Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Kesepahaman


__ADS_3

Di kamarnya, Maureen masih membersihkan tubuhnya. Tubuhnya terasa begitu lengket karena seharian ini ia bekerja diluar. Tidak ada AC melainkan hanya angin kencang dari udara yang panas.


Semakin hari, udara Jakarta memang semakin panas. Menggunakan AC seharian bukannya nyaman tapi malah membuat badan tidak enak. Terlebih hari ini ada insiden tidak terduga. Keringat yang keluar tidak hanya karena panas tubuh akibat udara melainkan karena ketegangan yang terjadi sepanjang hari ini.


Setelah melucuti semua pakaiannya, Maureen berdiri di depan kaca, memperhatikan bayangan dirinya yang tidak mengenakan sehelai benangpun. Ia sedikit menyampingkan tubuhnya untuk melihat bahunya yang tadi terkena runtuhan material.


Ada luka lebam di bawah ketiak kanannya. Luka itu karena pinggiran pintu yang ambruk dan membentur lengannya. Beruntung saat itu Byan menarik tangannya, melindungi Maureen dengan tubuhnya. Karena kalau tidak, bisa jadi luka di lengan Maureen lebih parah dari ini.


Hah, mengingat kejadian sepanjang hari ini membuat perasaan Maureen tidak menentu. Dimulai dari rasa canggung antara ia dan Byan, rasa kagum karena Byan belajar dengan cepat, rasa bersalah karena menyebabkan Byan terluka dan saat ini rasa khawatir karena kondisi Byan yang tidak baik-baik saja.


Hingga sore ini pikiran Maureen dipenuhi tentang Byan. Bocah tengil itu sudah mengisi delapan puluh persen memory di otaknya. Hanya ada sekitar dua puluh persen ia memikirkan hal lain termasuk memikirkan dirinya yang sebenarnya juga terluka.


“Kali ini mengalah saja Maureen, kondisimu jauh lbih baik dari anak tirimu.” Gumam Maureen menghibur dirinya sendiri.


Okey, kali ini saja ia memikirkan Byan lebih banyak dari memikirkan dirinya sendiri. Tapi tidak untuk besok dan seterusnya. Banyak hal yang lebih penting yang harus ia lakukan selain hanya mengurusi Byan. Jangan sampai rasa bersalahnya membuat Maureen malah stuck dan mengabaikan hal penting yang harus ia lakukan


Sadar akan hal itu, Maureen segera mandi, ia mengguyur tubuhnya dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Setiap lekuk bagian tubuhnya ia bersihkan tanpa ada yang terlewat. Ia tidak manu meninggalkan sisa keringat sedikit pun di tubuhnya.


Selesai mandi, ia segera berpakaian. Ia memakai pijama tertutup karena ia masih harus mengecek putra tirinya. Satu stel pijama berwarna coklat ia kenakan dan terlihat kontras dengan kulitnya yang putih segar.


Rambut basahnya ia keringkan dengan hair dryer lalu ia sisir dengan rapi. Belum kering sepenuhnya karena ia ingin rambutnya kering secara alami.


Maureen melihat jam di dinding kamarnya. Hanya sekitar dua puluh menit ia mengurusi dirinya sendiri dan harus kembali ke kamar Byan untuk mengecek kondisi putranya.


Pintu kamar Byan sedikit terbuka dan Maureen mengintipnya sebelum masuk. Rupanya ada seorang pelayan yang membawakannya segelas minum. Akh iya, Maureen lupa tidak menyediakan air minum di dekat Byan.


“Bawakan satu botol minum air untuk tuan muda, supaya kamu tidak perlu bolak balik.” Ucap Maureen seraya membuka pintu lebih lebar.


“Baik nyonya.” Sahut pelayan tersebut.


Byan ikut menoleh pada Maureen. “Kamu sudah makan?” tanya Byan.


Seharian ini Maureen terus mengurusinya, sudah pasti wanita ini akan mengabaikan dirinya sendiri.

__ADS_1


“Udah terlalu malam untuk makan malam.” Ucap Maureen. Ia membalas anggukan pelayan yang hendak keluar dari kamar Byan.


“Kamu gak lapar?” Byan penasaran.


“Nanti aku turun. Ada banyak buah-buahan yang aku simpan di kulkas.”


“Gimana kondisi kakimu?” Maureen memperhatikan kaki Byan yang masih berada di atas mantal.


“Mulai terasa sakit. Mungkin karena efek biusnya sudah berkurang. Apa aku boleh minum obat pereda nyeri?” Byan sedikit meringis, rasa sakit itu bukan karangan.


“Boleh, tapi kamu harus makan dulu. Obat pereda nyeri biasanya berefek samping ke lambung, jadi pastikan kamu mengisi perutmu dulu.”


“Baiklah. Lagi pula aku memang lapar.” Aku Byan sambil tersenyum kecil.


Tanpa menunggu lama, Maureen menelpon salah seorang pelayan. “Bawakan makan malam untuk tuan muda dan kupaskan satu apel untukku.” Titah Maureen dalam satu kalimat singkat.


