jangan suka merengek! Apa kamu tidak paham dengan perkataanku?” suara Maureen langsung meninggi hingga Byan terhenyak.


“I-iya, aku pergi. Kalau kamu udah ngomel gini, aku jadi yakin kalau kamu cuma perlu waktu.” Byan akhirnya mengalah membuat Maureen bisa menghembuskan nafasnya lega.


Sesungguhnya ia pun perlu seseorang untuk menemaninya. Tapi ia tidak yakin kalau Byan adalah orang yang tepat. Bagaimana pun, dia bagian dari keluarga Anggoro.


“Maureen, aku akan pulang tepat waktu. Kamu mau aku beliin apa?” Byan masih berusaha memberi perhatian.


“Tidak Byan, cukup pergi saja.” Suara Maureen kembali melemah.


“Kenapa kamu terus menyuruhku pergi, kamu benar-benar baik-baik saja kan?” perasaan Byan malah tidak makin menentu.


Maureen tidak menjawab, ia kembali ke sofanya dan membaringkan tubuhnya di sana. Tentu saja ia tidak baik-baik saja dan pertanyaan Byan malah membuat perasaannya semakin hancur. Ia menangis sesegukan dengan mulut yang ia bekap menggunakan tangannya sendiri.


“Silakan, tuan.” Riswan kembali menyadarkan Byan. Ia meminta Byan untuk segera meninggalkan kamar Maureen.


Byan pun terpaksa beranjak dari tempatnya. “Dia pandai sekali membuatku khawatir,’ gumam Byan yang masih bisa di dengar Riswan.


Perasaan pria tua itu pun sama, khawatir tapi ia tidak punya pilihan lain selain membiarkan Maureen sendirian untuk sementara waktu.

__ADS_1


****


__ADS_2