Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Pengakuan di masa lalu


__ADS_3

Telinga Riswan berdengung bising dan jantungnya seperti berhenti berdetak saat mendengar pertanyaan Maureen beberapa detik lalu.


“Kamu mengenal benda ini?”


Pertanyaan sederhana itu berhasil membuat tubuh Riswan mendadak lemas. Terlebih saat Maureen menaruh sebuah kancing di atas meja. Kancing yang ia pikir sudah hilang sembilan tahun lalu. Bajunya bahkan sudah ia buang setelah mendapat kabar kalau seseorang yang ia datangi dengan menggunakan pakaian terbaiknya ini telah meninggal dunia.


“Iya Nyonya, itu milik saya.” Riswan menjawab dengan tegas.


Mata Maureen lantas terpejam, mendengar jawaban itu dari mulut Riswan. Hatinya meringis perih dengan tangan yang mengepal menahan amarah yang mengisi rongga dadanya. Bulir air mata menetes begitu saja tanpa bisa ia tahan. Rasanya ia tidak ingin mendengar pengakuan ini.


Tidak, lebih tepatnya mendengar pengakuan kalau Riswan adalah pemilik kancing ini. Walau ia pungkiri, ia lega karena tidak ada hal lain yang selalu ingin ia ketahui selain mengetahui siapa orang yang sudah mempengaruhi ibunya hingga berpikiran kerdil.


Maureen berbalik, menatap Riswan yang menatap kancingnya dengan nanar. Otak Riswan memintanya untuk berbohong, berhenti, jangan mengakuinya. Toh apalah arti sebuah kancing yang bisa dimiliki siapapun, tapi hatinya sudah tidak ingin lagi berbohong. Sudah cukup ia menyembunyikan banyak hal dari Maureen.


“Kamu ingat siapa orang yang kamu temui dengan menggunakan pakaian ini?” suara Maureen sudah mulai bergetar. Ia melangkah mendekat pada Riswan ingin melihat netra pekat yang tidak punya keberanian menatapnya.


“Tentu Nyonya. Siang itu, saya menemui seorang wanita bernama Renita Emrys.”


“PLAK!!!!”


Sebuah tamparan mendarat di wajah Riswan. Tamparan keras dan pedih serta panas dari seorang anak yang tidak pernah bisa menerima kematian ibunya.


Hatinya seperti hancur mendapati orang yang ia percaya ternyata menjadi penyebab kematian ibunya.

__ADS_1


“Kamu tau, siapa dia?!” teriak Maureen dengan terbata-bata, tangisnya mulai pecah.


Riswan tidak menjawab, ia hanya berani menunduk. Tamparan Maureen jelas tidak hanya melukai sudut bibirnya hingga berdarah tapi juga membuat Riswan terpaksa membuka kembali rasa sesal yang ia simpan di pikiran dan hatinya


“Ibu, Anda.” Sahutan Riswan terdengar gamang. Laki-laki itu tidak berekspresi, hanya air matanya saja yang menetes di sudut matanya yang merah dan penuh sesal.


“Haha… hahahaha… HAHAHAHAHAHAH!!!!” Maureen tertawa dari suara tawa yang kecil hingga sangat nyaring. Tubuhnya sampai berguncang karena tawa yang tiba-tiba. Tapi sedetik kemudian, ia menangis lirih, menangis penuh kesakitan yang membuat Riswan hanya bisa menundukkan kepalanya lebih dalam lagi.


Ia bisa memahami benar rasa sakit yang dirasakan Maureen.


“Ibuku, hahahahaha… kau tau dia ibuku, Riswan?” Maureen mendekat pada Riswan dengan langkahnya yang goyah seperti tanpa tenaga. Sesekali ia hampir jatuh karena tenaganya yang nyaris habis.


“Bagaimana kamu tahu kalau dia ibuku, hah?” Maureen berdiri tepat di hadapan Riswan. Ia menatap tajam laki-laki berpostur tinggi besar itu.


