Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Sakit yang berulang 2


__ADS_3

Satu hari setelah kematian Malik, kepala project datang menemui mereka. Ia membawa sebuah karangan bunga besar yang ia simpan di depan rumah Maureen, nyaris menutupi pintu pagarnya.


Laki-laki itupun tidak berbicara banyak. Hanya menyampaikan ucapan berdukanya lalu pergi setelah berfoto dengan karangan bunga dan Renita.


Renita tersenyum sinis setelah melihat kepergian perwakilan perusahaan yang tidak memiliki perasaan itu. Mereka juga tidak memberikan penjelasan apapun atas alasan meninggalnya Malik. Mereka hanya mengatakan kalau Malik meninggal karena kecerobohannya saat memasang instalasi listrik. Benarkah? Semudah itukah menjelaskan kepergian seseorang?


Sikap pihak perusahaan yang acuh membuat Renita tidak bisa menerima begitu saja kepergian Malik.


“Hahahahaha…”


Maureen masih mengingat jelas tawa bercampur tangis milik Renita yang bergema menertawakan sikap perusahaan tempat suaminya bekerja. Cara mereka yang tidak menjelaskan apapun seolah menunjukkan kalau mereka menutupi alasan kematian Malik.


Berbekal rasa tidak terima atas kematian suaminya, Renita memilih melakukan penyelidikan atas kematian suaminya. Setiap malam, Renita tidak memejamkan matanya. Ia terus memandangi berkas-berkas yang ia punya.


Di mulai dari otopsi terhadap jasad Malik, berkas pelaporan ke kepolisian hingga berkas permintaan Renita untuk menyewa jasa seorang pengacara hebat.


Beberapa bukti juga sudah terkumpul dan menunjukkan kalau kecelakaan ini terjadi karena perusahaan tidak memenuhi standar operasioanl yang seharusnya mereka kerjakan.


Hal itu memang masih bersifat dugaan karena bukti kuat tetap dimiliki oleh perusahaan tempat Malik bekerja.


Tidak menyerah, Renita mendatangi langsung pihak perusahaan. Ia meminta bukti kesalahan yang dilakukan oleh suaminya. Sayangnya, pihak perusahaan tidak bisa memberikan apapun. Mereka mengatakan tidak bisa memberikan berkas apapun karena semua berkas project kerja sama sudah ditarik oleh Anggoro corp dan kerja sam dihentikan.


Renita pun mendatangai Anggoro corp. Seorang laki-laki gagah datang menemuinya. Tapi perbincangan mereka hanya sekitar sepuluh menit saja karena pria itu sedang sangat sibuk. Renita dijanjikan akan ditemui secara langsung di rumahnya.


Ada harapan besar dalam hatinya kalau masalah ini bisa diungkap. Renita hanya mengharapkan keadilan atas kematian suaminya dan ia berharap ini jalan yang bisa ia tempuh untuk mendapatkan keadilan.


“Mo, nanti siang pulangnya jangan terlambat ya, Nak.” pesan Renita saat sedang menyiapkan sarapan untuk Maureen.


Setelah kepergian Malik, baru kali ini Maureen melihat Renita tersenyum lagi, seperti ada harapan baru dalam hidupnya.


“Emangnya kenapa, Mah?” Maureen bertanya dengan penasaran.


“Nanti siang, akan ada orang dari Anggoro corp, perusahaan rekanan tempat papah kerja. Mereka akan menjelaskan alasan kematian papah. Mamah mau, gak cuma mamah yang denger penjelasan mereka tapi Momo juga harus tau. Iya Nak?” urai Renita.


“Iya Mah, nanti Momo pulang cepat kok. Kalau Momo belum pulang, tunggu sebentar ya Mah. Momo juga mau ketemu sama mereka.”


“Iya Nak. Aduuhh ini anak mamah kok cantik banget? Sini kepangannya biar mamah rapihin.” Renita merapikan kepangan rambut Maureen.


“Akh, ini sih anaknya papah. Soalnya matanya bulat, gak kaya mamah.” Sesekali Renita mencandai putrinya dengan meledek mata Maureen yang bulat mirip dengan Malik.


“Iiihh Mamah… aku mirip mamah juga tau. Liat nih bibir aku, kata papah mirip mamah.” Maureen mengerucutkan bibirnya pada Renita.


“Nggak, itu mirip papah. Kamu plek ketimplek anak papah. Itu karena waktu Mamah hamil, Papah cinta banget sama Mamah. Makanya kamu mirip banget sama Papah."

__ADS_1


"Tapi mamah seneng, soalnya kalau mamah kangen papah, mamah bisa liatin Momo sepuasnya,” ujar Renita seraya memeluk dan mencium pucuk kepala Maureen.


Pagi itu menjadi hari palig bahagia setelah kepergian Malik. Harapan terungkapnya kasus kematian Malik, menjadi penyemangat baru untuk mereka berdua.


****


Menjelang siang, Maureen pulang dengan tergesa-gesa. Ia membuka pintu pagar dengan cepat dan berlari hendak masuk ke rumah tapi terjeda beberapa saat untuk membuka sepatunya.


“Mah, Mamah… Momo pulang….” Panggil Maureen dari luar.


Tidak ada jawaban dari Renita. Suasana rumah juga sangat sepi.


Setelah melepas sepatunya, Maureen segera berlari menuju pintu.


“Maaahhh….” panggil Maureen sambil mendorong pintu. Tapi pintu terkunci. Tumben pikirnya.


