
Byan duduk termenung di kursi kerjanya, Ia masih menatap lembaran dokumen usang yang baru selesai ia baca. Nalarnya berusaha mencerna isi dokumen yang tidak ia sangka pernah ada.
Semakin ia baca dan pahami, dokumen ini semakin memperjelas dugaannya selama ini, kalau sebelum kejadian meninggalnya seorang pekerja proyek kemarin. Kejadian yang sama pernah terjadi beberapa waktu lalu. Tepatnya, sembilan tahun lalu. Hal ini yang membuat Maureen saat itu begitu emosi dengan alasan yang perlahan bisa ia pahami dari sudut pandangnya saat ini.
Byan semakin penasaran, ia memutuskan untuk bertanya pada Riswan yang menjadi saksi kejadian saat itu.
“Riswan, aku ingin kamu jujur.” Byan mengultimatum Riswan lebih dulu. Ia tidak mau sia-sia bertanya dan malah memndapat jawabannya yang berisi kebohongan.
“Silakan tuan, saya akan menjawab apa pun pertanyaan tuan dengan sejujurnya.” Riswan sudah bertekad dalam hati. Ia tidak akan menyia-nyiakan lagi kepercayaan tuan mudanya. Besar harapannya kalau Byan bisa membantunya memperbaiki semua kesalahan yang pernah ia buat pada Maureen.
Byan menegakkan tubuhnya sebelum bertanya. Ia memandangi laki-laki paruh baya yang mendadak berekspresi sendu.
“Jadi, proyek ini memang sengaja digagalkan?” Byan menunjuk dokumen yang ada dihadapannya.
“Iya tuan.” Pria tua itu menjawab dengan sejujurnya.
“Apa karena proyek ini memakan korban atau karena om Edwin sengaja merusak proyek ini, sehingga Anggoro menghentikan proyek ini?” pertanyaan Byan terdengar lebih mendetail. Simpulan itu yang berhasil ia dapatkan setelah membaca kronologis kejadian dan menarik benang merah yang tersirat pada dokumen ini.
Untuk beberapa saat Riswan tertunduk dalam. Tuan mudanya ternyata bisa dengan mudah memecahkan isi dari dokumen yang sudah ia rahasiakan selama sembilan tahun ini. Sekarang, saatnya ia jujur dan mengakui semuanya.
“Project ini, di buat sembilan tahun lalu sebagai mega project kedua Anggoro corp. Banyak pihak yang terlibat dan cukup menarik perhatian banyak kalangan. Cluster yang di buat hanya dengan lima belas unit hunian ini, akan menjadi investasi masa depan yang sangat menguntungkan.”
“Hal itu yang membuat tuan Edwin meminta agar tuan Anggoro memberikan hal pengelolaan project ini pada beliau. Tapi karena alasan ketidakpercayaan tuan besar pada kemampuan tuan Edwin, tuan besar pun menolaknya.”
“Karena merasa kecewa dengan keputusan tuan besar, tuan Edwin membuat siasat dengan memunculkan banyaknya issue dan masalah selama pembangunan project ini. Beberapa hal dapat diatasi oleh tuan besar tapi tuan besar tidak bisa menghindar saat ternyata tuan Edwin menumbalkan seorang pekerja project dalam pembangunan cluster ini.”
"Menumbalkan? Apa maksudmu?" Byan semakin penasaran untuk mendengarkan penjelasan Riswan lebih detail lagi.
“Tuan bisa melihat sendiri, seorang pegawai proyek meninggal dunia karena tersengat listrik. Dugaan awal, semua itu hanya sebuah kecelakaan tapi setelah diselidiki sendiri oleh tuan besar, nyatanya itu bukan sebuah kecelakaan, melainkan sebuah kesengajaan yang dilakukan oleh tuan Edwin agar, proyek itu dihentikan."
"Dari bukti-bukti yang didapatkan, tuan besar menemukan fakta kalau tuan Edwin menyuruh seseorang untuk menyalakan saklar utama saat pekerja itu dengan sengaja di suruh memeriksa aliran listrik rumah itu. Saat itu juga, pekerja proyek itu meninggal di dalam bangunan yang baru selesai di bangun.”