“JAWAB AKU BRENGSEK!!! JAWAB!!!” teriak Maureen di depan wajah Riswan. Matanya menyalak merah penuh kemarahan dan kesakitan.


Riswan tidak bergeming, hanya air matanya saja yang menetes semakin deras.


Tidak mendapat jawaban dari Riswan, Maureen mengusap dada bidang laki-laki berumur itu. Lantas ia mencengkram kedua kerah baju Riswan dengan erat.


“Kenapa kamu tidak menjawab? Nyalimu hilang? Atau rasa sesalmu terlampau besar?” Maureen berbicara dengan sangat dekat, pelan namun penuh penekanan.


Riswan tetap tidak bicara.

__ADS_1


“JAWAB AKU BRENGSEK!!!” lagi Maureen berteriak pada Riswan.


Tangis Riswan semakin pecah. Tubuhnya ambruk hingga bertekuk lutut di hadapan Maureen.


“Maafkan saya, Nyonya. Maafkan saya....” Satu kalimat penuh sesal itu yang Maureen dengar begitu berat. Sepertinya perlu jutaan kilo tenaga untuk Riswan mengatakannya.


“Maaf? Apa maafmu bisa mengembalikan ibuku? Apa maafmu bisa mengganti penderitaanku selama bertahun-tahun? Apa maafmu pantas di katakan saat ini sementara kamu sadar kalau kamu sudah lama melakukan kesalahan ini dan menyembunyikannya dariku?”


“Kamu tau Riswan, aku merasa seperti orang paling bodoh karena mempercayai seekor ular untuk berada di dekatku. Aku menceritakan banyak hal tentang diriku, kita berdiskusi banyak hal tentang kehidupan bahkan aku mencemaskanmu saat kamu bilang perutmu sakit karena telat makan.”


"Tapi ternyata apa? Semua yang aku pikirkan tentang seorang laki-laki bermartabat, baik dan berusaha melindungiku tanpa aku tahu alasannya, ternyata hanya seekor ulang dan diam-diam mengintai dan bersiap memangsaku kapan saja. Benar bukan?! Seperti itu niatan yang kamu miliki?!" teriakan Maureen semakin keras hingga membuat pelayan terhenyak dan mengintip dari celah jendela.


“Hahahahaha, benar yang mas Anggoro katakan, siapapun bisa menjadi ular di sekitar kita dan kamu melakukannya dengan baik. Good job!!" Maureen menepuk-nepuk pipi Riswan berulang kali dan lelaki itu hanya membiarkannya saja.


"Tapi tunggu, aku penasaran. Apa yang kamu katakan pada ibuku sampai dia memutuskan untuk menyerah dan meninggalkanku sendirian? Dan siapa yang menyuruhmu menemui ibuku? Hah, coba katakan brengsek! Jangan berbohong lagi atau aku tidak segan untuk menghabisimu.” Maureen masih dengan rasa marah bercampur penasaran yang mendalam.


Riswan tercenung, napasnya tercekat membuat ia tidak bisa berkata-kata. Dadanya terlalu berat hingga begitu sulit untuk bernapas. Ia sadar kalau suatu hari Maureen akan tahu kenyataan ini tapi ia tidak menyangka gadis ini akan tahu kenyataannya di saat seperti ini. Di saat ia sedang sangat mempercayai Riswan dan di saat Riswan sedang begitu menyayangi anak yatim piatu ini.


Semakin banyak hal baik yang Riswan lihat dari sosok Maureen, semakin ia tidak tega mengatakan semuanya. Ia pikir, rahasia ini akan ia bawa sampai mati. Biarkan ia yang kelak meminta ampunan pada kedua orang tua Maureen. Nyatanya, ia tidak bisa lagi menunda apa yang seharusnya ia beritahukan pada Maureen.


Melihat mata Maureen yang bulat dan celong, dengan lingkar hitam dari riasan matanya yang luntur, membuat Riswan mengingat persis bagaimana tatapan yang sama juga ia dapatkan dari seorang wanita yang sedang memohon keadilan.


****

__ADS_1


__ADS_2