
Perjalanan meninggalkan lokasi project benar-benar diselimuti kecanggungan. Di atas perahu itu, Maureen memilih duduk di depan, berdekatan dengan nelayan sementara Byan di belakang. Meski pandangannya adalah menikmati keindahan lautan yang luas namun titik fokusnya tetap satu yaitu punggung wanita yang membelakanginya.
Dita masih dengan kesibukannya merekam setiap perjalanan mereka. Sesekali tanpa sengaja ia mengabadikan ekpresi Byan dan Maureen yang sulit untuk dijelaskan. Entah apa yang terjadi pada dua orang ini yang jelas mereka tidak pernah berbicara satu sama lain sejak mereka makan siang.
Riswan dan staf pria asyik berbincang terkait pekerjaan, sepertinya ia tengah mengajarkan beberapa hal pada pria muda yang akan ia ajari sebagai penerusnya nanti. Nama pria muda ini adalah Wiki.
Perjalanan selama empat puluh lima menit terasa begitu panjang. Beruntung keindahan alam ini bisa menjadi penghiburan bagi Maureen yang sedang merasakan kegundahan. Kejadian yang ia alami bersama Byan tadi siang membuatnya merasa bersalah. Tapi disisi lain, ia merasakan kehangatan dari perasaan yang coba ditunjukkan Byan.
Tidak ia pungkiri kalau perasaan Maureen ikut terbawa dan membuatnya berani mengakui perasaan kalau ia memiliki perasaan yang sama dengan Byan.
Apa ini sebuah kesalahan? Entahlah, Maureen bahkan belum tahu persis apa saja kesalahan indah yang ia lakukan bersama Byan. Mungkin karena terlalu banyak dan membekas.
“Silakan, Tuan.”
Riswan mengulurkan tangannya untuk membantu Byan turun dari perahu. Hal yang sama dilakukan Wiki untuk membantu Dita dan Maureen. Dita mengulurkan tangannya dengan senang hati tapi Maureen memilih turun sendiri dengan setengah meloncat. Ia menghindari uluran tangan pria yang usianya hanya terpaut dua tahun lebih tua dari dirinya.
“Saya sudah menyiapkan kamar untuk Anda tuan, bersebelahan dengan nyonya muda. Kamarnya memang tidak terlalu besar tapi cukup nyaman untuk beristirahat.”
“Di malam hari tuan bisa melihat cahaya lampu yang berwarna warni di tepi pantai juga suara musik yang mengajak kita untuk berpesta.” Riswan menggoyang-goyangkan kakinya seolah sedang menari.
Ada alasan mengapa sedari tadi Riswan tidak berhenti berbicara seperti burung beo, ia berusaha mengusir rasa canggung di antara tuan dan nyonya mudanya.
Seperti halnya Maureen yang acuh, Byan juga mengabaikan celotehan Riswan. Dengan kursi rodanya Ia masuk ke kamar bersamaan dengan Maureen yang masuk ke kamar pribadinya. Kamar mereka bersebelahan dan pintunya kompak tertutup, meninggalkan tiga orang yang mematung di depan pintu.
“Tidak apa-apa, mungkin Tuan dan Nyonya muda kelelahan. Jadi mari kita masuk ke kamar masing-masing,” ucap Riswan yang berusaha menjadi penengah.
Mereka masuk ke kamar masing-masing dan beristirahat. Maureen membaringkan tubuhnya di ranjang dengan posisi menyamping. Ia memandangi jendela besar yang ada dihadapannya.
Byan terduduk di atas kursi rodanya, menghadap ke jendela besar, ia menikmati pemandangan langit yang berwarna biru cerah dengan sedikit awan yang menutupi.
Riswan dan Wiki masih membahas pekerjaan sementara Dita asyik mengedit video. Waktu yang mereka miliki saat ini benar-benar mereka nikmati dengan cara masing-masing.
“Tring!”
Sebuah pesan masuk ke ponsel Maureen dan menampakkan nama Dita sebagai pengirimnya. Maureen segera membacanya.
“Kak, udah aku edit videonya. Aku bikin dua video, satu video kunjungan dan satu lagi video kita. Coba kakak cek ya….” Tulis Dita.
“Okey, aku liat dulu. Makasih, Ta.”