Pada kalimat ini, ujaran Riswan terhenti. Ia tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Dadanya terasa sesak saat mengingat bagaimana gelisahnya Anggoro saat tahu kalau Edwin sengaja melakukan itu.
“Lalu kenapa Anggoro malah menghentikan pembangunan, bukan melaporkan om Edwin ke pihak kepolisian?” Byan semakin penasaran.
__ADS_1
“Karena nyonya besar memohon di kaki tuan besar agar memberi tuan Edwin kesempatan memperbaiki semuanya dengan berbagai alasan. Tuan besar pun luluh. Beliau memberikan kesempatan pada tuan Edwin. Sebagai gantinya, proyek ini dihentikan untuk melindungi tuan Edwin dan kedepannya tuan Edwin tidak punya hal untuk menduduki posisi tertinggi di perusahaan ini.”
Rasa sesak di dada Riswan perlahan berangsur hilang separuhnya setelah mengungkapkan rahasia yang ia simpan selama ini. Ia melihat Byan yang hanya terdiam, tidak habis pikir dengan penjelasan Riswan.
“Apa itu yang alasan Anggoro menghajar Om Edwin di hari sebelum kecelakaan ibuku?” Byan semakin penasaran.
“Benar, tuan," aku Riswan.
Byan nyaris tidak percaya. Ia mulai berpikir, pantas saja Anggoro memukuli Edwin hingga babak belur. Ia pikir, hal itu terjadi karena Edwin memberitahukan perselingkuhan Anggoro pada Andini, tapi ternyata alasannya karena hal yang lebih buruk lagi.
“Lalu, bagaimana dengan keluarga korban? Apa sudah diselesaikan?”
Riswan menggeleng. Bukannya menjawab, ia malah bertekuk lutut dihadapan Byan. Tidak berani menunjukkan wajahnya sedikit pun pada Byan.
“Saya telah melakukan kesalahan tuan,” kalimat Riswan terdengar menggantung. Ia perlu keberanian untuk mengakui apa yang sudah ia lakukan.
“Kesalahan apa maksudmu?” Byan beranjak dari tempatnya. Ia berdiri di hadapan Riswan yang masih bertekuk lutut di tempatnya.
“Saat itu, tuan Edwin berusaha menyelesaikan masalah ini agar keluarga korban tidak melanjutkan tuntutannya. Beliau menyuruh saya untuk memberikan sejumlah uang kepada keluarga korban, tanpa sepengetahuan tuan besar. Menurut tuan Edwin, ini adalah cara terbaik agar tidak ada tuntutan hukum yang dapat mencoreng nama baik perusahaan ini.”
“Seminggu setelah korban meninggal, tuan Edwin mengajukan penutupan kasus kepada pihak kepolisian dengan alasan ini murni kecelakaan. Saya menggunakan kesempatan itu untuk mengikuti saran tuan Edwin untuk segera menemui keluarga korban dan meminta keluarga korban untuk menghentikan tuntutannya karena masalah ini sudah ditutup sebagai kasus kecelakaan."
"Saya memberikan sejumlah uang sebagai bentuk uang duka. Tapi rupanya, yang saya lakukan itu salah. Saya di anggap memposisikan keluarga korban sebagai pengemis. Mereka berpikir, kalau kita tidak punya hati dan empati serta menganggap remeh masalah ini. Hingga akhirnya keluarga korban mengalami depresi dan melakukan usaha bunuh diri.”
Suara tangis lirih penuh sesal, mulai terdengar dari mulut Riswan membuat Byan bisa melihat penyesalan Riswan yang begitu dalam. Dahinya yang mulai kisut ikut berkerut dengan tangis yang pecah tanpa bisa ia tahan. Sejujurnya ia pun tidak bisa berkata-kata apalagi menghibur Riswan. Ia masih sangat kaget dengan apa yang ia dengar.
“Bagaimana keluarga itu sekarang? Siapa nama korban itu?” Byan semakin penasaran. Hati nurani dan rasa bersalahnya ikut terpanggil.
“Korban memiliki seorang anak perempuan yang sudah dewasa, tuan. Dia tumbuh dengan baik tapi memiliki rasa marah yang sangat besar dan sangat membenci Anggoro corp. Ia sangat yakin kalau sejak awal, Anggoro corp lah yang membuat ia kehilangan kedua orang tuanya."