“Mamah kemana sih? Tadi katanya nyuruh cepet pulang.” Maureen bergumam sendiri. Ia berusaha mengintip dari jendela tapi tirainya juga tertutup rapat.


Maureen mengelilingi rumahnya dan tidak ada satupun jendela yang terbuka. Maureen memutuskan untuk bertanya pada tetangganya.


“Bu, liat Mamah Renita gak?”


“Wah, gak liat Mo. Tadi sih ada, nyapu-nyapu depan.” Tetangga Maureen ikut melihat ke sekeliling rumah.


“Ada tamu yang dateng gak bu?”


Maureen termenung, ini terlalu aneh menurutnya.


“Boleh tolong telpon mamahku gak bu? Soalnya aku gak punya hape.”


“Boleh. Nih,” Wanita itu menyodorkan ponselnya pada Maureen.


Maureen mencoba menghubungi ponsel Renita dan suara ponselnya berdering nyaring dari dalam rumah. Maureen mendekat, mencari tahu letak ponsel renita. Suara deringan semakin jelas terdengar dari dalam kamar Renita.


“Maaahh, Mamah, Momo pulang. Mamah di kamar bukan?” teriak Maureen sambil mengetuk-ngetik jendela kamar Renita.


“Mah, Mamah….” Pangil Maureen lagi tapi Renita tetap tidak menyahuti.


“Maureen, sebelah sini!!” panggil ibu tadi.


Maureen segera berlari menuju teras rumahnya. Ia melihat Ibu itu sedang sedang membungkuk, berusaha mengintip dari celah pintu bawah.


“Kenapa Bu?” Maureen ikut mengintip.

__ADS_1


“Itu, liat deh. Kok lantai rumah kamu kayak basah? Bau amis lagi.” Ibu itu mengendus di dekat pintu rumah Maureen.


Perasaan Maureen seketika tidak karuan. Tanpa berpikir panjang ia mendobrak pintu rumahnya. Ia sangat yakin kalau telah terjadi sesuatu pada Renita.


“Kenapa Maureen?” tanya beberapa pria yang melewati rumahnya dan melihat tubuh kecil Maureen berulang kali berusaha mendobrak pintu.


“Pak, tolong bantu saja dobrak pintu. Saya takut Mamah saya kenapa-napa.” Maureen sudah ketar-ketir.


”Oh ya udah, ayo!”


Empat pria itu segera mendekat. Mereka ikut mendobrak pintu rumah Maureen. Tiga kali dobrakan pintu itu baru bergeser dan di dobrakan keempat pintu itu terbuka.


“ASTAGA!!!” seru seorang laki-laki yang herhenyak kaget.


“Ya ampun ibu Renitaa!!!!” Wanita di samping Maureen iku tberteriak saat melihat tubuh Renita yang tergantung di tali yang terulur dari langit-langit rumahnya. Dari lengannya masih meneteskan darah segar yang membanjiri lantai rumah Maureen.


“Mamah,” Maureen hanya bisa melongo seraya memandangi tubuh Renita yang sudah kaku dan wajahnya yang pucat pasi. Ia tidak bisa melangkahkan kakinya mendekat pada Renita. Tubuhnya begitu lemas, sama lemasnya seperti saat ini.


Di depan kolam renang, tubuh Maureen ambruk. Bayangan orang-orang berseliweran berusaha menurunkan tubuh Renita pun berkelebatan di pikiran Maureen. kebisingan itu, rasa sedih itu, ketautan itu, teriakan oran-orang itu dan semua hal yang terjadi di hari itu kembali berputar di kepala Maureen layaknya kaset rusak yang tidak bisa ia hentikan.


Maureen hanya bisa memejamkan matanya dengan air mata menetes satu per satu. Jangan tanyakan bagaimana hancurnya Maureen saat itu. Dunianya seperti berhenti berputar dan ia jatuh ke dalam lubang hitam yang gelap.


Luka kesedihannya belum sembuh karena ditinggalkan Malik dan kali ini Renita yang memilij mengakhiri hidupnya. Hanya ada satu pesan yang Renita tulis untuk Maureen,


"Maafkan Mamah Nak, Mamah menyerah."


"Semua yang Mamah lakukan ternyata hanya sia-sia. Orang-orang besar itu menganggap semua usaha Mamah hanya usaha seorang pengemis untuk menuntut nominal yang lebih besar."


"Usaha Mamah sebagai seorang istri atau seorang ibu yang menuntut keadilan untuk kita tidaklah penting untuk mereka."


"Mamah bisa apa tanpa Papah?"


"Maafkan Mamah Nak, Mamah harus pergi meninggalkan Momo sendiri."


"Jangan merasa terbebani dengan kepergian Mamah. Jadilah anak yang kuat dan hebat. Buat semua orang tunduk sama Momo."


"Mamah sayang Momo."


Barisan pesan itu tidak akan pernah Maureen lupakan. Setiap huruf yang ditulis dengan gemetar oleh Renita, akan selalu tertanam dalam pikirannya.


Sungguh, Maureen sangat bahagia saat itu. Sampai ia tidak sadar kalau itu kebahagiaan dan pelukan terakhir yang Renita berikan untuknya.


Seketika, tubuhnya begitu lemah dan dalam beberapa tubuhnya masuk ke dalam air dalam keadaan tidak sadarkan diri.

__ADS_1


*****


Kalian baik-baik saja?


__ADS_2