Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Mie ayam


__ADS_3

Notifikasi Maureen bergabung ke dalam group staf, menjadi awal kegemparan baru di group para staf tersebut. Ada delapan belas orang yang langsung typing, entah mau menulis apa.


Melda, adalah orang yang menambahkan Maureen ke dalam group staf. Beberapa orang pria langsung mengirimi pesan pribadi pada Melda dan bertanya bagaimana bisa Melda meyakinkan Maureen untuk masuk kembali ke dalam group yang empat bulan lalu Maureen tinggalkan.


“Jangan panggil gue Melda kalau gak bisa mempengaruhi kak Maureen.”


Melda berujar dengan jumawa. Ia melanjutkan membaca satu per satu pesan yang masuk ke group dan hanya para pria yang berkomentar. Ia terkekeh sendiri membaca setiap baris pesan gabut itu.


“Hay Maureen,” sapa salah seorang pria.


“Ada Maureen gabung, gue gak bisa tidur,” tulis pria lainnya.


“Yang nambahin Maureen ke group, semoga harinya minggu semua.” Ada juga yang bersorak kegirangan.


“Maureen apa kabar?”


“Oh, nomor Maureen gak ganti ya? Soalnya gue chat gak di bales, hahay!”


Masih banyak lagi chat yang masuk dan membuat Melda tertawa, geli sendiri.


“Gila, langsung rame aja ini group. Padahal biasanya ramenya hari jum’at doang, rusuh sama yang minta tebengan pulang ke sana kemari.” Sambil berbaring di sofa, Melda bergumam sendiri di ruangan PA setelah Maureen pulang beberapa waktu lalu.


Sudah ia duga kalau bergabungnya Maureen ke group ini akan membuat para pejantan rusuh. Mereka seolah diberi akses ke pintu masuk untuk mengejar Maureen lagi.


Maureen yang masih dalam perjalanan pulang, tidak terlalu menghiraukan banyaknya pesan yang masuk dan menyebut namanya. Ia masih mencari tukang mie ayam sekitaran kompleks yang memiliki mangkuk bergambar ayam.


Ada-ada saja memang Byan ini. Ia masih tidak habis pikir, bagaimana bisa Byan begitu iseng mengerjainya. Kalau saja ia tidak ingat Byan sudah menyelamatkannya, ia tidak akan mau berkeliling mencari mie ayam sesuai pesanan Byan. Lebih baik ia langsung ke rumah dan beristirahat daripada panas-panasan begini.


Tepat sebelum pintu masuk kompleks, Maureen melihat ada penjual mie ayam gerobak yang sedang mangkal berjualan. Ia juga melihat deretan mangkuk bergambar ayam yang baru selesai di cuci. Maureen segera menepikan mobilnya dan berhenti di pinggir jalan.


Lantas ia turun dan menghampiri penjual mie ayam itu.


“Mas, mie ayamnya masih ada?” tanya Maureen dengan mata yang sedikit memincing karena panas dan terik.


“Ada neng, mau berapa bungkus?”

__ADS_1


“Dua aja. Jangan pake kuah ya.”


“Siap neng, silakan tunggu dulu,” ujar pria berperawakan berisi dengan logat bicara bahasa jawa yang kental itu, tersenyum ramah.


Maureen menunggu di bangku kecil. Ia memperhatikan jalanan yang ramai meskipun hari sangat terik. Dua bungkus mie ayam sudah dibuat tapi kemudian ia teringat sesuatu.


“Pak, tolong buatkan empat belas porsi aja ya. Sama saya beli satu mangkuknya yang gambar ayam.”


“Oh, boleh neng. Tunggu sebentar ya.” Penjual mie ayam tampak kegirangan. Sejak pagi ia sepi pembeli tapi tiba-tiba ada wanita cantik yang membeli dagangannya dengan jumlah yang cukup banyak. Anggap saja si cantik ini adalah dewi keberuntungannya.


Sambil membuat mie ayam ia terus berceloteh. Ada kata-kata ucapan syukur yang samar terdengar oleh Maureen.


“Aduh leee, bapak ketiban rejeki. Nanti bapak beliin susu,” gumam laki-laki itu dengan senyum yang tidak berhenti terkembang.


Maureen tersenyum kecil mendengar gumaman laki-laki itu. Cukup menyentuh menurutnya.


Sebuah pesan masuk di tengah usaha Maureen menungu mie ayam selesai di buat. Siapa lagi pengirimnya kalau bukan sang anak tiri.


“Kamu jadi pulang siang ini? Aku sangat lapar,” tulis Byan dengan emoticon lapar di akhir kalimatnya.