Byan menatap wanita itu dengan penuh kekaguman. Setiap kalimat yang diucapkan Maureen memang selalu efektif, tidak ada yang berlebih ataupun kurang.


“Duduklah.” Pinta Byan saat melihat Maureen yang terlihat canggung.


“Apa kamu tidak terluka sedikitpun? Aku rasa pintu tadi juga mengenai punggungmu.” Byan memandangi Maureen dengan khawatir.


“Nggak, aku gak terluka. Tubuhku baik-baik saja.” Kilah Maureen. Tentu saja ia baik-baik saja karena ia sudah mengoleskan obat anti memar pereda nyeri salep di luka lebamnya.


“Baguslah, itu lebih baik.” Byan menghembuskan nafasnya lega. Ia sangat khawatir Maureen terluka.


Terdiamnya Byan, membuat rasa canggung itu kembali muncul. Entah apa yang harus mereka bicakan sekarang.


Tentang pekerjaan? Keduanya sudah muak.


Lalu tentang pribadi? Akh Maureen sangat menghindarinya.


Byan menyalakan televisi dan hanya tayangan bola yang muncul, mana mungkin Maureen menyukainya. Semuanya jadi serba canggung sekarang ini. Tapi memang ada satu hal yang harus Byan bicarakan pada ibu tirinya.

__ADS_1


“Aku minta maaf soal kejadian kemarin.” Ucap Byan tiba-tiba. Ia menatap Maureen dengan serius.


“Minta maaf untuk hal apa?” Maureen pura-pura tidak paham. Ia tidak mau asal menebak maksud Byan yang berakibat pada semakin canggungnya hubungan mereka.


“Soal perkataanku yang mengatakan aku menyukaimu.” Sahut Byan dengan cepat.


Otak Maureen seperti blue screen selama beberapa saat, tidak bisa berpikir. Apa Byan akan membahas tentang perasaan mereka lagi?


“Kamu benar, aku memang harus menyukaimu sebagai ibu tiriku juga sebagai rekan kerjaku. Maaf kalau kemarin kata-kataku asal dan membuat kita canggung.”


Kalimat Byan ini membuat Maureen menatapnya tidak mengerti.


“Maksudku, aku meralat kata-kataku yang mengatakan kalau aku menyukaimu sebagai seorang perempuan. Rupanya kemarin aku bodoh karena aku tidak menyadari posisi kita dan aku merasa kamu terlalu mengenali banyak hal yang ada di diriku dengan baik.”


“Setelah aku pikir-pikir, kamu benar kalau kamu mengenaliku dan memperlakukanku dengan baik karena itu memang tugasmu. Aku gagal memahami mana misi pribadimu dan mana misi profesionalmu. Aku salah paham dengan pikiran dan perasaanku sendiri. Aku minta maaf.” Terang Byan memperjelas ucapannya.


Maureen tersenyum kecil. “Jadi itu yang kamu pikirkan sekarang?” Maureen memiliki sedikit kelegaan di dadanya.


Byan mengangguk dengan yakin.


“Ya, baguslah. Rupanya aku tidak perlu mengingatkan kalau aku mentreatmu seperti raja, bukan karena aku adalah seorang perempuan yang berusaha bersikap baik dan memikat hati laki-laki. Tapi aku mentreatmu sebagai raja, karena posisi kamu saat ini memang raja di Anggoro corp.”


“Ya aku paham itu. Maaf karena aku sudah melantur seharian kemarin. Aku membuat keadaan kita menjadi canggung padahal harusnya kondisi terbaik kita membuat kita bisa terbuka satu sama lain tentang sudut pandang terhadap pekerjaan.”


“Bagus kalau kamu paham.” Tegas Maureen dengan senyum terkembang.


Byan ikut tersenyum karena sepertinya ia berhasil menghilangkan kecanggungannya dengan Maureen. Walau tanpa Maureen tahu, ada perasaan berbeda yang Byan rasakan pada ibu tirinya. Anggap saja seorang Maureen telah mempesona penglihatannya. Tapi ia butuh lebih dari sekedar itu untuk meyakini perasaannya sendiri. Paling tidak, ia harus mengenal pribadi Maureen lebih banyak dari yang sekarang ia tahu.


“Aku mau berterima kasih untuk hari ini. Terima kasih karena kamu sudah menyelamatkanku. Aku gak tau apa yang akan terjadi kalau tadi kamu gak melindungiku. Maaf karena aku malah membuat kamu terluka.” Ungkap Maureen dengan penuh sesal. Byan bisa melihat perasaan bersalah di mata Maureen.


“Santai saja. Kamu bilang kan aku raja di Anggoro corp, jadi sudah sepatutnya aku melindungi rakyatku. Iya kan?” ucap Byan dengan meyakinkan.


“Iya,” Maureen tersenyum lega, rupanya pemikiran Byan mulai tercerahkan.

__ADS_1


Ini kemana ya pelayan, kenapa lama sekali?


****


__ADS_2