Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Jalan toll


__ADS_3

Alunan musik dangdut menemani perjalanan Wisnu. Ia tengah berada di dalam sebuah bis dan sedang sangat kesulitan menahan kantuknya. Suasana yang dingin, tubuh yang lelah dan perut yang penuh dengan makanan khas kota kembang, menjadi kombinasi yang pas untuk membuat matanya sulit sekali terbuka.


“DUK!” kepala Wisnu sampai membentur kaca bis untuk kesekian kalinya, saat ia nyaris benar-benar tertidur karena mengantuk. Pelipisnya pening sekali karena terbentur cukup keras. Ia terjaga beberapa saat, menatap nanar lampu-lampu mobil yang menyala kemerahan di depannya.


Ada banyak mobil yang sedang mengantri masuk ke pintu toll menuju Jakarta. Perhatiannya tertuju pada sebuah mobil sedang yang ikut mengantri di lajur sampingnya.


“Kok kayak kenal sama plat nomornya?” Wisnu bergumam sendiri sambil memperhatikan mobil tersebut.


Otaknya yang terguncang berusaha mengingat plat nomor sebuah mobil sedan mewah yang dilihatnya. Jendelanya turun lalu tangan seseorang menempelkan kartu toll hingga gerbang toll terbuka dan ia masuk.


“123 NN? Siapa ya?” otak Wisnu mendadak sulit diajak berpikir.


Tapi tiba-tiba matanya langsung membulat saat ia sadar kalau ia sangat familiar dengan plat nomor itu.


“MAUREEN?!” serunya yang kaget sendiri.


Kantuknya mendadak hilang saat ia melihat mobil sedan berwarna hitam itu melaju melesat meninggalkan bis yang masih antri masuk ke gerbang toll.


“Iya, gue yakin itu mobil Maureen.” Wisnu berujar dengan percaya diri.


“Kenapa, Mas? Temennya?” tanya seseorang yang duduk di samping Wisnu.


“Eh, iya Bu." Wisnu sampai tidak sadar kalau ada perempuan tambun duduk di sampingnya.


"Dia, temennya temen saya sekaligus mantan istri kedua dari ayahnya temen saya yang sudah meninggal.” Otak Wisnu mendadak ruwet.


“Ibu tiri maksudnya?” Wanita di samping Wisnu ikut menyimpulkan.


Wisnu berpikir beberapa saat, pusing dengan ucapannya sendiri. “Nah, iyaa. Sepertinya memang ibu tiri. Karena ibu temen saya sudah meninggal dan ayahnya itu menikah lagi orang yang punya mobil barusan,” urai Wisnu tidak terkontrol.


“Akur gak mereka?” Wanita di samping Wisnu malah menimpali. Penasaran rupanya.


“Akur-akur saja. Eh, kenapa saya jadi ngegosip? Efek lagu dangdut kali ya?” Wisnu menggaruk kepalanya yang pusing.


“Mungkin efek kepalanya kebentur terus, Mas.” Wanita itu berusaha menahan senyum. Sejak tadi ia ingin tertawa melihat Wisnu yang kesulitan menahan kantuk dan kepalanya membentur kaca jendela bis beberapa kali. Saat bangun dia jadi linglung.


“Heheehe, sepertinya memang begitu.” Wisnu mengambil air minum di dalam tasnya, lalu meneguknya. Ia berharap kesadarannya segera pulih.

__ADS_1


Setetah mulai tersadar, Wisnu mengambil ponselnya dan mencari nama seseorang di sana.


“Si Byan, tau gak kalau emak tirinya dari Bandung?” gumam Wisnu saat menunggu panggilannya tersambung dengan Byan.


Dua deringan sudah panggilan itu berlangsung dan di deringan ketiga, Byan baru menjawabnya.


“Halo,” suaranya terdengar malas.


“Ya Halo bro. Lo lagi dimana?” suara wisnu di buat keras karena bersaing dengan suara biduan dangdut.


“Di rumah. Kenapa?” perasaan yang sedang tidak karuan benar-benar membuat Byan berbicara seperlunya.


“Gue liat mobil Maureen di jalan. Dia ke Bandung ya?” tanya Wisnu.


“Hah, apaan?” suara Wisnu putus-putus dan tidak jelas.


“Gue, liat mobil Maureen di jalan. Dia ke Bandung ya?” Wisnu mengulang pertanyaannya dengan lebih banyak penekanan.


Byan tidak langsung menjawab melihat ke layar ponselnya. Berisik sekali lingkungan Wisnu. Ia nyalakan saja loud speakernya agar tidak harus menempelkan ponselnya.