"Nama korban itu, Malik Emrys. Ayah kandung dari nyonya Jill Maureen Emrys.”
“APA?!” seru Byan dengan keras. Kakinya mendadak lemah hingga ia harus bersandar pada meja kerjanya. Ia berpegangan cukup lama sambil berusaha menyeimbangkan tubuhnya yang akan rubuh.
“Maureen, apa maksudmu Maureen yang aku kenal?” Byan berucap lirih. Ia berharap ada banyak Maureen di dunia ini dan anak itu bukanlah Maureen yang ia kenal saat ini.
__ADS_1
"Benar tuan," Riswan terangguk lesu.
Tanpa terasa air mata Byan menetes begitu saja. Hatinya tiba-tiba terasa hancur saat bayangan wajah Maureen muncul di benaknya. Bagaimana bisa Maureen mengalami kemalangan yang sangat besar yang diakibatkan oleh tindakan keluarganya?
“Apa Anggoro tau?” dengan tidak habis pikir, Byan bertanya akan hal itu.
Riswan kembali mengangguk.
“Tuan besar mengetahui kalau nyonya muda adalah putri dari korban proyek tersebut tepat tiga bulan sebelum beliau meninggal. Beliau melihat sendiri bagaimana usaha nyonya muda mencari bukti atas kegagalan proyek sembilan tahun ini beserta bukti-bukti lain yang menunjukkan kelemahan Anggoro corp."
"Saat itu juga, tuan besar memohon pada nyonya muda agar tidak menghancurkan Anggoro corp. Sebagai gantinya, tuan besar menawarkan sebuah kesepakatan.” Riswan mengeluarkan selembar kertas yang sudah lama ia simpan lalu ia tunjukkan pada Byan.
Byan memandangi selembar kertas itu.
“Surat perjanjian?” Byan mengernyitkan dahinya tidak mengerti.
“Benar tuan. Tuan besar menawarkan kesepakatan kalau beliau akan menikahi nyonya muda dan menjadikan nyonya muda menjadi ahli waris diperusahaan ini. Nyonya muda diberikan kewenangan seluas-luasnya untuk mengatur perusahaan ini asalkan nyonya muda tidak menghancurkan perusahaan ini.”
“Nyonya muda menyepakatinya karena beliau masih ingin mencari tahu seperti apa kejadian yang menimpa kedua orang tuanya. Beliau bertahan di sini, hanya untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi.”
“Lalu apa Maureen sudah tau semuanya?” Byan menatap Riswan dengan matanya yang merah dan basah.
“Ya, tuan. Nyonya Maureen sudah tau kalau saya lah yang menemui ibunya hingga menyebabkan beliau bunuh diri. Namun beliau belum tahu kalau sebenarnya tuan Malik bukan mengalami kecelakaan melainkan di bunuh.”
Byan terduduk dengan lemas bersandar pada mejanya. Ia mengacak rambutnya kasar lalu mengusap wajahnya yang berurai air mata. Untuk beberapa saat pikirannya kosong, tidak dapat memikirkan hal apapun selain sosok Maureen yang menjelma di alam sadarnya.
Ia bisa membayangkan, sesedih apa Maureen saat mengetahui semuanya.
"Tuan, saya tau kesalahan saya tidak akan pernah termaafkan. Tapi saya mohon, tolong bantu saya untuk menyampaikan dokumen ini pada nyonya Maureen. Ini adalah janji saya pada beliau. Janji yang saya katakan kalau saya akan menunjukkan semua kebenaran pada nyonya Maureen. Tolong bantu saya, tuan." Riswan benar-benar tertunduk lesu dihadapan Byan, nyaris bersujud dengan penuh kesungguhan.
Byan tidak bergeming. Ia hanya terdiam dengan dokumen yang ia peluk. Apa yang akan ia katakan pada Maureen kemudian? Apa ia masih punya keberanian untuk mengatakan maaf?
Nyatanya, benar kalau keluarga Anggoro telah membuat ibu tirinya itu menderita.
******
__ADS_1