Maureen memutar satu per satu video yang dibuat Dita. Dimulai dengan video kunjungan kerja, di mana openingnya adalah perjalanan menuju pulau yang Dita percepat dan dibuat aestetic dengan kilatan warna langit yang berubah dengan cepat.
Rangkuman foto yang menampilkan progress project pembangunan resort, lengkap dengan pemukiman warga setempat yang sudah dilokalisasi. Dermaga yang mereka kunjungi serta wilayah konservasi dan perjalanannya yang indah menuju ke tempat itu. Dita juga menyisipkan video saat di pasar dan hasilnya sangat memuaskan.
Maureen tersenyum bangga pada video buatan Dita.
Video kedua adalah video yang nantinya akan Dita sisipkan di media promosi setelah resort jadi. Video itu merekam perjalanan mereka sejak naik pesawat, lalu naik perahu dengan menunjukkan detail yang bagus dan object utamanya adalah Maureen.
Walau hanya menunjukkan bahunya saja, atau jemari tangannya yang lentik sesekali sosok Maureen yang berjalan di atas pasir putih, membuat video ini terlihat menarik. Bonusnya adalah senyum cantik Maureen di akhir video sebelum telapak tangannya menutup kamera Dita karena kesal terus-terusan di rekam.
__ADS_1
Maureen tersenyum sendiri melihat hasil karya Dita. Gadis itu ternyata memang multitalent.
“Videonya bagus, aku suka. Makasih yaa….” Maureen mengirim pesan itu pada Dita.
“Sama-sama kak. Tapi, boleh gak videonya aku up? Aku mau sekalian promo jasa pembuatan mini vlog atau clip gitu kak. Nanti aku tag nama kakak sebagai talent-nya. Gimana?”
Maureen berpikir beberapa saat. Ia mencoba mempertimbangkan resiko yang mungkin muncul. Rasanya tidak terlalu besar resikonya karena ia bukan seorang artis. Apa salahnya kalau kali ini ia membantu Dita?
“Boleh,” satu kata itu yang di kirim Maureen pada Dita.
“Waaahhh makasih banyak kak. Kak Momo emang yang terbaik! Nanti malem kita mantai yaakk, aku yang traktir. Gimana?”
Maureen tersenyum kecil tapi ekspresinya lantas berubah setelah membaca pesan Dita yang satu ini. Bukan pada ajakan mantainya melainkan pada nama panggilan yang disebut Dita. “Momo” nama panggilan yang selalu digunakan mendiang kedua orang tuanya dulu.
Jika mengingat nama itu, hati Maureen mencelos. Rasanya menyedihkan saat mengingat kalau sekarang ia hanya tinggal sendiri. Di saat ia berada di puncak kesuksesannya dan bisa membeli apapun yang ia mau, ia malah harus menikmatinya seorang diri. Lalu, jika suatu saat ia berhasil merebut semua milik Anggoro, dengan siapa kelak ia akan berbagi?
Maureen tertunduk lesu. Ia mulai gamang dan ragu dengan pilihannya. Apa mendapatkan semua harta Anggoro akan membuatnya merasa puas dan bahagia?
****
Jam tujuh malam, Dita sudah berdiri di depan pintu kamar Maureen. Ia mengetuk dan membunyikan bell beberapa kali. Rasanya tidak sabar untuk segera turun dan menikmati malam terakhirnya di tepi pantai.
Bercanda dan tertawa bersama Maureen, mencari bule single untuk teman bersenang-senang dan melakukan hal lainnya yang mungkin akan menyenangkan.
Lama tidak ada jawaban, Dita memutuskan untuk menelpon Maureen. Ia khawatir Maureen ketiduran dan lupa pada janjinya.
“Aku masih mandi!” seru Maureen saat menjawab teleponnya.
Tidak terdengar lagi jawaban dari Maureen dan Dita memutuskan untuk turun. Masuk ke dalam lift dan beberapa orang ikut bergabung. Beberapa di antara mereka adalah orang asing.
Dita bergeser untuk memberi ruang sambil memperhatikan salah satu pria eropa yang tampak menarik. Sosoknya yang tinggi dengan kulit kecoklatan, sepertinya kulitnya mulai gelap karena sering berjemur atau melakukan aktivitas di pantai. Entah mengapa Dita sangat tertarik pada laki-laki itu.