“Eh, si anjir.” Wisnu menggerutu kesal. Padahal ia sudah berbicara lantang.


“MA U REEN, ke Bandung?!” pertanyaan atau pernyataan, entahlah seperti apa Byan mendengarnya.


“Hah, kata siapa?” Byan langsung waspada mendengar dua kata itu. Maureen dan Bandung.


“Gue nanya anjir! Gue liat mobilnya dia di toll!!! Ini gue maksudnya nanya sama lo! Apa mamak tiri lo ke Bandung?!” Wisnu berseru dengan keras.


"Lo ngomong yang jelas, Wisnu!" Byan juga penasaran Wisnu bicara apa tentang Maureen.


“Pak, tolong dong ini yang nanya-nanya alamat palsu suruh diem dulu, saya lagi telponan. Nanti saya jawab alamatnya dimana!” protes Wisnu pada kondektur.


“Launan jang!” seru sopir bis pada kondekturnya. (Kecilin suaranya)


“Oh, siap!” kondektur muda itu langsung mengecilkan suara musik dangdut yang membuat beberapa kaki menghentak di lantai bis. Wisnu benar-benar merusak kesenangan orang lain.


Meskipun begitu, Wisnu mengacungkan ibu jarinya sebagai ucapan terima kasih.

__ADS_1


“Gue, liat mobil Maureen di jalan tol. Masuk toll dari arah Lembang. Emang dia ke Bandung?” Wisnu mengulang pertanyaannya pada Byan.


“Kata siapa?” Byan bertanya dengan cepat, pendengarannya mulai jelas.


“Ya kata gue, Byan! Ini gue pulang dari Bandung habis survey lokasi wisata baru. Mobil gue mogok jadi gue naik bis. Di dalam bis, gue ngantuk. Tapi gak sengaja gue liat mobil Maureen. Karena gue takut salah liat, makanya gue nelpon lo. Bener gak Maureen ke Bandung?!” cerocos Wisnu dengan kesal.


“Kapan lo liatnya?” Byan semakin penasaran.


“Tadi, beberapa menit sebelum gue nelpon lo. Gue udah bilang dari tadi tapi lo ngang ngong ngang ngong mulu, kayak haji bolot. Sekarang Maureen udah nyampe Jakarta kali gara-gara mobilnya pake turbo, melesat sempurna menembus cakrawala,” celoteh Wisnu yang kesal sendiri karena begitu sulit berbicara dengan Byan.


Wanita di samping Wisnu sampai terkekeh mendengar ucapan Wisnu. Memang seperti itu bentukannya kalau microphone pelunas hutang di beri nyawa. Kadang lucu kadang menyebalkan dan kadang sangat menyentuh sampai kesal sendiri.


“Ya udah nanti gue tanya. Hape dia gak aktif seharian ini.” Byan mengguyar rambutnya frustasi.


“Kenapa? Lo berdua berantem?”


Byan tidak menjawab, hanya suara nafasnya saja yang terdengar kasar.


“Baru juga gue bilang kalau hubungan lo sama Maureen akur-akur aja. Sampe gue ngerasa chemistry lo sama dia kuat banget seolah di dunia ini cuma milik lo berdua sama Maureen. Gue hampir ngerasa gak punya tempat. Tapi ternyata, tetep aja lo berdua bisa berantem sampe main matiin hape. Emang gara-gara apa?” microphone bernyawa ini malah curhat.


“Nanti gue cerita, gue harus periksa sesuatu dulu,” timpal Byan yang juga sedang galau.


“Iya, kabarin gue. Mana tau Maureen butuh gue buat temen cerita dan bersandar. Bilangin sama dia, abang Wisnu selalu ada buat neng Maureen. Gue juga temen yang bisa di ajak bicara kok.” Wisnu mempromosikan dirinya sendiri.


Byan tidak menyahuti, ia malah memutus panggilannya dengan Wisnu.


“Eh di anj….” Wisnu mengumpati sahabatnya yang mirip pengantri toilet umum. Hanya datang di saat butuh.


“Jang, kencengin lagi suara musiknya. Pasang lagu yang galau!” seru Wisnu dengan kesal.


“ASHIAPP KANG!!!” seru kondektur muda yang sudah berasa jadi DJ.


Musikpun di putar dengan suara yang cukup keras. Lampu kerlap kerlip ikut menyala seolah Wisnu sedang berada di warung kopi. Ia berusaha menikmati perjalanannya yang terasa lama dan tertinggal jauh dari Maureen.


Hati-hati di jalan Wisnu, jangan turun di jalan tol. Byan kalau lagi galau memang mendadak begok. Hahahaha...


****

__ADS_1


__ADS_2