
Pijat, menambah panjang ceklist kegiatan yang dilakukan Byan. Laki-laki itu tengah begitu menikmati sensasi pijatan yang menguray otot tubuhnya yang kaku dan pegal.
Begitupun dengan Maureen dan Riswan. Karena paksaan Byan, akhirnya mereka ikut pijat di salah satu rumah spa yang ada di mall tersebut. Byan yang terus merengek seperti anak kecil, membuat kepala Maureen berdenyut pusing. Hal itu yang membuat Maureen akhirnya menuruti permintaan Byan.
Masing-masing berada di dalam ruangan yang berbeda.
Byan yang asing dengan pijat terapis ini tidak bisa berkata-kata setiap kali sentuhan tangan terapi tepat mengenai bagian tubuhnya yang pegal. Riswan yang tidak terbiasa dengan sentuhan di sekujur tubuhnya, sering kali tertawa saat sentuhan terapis malah membuatnya geli.
Laki-laki tua itu sampai berurai air mata karena banyak tertawa.
Maureen yang paling tenang. Ia mencoba meresapi setiap sentuhan dan memejamkan matanya untuk menenangkan pikirannya.
Byan benar, semua orang bekerja. Termasuk Maureen dan Riswan. Dan semua orang juga memiliki rasa lelah, tidak hanya Byan saja. Terlalu egois kalau Byan pijat sendiri sementara dua orang lainnya menunggu di luar.
Baru kali ini, Maureen setuju dengan ucapan anak tirinya. Banyaknya pembicaraan yang Maureen lakukan dengan Byan membuat ia sadar kalau sebenarnya Byan tidak seegois yang ada dipikirannya. Anak itu sebenarnya masih bisa di ajak berteman.
Maureen bisa merasakan kalau sikap Byan banyak berubah. Ia tidak lagi sinis dan keras pada Maureen. Byan tidak lagi menempatkan Maureen sebagai saingan ibunya, melainkan sebagai rekan kerja yang ia homati. Tidak apa, ini terasa lebih baik. Toh Maureen juga tidak ingin mendapat penghormatan yang berlebih sebagai ibu tiri Byan.
Istilah tak kenal maka tak sayang sepertinya memang berlaku didunia ini. Karena mulai saling mengenal, mereka akan mulai saling sa-,
Tunggu, Maureen menggelengkan kepalanya sendiri mengusir pikiran itu.
“Siapa juga yang sayang?” ia bertanya pada dirinya sendiri.
“Iya nyonya, ada yang bisa saya bantu?” tanya terapis yang mendengar gumaman Maureen.
“Hah? Oh nggak apa-apa.” Cepat-cepat Maureen menyadarkan dirinya sendiri. Sadar kalau pembicaraannya mulai melantur. Mungkin karena ia sedikit mengantuk.
“Yang benar adalah, tak kenal maka tak paham.” Tegas Maureen dalam hatinya.
“Berapa lama lagi pijatnya?” Maureen terpaksa bertanya agar terapisnya tidak bingung.
“Sekitar satu jam lagi nyonya.”
Maureen mengangguk paham. Dengan nyaman ia menempatkan kepalanya di atas bantal tipis. Ia memejamkan matanya dan kemudian tanpa terasa ia terlelap. Sepertinya, tubuhnya memang perlu di istirahatkan.
****
Suara dentuman musik disko, menyambut seorang gadis yang datang ke club malam itu. Ia terlihat berantakan dengan lingkar matanya yang hitam dan rambut yang terburai tidak karuan.
“Wohooo, siapa ini? Kok kacau syekaliii.” Ledek Luky pada seorang gadis yang tidak lain adalah Tifani.
__ADS_1
“Kemana aja lo?” Luky menhampiri gadis itu, mengusap dengan lembut rambutnya yang berantakan.
“Diem! Kasih gue minuman.” Tifani menepis tangan Luky yang selalu begitu ringan menjamahnya.
“Hahahaha … kayaknya lo kacau banget.” Ucap Luky seraya mengangkat tangannya meminta minuman pada bartender.
Tidak lama sampai kemudian minuman itu dibuat.
“Pusing gue. Banyak banget yang nagih hutang sama gue. Sampe ke lubang semut juga gue di cari.” Keluh Tifani sambil menggaruk kepalanya yang gatal karena beberapa hari tidak ia keramasi.
“Minum dulu dong!” Luky menaruh segelas minuman di hadapan Tifani dan tanpa menunggu lama, Tifani lansung meneguk minuman itu. Ia sedikit meringis saat rasa pahit menyapa tenggorokannya.
“Lo beneran minggat dari rumah tante lo?” tebak Luky.
“Lo kok tau?” Tifani tampak terkejut.
“Tau lah. Si janda cantik nyari lo ke sini. Gak mungkin kan dia sampe nyari lo ke sini kalau bukan gara-gara lo minggat dari rumah tante lo?” selidik Luky.