“Aku di jalan,” balas Maureen, singkat.


“Perlu di jemput sama Riswan?” penasaran juga karena Maureen tidak membalas pesannya.


“Kemana perginya ibu tiri, kenapa gak balas pesanku?” Byan menggerutu seorang diri.


“Mungkin nyonya muda sedang dalam perjalanan, Tuan. Tuan bisa menunggu karena beliau tidak pernah tidak tepat waktu,” terang Riswan.


“Benarkah?” Byan menaruh ponselnya di atas Kasur, ia menoleh Riswan yang berdiri di dekatnya.


“Benar Tuan. Salah satu alasan Tuan besar begitu menyukai nyonya muda adalah karena beliau selalu tepat waktu. Tidak pernah terlambat,” tutur Riswan dengan penuh kebanggan.


“Hah, kenapa harus membahas Anggoro?” Byan kesal sendiri, kenapa harus ada nama Anggoro yang terselip di antara ia dan Maureen.


Pria yang sedang terluka itu memilih memiringkan tubuhnya menyamping dan memandangi ponsel yang ada di sampingnya. Ia sengaja membelakangi Riswan yang menurutnya membosankan dan mengesalkan, tidak seru seperti saat ditemani Maureen.

__ADS_1


Sudah beberapa menit berlalu tapi Maureen belum juga tiba. Akh, Byan mulai kesal. Sebenarnya masih ada enam menit lagi sebelum jam dua belas siang tapi enam menit itulah yang membuat Byan gelisah.


“Aku sudah sangat lapar. Maureen benar-benar lamban,” gumam Byan dengan lemah. Rupanya toddler ini mulai tidak bisa membedakan mana lapar dan mana bucin.


“Sebentar lagi tuan,” hibur Riswan sambil melihat jam tangannya dan menoleh ke pintu.


Belum sempat ia berpaling lagi, tiba-tiba ia melihat Maureen yang datang bersama seorang pelayan.


“Selamat siang Nyonya muda,” sapa Riswan dengan senyum terkembang melihat kedatangan Maureen. Maureen mengangguk kecil.


Byan pun segera berbalik mendengar sapaan Riswan.


“Kenapa lama sekali?” protes Byan, saat melihat Maureen di depan matanya. Ia menunjukkan wajah kesal tapi lega di waktu yang bersamaan.


“Pikirmu aku punya pintu kemana saja? Lagi pula masih dua menit lagi sebelum jam dua belas siang,” timpal Maureen, tidak kalah kesal.


“Iya, aku pikir kamu akan terlambat.” Byan dengan perasaan bersalahnya karena tidak menghargai usaha Maureen. Ia tahu Maureen sudah berusaha keras.


“Kalau kamu lebih percaya dengan isi pikiranmu, ya udah, percaya aja. Pikiranmu lebih lama melekat di pikiran kamu.” Kalimat Maureen terdengar ketus. Ia mengambil satu mangkuk mie ayam, menaruhnya di atas meja lalu mendekatkannya pada Byan.


Byan tidak menimpali. Ia hanya memandangi mie ayam dan Maureen bergantian, ia sadar benar kalau Maureen sudah berusaha keras. Mie ayam yang di bawa Maureen bahkan masih panas dan segar. Sepertinya Maureen membawa mie ayam ini dengan tergesa-gesa.


Ia juga mengingat ucapan Maureen beberapa saat lalu. Entah mengapa ia jadi merasa bersalah karena membiarkan pikirannya memihak pada ucapan Ruwina semalam, bahwa Maureen mungkin memanfaatkan kondisinya yang sedang sakit untuk menyiapkan pengkhianatan padahal ibu tirinya sudah bekerja keras melakukan apa yang ia bisa.


"Astaga, kenapa aku jadi ngerasa bersalah gini?" Byan berbicara dengan pikirannya sendiri.


“Kalian berdua makanlah, sebelum mie nya mengembang.” Suara Maureen membuyarkan lamunan Byan. Ia menoleh pada Maureen yang sibuk merapikan berkas yang ia bawa dari kantor.


“Anda tidak makan Nyonya?” Riswan ikut penasaran.


“Aku belum lapar. Kalian duluan saja,” tegas Maureen sesaat sebelum ia meninggalkan Byan dan Riswan berdua saja.


“Apa dia marah?” Byan penasaran bertanya pada Riswan.


Riswan menggeleng. “Selama suaranya tidak turun atau naik satu oktaf, maka beliau baik-baik saja.” Hanya itu timpalan Riswan yang membuat Byan mengangguk paham.

__ADS_1


*****



__ADS_2