Ranjang Dingin Ibu Tiri

Ranjang Dingin Ibu Tiri
Tingkah toddler


__ADS_3

Mall, menjadi tempat yang tidak lepas dari tujuan Maureen. Ia berkeliling dari satu toko ke toko lainnya untuk memilih baju mana yang cocok dikenakan Byan.


Model baju pria sebenarnya tidak banyak ragamnya. Modelnya pun tidak sebanyak baju perempuan. Hanya kemeja, celana dan jas juga beberapa baju santai untuk Byan. Maureen hanya memilihkan perpaduan warna yang cocok dan kain yang nyaman untuk Byan kenakan. Dia tangan Riswan ada banyak belanjaan yang sudah Maureen beli dan wanita ini masih belum puas.


Maureen yang sibuk memilih baju untuk anak tirinya, berbanding terbalik dengan Byan yang malah sibuk bercanda sendiri. Sesekali ia memakai topi model bucket hat wide yang bulat lebar dengan renda di pinggirannya. Ia mencolek Maureen hanya unuk menunjukkan kalau Ia memakai topi itu. Di tambah ekspresi tengil yang ia tunjukkan, memang mengandung tawa.


Maureen hanya mendelik sambil menggelengkan kepala, ada saja tingkah anak tirinya ini. Sesekali Byan juga memakai kacamata hitam dengan bingkai merah lalu berpose disamping maneqin wanita yang sama-sama memakai kacamata dan berkacak pinggang.


“Keren kan?” celotehnya.


Mata Maureen hanya membulat, kehabisan kata-kata dengan tingkah absurb Byan. Apa toddler ini memang seaktif itu? Rasanya Maureen seperti sedang mengasuh anak lima tahun yang tidak bisa diam karena terlalu banyak mengkonsumsi makanan manis.


Riswan dan pelayan toko yang melihat tingkah tuan muda dan nyonya mudanya, hanya bisa menahan senyum. Ia melihat Byan seperti bola bekel, menggoda Maureen kesana kemari dan membuat mimik wajah aneh-aneh yang sebenernya membuat geli.


Riswan sampai tidak kuat menahan tawanya melihat tingkah Byan, hingga ia sedikit tertawa dengan bahu yang ia tahan agar tidak bergetar dan hidungnya yang kempis kembung. Beruntung toko ini sepi jadi Riswan tidak terlalu malu membawa bosnya yang hiperaktif ini.


Sekali waktu, Byan mengambil kaca mata hitam dan memakaikannya pada Maureen. Wanita yang sedang memilih jas itu langsung berreaksi.


“Byan, kamu bisa diem gak sih. Ini aku masih milih-milih.” Ia berucap dengan kesal.


“Wih, cocok ini kacamatanya buat kamu. Membingkai wajah dengan sempurna. Gak kayak tukang pijat.” Byan malah asyik memperhatikan penampilan Maureen yang berkelas.


“Byan,” Maureen kembali memanggil nama anak tirinya dengan pelan namun penuh penekanan, ia sudah sangat kesal.


“Yaa, okey-okeeyy….” Byan melepas kembali kaca mata yang ia kenakan pada Maureen lalu menaruhnya di tempatnya.


“Udah aku simpan.” Cicitnya sambil tersenyum lebar.


“Astaga….” Dengus Maureen seraya menggelengkan kepala melihat tingkah anak tirinya.


Maureen melanjutkan pekerjaannya dengan mengambil tiga jas yang akan ia beli.


“Udahlah Maureen, aku udah bosan. Aku mau tidur dan istirahat, badanku pegal.” Benar bukan, kali ini Byan benar-benar mirip toddler, ia merengek seperti anak kecil.


“Iya, ini aku udah selesai.” Timpal Maureen yang sudah kehilangan mood belanjanya. Ia memberikan baju-baju yang ia pilih pada pelayan, untuk dihitungkan totalnya. Ia sudah tidak berniat meminta Byan untuk mencobanya lagi. Dengan ilmu taksir, ia yakin jas ini cocok untuk Byan.

__ADS_1


Sementara Maureen membayar, Byan duduk di kursi tunggu. Ia memperhatikan Maureen dari kejauhan. Ia jadi berpikir, sedari tadi Maureen terus mengurusinya, membeli barang ini dan itu untuk Byan tapi tidak membeli apapun untuk dirinya sendiri. Apa wanita itu tidak menginginkan apapun?


Padahal dengan uangnya yang banyak, Maureen bisa membeli apa saja tanpa perlu melihat harganya. Sekalipun itu barang yang tidak berguna untuknya.


“Apa Maureen jarang belanja untuk dirinya sendiri?” akhirnya Byan bertanya pada Riswan.