“Maureen nyariin gue?” Tifani terhenyak kaget.
Luky mengangguk yakin. Ia meneguk kembali minumannya yang belum habis.
Tifani tidak lantas menjawab. Ia hanya terdiam sambil kembali menikmati minumannya yang sudah ditambahkan oleh Luky.
“Inget sama Maureen tuh, bikin gue selalu ngerasa terintimidasi.” Ucap Tifani tiba-tiba.
“Maksud lo? Bukannya kalian temenan?”
Tifani mengangguk lemah, satu tegukan lagi ia nikmati sambil meringis.
“Lo tau gak sih rasanya jadi tanah yang selalu diinjak sama langit yang ada di atas kita? Dia gak nginjak gue tapi dia bikin gue merasa rendah.” Tiba-tiba saja Tifani yang ceria berubah muram.
“Lo berantem sama dia?” Luky semakin penasaran. Ia berusaha mencari celah, sepertinya ada yang bisa ia manfaatkan saat ini.
“Gue bikin kesalahan sama dia dan gue gak tau apa Maureen bisa maafin gue atau nggak.”
Tifani tertunduk putus asa. Kepalanya ia topang dengan tangan kirinya. Rambutnya ia biarkan tergerai berantakan menutupi wajahnya.
“Terus sekarang lo tinggal dimana?” Luky mendekat, mengusap kepala Tifani dengan lembut.
“Di panti.” Sedikit menoleh saat memberi jawaban pada Luky.
__ADS_1
“Panti? Lo pernah tinggal di panti?” Luky benar-benar terkejut.
“Bukan gue, tapi Maureen. Dia tinggal di panti sejak orang tuanya meninggal. Nah gue pernah ikut dia ke sana. Makanya gue tau.”
“Orang tua Maureen udah meninggal? Kapan? Kok gue gak tau?” Luky dengan triknya mencoba terlihat tertarik.
“Udah lama, sejak,” tiba-tiba Tifani terdiam, tidak melanjutkan kalimatnya.
“Akh, lo gak usah sok ngorek-ngorek tentang Maureen deh. Gue tau lo pengen naklukin dia. Gak, gak mau gue cerita sama lo.” Tifani langsung menyikut Luky agar menjauh. Ia tahu, kalau pemilik club malam ini penuh siasat pada Maureen dan sangat menginginkannya.
“Mana ada gue suka sama Maureen? Udah lama itu, gue juga udah lupa. Lagian Maureen janda, mending gue sama lo. Lo masih gress, bukan bekas om om.” Luky melingkarkan tangannya di bahu Tifani lalu menarik tubuh gadis itu mendekat padanya.
"Lo yakin ngomong begitu? Bukannya dulu lo suka banget sama Maureen?"
“Kenapa gue harus bohong?” Luky bahkan mengecup kepala Tifani. Tapi kemudian ia menguncupkan hidungnya. Baunya jauh berbeda dengan wangi rambut Maureen.
“Rambut gue asem ya? Udah seminggu gue gak keramas. Di panti gue rebutan sampo sama anak-anak. Gak biasa gue.” Tifani beralasan sambil terkekeh.
“Mau mandi di tempat gue?” tawar Luky dengan tatapan lekat pada Tifani.
“Emang boleh? Pacar lo gak bakalan resek?” Tifani balas menatap Luky.
“Dia lagi keluar kota, lusa baru balik. Kalau lo mau, gue bisa bikin dia gak balik lagi ke tempat gue. Gimana?” Luky semakin mendekatkan wajahnya pada Tifani, ia juga mengusap lembut punggung Tifani yang membuat bulu kuduknya meremang.
“Emang bisa?” Tifani balas menggoda. Jujur, ia lakukan ini karena ia butuh tempat bernaung.
“Apa seorang Luky pernah ingkar janji?” Luky meraih rambut Tifani lalu menciumnya dengan penuh perasaan.
Tifani tersenyum kecil, ia sangat suka melihat Luky yang kelihatannya bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
“Berapa yang harus gue bayar kalau gue nebeng tinggal di rumah lo?” tantang Tifani. Ia menangkup satu sisi wajah Luky yang kemudian ia usap dengan sensual.
“Free, asal lo ada buat gue setiap kali gue butuh lo.” Luky balas menangkup wajah Tifani.
Menelusur garis lehernya dengan lembut dan menarik tengkuknya secara tiba-tiba agar mendekat.
Tifani hanya tersenyum kecil, ia begitu menikmati saat hembusan nafas Luky menerpa wajahnya. Dalam satu gerakan, ia mengecup bibir Luky dengan lembut. Dengan senang hati Luky membalasnya. Mereka saling ******* satu sama lain tanpa memperdulikan banyak pasang mata yang ada di sekitar mereka.
Suara hingar musik membuat decapan mereka samar tapi gairah keduanya semakin nyata dan membara.
****
__ADS_1