“Ding!” lift tiba di loby. Dita segera turun bersama pengguna lift lainnya. Ia sengaja menyenggol pria itu sedikit, demi menarik perhatian lawan jenisnya. Pria itu menoleh Dita,
“Sorry,” ucapnya sambil mengangguk sopan.
“It’s okey!” Dita mengacungkan ibu jarinya pada pria bule itu dan laki-laki itu hanya tersenyum membuat Dita terkekeh gemas sendirian.
“Mau kemana, Ta?” suara seseorang terdengar menyapa Dita.
“Eh,” Dita terlihat kaget saat ternyata yang menyapanya adalah Wiki yang datang bersama Riswan dan tentu saja Byan.
“Selamat malam.” Dita mengangguk sopan pada tiga orang itu. Trio ubur-ubur lintas usia, pikir Dita.
“Malam Mba Dita. Mba Dita mau kemana? Kok sudah rapi?” tanya Riswan yang penasaran.
“Oh ini pak, saya mau nongkrong sama kak Maureen. Tapi kak Maureen-nya masih mandi. Jadi saya nunggu di sini pak.”
“Nongkrong dimana?” Riswan mewakili rasa penasaran Byan.
__ADS_1
“Tidak jauh dari sini aja pak. Kebetulan ada café yang nyaman di tepi pantai.”
“Nah, itu kak Maureen,” seru Dita saat melihat Maureen keluar dari dalam lift.
Byan ikut menoleh memandangi wanita cantik yang berjalan ke arahnya. Ia mengenakan celana kulot berbahan linen dengan atasan model croptop yang menunjukkan bagian perutnya yang sedikit terbuka dan di balut jaket yang tidak di resletingkan seluruhnya.
Dada Byan mendadak sesak membayangkan Maureen ke tempat hiburan dengan pakaian seperti itu. Bagaimana kalau ada laki-laki yang menyentuhnya?
“Malem kak Maureen….” Sapa Dita saat wanita itu sudah berada dihadapannya.
“Malem,” Maureen tersenyum tipis pada Dita tapi tidak pada Byan.
“Kak Maureen cantik banget sih? Aku jadi insecure.” Dita menyenggol lengan Maureen dengan sengaja.
“Kamu juga cantik. Hot!” Maureen sedikit berbisik di telinga Dita.
“Tadi ada bule ganteng, mau aku godain. Kak Maureen jangan deket-deket ya.” Gadis itu balas berbisik.
Maureen mengangguk setuju.
“Jadi, Nyonya mau ke pantai?” si kepo Riswan kembali bertanya.
“Iya, aku mau ke pantai dengan Dita. Kalian mau kemana?” Maureen balas berbasa basi.
“Ke Pantai,” sahut Byan dengan yakin.
“Hah, ke pantai, Tuan?” Riswan menatap Byan dengan tidak mengerti. Padahal sebelum bertemu Maureen dia bilang mau istirahat di kamarnya karena kurang enak badan.
“Ambilkan jaketku, jangan lama,” titah Byan pada Wiki. Wiki yang patuhpun segera pergi.
Byan memandangi Maureen dengan penuh perhatian tapi wanita itu tampak biasa saja. Sepertinya tidak peduli Byan mau kemana.
“Kalau gitu, aku dan Dita duluan. Selamat malam…” pamit Maureen seraya menarik tangan Dita.
“Selamat malam, Nyonya.” Hanya Riswan yang menyahuti dan Byan masih memandangi Maureen yang berlalu pergi begitu saja. Wanita itu menghindari kontak mata dengannya.
Apa masih merasa kesal dan canggung?
****
Hay semuanyaaa, apa kabaar?
Masih setia baca cerita Maureen dan Byan?
Makasih banyak yaa untuk yang masih setia nunggu dan baca update cerita ini.
Aku merasa novel ini sangat sepi 🤧🤧
Mari berbagi semangat dengan like, komen,vote dan giftnya hehehe...
__ADS_1
Aku usahakan konsisten up tiga Bab sehari supaya memanjakan readerku tersayang.
Sehat selalu yaa teman-teman readers, 💞💞