“Iya tuan, nyonya muda jarang berbelanja. Sejak dulu, nyonya muda lebih suka membelikan barang-barang untuk orang lain. Untuk tuan besar, saya dan pelayan di rumah.” Ungkap Riswan dengan sesungguhnya.


“Benarkah?” Byan menatap Riswan tidak percaya.


Riswan mengangguk pasti. Sejak mengenal Maureen, Maureen memang jarang membeli barang-barang pribadi untuk dirinya sendiri. Ia lebih suka membeli barang-barang untuk ia berikan pada orang lain.


“Lalu uangnya di pake apa?” Byan semakin penasaran. Bukankah uang Maureen pasti sangat banyak?


“Saya kurang tahu tuan. Cuma nyonya muda memang jarang membeli barang untuk dirinya sendiri.” Tegas Riswan.


Byan kembali tercenung. Ia memperhatikan Maureen dari tempatnya. Wanita itu sepertinya sudah selesai bertransaksi dan memanggil Riswan untuk membantunya.


“Saya permisi tuan,” pamit Riswan yang segera menghampiri Maureen. Nyonya mudanya butuh bantuan segera.


“Kamu mau pijat?” tawar Maureen kemudian. Ia menoleh Byan yang berjalan di sampingnya dan sering kali memperhatikannya.


“Dimana?” sahutnya datar.


“Di mall ini. Di sini ada pijat refleksi dan spa. Kalau mau, aku jadwalkan. Kita masih punya sekitar dua jam lagi sebelum makan malam.” Maureen melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.


“Apa di pijat harus selama itu?” pertanyaan Byan memang tidak penting.


“Kalau kamu sangat capek, bisa saja selama itu. Karena aku yakin, mungkin kamu akan tertidur. Tapi tidak masalah, kamu bisa mengistirahatkan tubuhmu sebentar sebelum besok kamu harus bekerja keras lagi.” Urai Maureen dengan tenang.


“Apa kamu juga ikut?”  Byan semakin penasaran.


“Nggak. Kamu saja. Nanti kalau sudah selesai, kita ketemu di mobil.”


“Kalau begitu gak perlu.” Sahutan Byan terdengar cepat.

__ADS_1


“Kenapa?” Maureen menoleh tidak mengerti.


“Aku gak mau para wanita itu menyentuh badanku seenaknya, tanpa pengawasan. Mereka terlalu beruntung kalau sampai menjamah tubuhku.” Byan mengusap lengannya sendiri yang meremang.


“Jangan aneh-aneh Byan, pekerjaan terapis memang seperti itu. Mereka bekerja dengan professional. Lagipula, bukannya lebih menakutkan kalau yang menjamah tubuhmu itu laki-laki?” ledek Maureen sambil mengusap punggung Byan dengan kuku tangannya.


“Astaga!” Byan sampai bergidik geli. Bukan hanya karena usapan tangan Maureen tapi juga membayangkan yang menyentuhnya adalah laki-laki.


Maureen hanya terkekeh melihat tingkah Byan. Byan ikut terkekeh dan memandangi Maureen yang tampak lucu saat tertawa kecil seperti ini. Byan bahkan bisa melihat lesung pipi kecil di pipi kiri Maureen.


“Lanjutkan,” pinta Byan saat suara tawa Maureen terhenti.


Maureen menoleh anak tirinya dengan raut wajah bingung.


“Kamu terlihat lebih baik saat tertawa seperti tadi. Aku melihat kamu benar-benar hidup.” Ucap Byan dengan penuh kesungguhan.


Maureen tercenung beberapa saat. Ia memalingkan wajahnya dari Byan, entah mengapa ia merasa pipinya menghangat, bersemu kemerahan. Baru kali ini seseorang menyuruhnya tertawa setelah beberapa lama ini orang-orang sering berkata, “Seriuslah sedikit. Jangan main-main.”


“Apa aku membuatmu terharu?” tanya Byan saat melihat perubahan ekspresi Maureen.


“Tidak. Terharu untuk hal apa?” mode setelan pabrik Maureen sudah kembali. Dingin dan tegas.


“Yaaa baiklah. Rupanya aku salah liat.” Timpal Byan. Ia berjalan lebih cepat di depan Maureen yang masih berjalan lambat dan memikirkan ucapan pria itu.


Ada apa dengan anak tirinya?


Bukan, ada apa dengan Maureen? Kenapa ia merasa diperhatikan? Bukankah Byan hanya bertanya apa ia terharu?


Akh, entahlah. Maureen tidak bisa berpikir dengan benar. Ia hanya harus menyusul Byan.


“Byan! Tunggu!” serunya sambil mempercepat langkah.


Tapi byan malah berlari, seolah sengaja ingin dikejar dan diomeli Maureen. Akh, anak ini memang merepotkan.


****

__ADS_1


__ADS_2